Menantu Benalu Ini Ternyata Hacker Jenius

Menantu Benalu Ini Ternyata Hacker Jenius
122. Kasih


__ADS_3

“Kau tahu apa konsekuensi jika menolak, Tuan Stone?” ancam Stefan.


Tuan Stone sedikit mendongakkan kepala dan menjawab lirih, “Bagaimana kalau dikurangi separuh, Tuan CEO? Cukup lima belas juta saja. Saya masih bisa kalau segitu.” Tetap ada keraguan terpancar di raut wajah Tuan Stone. Bibirnya bergetar tatkala mengucapkannya karena di dalam kepalanya sedang bertengkar sendiri, lebih baik menolak jika bisa.


Stefan mengalihkan pandangnya ke Bobby. “Cukup untuk satu perusahaan Sanjaya Group saja. Atau mungkin nanti suatu saat Tuan Stone akan kembali memberikan penawaran. Kita tahu bahwa Tuan Stone bukanlah orang asal-asalan yang gampang memberikan keputusan.”


Lima belas juta dollar? Sebuah perjudian besar bagi Tuan Stone, jika judi 50:50, tidak untuk investasi nanti, baginya kemungkinan profit hanya dua puluh persen. Tuan Stone siap rugi.


Tuan Stone ketar-ketir dan berharap agar kiranya Stefan tidak berbicara panjang lagi terkait investasi. Dia tidak mau hari-harinya makin buruk. Jika bisa melarikan diri dan langsung ke Singapura, tentu dia akan melakukannya segera.


Stefan mengucek hidungnya dan berkata dingin, “Tuan Stone, nanti coba kau berikan tawaran gilamu kepada Bobby Sanjaya, siapa tahu dia akan mau.” Stefan tidak bermaksud agar Tuan Stone memilih Chyntia atau Luchy untuk masuk ke list, namun Stefan hanya ingin mengetahui sikap dan keputusan dari seorang Bobby Sanjaya.


Kira-kira, apakah Bobby akan merelakan dan mengorbankan keluarganya sendiri demi menyelamatkan bisnisnya yang sedang terpincang-pincang? Apakah Bobby masih punya hati? Lihat nanti. Stefan harap Bobby menjadi waras akalnya ketika menjadi seorang pemimpin keluarga dan perusahaan.


Tuan Stone menoleh ke kiri dan mengawasi Chyntia dan Luchy. Astaga, dua wanita itu seperti adik dan kakak. Entah karena Chyntia yang terlalu hobi perawatan jadi selalu terlihat muda, atau karena Luchy yang di usianya masih muda sudah banyak pikiran jadi tampak tua.


Namun, jantung Tuan Stone berdesir ketika melihat kecantikan dua wanita itu. Sekilas mereka sangat mirip dengan Lionny. Tidak bisa mendapatkan Lionny, bolehlah kalau dua wanita itu sebagai gantinya. “Lima belas juta dollar,” ucapnya sembari melirik Chyntia dan Luchy.


Melihat tatapan cabul itu, Chyntia dan Luchy was-was. Tuan Stone memang menarik perhatian karena penampilannya yang mencolok, tapi wajah mesum itu cukup berbahaya. Setiap wanita pasti tahu bahwa Tuan Stone punya gairah aneh terhadap wanita yang disukainya.

__ADS_1


Stefan menggagahkan diri, berdiri, meletakkan kedua telapak tangannya di atas meja kerja, sembari mengedarkan pandangan kepada mereka, lalu berkata, “Baiklah, sudah ada pembicaraan di awal tentang kerjasama antara SG9 Enterprise dengan Sanjaya Group. Kami harap ke depannya kedua perusahaan bisa bekerjasama dengan baik dalam banyak hal.”


Tidak ada yang bisa menolak keputusan Stefan saat ini. Semuanya tunduk dan patuh. Dia melanjutkan, “Untuk tawaran ‘tersebut’, jangan bicarakan di sini, karena hal tersebut sangat privasi, Tuan Stone. Baik, untuk kerjasama kalian berdua saya cukupi sampai di sini.”


Stefan menyuruh Martin agar menyuruh Grace ke ruangan. Ketika Grace tiba, dia dipersilakan berdiri pas di samping Lionny. Tak ada kecanggungan sama sekali di antara Lionny dan Grace.


“Mulai!” titah Stefan.


Tuan Stone terpana heran. Apa dia Stefan yang diejeknya kemarin? Sekarang sosok tersebut menjadi begitu berkuasa di dalam ruangan ini. Semua orang tunduk atas perintahnya. Tuan Stone bakalan lebih melongo beberapa saat lagi.


Luchy mendekati Lionny dan berkata sangat lemah penuh dengan rasa bersalah. “Kak, dulu aku banyak salah kepadamu. Aku adalah adik yang kurang ajar dan tidak tahu diri. Maafkan aku.”


Tahu akan kelembutan hati kakaknya, Luchy pun menangis karena saking terenyuh nya. Dia berkata lirih, “Kau tidak salah, Kak Lionny. Akulah yang salah. Aku selalu berpikiran buruk terhadapmu dan terhadap Kak Stefan.” Tangis Luchy pecah. “Aku menyesal. Maafkan aku.”


Meski ada rasa benci terhadap sikap adiknya selama ini, Lionny berusaha sabar dan berlapang dada. “Ya, aku maafkan. Aku harap, kau menjadi lebih baik.”


Giliran Robert. Dia mendekat ke Lionny dan mencium tangan kakaknya, lalu memeluknya dengan penuh rasa penyesalan. Dia berkata lemah, “Aku telah salah menilaimu. Dulu, aku selalu meragukanmu, Kak. Aku juga iri dan benci terhadapmu. Aku salah.”


Lionny terharu. Dia mengelus rambut adiknya dengan sangat tulus. “Maafkan aku karena tidak bisa mendidik kalian dengan benar. Seharusnya aku menjadi kakak yang patut dicontoh, tapi aku gagal.”

__ADS_1


“Maafakan aku, Kak Lionny. Aku salah menilaimu. Kau sangat baik dan hatimu sangat lembut. Sekali lagi, maafkan semua kesalahanku padamu. Terimalah aku sebagai adikmu.”


“Ya, kau tetap menjadi adikku, Robert. Aku harap, kau juga mau mengubah diri menjadi lebih baik.” Lionny menciumi pipi Robert. Meskipun sering kesal karena ucapan dan sikap adiknya, Lionny masih berbesar hati untuk memaafkan semuanya. Hati Lionny melunak.


Giliran Chyntia. Dia memeluk Lionny sangat erat dan berkata, “Karena Ibu, kau jadi berpisah dari Stefan. Pilihan mendiang kakek dan pilihanmu sudah benar, anakku. Stefan adalah pria baik dan tepat. Aku salah menilai. Apa kau masih menganggapku ibu, Lionny?”


Lionny juga terharu mendengarnya. Matanya berkaca-kaca, lalu menangis. “Setiap manusia pernah melakukan khilaf dan salah.” Lionny berkata lembut dan penuh kasih, bagaimanapun Chyntia adalah orang yang berjasa besar dalam hidupnya, sosok ibu kandung tidak bisa dilepaskannya begitu saja.


Lionny mencium pipi ibunya dan berkata, “Ibu adalah orang yang mengandung, melahirkan, menyusui, dan membesarkanku. Aku tidak akan bisa melupakanmu, Bu. Jelas aku masih menganggapmu ibu. Kebaikanmu terlalu banyak.” Meskipun memang menyebalkan, Lionny tetap membesarkan jiwanya dan memaafkan kesalahan ibunya.


Cinta dan kasih Lionny jauh lebih besar dari pada rasa sebalnya. Baginya, sosok ibu tidak bakal mudah untuk dilupakan.


Giliran Bobby. Bobby memeluk Lionny sambil menangis, menyadari bahwa semua keterpurukan yang menimpa saat ini adalah murni karena kesalahannya pribadi. Dengan kata lain bahwa dirinya sangat tolol dan sering keliru dan mengambil sikap.


“Ayah salah dalam hal apapun,” ucap Bobby dengan nada penuh penyesalan. Wajahnya muram dan seperti orang sakit.


Lionny tidak tega. “Ayah pasti bisa. Kita akan bangkit, Ayah!” serunya sambil tersenyum riang.


Bobby tertunduk dan berkata lemah, “Seharusnya, Ayah benar-benar merestui hubungan kau dengan Stefan. Sekarang, Ayah akui bahwa Stefan adalah pria terbaik dan tepat untukmu, anakku. Maafkan semua ucapan dan tindakan Ayah selama ini. Maafkan.”

__ADS_1


Lionny makin terharu. Bulir air matanya tak berhenti mengalir. “Kita harus saling memaafkan, Ayah.” Meskipun banyak kesal dan marahnya, namun belas kasih Lionny melebihi segalanya. “Yakinlah, perusahaan yang Ayah pegang akan bangkit!”


__ADS_2