
Selain menjabat sebagai CEO AlfaTech, Pak Arya juga memiliki saham sebesar dua puluh lima persen. Pak Arya termasuk orang kaya yang tidak serakah. Atas usulnya lah akhirnya Stefan bisa memiliki sejumlah saham di Nano-ID. Padahal, jika Pak Arya tamak, nilai yang sangat besar itu bisa saja dimakannya sendiri.
Pak Arya sebelumnya telah lama melakukan pembicaraan bersama Stefan soal kepemilikan Nano-ID. Dalam sebuah rapat yang telah lalu bersama founder, owner, dan dewan, Pak Arya memberikan saran atas kepemilikan saham Nano-ID.
Dalam usuluan tersebut, Stefan berhak atas kepemilikan sebesar dua puluh persen, tanpa menggeelontorkan dana sepeser pun. Ide ini memang terdengar gila. Namun, SigmaX dan AlfaStudio lah alasannya. Dua karya Stefan tersebut telah mengangkat AlfaTech baik dari segi finansial maupun popularitas.
Stefan mendapatkan hak kepemilikan Nano-ID dengan kesepakatan bahwa SigmaX dan AlfaStudio juga dimiliki haknya oleh AlfaTech dan Nano-ID. Dengan kata lain bahwa perusaaan tersebut bebas memperjualbelikan dan mempergunakannya.
Di samping itu, Stefan juga mendapat royalti dari dua karyanya tersebut, total dia mendapatkan setidaknya 500 juta rupiah per bulan. Ya, uang sebesar itu hanya pasif income-nya saja. Belum membahas soal pendapatan sebagai pemilik dan juga CEO Nano-ID.
Sekarang, Stefan benar-benar layak diperhitungkan.
Stefan masih berada di rumah sakit, tepatnya di ruang rawat Pak Arya. Tiba-tiba dia teringat dengan mendiang Kakek Sanjaya. Stefan terkadang benci dengan ingatannya sendiri. Dia tidak ingin melihat orang yang berpengaruh dalam hidupnya pergi.
“Stefan, maaf telah merepotkanmu,” lirih Pak Arya, pandangannya masih gelap, bahkan untuk membuka mata saja sulit rasanya.
Mendengar itu, Stefan malah syok. Dari Indonesia ke Swiss hanya untuk mengisi pos CEO sementara waktu dan menjenguknya sakit, jelas bukanlah hal berat bagi Stefan. Apa yang dia lakukan sekarang ini tidak ada arti apapun jika dibandingkan dengan semua kebaikan Pak Arya. Stefan malah terenyuh.
“Sama sekali tidak merepotkan, Pak Arya. Saya dengan senang hati melaksanakan perintah, Bapak. Saya akan tetap di sini sampai Bapak sembuh,” balas Stefan. Matanya agak sayu.
__ADS_1
Sementara itu, mata Grace berkaca-kaca melihatnya. Saat ini, dia memang tidak tega untuk meninggalkan ayahnya pergi. Namun, dia juga harus menjalankan perintah ayahnya sendiri dan juga perintah atasannya, yaitu Stefan.
“Ayah, ibu dan adik akan berangkat ke sini. Maaf aku tinggal. Stefan, aku titip ayahku. Jaga dan rawat dia dengan baik,” ucap Grace, matanya basah.
Meskipun tak melihat, Pak Arya mendengar omongan putrinya dan Stefan. Seolah Pak Arya tahu posisi mereka berdua. Karena pernah muda, dia tahu apa yang sedang terjadi di antara putrinya dan Stefan. Hanya saja, Pak Arya hanya ingin mereka kompak pada saat bekerja di Nano-ID.
Grace punya banyak pengalaman, baik sebagai staf biasa maupun sekretaris. Pak Arya tidak meragukan putrinya sendiri. Jika sebagian orang menganggap bahwa Grace bisa menjadi sekretaris atas usulan Pak Arya pribadi, jelas hal demikian salah total. Di luar dugaan, Stefan lah yang menginginkannya.
Sekitar sepuluh persen orang di Nano-ID berasal dari AlfaTech atau orang-orang pilihan mereka. Hal tersebut sangat beralasan, karena Pak Arya berharap Nano-ID akan berkembang cepat seperti AlfaTech lantaran para ahli IT mereka sendiri, terutama para petinggi perusahaan sendiri.
“Grace, jika selama bertugas nanti ada problem atau hambatan, kau harus cepat berkoordinasi dengan Martin, bila perlu kau cepat menghubungiku,” ujar Stefan.
Lalu, Stefan mengalihkan pandangannya ke arah Pak Arya, lalu berkata, “Semoga ayahmu cepat sembuh dan pulih total. Beliau lebih layak memimpin AlfaTech. Banyak persoalan yang tidak bisa aku selesaikan saat ini. AlfaTech terlalu besar.”
Pak Arya menghela napas sebentar. “Semua telah digariskan. Semoga dengan memimpin AlfaTech, kau dapat banyak pelajaran, Stefan. Jika kau mampu mengatasi persoalan di sini, kau nantinya tidak akan kesulitan mengurus Nano-ID.”
Pak Arya benar. Saat ini Stefan sedang belajar menjadi sosok pemimpin sejati. Jika mengontrol perusahaan sebesar AlfaTech saja dia mampu, mudah-mudahan ke depannya jiwa leadership-nya makin terbentuk. Tidak mudah menjadi seorang pemimpin. Saat ini, Stefan sedang ditempa. Bukankah untuk membuat sebuah pedang terbaik harus dibakar dan dipukul-pukul terlebih dahulu?
Ya, Stefan telah melewati masa-masa sulit. Dia bahkan sampai harus membersihkan sepatu atasannya di hadapan banyak orang. Jelas itu bukan hal sepele. Stefan pernah jatuh di lumpur hitam nan dalam. Dia ditekan habis-habisan. Dia dihina dan ditertawakan. Apa semua itu tidak beralasan?
__ADS_1
Semua jalan terjal yang dilaluinya itu untuk membentuk mental dan keberaniannya, menguji kesabarannya, menambah pengetahuannya, membersihkan hatinya, dan meluruskan niatnya.
Pelajaran hidup tidak hanya didapatkannya dari keterpurukan, akan tetapi juga di saat dia berada di puncak kesuksesan. Saat ini, Stefan terus belajar. Masa lalu yang pahit tidak menjadikannya kecil hati dan masa depan yang cerah pun tidak membuatnya bangga diri. Stefan tidak lupa daratan. Stefan selalu mawas diri.
“Pak Arya, maafkan jika tugasku di AlfaTech tidak maksimal. Saya masih kaku,” ucap Stefan dengan nada merendah.
“Tidak ada orang yang terlampau sempurna, Stefan. Setiap kita pasti punya salah dan khilaf. Apa ada karyawan yang mengeluhkan kepemimpinanmu di AlfaTech?” lirih Pak Arya.
Cukup lama Stefan berpikir. Selama beberapa hari ini semua adem dan tenang. Tidak ada satu pun karyawan yang menampakkan ketidaksenangannya. Bahkan, Stefan malah dianggap seperti raja. Namun, sifat rendah hatinya membelokkan sanjungan mereka. Stefan tidak gila pujian.
Jika Stefan meminta satu orang manager untuk membuatkan kopi, bahkan menyuruh direksi untuk mengelap kaca kantor, semua akan patuh dan tanpa keluhan. Mereka justru tunduk terhadap Stefan. Anehnya, Stefan tidak ingin mereka benci terhadapnya. Stefan dihantui kecemasan yang keliru.
“Mungkin, sepertinya, tidak ada, Pak Arya,” balas Stefan dengan nada ragu.
Padahal, kesempatan emas seperti ini biasanya digunakan oleh para penjilat untuk menarik perhatian atasannya. Tetapi, Stefan tahu cara bersikap dan menjaga diri. Stefan masih sangat waras. Penjilat tidak ada di kamus pribadinya. Setia dan tulus adalah modal penting untuk menjadi seorang pemimpin.
“Bilang pada saya jika ada karyawan, siapapun, yang mengeluhkan dirimu. Orang itu harus diperiksa kondisi otak dan jiwanya,” ujar Pak Arya memaksakan mulut dan lidahnya berbicara tegas.
“Saya akan patuh terhadap pemimpin,” balas Stefan lalu tersenyum.
__ADS_1
Saat ini, perasaan Grace teraduk-aduk. Dia sedih, tersipu, terharu, terkesan, dan terkesima. Dua orang pria di dekatnya ini sungguh luar biasa. Secara wanita cenderung pakai hati, rasanya Grace ingin menangis untuk meluapkan perasaan yang menggumpal di hatinya. Namun, rasa kagumnya mengalahkan semuanya. Grace makin jatuh cinta.