Menantu Benalu Ini Ternyata Hacker Jenius

Menantu Benalu Ini Ternyata Hacker Jenius
85. Rencana pembalasan


__ADS_3

Keluarga besar Pak Arya Sutejo dan juga dari sebelah istrinya, yakni Keluarga Diningrat, semuanya memtusukan hubungan kerjasama dengan Sanjaya Group  dan tidak akan menengok Sanjaya Group dalam hal apapun, baik sebagai mitra, klien, maupun customer.


Keluarga-keluarga terpandang di Indonesia yang saat ini perusahaan mereka bergantung dengan Nano-ID, sesuai dengan arahan Stefan, begitu juga, memutuskan hubungan kerjasama bisnis dengan semua perusahaan Sanjaya Group tanpa terkecuali.


Belasan investor melepaskan diri dari tujuh perusahaan Sanjaya Group. Bahkan, pihak pemerintah melengos dari Sanjaya Group, bukan karena perintah Stefan, karena Sanjaya Group mulai kacau dan goyah.


Bobby Sanjaya di kantornya pagi ini rasanya mau pecah batok kepalanya. Berbagai macam jenis laporan datang kepadanya yang memberitakan tentang menurunnya profit, kerugian, kekurangan dana investasi, anjloknya nilai jual, dan berbagai berita minus lainnya.


“Social engineering sudah berhasil,” gumam Stefan pada dirinya sendiri. “Sekarang, harus ada malware yang menyerang.”


Stefan menghadap jendela kaca di apartemennya. Dari lantai tiga puluhan dia bisa melihat sebagian salah satu sisi Kota Jakarta.


Malam yang gelap. Awan hitam bergelung tebal. Lalu, rintik hujan pun turun dari langit. 


Kekelaman ini akan menjadi kekelaman milik Sanjaya Group. Kali ini, Stefan tidak main-main. Dia memang bukan tipe pria yang gampang larut dalam masa lalu, namun jika membahas problem harga diri, Stefan tidak akan pernah lupa.


Namun, Bobby Sanjaya bukan pria lemah, meskipun memang kadang tolol, nyali orang ini tidak seperti bocah. Dia bermaksud ingin buat perhitungan terhadap Stefan. Maka, di kediamannya di Jakarta, dia mengundang orang-orang terdekat.

__ADS_1


Erick sang menantu yang jarang terlihat, kini meninggalkan pekerjaannya demi sang mertua. Dia berkata, “Di luar dugaan, pria menyedihkan itu sekarang menjadi CEO Nano-ID. Masa lalunya yang hancur memudahkan bagi kita untuk segera mengalahkannya!”


Leon, sang calon menantu baru Bobby Sanjaya, tidak akan diam. Setelah hubungannya dengan Luchy semakin erat, sekarang merupakan kesempatan emas baginya untuk tampil dan mencari muka. “Aku punya data rahasia tentang Stefan. Aku akan menyadap. Tidak butuh waktu lama untuk menyingkirkan orang seperti Stefan!” Leon berbicara dengan lantang.


Leon punya riwayat yang sangat baik. Dia termasuk ahli IT di Sanjaya Techno, menggantikan Wesley, posisi manager terlalu rendah untuk orang secerdas Leon. Dia pernah menemukan celah bahkan sampai menyerang perusahaan besar, bukan untuk tindakan jahat, tetapi sengaja biar mencari perhatian.


Bobby menegakkan bahu, lalu berkata pada Leon, “Aku tidak peduli sebesar apa Nano-ID. Dari semua karyawan yang aku kenal, hanya kau Leon yang punya kapaitas dan prestasi. Aku yakin kau bisa mengatasi Stefan dengan caramu sendiri.”


Leon mengangguk takzim, lalu membalas, “Serahkan semua padaku, Ayah. Kita harus buat perhitungan. Gara-gara Stefan, Sanjaya Group bisa rubuh.” Leon mengepalkan tinju dengan memampang wajah marah. Ada seringai bengis di wajahnya.


Lionny tak angkat bicara. Tadi dia sangat disalahkan oleh keluarganya. Gara-gara dia menikah dengan Stefan, akhirnya Keluarga Sanjaya hancur berantakan. Padahal, Lionny tidak sebodoh itu. Dia tersiksa atas tingkah salah ayahnya sendiri. Sungguh wanita yang malang.


Tiba-tiba, Bobby menjerit. “Aaaahhhh!!!!” Bobby tidak bisa mengontrol emosi. Wajahnya sangat merah dan urat di lehernya mengencang. “Seharusnya Stefan sudah mati! Kalian semua harus tahu. Dulu aku merencanakan pembunuhan terhadap Stefan. Orang yang menabrak Stefan adalah orang suruhanku! Seharusnya dia sudah mati!” Bobby menjambak rambut kepalanya.


Sebelumnya rahasia besar ini hanya diketahui oleh istrinya. Tidak ada selain itu. Namun, malam hari ini semua orang di kediaman Bobby tercengang luar biasa. Robert dan Luchy terperanjat kaget. Mata mereka serasa mau lepas.


Erick dan Leon sangat kaget. Erick tersandar di kursi. Dia mengusap keningnya karena baru ini mendengar rahasia tersebut. Sementara Leon, orang baru di rumah, syok. Rupanya, perseteruan antara Bobby dan Stefan sudah berlangsung lama.

__ADS_1


Sementara itu, Lionny menatap heran ayahnya. Wajahnya sangat pucat. Tubuhnya bergetar luar biasa. Dia berkata seperti ingin menangis, “Apa yang Ayah katakan? Jangan pernah berbohong!” Lionny menjerit histeris tak percaya. Matanya memerah.


Chyntia terpancing. “Kami yang merencanakan pembunuhan terhadap Stefan. Harusnya dia sudah mati, Lionny! Kau tidak pantas mendapatkan suami yang tidak jelas asal usulnya seperti dia! Lihatlah sekarang, dia memusuhi keluarga kita. Kita sebentar lagi akan hancur gara-gara dia!”


Dada Lionny sesak. Sekejam itukah ayah dan ibunya?


Timbul sebuah pertanyaan, kenapa Bobby sangat membenci Stefan? Apa motif dan hal yang melatarbelakangi awal kebencian itu? Jika barusan Chyntia bilang bahwa Stefan dibenci lantaran asal usul tidak jelas, rasanya alasan tersebut belum cukup kuat, apalagi harus menghilangkan nyawa.


Bahkan, Chyntia sendiri masih belum tahu alasannya. Hanya Bobby yang masih menjaga rahasia dengan cukup baik. Jika saat ini dia tidak bisa mengontrol emosinya, jelas rahasia itu akan terbongkar. Namun, Bobby kali ini berhasil menguasai dirinya.


Bobby mengumpat sadis, “Pria sialan! Apa kalian semua tidak marah ketika aku dipermalukan di depan orang  banyak? Gila! Stefan sangat membuatku malu dan hancur! Kali ini dia harus mati!” lolong Bobby dengan amarah yang pecah.


Erick menyeringai dan berkata, “Baiklah, Ayah. Aku akan membunuh Stefan. Orang itu memang harus mati, karena jika tidak, kita semua akan kena imbas. Dia menjadi orang rendahan saja berbahaya, apalagi dia sekarang memimpin perusahaan sekelas Nano-ID dengan backingan pihak pemerintah?” Erick makin muak dengan Stefan. Tidak habis pikir, apa itu benar Stefan yang pernah mengantarkan kopinya dan menyemir sepatunya? Sebuah realita yang aneh.


Robert menggertakkan gerahamnya, lalu berkata, “Berarti, waktu itu Stefan merencanakan semuanya. Bagaimana bisa aku bisa dipermalukan?” Saat ini, sejujurnya dari hati Robert yang paling dalam, dia ingin memuji kejeniusan Stefan. Hal yang berujung dengan dipermalukannya dirinya tempo lalu bukan berjalan tanpa rencana dan mengalir begitu saja.


Robert ingin memuji Stefan, tetapi kebencian di hatinya jauh lebih dahsyat ketimbang rasa kagumnya. Jika orang normal, jelas akan mengakui kejeniusan Stefan. Bagaimana bisa Robert yang menyangka Stefan hanya seorang OB, lalu tiba-tiba ayah kandungnya sekarang sangat terpuruk? Semua tidak mungkin tanpa perencanaan.

__ADS_1


Robert menolak realita. “Ah, dia hanya pria gila, menumpang, dan menyedihkan. Jangan pernah terpukau dengan pencapaiannya sekarang!” Robert mencari alibi receh. Tidak ada yang keluar dari mulut kotornya kecuali penghinaan yang itu-itu saja. Robert masih belum bisa berlapang dada menerima kekalahan.


Apa yang bisa dia lakukan untuk menghadapi Stefan?


__ADS_2