Menantu Benalu Ini Ternyata Hacker Jenius

Menantu Benalu Ini Ternyata Hacker Jenius
83. Dua badut


__ADS_3

Stefan kembali menguasai panggung.


“Hadirin sekalian, ada dua karyawan dan karyawati Nano-ID yang cukup spesial bagi saya. Sebabnya mereka merupakan teman SMA dulu yang tidak mungkin saya lupakan. Mohon berdiri di atas panggung, Ryan Vikes dan Marissa Stya!


Dua orang yang dimaksud, yang sedari tadi sudah seperti orang gila, terbelalak matanya. Sepertinya hari ini akan menjadi hari yang panjang bagi mereka berdua. Banyak hal yang sudah terbayang di dalam kepala mereka. Namun, panggilan alam barusan telah membuyarkan semuanya.


Ryan dan Marissa telah tanda tangan kontrak kerja selama lima tahun ke depan, jika ingin resign? Ah, tahulah sendiri, tidak mungkin mereka akan melemparkan tumpukan daun kepada petugas bendahara. Entah berapa yang harus mereka bayar.


Setelah Ryan dan Marissa berdiri di atas panggung mewah ini, barulah Stefan bicara, “Saya berterima kasih kepada teman lama saya, Ryan, dia sangat baik hati, selama satu minggu dia berteriak-teriak kepada para karyawan memberikan pengumuman siapa yang menjadi CEO di saat semua orang bertanya-tanya siapa CEO-nya.”


Ryan terhenyak. Serasa paru-parunya tidak bisa bekerja. Apa dia juga terkena hipnotis? Atau dia juga terkena genjutsu?


Stefan mengawasi Ryan, lalu berkata, “Banyak karyawan yang menyangka Ryan sudah gila. Padahal omongannya sangat benar.”


Karyawan Nano-ID yang berada di belakang sana pun tertawa. Ternyata Ryan tidak bercanda selama ini. Jelas rupanya Ryan merupakan teman lama CEO. Sungguh mengherankan.


Stefan tersenyum sangat lebar, lalu berkata hangat, “Ryan selangkah lagi, bisa berkencan dengan sang sekretaris idola kita, Bu Grace Santika. Syarat pertama sudah berhasil dilaluinya. Sekarang, tinggal syarat kedua, yakni apakah CEO memberikan izin?”


Para hadirin yang tadi serius dan tegang, sontak mengubah posisi duduk dan memasang kuping baik-baik. Tidak ingin melewatkan momen ini.


“Tetapi, jika Ryan gagal, dia akan mendapat hukuman, yaitu pindah tugas lagi menjadi petugas kebersihan selama lima tahun ke depan!”


Sebagian peserta tergelak. Belasan PNS terkikik. Sebelumnya, mereka melihat Ryan bekerja dengan sombongnya sebagai supervisor. Sekarang, lihatlah si arogan! Wajahnya terlipat dan remuk.


“Ryan, bagaimana, kira-kira, saya dengan status teman lamamu, apakah akan merestui kencan kalian berdua?”

__ADS_1


Pak Arya tersenyum geli. Biasanya, Stefan selalu tampil dingin dan tidak banyak omong. Baru kali ini Pak Arya melihat sesuatu yang berbeda dari Stefan. Pak Arya masih fokus, soalnya terkait dengan putrinya sendiri.


“Kenapa diam, Ryan? Coba kau lihat para tamu! Apa kau sedang memikirkan tugasmu sebagai sapu jagat? Nanti, setelah ini kau akan kembali mengerjakannya.”


Ryan mengeras seperti patung. Keringat dingin keluar dari pori-porinya yang bergetar-getar. Akalnya masih mati, apa benar di sebelahnya adalah Stefan si pria menyedihkan? Semua ini seperti ilusi!


David menyerahkan sesuatu kepada Stefan.


Stefan menepuk-nepuk pundak Ryan, lalu berkata prihatin, “Para hadirin, Manager HRD telah menulis sebuah surat terbaru. Ryan, sayang sekali kau tidak bisa berkencan dengan Grace. Grace merupakan putri kandung dari Pak Arya. Apa kau bisa mengambil hati beliau?”


Ryan seperti tersedak biji durian. Entah sekarang dia harus menjawab apa.


“Tidak hanya itu, nanti kau harus kembali menyerahkan laptop Asus ROG kepada pihak perusahaan karena mulai saat ini kau bukan lagi seorang supervisor. Nanti kau bisa menyusun proposal untuk mengajukan permintaan sapu lidi terbaik di Indonesia. Kau tentu paham bahan sapu lidi terbaik. Kau ahlinya.”


Semua orang tertawa.


Stefan tersenyum hambar, lalu berkata dingin, “Marissa berani bertaruh bahwa jika pernyataan Ryan benar sesuai dengan perintah Bu Grace, dia akan meninggalkan posisi staf bendahara.”


Semua hadirin tidak sabaran menunggu perkataan Stefan selanjutnya. Saat ini, mereka pikir Stefan sedang bercanda. 


“Divisi konsumsi diperlukan di kantor. Marissa akan menjadi orang pertama yang bertugas di divisi tersebut. Silakan kepada saudari Marissa untuk segera menyusun proposal, jika Anda tidak paham tentang cara menjadi barista, akan kami beri waktu untuk belajar kilat selama tiga hari. Kami harap, kopi buatanmu serasa kopi di cafe!”


Lelucon apa lagi? Di hari ulang tahun AlfaTech ini sungguh menghibur. Selesai dari Bobby Sanjaya, kini Ryan dan Marissa menjadi patung bisu di atas panggung.


Mata Marissa berkaca-kaca, jika sekarang posisinya di dalam kamar, dia ingin menangis sampai satu ember.

__ADS_1


David menyerahkan sesuatu kepada  Stefan.


Stefan membaca kertas tersebut, lalu berkata, “Setelah satu tahun, akan ada jaminan menjadi Kepala Dapur. Marissa, selamat ya! Kau harus belajar cara membuat telur gulung dan cilok. Biar kami semua di kantor tidak lagi jajan di luar.”


Semua orang kembali tertawa.


Stefan menatap berkeliling, lalu berkata, “Ryan dan Marissa begitu spesial, bukan? Para hadirin yang terhormat. Sebentar lagi mereka akan menjadi badut.”


Lalu lima orang Nano-ID pun menarik Ryan dan Marissa ke belakang panggung. Mereka berdua memakai properti yang telah disiapkan.


Tidak lama berselang dua badut ulang tahun pun hadir di atas panggung. Dua badut itu bergoyang dan berjoget ala toktok. Semua orang tergelak.


Tidak ada opsi lain, selain dipermalukan. Ryan mengawasi ratusan orang di hadapannya. Saking malunya, dia tidak malu lagi. Marissa, jika bisa, dia ingin membatalkan kontrak kerja, namun jelas tidak bisa.


Kemudian, salah seorang memberikan sapu lidi panjang kepada Ryan. Ryan diperintahkan untuk menjadi seorang penyihir. Dia pun menaiki sapu lidi itu, lalu berjalan mengitari panggung, berjingkat-jingkat seru seperti kambing patah kaki satu.


Marissa diberikan sebuah teko dan cangkir. Marissa disuruh menghadap para hadirin, lalu berlagak seperti barista andal yang tengah menyiapkan secangkir kopi. Marissa melempar ke atas cangkir itu, seperti di dalam sebuah sirkus.


Stefan tertawa ringan. “Dua badut kita sangat lucu! Tidak sia-sia saya punya teman seperti mereka.”


Tiba-tiba, seolah mengerti maksud Stefan, Grace naik ke atas podium dan berdiri pas di samping Stefan. Wajah Grace sangat ceria. Dari tadi dia terkekeh sampai merinding dibuatnya.


Grace mendekatkan mic, lalu berkata, “Ryan begitu perhatian pada saya. Jelas saya menghargai segala macam bentuk usahanya. Saya rasa, ada di antara kita yang telah mendengar sebanyak belasan kali ucapan Ryan ‘CEO Nano-ID adalah Stefan Raden Kusuma!’”


Grace mengapresiasi kegigihan Ryan selama satu minggu belakangan. Namun, Ryan tidak hanya mendapat hasil sesuai ekspektasinya, melainkan malu yang berlimpah.

__ADS_1


Grace tak berhenti terpingkal. “Saya sering membaca dan menonton cerita fiksi. Ada kok OB yang berhasil menciduk hati seorang, tidak hanya sekretaris, tapi bos lho. Tepuk tangan buat Ryan!”


__ADS_2