
Pagi ini di kantor Sanjaya Techno, Surabaya.
Leon tersenyum simpul dan bertanya pada Lionny, “Bagaimana kabar keluargamu? Kapan mereka akan ke sini?”
Lionny yang memang hari ini tampak berseri-seri menjawabnya dengan sangat antusias, “Kabar mereka baik. Mereka sangat sibuk di Jakarta. Entah kapan mereka bisa ke sini.”
Ekspresi Lionny yang sangat cerah ceria telah membuat sebuah persepsi lain di kepala Leon. Baginya, Lionny perhatian padanya. Padahal, dari tadi Lionny menyapa ramah banyak karyawan di sini.
Keberhasilan Lionny kemarin itu sangat membuatnya berbeda pada hari-hari ini. Kerjasama dengan pihak Nano-ID seperti memasuki sebuah pintu gerbang besar, di mana di dalamnya akan ada banyak buah yang bisa dipetik, terlebih Sanjaya Techno diberikan kesempatan untuk bekerjasama dalam hal apa saja.
Leon menatap Lionny dengan begitu perhatian, lalu berkata, “Jika kau ingin kembali ke Jakarta, aku bisa menemanimu. Aku khawatir akan terjadi apa-apa selama kau dalam perjalanan. Sementara, melobi pihak Nano-ID merupakan salah satu tugas penting dariku.”
Lionny berpikir itu benar. Dia tidak mungkin sendirian pergi ke sana. Seharusnya dia ditemani seseorang. “Baiklah, nanti kau tinggal minta izin sama Pak Anggara terlebih dahulu.”
Leon berkata yakin, “Pak Anggara pasti memberikan izin. Mana mungkin dia akan membiarkanmu pergi sendirian dan tidak mungkin juga dia akan menunjuk selain diriku.”
Selama beberapa bulan belakangan Leon sedang gencarnya memberikan perhatian terhadap Lionny. Tidak hanya tertarik dengan pesona kecantikan dan kecerdasan, yang mana jika Lionny mendaftar sebagai Puteri Indonesia dia pasti masuk tiga besar, namun lebih itu dari, Leon kepincut ingin menjadi bagian dari Keluarga Sanjaya.
Jika bekerja sebagai manager di Sanjaya Techno saja merupakan sebuah kebanggan besar bagi Leon, bagaimana mungkin menjadi menantu Bobby Sanjaya tidak bernilai apa-apa? Bahkan posisi itu lebih istimewa baginya dibandingkan dengan seorang direktur utama perusahaan. Leon waras nafsunya.
__ADS_1
Leon mempertampan wajahnya di hadapan Lionny, lalu bertanya, “Apa kau sudah bertemu dengan CEO Nano-ID?”
Lionny menjawab, “CEO masih sibuk dan tidak bisa bertemu siapa pun di kantor Nano-ID. Untuk sementara ini aku hanya bertemu dengan asistennya.”
Berbinar mata Leon. “Mengagumkan. Aku tidak terbayang jika kau bertemu dengan CEO Nano-ID secara langsung. Dia pasti akan terpesona melihatmu, Lionny.”
“Katanya, CEO Nano-ID masih muda dan tampan. Dia pasti bukan orang sembarangan. Jika nanti bertemu dengannya, aku akan menampilkan performa tidak seperti biasanya karena dia memang harus mendapatkannya.”
Sanjaya Techno merupakan perusahaan yang paling dicintai oleh mendiang Kakek Sanjaya di antara perusahaan-perusahaan lainnya. Alasannya bukan semata karena berada di Surabaya, tapi karena inilah perusahaan pertama yang didirikan oleh Kakek.
Meskipun nilainya lebih kecil jika dibandingkan, contoh dengan Sanjaya Oil dan Sanjaya Coal, namun Sanjaya Techno mempunyai peran penting, terlebih dalam waktu beberapa tahun yang akan datang, secara kemajuan teknologi menuntut perusahaan ini agar terus maju.
Lionny tersenyum dan berkata, “Kerjasama dengan Nano-ID akan mengubah total Sanjaya Techno. Aku tidak meragukan pekerja di sini, hanya saja kita minim kerjasama dengan pihak yang kompeten. Nano-ID baru beberapa hari beroperasi saja sudah mendapatkan tawaran kerja sama ratusan.”
Leon masih menatap Lionny. “Ya, jika perusahaan luar negeri saja ingin bekerja sama dengan mereka, jelas Sanjaya Techno butuh dengan mereka. Alasannya, mereka cerdas dalam merekrut karyawan. CEO-nya bukan orang biasa. Dia pasti orang yang kharismatik.”
Lionny sepakat. “OB di kantor itu saja bersetelan rapi dan tampak seperti orang kaya. Ryan kalau tidak salah namanya. Aku tidak terbayang CEO-nya seperti apa.” Saat ini, Lionny sangat terkesima. Dalam bayangannya, mungkin CEO itu manusia terpilih di antara ratusan juta manusia.
Pujian berlebihan dari Lionny terhadap CEO Nano-ID agak menggelisahkan hati Leon. Jika Lionny hanyut dalam gelombang yang dia ciptakan sendiri, khawatirnya nanti Lionny akan main hati dengan si CEO. Padahal, Lionny yang sudah sangat jauh dari suaminya Erick saat ini merupakan kesempatan berlian yang harus digunakan sebaiknya oleh Leon.
__ADS_1
Leon berasal dari keluarga kelas menengah. Nilai hartanya tak beda jauh dengan Ryan, hanya saja pria tampan ini tidak punya sikap idealis yang penuh kebohongan layaknya Ryan. Leon merupakan tipe pria ambisius dan apa adanya. Dia tampil mewah karena seperti itulah dirinya dan dia akan mengejar impiannya sebagaimana keinginan kuat di hatinya.
Leon tersenyum hambar, lalu berkata, “CEO Nano-ID muda dan tampan. Aku rasa dia hanya ingin punya istri bukan dari kalangan biasa karena gengsi. Dan aku rasa dia tidak ingin pula punya pasangan dari kalangan pebisnis atau profesional. Aku yakin dia ingin punya pasangan dari kalangan selebritis.”
Saat ini, sedikit pun tidak terbersit di benak Lionny soal dia ingin dekat dengan CEO Nano-ID. Itu pemikiran absurd. Mana mungkin dia memikirkan sesuatu yang tidak masuk akal seperti itu. Saat ini, setidaknya hatinya terguncang oleh tiga kasus yang amat menggelisahkan.
Pertama, dia disangka menelantarkan suaminya dengan alasan sibuk mengurus pekerjaan. Kedua, dia disangka berselingkuh dengan Leon padahal Leon hanya rekan kerja. Dan ketiga, Lionny tidak bisa membohongi perasaannya sendiri, jujur dari hatinya yang paling dalam, dia masih cinta terhadap Stefan, tidak peduli apapun cemoohan manusia.
Maka dari itu, isu dia ingin mencari perhatian CEO Nano-ID itu jelas salah fatal. Lionny hanya ingin perusahaan milik keluarganya maju. Tidak ada keterkaitan dengan apapun selain dari bisnis.
Leon melanjutkan kalimatnya, “Dia bisa jadi keberatan jika harus menjalin sebuah hubungan dengan wanita karir dan merupakan anak orang kaya. CEO Nano-ID cerdas dan tidak ingin ada hal lain yang akan mengganggu perusahannya.”
Lionny melengos dan menjawab tegas, “Hanya urusan bisnis dan pekerjaan. Aku harap, pertemuanku dengan CEO nantinya tidak akan menjadi gosip baru lagi. Aku hanya mengharapkan perusahaan keluargaku bisa bersaing dengan perusahaan lainnya di negeri ini.”
Mendengar itu, Leon cukup terkesan dan ada sesuatu yang melegakan jiwanya. “Kapan kau akan ke Jakarta lagi? Aku siap kapan saja menemanimu ke sana.”
“Nanti menunggu panggilan dari asisten CEO Nano-ID terlebih dahulu. Kedatangan CEO masih belum bisa dipastikan. Sementara waktu ini asistennya yang akan mengurus semuanya.”
Dalam benak Lionny, dia tidak peduli mau berurusan dengan CEO secara langsung atau hanya melalui perantara anak buahnya karena baginya yang terpenting adalah dia bisa bekerjasama dengan Nano-ID.
__ADS_1
Menurutnya saat ini.