Menantu Benalu Ini Ternyata Hacker Jenius

Menantu Benalu Ini Ternyata Hacker Jenius
65. Sebuah pertemuan


__ADS_3

Marcedes AMG GT  warna putih dengan nomor polisi unik masuk ke halaman parkir kantor Nano-ID.


Dua security yang berjaga pun bergegas ingin mengatur supaya mobil terpakir dengan sempurna.


Ryan langsung melempar sapu lidinya dan bergumam, “Aku yakin pasti CEO.”


Kemudian Ryan melangkah lebar dan melewati dua security itu. Maksud hati Ryan adalah ingin mengambil hati CEO, lalu membicarakan soal magang satu bulan ini, tentu dia ingin agar posisi supervisor cepat dia dapatkan.


“Ya terus, terus!” kata Ryan sambil melambai-lambaikan tangannya seperti tukang parkir. “Bukan di situ! Geser di sebelahnya!” Ryan ingin agar mobil itu berhenti di parkir eksklusif yang sudah dicat khusus untuk CEO. Tapi, mobil itu salah posisi.


Suara mesin mobil menghilang. Pintu mobil terbuka. Lalu, seorang wanita yang sangat cantik pun turun dari mobil mewah seharga lebih dari dua milyar ini. Dia tampak menarik dengan setelan kantoran. Blazernya hitam. Tanpa memakai sepatu hak tinggi karena tinggi badannya seratus tujuh puluh senti. Jelas di atas rata-rata kaum hawa nusantara pada umumnya.


Dia tidak memakai bedak atau tepung jenis apapun yang dibalutkan di wajah pure-nya. Dia juga tidak memakai lipstik untuk memalsukan bibirnya yang tipis dan merah. Dia tidak memakai pensil alis atau alat pengubah wajah lainnya karena dia memang suka natural. Kemudian, dia mengibaskan rambut panjangnya tatkala baru keluar dari mobil.


Semua mata tertuju padanya. Grace Santika.


Ryan melongo. Lucunya, dia tidak mengenal sang wanita. Karyawan macam apa dia Ryan? Ryan bertanya, “Ap-apakah Nona petinggi perusahaan ini?”


Grace menyoroti Ryan sepenuhnya, lalu berkata, “Apakah kau Ryan yang sedang magang selama satu bulan? Martin dan David telah menginfokan tentang dirimu. Kau jaga mobilku baik-baik.”


Jika saja Grace tahu bahwa pria gagu ini pernah mengejek Stefan, sekarang bisa makan sapu ini orang. Namun, Grace tak peduli dengan pria tak berguna ini, bukan karena posisi OB, bukan sama sekali, tapi kebanyakan orang malas jika meladeni orang seperti Ryan. 


Wataknya, bukan posisi OB-nya.

__ADS_1


Banyak OB, atau pekerja kasar lain seperti kuli dan ojol, dan lainnya, mereka punya hati yang baik, tidak sombong, dan tidak menipu diri sendiri. Orang seperti Ryan di manapun posisinya, sikapnya selalu jelek. Dia sangat tidak pantas mendapatkan tempat terhormat di mana pun. 


Grace melengos dan meninggalkan Ryan.


Tidak sampai di situ. Meski barusan dicampakkan, Ryan malah terpesona. Dia malah berjalan menjajari Grace dan berkata, “Saya supervisor di sini. Bolehkah kita berkenalan?”


Ryan buta atau lupa ingatan? Apa dia tidak tahu Marcedes AMG GT? Bisa jadi kepalanya hanya menyimpan tentang mobil Tamiya 4WD! Orang waras akan berpikir bahwa pengendara mobil ini bukan orang biasa. Ryan menang gaya, tapi kalah gaul.


Ketika melewati bagian resepsionis, tiga orang karyawan di sana memberi salam kepada Grace dan tersenyum.


“Selamat datang, Bu Grace.”


“Selamat pagi, Bu Grace.”


Grace melangkah anggun. Ryan masih menyeret kakinya dan mengimbangi langkah Grace. Saat ini, mereka tak ubahnya seperti ratu dan pangeran kodok. Ryan tidak hanya kalah gaul, tapi kurang wawasan.


Atau mungkin kontaknya belum masuk ke grup bagian divisi tertentu atau semacamnya. Bagaimana mungkin dia dianggap penting di kantor? Ryan terlalu sibuk dengan suasana halaman yang kotor. Seharusnya dia banyak ngobrol dengan orang di dalam sini.


“Bu Sekretaris, selamat datang di kantor!”


Mendengar itu, Ryan terperanjat. Sekretaris? Dia makin ciut. Wajahnya perlahan memutih. Keringat dinginnya perlahan keluar dari kulitnya yang merinding. Ryan melakukan dua kesalahan, pertama dia salah tebak dan kedua dia tidak tahu apa-apa. Sungguh menyedihkan.


Di lobi, Martin dari tadi sudah menunggu. Lalu, dia beranjak saat melihat kerumunan di depan resepsionis. Dia berjalan lalu mendorong Ryan, “Awas kau! Tidak ada tugasmu untuk mendampingi sekretaris kantor.” sergah Martin tegas.

__ADS_1


Grace tersentak atas kehadiran Martin. Tiba-tiba Ryan termundur beberapa langkah. Bahkan posisi supervisor pun rasanya tidak mampu mengimbangi dua orang ini. Ryan makin ciut.


Sesungguhnya bukan soal posisi yang dipermasalahkan oleh Martin, namun Ryan lah yang menjadi masalah. Atas perintah tegas CEO sendiri Ryan harus diperlakukan spesial di kantor ini. Sekali lagi, tidak ada masalah dengan posisi dan jabatan. Semua dari tanah, semua sama, hanya saja pribadi yang membedakannya.


Wanita dan pria di sini lantas terpukau atas pesona Grace! Jika orang seperti Ryan saja bisa membedakan antara cantik dan jelek, meskipun tidak mengerti soal mobil, maka sudah barang tentu para pria di sini terbuai dan menelan salivanya saat melihat sosok Grace.


“Sesuai dengan perintah CEO, Bu Grace mulai bekerja hari ini. Biar saya antarkan ke ruangan,” ucap Martin ramah.


Grace pun berjalan di belakang Martin. Salam dan sapa dari semua karyawan beriringan. Grace tidak pernah diperlakukan seistimewa ini.


Sebelumnya, Stefan sudah berpesan kepada Martin agar bilang kepada semua karyawan tentang sosok Grace yang sangat spesial. Intinya, mereka semua harus memberikan penghormatan ketika Grace tiba. Tidak ada perlakuan buruk apapun. 


Terang saja, sampai ada yang rela meninggalkan sarapan hanya untuk bisa tersenyum dan menyapa Grace. Satu lagi pesan dari CEO, bahwa tidak ada yang boleh macam-macam sedikit pun terhadap Grace, jika ada, orang itu akan menanggung konsekuensinya.


Semua karyawan tahu kecuali hanya Ryan. Dua security yang tadi bertugas telah menunjukkan sikap hormatnya dan tidak bertingkah berlebihan terhadap Grace, hormat biasa, lalu sudah. Mereka tidak ingin buat ulah.


“Bu Grace, sesuai dari arahan CEO, pagi ini juga kita akan ada briefing singkat dengan sesama petinggi kantor,” imbuh Martin sembari memencet tombol angka 8 lift.


Setelah itu, Grace pun tiba di ruang kerjanya. Ruangan ini luas, empat kali lima meter. Laptop, berkas, dan alat tulis sudah rapi di atas meja kerjanya. Ada lukisan bunga dan pemandangan di dinding. Grace akan menatanya kembali nanti.


Pada saat briefing, Martin selaku asisten CEO menjelaskan ringkas kepada Grace soal pekerjaan di kantor. Bagi wanita karir berpengalaman seperti Grace tidak perlu diberikan kuliah berjam-jam dan berhari-hari. Tak butuh waktu lama bagi Grace untuk menyesuaikan diri.


Martin berkata pada Grace, “Dan sesuai perintah CEO, pertemuan pertama Nano-ID adalah dengan pihak Sanjaya Techno. Mereka yang paling prioritas dari sekian banyak perusahaan yang sudah mendaftar.”

__ADS_1


“Siapa perwakilan dari mereka?” tanya Grace.


“Sekretaris Sanjaya Techno. Lionny Fransisca Sanjaya”


__ADS_2