
Ketika dalam perjalanan pulang malam hari, di saat situasi cukup macet, sepeda motor yang ditumpangi oleh Stefan dihadang oleh empat orang yang mengendari dua sepeda motor.
Driver ojol yang masih muda ini menyuruh empat orang tersebut untuk segera minggir, “Awas! Kami mau lewat!” tangannya berayun-ayun.
Stefan tetap tenang meski dia tahu bahwa saat ini sedang dalam bahaya.
Empat orang yang mengenakan jaket hitam tebal dan helm menutup wajah tersebut pun turun dari sepeda motor. Salah satu dari mereka menggagahkan diri dan berkata, “Kau Stefan! Bangsat! Lama sekali kau pulang kerja!”
Satu yang lainnya membentak keras, “Hei kau, ojol! Pergi dari sini! Kami tidak ada urusan dengan kau!”
Si ojol tak menggubrisnya. Sedikit pun si ojol tidak takut walaupun dia memiliki badan yang kurus. Mentalnya masih sehat. “Kalian minggir! Aku teriak begal, mati kalian dikeroyoki orang-orang,” sungutnya menyeringai.
Stefan turun dan berkata dingin, “Ya, aku Stefan. Apa mau kalian?”
Katakanlah mereka berempat ini punya inisial A, B, C, dan D.
A maju memberikan pukulan jab yang sangat keras. Namun, Stefan merunduk. Ada getaran udara di atas kepalanya. Wuuthh!
Si ojol tak bergeming, sontak didorongnya orang itu. “Woi kalian mau apa?” lolongnya emosi.
A maju lagi dan melangkah panjang ke arah Stefan. Karena punya fisik yang sama, adu mekanik pun seru. Stefan beberapa kali mengelak dan menangkis setiap serangan, lalu berhasil memberikan serangan balik yang cukup mematikan.
Setelah itu, B maju dengan membawa satu obeng di tangannya. Si ojol bergegas dan menghalangi B yang akan menyerang Stefan. C dan D ikut menyerang.
PLAK!
BUG!
Stefan dan driver ojol mendapat serangan yang cukup berarti. Stefan sampai terjengkang di atas trotoar setelah menerima terjangan keras dari C.
Obeng tadi sudah dirampas oleh si ojol dan dilemparkannya jauh-jauh.
Namun, pada saat Stefan terlentang tak berdaya, dia dikeroyoki oleh tiga sekaligus.
TUM!
GIG!
__ADS_1
BUG!
Stefan meronta. Meski hidung dan bibirnya penuh darah dan pipinya sudah lebam, dia bangkit dan memberikan perlawanan. Stefan meninju dan menendang mereka di posisi terguling.
Stefan bangkit dan memberikan serangan berkali-kali. Sementara si ojol duel satu lawan satu, Stefan satu lawan tiga. Sangat tidak berimbang.
Setelah memberikan perlawanan sengit, dalam waktu yang sangat cepat, Stefan berhasil dilumpuhkan. Banyak pukulan dan sepakan yang bersarang di tubuhnya, terutama di bagian wajah dan perut.
Stefan meringis menahan sakit. Wajahnya habis babak belur. Napasnya tersengal-sengal. Stefan makin tak berdaya.
“Mati kau, bangsat!” umpat mereka.
Perkelahian tersebut berlangsung sangat cepat, cuma satu menit, dan anehnya tidak terlalu disadari oleh orang-orang disekelilingnya.
Namun, di saat genting seperti itu, dua orang kepercayaan Stefan yang belum pulang ke rumah, Martin dan David, lewat sana, dan menyadarinya.
“Itu CEO kita!” ucap David dengan ekspresi sangat kaget.
Terang saja, Martin langsung patah setir ke kiri dan memarkirkan mobilnya. Dia bersama David langsung turun.
Martin bisa teakwondo walaupun tidak ahli, sedangkan David jago dalam pencak silat.
Martin dan David maju, mengeluarkan segala macam teknik yang mereka kuasai.
BUG!
Martin melipat tangan salah satu dari mereka lalu mematahkannya. KRAK!
David memberikan sepakan maut mematikan. PLAK! Wajah orang itu langsung tersungkur di aspal.
Stefan dan driver ojol terduduk menyaksikan Martin dan David beraksi dengan sangat mengagumkan.
“Kalian berdua ....,” gumam Stefan.
Martin dan David hanya butuh waktu tidak lebih dari 30 detik untuk memberi pelajaran terhadap empat orang itu.
Semua babak belur.
__ADS_1
Setelah kejadian yang sangat cepat itu, barulah para pengendara di jalanan pun berbondong-bondong mendekat dan mengerumuni. Tidak lama berselang, pihak kepolisian tiba di tempat.
Dalam investigasi yang sedang pihak kepolisian lakukan, ternyata para pelaku membawa senjata tajam. Polisi menemukan ada dua buah pisau di dalam jok motor. Namun, karena para pelaku gugup, jadi di antara mereka hanya mengambil obeng.
Saat ini, Stefan dan driver ojol sedang berada di rumah sakit demi mendapatkan pertolongan cepat, meski tidak terlalu parah. David yang menemani mereka.
Sementara itu, di kantor kepolisian setempat. Martin mendapatkan info bahwa mereka ternyata orang suruhan.
“Apakah Anda mengenal Erick, menantunya Bobby Sanjaya?” tanya seorang petugas.
Martin tahu nama Bobby, tapi tidak mengenal siapa Erick. “Saya kurang tahu, Pak. Ada apa dengan orang itu?”
“Empat pelaku memberikan persaksian bahwa mereka disuruh oleh pria bernama Erick untuk membunuh Stefan.”
Martin sangat kaget. Jika alur cerita tadi sedikit ada yang meleset, berarti bisa saja Stefan akan mati di tangan empat orang tadi. “Kami serahkan kepada pihak berwajib. Korban bernama Stefan Raden Kusuma adalah CEO Nano-ID. Jika pihak berwajib membutuhkan informasi, silakan datang ke kantor. Saya permisi.”
Martin segera meninggalkan kantor polisi lalu menuju rumah sakit. Sesampainya di sana, dia melihat Stefan sedang terbaring. Dia segera melapor soal motif kejadian barusan.
Mendengar itu, Stefan sangat syok. “Erick adalah suami dari Lionny,” ungkap Stefan dengan suara lirih dan hampir berbisik.
Martin dan David yang sampai saat ini belum tahu status Stefan dengan Lionny pun malah makin bingung dibuatnya. Bagaimana mungkin bos mereka begitu menghormati sosok Lionny, namun di lain sisi Erick ingin membunuh Stefan.
Untuk menghilangkan kebingungan tersebut, akhirnya Martin blak-blakan menanyakannya. Akhirnya Stefan pun menceritakan apa hubungan dirinya dengan Keluarga Sanjaya dalam waktu yang cukup lama.
Martin dan David saling pandang. Jadi, itu alasan kenapa Stefan begitu menghormati Lionny, berani mempermalukan Bobby dan Robert, dan terakhir ingin dihabisi oleh Erick.
Stefan berkata pelan, “Kalian adalah orang kepercayaanku. Sudah sepantasnya kalian tahu. Besok, saya butuh bantuan kalian berdua. Ada banyak hal yang harus diurus.”
Martin sigap. “Mulai malam ini kami akan menjaga Anda, Pak Stefan,” katanya dengan amat antusias.
David menimpali. “Seharusnya, setelah kami mengetahui soal ancaman di kantor tadi pagi, kami menjaga Anda, Tuan CEO. Maafkan kami karena lalai.”
Beberapa saat setelah itu, Pak Arya bersama Grace pun tiba di kamar rawat Stefan.
“Astaga! Mana pelakunya sekarang?” Pak Arya yang baru juga pulih dari sakit lantas naik darahnya melihat anak buah kesayangannya sekarang terkulai dengan wajah hampir bonyok.
Martin menjawab tenang. “Mereka sudah berada di kantor polisi. Sekarang pihak kepolisian sedang menuju ke alamat rumah otak pelaku yang bernama Erick.”
__ADS_1
Grace sangat khawatir. Tidak tega dia melihat Stefan. “Semoga masalah ini cepat berlalu,” dia berdoa dengan begitu tulus.