
Perjalanan pun dilanjutkan ke salah satu kantor pemerintah yang lainnya. Sengaja Stefan naik ojol karena ingin bernostalgia.
“Aku dulu sempat juga jadi driver ojol,” kata Stefan setelah membuka kaca helmnya.
“Oh, syukurlah sekarang sudah kerja kantoran, Pak,” balas pria yang cukup tua itu.
Sepeda motor itu pun berhenti di depan pagar kantor. Setelah membayar ongkosnya, Stefan pun melangkah tegap. Jika pada sebagian cerita fiksi MC-nya terkadang memakai pakaian murah dan bahkan kadang terlihat menyedihkan, namun tidak bagi Stefan. Baginya, rendah hati tidak selalu harus jelek dan rendah di mata orang. Penampilan tetap nomor satu.
Sebelum berangkat ke Indonesia, Stefan ketika di Swiss membicarakan hal intens kepada Pak Arya soal sisa dana yang diberikan oleh pihak pemerintah dalam project waktu itu. Ada sisa uang sekitar tiga ratus lima puluh juta. Pak Arya sempat menyarankan agar uang sebanyak itu dikembalikan kepada pihak pemerintah.
Namun, Stefan tidak setuju. Sebab jika uang itu dikembalikan, bakal masuk lagi ke kas negara sangat kecil kemungkinannya. Stefan tahu berita soal korupsi di negeri ini yang gila-gilaan. Dia tidak ingin mempermudah langkah sebagian tikus negara ingin menggasak harta rakyat.
Ada pertemuan penting antara Stefan beserta dua orang petinggi di salah satu institusi terkait.
Salah seorang dari mereka berkata, “Tuan CEO, kami berdua tahu kalau Anda mengajak kami bicara soal uang itu dengan rapat tertutup dan rahasia seperti sekarang.”
Rekannya menambahkan, “Tiga ratus lima puluh itu kecil, Tuan CEO. Jika kita bisa membahas ini sekarang, lalu keluar dari ruangan ini dan menganggapnya seolah lenyap dalam perut, ke depannya kita akan mudah dalam berkoordinasi.”
“Kami jamin akan ada banyak project nanti, baik dari pemerintah, maupun dari Swasta. Nano-ID akan jadi prioritas. Kami pasti selalu merekomendasikannya.”
__ADS_1
“Tuan CEO baru saja pulang dari Swiss. Dan sekarang mendapat uang makan yang cukup banyak. Untuk kita bertiga, bisa beli satu mobil. Tadi saya lihat Anda naik ojek online. Kami tidak tega melihat Tuan CEO panas-panasan.”
Stefan terus menyimak omongan sampah negara ini. Katakanlah Stefan akan dapat seratus dua puluh juta. Dari penjualan SigmaX, setiap bulan Stefan setidaknya mengantongi dua ratus juta dan itu halal. Duit haram yang dipersetujui dua tikus ini jelas kecil bagi Stefan. Imannya masih kuat.
Bapak berkumis pejabat berpangkat cukup tinggi ini tersenyum penuh rayuan dan berkata, “Jika atasanmu, Pak Arya tidak mau minta bagian, jelas kue ini kita potong jadi tiga bagian.”
Bapak beruban yang sudah bau tanah ini menatap tajam ke Stefan dan berkata, “Kami rasa, CEO AlfaTech akan geli-geli saja dengan duit receh yang lebih ini. Beliau pasti tahu dan tentu akan menghadiahkannya kepadamu, Stefan.”
Tapi, hati Stefan masih cukup bersih dan otaknya masih sangat waras. Tidak seperti dua pejabat tidak tahu diri ini. Pendirian Nano-ID dengan atas nama pihak pemerintah yang mengurus tetapi dijalankan oleh pihak asing, hal ini tak ubahnya seperti PU yang ingin bangun jembatan tapi menyuruh perusahaan swasta yang menjalankannya. Kongkalikong yang sudah mendunia. Anak SD masih ingusan saja tahu kebobrokan pemerintah.
Sebenarnya ini bukanlah penawaran pertama. Alasan kenapa dulu pada saat project berlangsung Stefan ingin minta biaya tambahan, ya itu alasannya, biaya yang tertulis di aplikasi dipangkas separuh. Stefan memaksakan diri menjalankan project dengan dana seadanya.
Ketika dia minta dana tambahan, barulah pihak pemerintah mau bergerak. Entah dana yang sudah disiapkan itu tidak diberikan atau memang masuk ke rekening ghaib. Semua orang tahu apa fungsi KPK di negeri ini. Jika Stefan mau, orang-orang rakus ini pasti sudah meringkuk di jeruji besi.
Stefan menegakkan bahu lalu berkata, “Uang itu sangat banyak. Sementara ini masih ada beberapa perlengkapan kantor yang harus dipenuhi. Uang itu akan saya alihkan untuk membeli beberapa keperluan tersebut.”
Mendengar itu, pria beruban menyela, “Silakan Tuan CEO menyuruh bawahannya untuk segera menyusun proposal lagi jika ada keperluan yang harus dipenuhi. Kami akan segera mengurusnya.”
“Betul. Jadi, uang tiga ratus lima puluh itu tidak usah dipindahkan ke sana. Tentu hal ini akan menjadi rumit.”
__ADS_1
Stefan tegas. “Tidak akan rumit. Justru penyusunan proposal kembali itulah yang akan bikin rumit. Semua biar kami yang urus. Laporannya akan saya serahkan secepatnya.”
Dua orang ini mulai resah. Sebelumnya, mereka berdua cukup senang mendengar ada rezeki nomplok yang datang dari seorang CEO polos. Sangat jarang sekali ada seorang petinggi perusahaan memberikan laporan bahwa ada dana berlebih.
Agaknya, semua orang tahu, dana yang diajukan dan dipakai biasanya selalu klop. Itulah hebatnya birokrasi di negeri ini. Sangat jarang ada laporan uang berlebih. Biasanya, sering kurang dan minta tambah.
“Tuan CEO, apa Anda ngeri? Jangan takut. Kami yang akan menjamin Anda.”
“Tuan santai saja. Ke depannya, Tuan tidak akan aneh dengan hal-hal seperti ini. Kami berdua hanya menjadi gerbang sebelum Tuan CEO bertemu dengan para pejabat yang jauh lebih tinggi. Seorang menteri misalnya. Gubernur, atau bahkan presiden.”
Stefan tidak ingin bermain api. Nano-ID belum saja diresmikan. Sekarang dia sudah harus melalui jalan berliku dan terjal ini. Ke depannya memang sangat berat. Benar, ini hanya pintu gerbang sebelum bertemu singa yang jauh lebih garang. Bagaimana dengan penggelapan dana sampai ratusan milyar?
Stefan tidak ingin ada dosa di perusahaan yang bakal dipimpinnya. Dia berkata ramah, “Ya, saya takut. Keputusan saya sudah bulat. Saya ingin menjaga komitmen yang saya pegang sendiri dan saya tidak ingin mengkhianati atasan saya, Pak Arya.”
Dua orang tua ini makin gelisah. Bukan hanya melewatkan uang jatuh dari langit, mereka dapat malu hari ini dan dipermalukan oleh CEO polos pula.
Salah seorang dari mereka menatap bingung, “Hm. Apa Anda sudah melakukan pembicaraan dengan pejabat di atas kami?”
Stefan menggeleng dan menjawab, “Belum. Jika bertemu untuk membahas uang ini, saya rasa tidak perlu. Bapak berdua sudah cukup punya nama di institusi ini dan memang ditugaskan sebagai penyambung antara pemerintah dan Nano-ID.”
__ADS_1
Mereka bernapas lega karena mereka akan malu jika Stefan juga membicarakan ini kepada atasan mereka. Kemudian, mereka berdua pun menelan kekalahan dan terpaksa merelakan uang itu.
Kali ini, mereka berdua akan berhadapan dengan sosok CEO yang ternyata tidak polos, justru kehadiran Stefan hanya akan mempersulit langkah-langkah kotor mereka saja.