
Stefan mengirimkan beberapa foto dan video ke Pak Arya saat ini juga. Setelah itu, Pak Arya kaget luar biasa, matanya membulat sempurna.
Pak Arya menggeleng dan berkata tak menyangka, “Mereka berdua ini memang akrab selama sekitar satu tahun belakangan. Saya tidak menyangka kalau ternyata mereka berdua punya hubungan khusus seperti ini.”
Stefan membuang pandangannya ke arah jendela, lalu berkata, “Maaf. Saya tidak memfitnah karena berita ini adalah fakta. Dan saya tidak bermaksud menyebarkan kebencian karena itu jelas urusan pribadi mereka berdua, tapi lihatlah, mereka satu posisi di kantor ini. Jelas pasti akan ada pengaruhnya dengan pekerjaan.”
Selaku pimpinan tertinggi perusahaan, jelas Pak Arya sepakat dengan argumen Stefan. Dua orang itu adalah penyakit yang harus segera disingkirkan dari perusahaan, karena jika tidak sekarang, penyakit ini malah bikin sial.
Jika Stefan berkata blak-blakan soal dirinya pribadi yang sering mendapat intimidasi dari Alan dan Liam, meskipun kasus tersebut ada relevansi dengan urusan pekerjaan, Stefan sepertinya tidak akan melaporkannya kepada Pak Arya. Stefan bukan anak kecil yang hobi merengek.
Pak Arya menghela napas kasar dan berkata, “Untuk mengamankan posisimu, biar kasus ini seolah-olah saya yang membongkarnya.”
Mendengar itu, Stefan berdecak. “Tidak perlu, Pak Arya. Saya tidak takut kalau mereka akan menuntut saya nantinya. Tidak mengapa kasus ini dilimpahkan kepada saya. Bila perlu semua orang tahu kalau saya yang sudah membongkar kebobrokan mereka.”
Pak Arya terpana. “Baiklah, Stefan. Perusahaan akan mengambil tindakan tegas segera.”
Stefan kembali mengutak-atik HP-nya sebentar, lalu memperlihatkan sebuah video di layar HP-nya. “Mereka melakukannya di toilet karyawan dan merekamnya buat pribadi.”
Pak Arya terperanjat kaget. “Mereka sudah keterlaluan. Hari ini juga saya akan memecat mereka secara tidak hormat.”
Siang harinya setelah rapat dewan, Pak Arya memanggil Alan dan Liam ke ruangannya. Posisi Stefan persis seperti tadi, pas di hadapan Pak Arya. Saat ini, Alan dan Liam terheran-heran kenapa dipanggil tiba-tiba oleh Pak Arya.
Pak Arya memberi kode kepada Stefan agar segera membuka pembicaraan. Stefan berdeham sebentar, lalu berkata pelan, hampir berbisik. Dia tidak perlu berteriak karena dua orang ini jelas berada pas di sampingnya.
“Hebat, ada dua prajurit yang suka memainkan pedang di sini. Hanya saja, bukan pedang buat berperang di medan pertempuran. Karena dua orang ini bukan laki-laki gagah seperti seharusnya. Dua orang ini hanya manusia yang keluar dari jalur normal.”
Pak Arya memberikan tatapan tajam ke dua orang itu, lalu berkata, “Perusahaan tidak mentolerir bagi siapa saja yang melanggar aturan perusahaan. Kita semua pendosa. Tapi tidak seharusnya dosa itu dibawa ke kantor ini.”
__ADS_1
Lalu, Pak Arya memperlihatkan sebuah video kepada Alan dan Liam. “Keji sekali kalian melakukan perbuatan kotor ini di kantor. Saya tidak peduli jika kalian berdua memang gay di luar sana. Tapi jika dosa kotor ini dibawa ke kantor, kalian berdua harus berurusan dengan saya.” sentak Pak Arya mulai tegas.
Mendengar itu, Alan dan Liam tersentak kaget. Bagaimana bisa Pak Arya tahu video privasi mereka? Kemudian, hitam mata Alan pun perlahan melirik Stefan. Dilihatnya Stefan sedang tersenyum tipis. Sebuah senyuman hambar tapi penuh makna.
Stefan mengucek hidungnya lalu berkata, “Di sini aku baru tahu definisi penjilat sesungguhnya. Menjilat sesuatu yang kotor. Sungguh menjijikkan.” Lalu, Stefan berdiri dan berpamitan kepada Pak Arya. “Saya permisi, Pak. Saya harus mengabarkan berita ini pada Theo dan Stephanie. Kami harus merayakannya bersama-sama.”
Saat ini juga, Pak Arya langsung memecat Alan dan Liam secara tidak hormat. Tidak butuh waktu lama bagi seorang CEO untuk memberikan keputusan. Tidak sulit bagi Pak Arya untuk menghilangkan dua penyakit ini dari kantor.
Di saat bersamaan, Stefan sudah mengajak semua anggota timnya tanpa terkecuali, berkumpul di sekitar halaman parkir kantor. Theo sudah jongkok pas di depan mulut mobil milik Alan. Di sebelahnya terpakir mobil milik Liam. Stefan berdiri di sana.
Tidak lama berselang, dua tersangka utama pun keluar dari pintu depan kantor sambil berjalan menunduk. Sebagian karyawan yang sudah tahu kasus itu menatap hina mereka.
“Enyahlah dari sini,” umpat mereka.
“Tidak tahu malu,” sindir yang lain.
Theo berdiri sambil berkacak pinggang sambil berkomentar sinis, “Bukan setia kawan ini mah. Inimah setia hati. Semoga hubungan kalian berdua langgeng.”
Stephanie mencebik dan berkata penuh ejekan, “Bisa kutebak wanitanya itu pasti Alan. Orang yang kuat di mulut, tapi penakut!”
Theo memicingkan mata sambil mencomel kasar, “Lucu. Kau dulu bilang kalau pria Jerman sekarang banyak seperti banci. Eh, lupanya kau menjilat.” Lalu, Theo memuntahkan permen karet pas di depan mobil Alan, terus melanjutkan, “Itu, jilat ludahku!”
Stephanie meluapkan amarahnya. “Dasar maho! Pergi dari sini!” ketusnya.
Stefan melipat tangan di dada dan tidak mau toxic. Dia sudah puas sekarang. Tidak perlu capek-capek mengeluarkan kata-kata kotor dan sarkas buat dua makhluk kotor itu.
...
__ADS_1
Meskipun pengerjaan project dari pemerintah Indonesia ini amat sulit karena memang hingga saat ini belum ada developer yang mampu menggabungkan seribu aplikasi menjadi satu, akhirnya AlfaTech dengan kegigihan dan kesabaran mampu melewatinya.
Bahkan, belum sampai satu tahun, project ini pun rampung 99%, sebab tidak ada yang sempurna. Setelah ini, AlfaTech akan bekerja sama dengan pihak pemerintah Indonesia dalam pendirian sebuah perusahaan IT, di mana sebagian suntikan dananya akan bersumber dari pemerintah.
Pak Arya mengapresiasi. “Kau berhasil, Stefan. Sudah kami prediksi kalau kau pasti akan menyelesaikan project ini.”
Lagi-lagi, Stefan menepis pujian terhadap dirinya semata. Dia menoleh ke arah Stephanie, lalu berkata, “Semua telah bekerja sama sangat keras dan serius. Terutama Stephanie. Idenya sangat membantu.”
Sebelumnya, dan sudah berbulan-bulan waktu itu, Stefan berkata blak-blakan kepada Stephanie, Stefan tidak ingin ada main hati di ruang kerjanya. Namun, sebisa mungkin Stefan tetap menjaga perasaan wanita. Stefan tak seegois pria pada umumnya.
Namun, di balik kemenangan besar ini, di ruang rapat ini juga, Pak Arya telah memutuskan untuk pemindahtugasan Stefan ke Indonesia.
“AlfaTech dan pemerintah Indonesia telah bekerja sama mendirikan PT. Nano-ID. Jika pemerintah Indonesia membutuhkan jasa AlfaTech, tidak perlu repot ke Swiss, tapi sudah ada anak perusahaan AlfaTech di sana guna memberikan bantuan,” jelas Pak Arya.
Tiba-tiba, rekan satu satu tim 18 bersedih. Theo tertunduk lesu. Stephanie mendengus kecewa. Begitu juga yang lainnya.
Theo mengacung. “Berarti Stefan tidak lagi menjadi ketua Tim 18? Apa Stefan tidak lagi bekerja di Swiss?”
Pak Arya mengangguk dan menjawab, “Ya, Stefan tidak lagi bekerja di sini. Dia akan langsung menjadi CEO di Nano-ID. Dewan telah memberikan pendapat dan keputusan, bahwa pemilihan Stefan sebagai CEO sangat tepat.”
Kabar ini baik, tapi buruk bagi Theo dan Stephanie. Setelah perayaan dari selesainya project, Theo merangkul Stefan dan berkata sedih, “Kenapa kau tidak bercerita dari kemarin-kemarin kalau kau ingin berangkat?”
Stefan senyum dan berkata datar, “Rasanya tidak tega untuk meninggalkan sahabat-sahabat baik seperti kalian.”
Stephanie sedih. “Terima kasih buat selama ini. Semoga kau sukses di negaramu!” Lalu, Stephanie memaksakan senyum.
Sebuah perpisahan yang cukup mengharukan bagi mereka. Namun, Stefan juga harus mengejar karir dan masa depannya. Ya, dia akan menjadi CEO!
__ADS_1