Menantu Benalu Ini Ternyata Hacker Jenius

Menantu Benalu Ini Ternyata Hacker Jenius
94. Hati yang bermain


__ADS_3

Di rumahnya, Grace berdikusi dengan ayah dan ibunya.


“Keluarga Sudrajat punya hubungan kekerabatan jauh dengan kita,” ungkap ibunya Grace dengan wajah berseri.


Pak Arya menyeruput tehnya, lalu berkata, “Keluarga Sudrajat punya jasa besar bagi keluarga ibumu yang belum sempat kita balas.”


Diskusi ini akan menjadi diskusi yang cukup panjang karena obrolan yang membahas tentang balas budi terhadap Keluarga Sudrajat sudah lama menghilang, baru sekarang bahasan tersebut muncul kembali. Saat Pak Arya berada di Jakarta, sekaranglah waktunya.


Grace berkata heran, “Aku baru tahu bahwa keluarga ibu, yakni Keluarga Diningrat punya kedekatan dengan Keluarga Sudrajat.” Grace terlalu sibuk mengurus karir pribadinya sehingga melupakan urusan kekerabatan yang sebenarnya jelas jauh lebih penting.


Dalam waktu yang telah lalu, satu perusahaan milik Keluarga Diningrat, yaitu DN Enterprise, kekurangan dana investasi. Perusahaan tersebut telah di-blacklist dari banyak perusahaan keuangan sehingga mereka tidak bisa mendapatkan uang dalam jumlah besar untuk menutupi krisis yang tengah terjadi.


Satu-satunya perusahaan investasi yang mau membantu mereka adalah Sudrajat Corp. Maka dengan itu DN Enterprise selaku perusahaan yang bergerak di bidang konstruksi tersebut perlahan bangkit. Meskipun mereka tetap bekerjasama dengan cukup baik, DN Enterprise seolah lupa dengan jasa lama tersebut.


Pak Arya memampang wajah serius dan berkata, “Grace, cari info di kantor, jika ada perusahaan milik Keluarga Sudrajat yang mengajukan kerjasama dengan Nano-ID, cepat urus segera. Koordinasi dengan CEO-mu!”


Grace menjawab, “Ayah, CEO sudah memerintahkan agar Nano-ID menjadikan perusahaan Sudrajat sebagai prioritas. Aku tidak begitu paham kenapa CEO memerintahkan seperti itu. Apakah CEO mengenal siapa mereka?”


Pak Arya berpikir cukup keras. Dia tahu bahwa Stefan punya wawasan terbuka dan network luas. Oleh karena itu, Pak Arya berasumsi bahwa Stefan tahu persoalan antara Keluarga Diningrat dan Keluarga Sudrajat.


Pak Arya berkata tegas, “Turuti saja apa kata Stefan!”


Grace menatap ayah dan ibunya secara bergilir, lalu berkata, “Baru kita ketahui bahwa ada salah satu bagian dari Keluarga Sudrajat yang menjadi orang penting di Nano-ID. Ayah, orang kepercayaan Ayah bernama Martin Santoso merupakan cicit dari mendiang Tuan Sudrajat.”

__ADS_1


Pak Arya terkaget. Anehnya, Pak Arya malah kagum terhadap Stefan. Dia pasti mengira bahwa Stefan lah yang mengatakannya pada Grace.


Dan di sinilah letak keberuntungan Stefan, bukan sekadar kecerdasannya. Kesempatan tak terduga datang dengan sendirinya. Namun, Pak Arya terlalu berlebihan dalam memuji Stefan seolah Stefan tahu akan segalanya.


Letak dari kecerdasan Stefan hanyalah memanfaatkan peluang, itu saja.


Ibunya Grace berkata, “Pihak keluarga ibu akan merasa sangat terhormat jika bisa berbesan dengan mereka kembali.” Secara, pihak keluarga ibunya dari dulu hingga saat ini masih berada di bawah keluarga Sudrajat dari banyak segi. Jika hubungan mereka semakin dekat, tentu akan menaikkan citra dan nilai jual dari keluarga ibunya.


Pak Arya jelas akan senang menyambutnya. Akan tetapi dia tidak akan menjadikan anaknya sebagai pancingan untuk menarik simpati siapa pun. Pak Arya sudah menang pamor dan uang. 


Meski demikian, Pak Arya hanya ingin menangkat sedikit citra keluaga istrinya dan terpenting adalah tindakan balas budi. Dia berkata, “Martin tidak pernah menceritakannya padaku. Seharusnya keluarganya didahulukan dari pada yang lain. Tapi kenapa Martin bersikap biasa?”


“Apakah Martin layak?” tanya ibunya Grace. “Sepertinya pria itu tampak tertutup dan berkharisma,” pujinya.


Grace tentu tidak akan menolak perintah ayahnya. Ditambah ibunya terus memberikan dorongan agar Grace mencari banyak informasi tentang sosok Martin yang cukup tertutup. Siapa Martin sebenarnya?


Pagi harinya di gedung kantor Nano-ID.


“Ada apa, Bu Grace? Tumben Anda memanggil saya pagi-pagi. Padahal hari ini tidak ada pertemuan apapun,” ucap Martin setelah baru saja masuk di ruangan race.


“Silakan duduk. Kenapa kamu menyembunyikan identitasmu, Martin? Jika kamu mau, seharusnya kamu sudah menjadi orang penting di perusahaan keluarga besarmu.”


Karena Grace blak-blakan, tidak mungkin Martin akan malu-malu. Dia pun menjawab, “Saya adalah pria yang tidak bisa diharapkan. Lebih baik saya mencari peruntungan di luar keluarga.” Martin membaca mata wanita di hadapannya. Ada apa gerangan?

__ADS_1


Grace membuka satu berkas dokumen. “Proposal ini dari salah satu perusahaan milik Sudrajat Corp. Sekarang, buktikan bahwa kamu punya peran bagi keluargamu! Buat dirimu lebih berarti!”


Ah, Grace peka dan terlalu cepat membuat keputusan, namun dia tidak mengerti masalah yang sebenarnya terjadi. Martin merupakan anak dari istri kedua ayahnya. Sementara sebagian besar Keluarga Besar Sudrajat lebih memprioritaskan anak-anak dari istri pertama ayahnya.


Dari segi nasab, Martin seharusnya mendapat perlakuan yang sama dengan saudara tirinya karena ayah mereka adalah orang yang sama. Kecuali, jika Keluarga Besar Sudrajat adalah dari jalur istri pertama ayahnya, atau ibu tirinya. Jelas mereka semua akan mudahnya menendang Martin sebagaimana di cerita film dan sinetron.


“Begitulah,” ujar Martin sambil tersenyum. “Seharusnya saya tidak membicarakannya pada Bu Grace.”


Grace memperbaiki posisi duduknya. Entah karena gestur atau karena tidak nyaman membicarakannya. “Ibu saya bagian dari Keluarga Diningrat. Saya mewakili keluarga ibu saya, ingin menyampaikan bahwa Sudrajat Corp harus mendapatkan perlakuan spesial dari Nano-ID.”


Martin terpana.


Apa yang sudah dia dengar dari Stefan tempo lalu? Kenapa bisa ada hubungan dengan keinginan Grace? Apa terjadi begitu saja tanpa perencanaan?


Jika kerjasama terjalin, akan ada banyak yang merasakan manfaat baiknya. Pertama, Martin akan mendapatkan citra di keluarganya kembali. Kedua, balas budi dari Keluarga Diningrat terpenuhi karena Grace. Ketiga, terjalin hubungan yang baik antara Keluarga Diningrat dan Keluarga Sudrajat.


Selain itu, Martin akan mendapatkan apa yang dia inginkan selama ini. Begitu juga dengan ibunya Grace. Semua klop.


Martin menegakkan bahu dan berkata, “Baiklah, atas perintah CEO dan Bu Sekertaris, saya akan segera menyusun agenda pertemuan dengan pihak Sudrajat Corp. Keluarga Sudrajat akan menjadi prioritas.” 


Lalu, Martin menatap mata Grace cukup lama. Begitu juga sebaliknya. Apakah dengan memenuhi kontrak kerjasama dengan Sudrajat Corp sudah cukup? Apakah dengan itu ibunya Grace merasa berlapang dada, padahal Keluarga Diningrat tidak punya peran kecuali omongan Grace semata?


Padahal, yang paling berperan jelas Nano-ID dengan orang-orang di dalamnya, bukan keluarganya ibu Grace.

__ADS_1


Grace sadar, bahwa usaha kecilnya sekarang tidak cukup untuk membalas budi kepada Keluarga Sudrajat. Harus ada langkah besar yang diambil, dan harus ada hati yang bermain.


__ADS_2