Menantu Benalu Ini Ternyata Hacker Jenius

Menantu Benalu Ini Ternyata Hacker Jenius
123. Kasih sayang ayah


__ADS_3

Jika saja Bobby tidak tolol dan egois, tentu bisnis Keluarga Sanjaya tidak akan terpuruk. Ribuan rasa penyesalan tertampak jelas di wajahnya yang mengendur. Bobby berkata lembut penuh penyesalan, “Ayah gagal menjadi pemimpin bagi kalian.”


Lionny menyeka air mata di pipinya, lalu berkata, “Lupakan semua kesedihan, Ayah. Sekarang Ayah harus berbenah. Lanjutkan perjuangan mendiang kakek Sanjaya.”


Stefan memotong segera, “Cukup. Kita tidak banyak waktu. Sekarang, mulai lagi!” titahnya tegas.


Robert mendekat ke meja Stefan. Dia menunduk hormat dan berkata, “Aku salah. Maafkan aku.” Diteruskan pula oleh Luchy dan Chyntia.


Lalu giliran Bobby. Sembari membungkuk sedikit Bobby berkata lirih, “Stefan, maafkan semua kesalahanku. Maafkan aku dan keluargaku.”


Lionny tertegun. Melihat kedua orang tua beserta adiknya sangat merendah di hadapan Stefan seperti tidak ada harga diri, Lionny sangat tidak tega. Namun, langkah Stefan sudah tepat, dengan itu semoga mereka berempat sangat jera.


Tuan Stone melongo heran. Jidatnya berkerut ketika menyaksikannya. Setangguh itukah Stefan? Bagaimana bisa pebisnis kaya seperti Bobby bisa tunduk dan merendah? Tuan Stone memegangi kepalanya, mengekespresikan rasa yang melimpah di jiwanya, sulit dipercaya.


Stefan memandangi Bobby dan berkata, “Jangan pulang dulu. Akan ada hal penting setelah ini.”


Bobby mengangguk dan menjawab sigap, “Baik, Tuan CEO, dengan senang hati.”


Tuan Stone takjub tak percaya. Dia mengucek-ngucek matanya. ‘Apa yang sudah aku lihat barusan?’ batinnya masih tak percaya.


Beberapa hari yang lalu, Bobby sudah meminta maaf kepada Grace karena dulu pernah memberikan tuduhan berselingkuh sehingga merusak nama baik Grace. Sekarang, Grace telah berdamai dengan masalah tersebut, dia telah melupakannya.


Tiba-tiba, Lionny menyela. “Maaf, Tuan CEO yang terhormat, izinkan saya menyampaikan sesuatu.” Lionny berkata dengan serius. Dari wajahnya, tersirat sebuah kesungguhan yang mendalam. Semua mata tertuju kepada Lionny.


Sebenarnya Stefan cuma ingin mengetahui langkah apa yang akan ditempuh oleh Bobby jika mendapat tawaran gila dari Tuan Stone nantinya. Namun, Lionny cerdas dan peduli. Hatinya masih sangat lapang dalam berkasih sayang terhadap orang tua dan adiknya.


Lionny melangkah, lalu .... PLAK!

__ADS_1


Sebuah tamparan keras ke pipi sebelah kiri Tuan Stone. Semua orang di ruangan terperangah!


Dia berkata dengan sungguh-sungguh, “Dave Stone! Jika kau sudah menjalin kerjasama dengan perusahaan ayahku, Sanjaya Group, jangan sekali-kali kau memberikan penawaran cabul kepada keluargaku! Aku tidak mau kau menginginkan ibu atau adikku. Begitu juga dengan para karyawan Sanjaya Group. Camkan itu!” Lionny menyeringai marah.


Sekali lagi, meskipun pihak keluarganya begitu menyebalkan, Lionny tetap sayang terhadap mereka. Lionny tidak ingin ibu, adiknya, atau karyawan Sanjaya Group diajak tidur oleh Tuan Stone.


Akan tetapi, bagi mereka yang belum mengerti duduk persoalan sebenarnya, malah bingung, penawaran apa? Namun yang pasti nanti mereka akan tahu sendiri, seperti apa watak Tuan Stone.


Lionny mundur dan tatapannya tidak lepas dari Tuan Stone, “Ingat! Jangan pernah kau mengganggu keluargaku!” ancam Lionny.


Dengan demikian, keinginan Stefan mau menguji sikap dan kedewasaan Bobby, menjadi gagal. Ironisnya, putri yang dulu disia-siakan dan diremehkan, ternyata menjadi penolong. Lionny jauh lebih dewasa dari seluruh keluarganya yang lain.


Stefan menatap Tuan Stone lurus-lurus dan berkata, “Jika bisnismu mau berjalan dengan baik, dengarkan omongan calon istriku, Dave Stone!”


Langkah yang diambil oleh Stefan cukup tepat dan bijak. Pertama, Tuan Stone jera dan tetap bisa menanamkan modalnya di perusahaan Jakarta. Kedua, Sanjaya Group bisa sedikit bernapas lega.


Sesuai dengan perintah Stefan, masuk Ryan dan Marissa. Ryan diperintahkan untuk mengawal orang-orang di dalam ruangan sebelum mereka meninggalkan ruangan.


Sementara Marissa, “Ini kopinya, silakan Tuan CEO!” ucapnya sangat ramah.


Stefan memandangi Ryan dan berkata, “Nanti kau urus pria dari Singapura ini, Ryan! Setelah selesai, kau dipastikan akan menjadi Kepala OB.” Lalu Stefan memandangi Marissa dan berkata, “Dan kau Marissa, pelayananmu sangat memuaskan semua karyawan kantor, mulai hari ini juga kau menjadi Kepala Dapur. Selamat bagi kalian!”


Kemudian, Stefan segera menyuruh Ryan, Marissa, Tuan Stone, Chyntia, Robert, dan Luchy untuk keluar dari ruangan. Stefan memerintahkan kepada Martin untuk memanggil David. Sementara Grace juga disuruh keluar.


Ketika rombongan yang disuruh keluar tadi sampai di lobi di lantai dasar, Mike sang bodyguard langsung menghampiri bosnya dan berkata dengan riang, “Bosku! Aku sudah menyeleksi banyak gadis di dalam gedung ini. Ada banyak sekali yang cantik dan seksi. Namun, dari ratusan itu, ada tiga nama yang sudah aku kantongi : Grace, Chella, dan Marissa. Mereka bertiga paling mencolok dari lainnya.”


BUG!

__ADS_1


BUG!


“Am-ampun bos!” Mike mengerang.


“Dasar bodoh! Kau tidak lihat wajahku sudah merah dan memar ha?! Ayo kita pulang!” Tuan Stone sangat marah.


Sepanjang jalan Ryan tak berhenti mengolok-ngolok dan mempermalukan Tuan Stone. Dia merangkul dan menyeret Tuan Stone sampai ke halaman kantor. “Sebagaimana pernah aku bilang, mukamu akan masam dan tertekuk. Dasar payah!” Ryan mencebik sadis.


Security terheran-heran. Berarti apa yang dikatakan Ryan tadi pagi memang benar. Sekarang, Ryan membuktikan bahwa dia adalah seorang pahlawan.


Ryan berjalan mundur di hadapan Tuan Stone dan Mike. Wajahnya sangat ceria. Dia mengolok sarkas, “Memalukan! Belum aku sentuh saja wajahmu sudah hancur sepert itu, Def Stun! Pecundang!”


Lalu Ryan mengalihkan pandanganya ke wajah Mike. “Hei kau sang pengawal setia! Bagaimana rasanya dipukul oleh bosmu sendiri. Dasar pecundang yang lemah! Jika aku turun tangan, aku pastikan tangan dan kaki kalian patah. Tapi, aku masih kasihan.”


Tuan Stone meludah. “Cuh! Diam kau bgst!” 


Mike masih mengelus-elus pipinya yang kesakitan. Dia masih tidak habis pikir, kenapa bisa bosnya pas keluar dari ruangan, berubah jadi seperti korban pemukulan? Apa yang terjadi di dalam ruangan barusan? Mike menerka-nerka sendiri.


Tingkah Ryan lagi-lagi menjadi tontonan menarik warga kantor. Security tidak berani melerainya karena mereka cukup yakin bahwa Ryan berada di posisi yang benar.


Ryan berjoget-joget di tengah lapangan. “Ha! Dasar kalian berdua payah! Angkat wajah kalian, pengecut!” Hingga sampai di dekat Bugatti putih susu milik Tuan Stone. “Untuk pria menyedihkan seperti kalian, parkir gratis! Ha-ha. Mampus!” Ryan memberikan gestur seperti mengusir kucing. Sungguh hari yang begitu menyenangkan.


....


Di ruang kerja Stefan sudah ada dia sendiri, Lionny, Bobby Sanjaya, Martin dan David. Hanya ada mereka berlima saja.


Stefan menatap Lionny dan berkata lembut, “Jika kau tidak hadir dan menyaksikan, tidak lah mengapa. Tapi, jika kau ingin melihat kasih sayang ayahmu sebesar apa, kau dipersilakan untuk menyaksikannya.”

__ADS_1


Lionny tersenyum gugup.


__ADS_2