Menantu Benalu Ini Ternyata Hacker Jenius

Menantu Benalu Ini Ternyata Hacker Jenius
71. Ungkapan mencengangkan dari Ryan


__ADS_3

Martin menelepon Stefan.


“Halo, Tuan CEO? Maaf mengganggu waktumu sebentar. Pekerja kita bernama Ryan bikin ulah terus. Tidak main-main. Kali ini dia berurusan dengan Nona Sanjaya.” Cukup lama Martin menjelaskan problem Ryan.


“Martin, sepertinya dia mengakui kesalahannya. Jika memang dia sampai berbicara seperti pengemis, berarti dia telah perlahan mengubah cara hidupnya sendiri. Ryan tidak pernah bicara seperti pengemis. Baiklah kalau begitu. Cukup berikan dia hukuman satu bulan saja.”


“Maaf, saya tidak bermaksud menyela Anda Tuan CEO. Tapi orang itu memang agak keterlaluan. Jika kita kasih dia napas, dikhawatirkan dia akan melunjak.”


“Kasih dia kesempatan satu kali. Beri dia hukuman yang lebih lama kalau nanti dia kembali melanggar. Saya agak kasihan. Bagaimanapun, dia tetap teman lama saya. Dan jaga rahasia ini baik-baik.”


Pada saat beristirahat di tempat tinggalnya di Swiss, Stefan mengontrol dan mengecek laporan Nano-ID setiap harinya, baik laporan dari para bawahannya melalui telepon seperti tadi, maupun laporan berupa file yang dikirimkan.


Hingga saat ini berbagai keputusan tetap berada di tangan Stefan selaku pimpinan tertinggi perusahaan. Di usianya yang belum genap tiga puluh dan menjadi CEO merupakan prestasi yang sangat membanggakan. Stefan telah melampaui impian banyak orang.


Apa semua datang secara tiba-tiba seperti mendapatkan durian runtuh? Apa semua hadir secara kebetulan? Jelas tidak. Semua dilewati oleh Stefan dengan proses panjang dan melelahkan. Dia bukan seorang CEO instan yang langsung mendapatkan jabatan tanpa melewati jalan yang terjal.


Stefan membaringkan tubuhnya di atas kasur, lalu menggelapkan pandangannya. Terbayang beberapa wajah dari sosok-sosok yang sangat berpengaruh bagi kehidupannya. Satu, dua, tiga...... Orang-orang itu silih berganti. Namun, satu wanita itu tidak pernah lepas dari bayangannya.


\=\=\=>>>∆<<<\=\=\=


Pagi ini di kantor Nano-ID.


Martin memanggil Ryan untuk segera duduk di lobi. 

__ADS_1


“Kau selamat dari tambahan hukuman. Atas keputusan CEO, kau tetap menjalankan masa orientasi selama satu bulan saja.”


Mendengar itu, wajah Ryan langsung berubah berseri-seri. Matanya tidak pernah berbinar-binar di kala ini. Senyumnya sangat lebar seperti lapangan bola. Dia menjawab, “Saya sangat senang sekali mendengarnya, Pak Martin. Sampaikan rasa terimakasih saya kepada CEO.”


Lalu, Martin menikam matanya dengan pandangan tajam dan sangat serius. “Kau jangan pernah melanggar aturan dan jangan pernah pula bertingkah bodoh. Apapun itu. Jaga sikapmu ketika sedang bekerja jika ingin posisi supervisormu aman.”


Ryan pun akhirnya mengangguk pelan. Anggukan yang sangat meyakinan. Jika di awal kerja dia sangat mengeluh karena sering terpikir lamanya waktu tugas sebulan, maka pada hari ini sisa masa kerja seperti tak ada arti di matanya, biasa saja. Semua akan terasa enjoy ketika dia melaluinya.


“Apa Pak Martin sudah ngopi pagi ini?” tanya Ryan antusias.


Martin menggeleng, lalu membalas, “Saya bukan orang yang hobi ngopi.”


Ryan sok akrab, “Padahal, kalau Pak Martin biasa ngopi pagi-pagi, nanti akan saya pesani kopi. Biar kita bisa ngopi santai berdua sebelum aktif bekerja.”


Martin telah menemui beragam macam orang. Model seperti Ryan sangat langka. Tidak hanya CEO, sepertinya dia juga sendiri yang harus memperlakukan Ryan dengan khusus di kantor. Tawaran kopi dari Ryan memang lumrah, tapi Martin tidak ingin omelan receh ini menjadi langkah jilatan selanjutnya.


“Silakan kau berikan kopi itu pada dua orang rekanmu di luar sana itu. Kerja kalian menggunakan banyak tenaga," tukas Martin sambil memandang malas. Martin beranjak dan meninggalkan Ryan. Dia masih punya banyak urusan dibandingkan menghabiskan waktu mengobrol tidak begitu penting seperti ini.


Ketika Marcedez milik Grace masuk ke halaman parkir, Ryan sigap menjalankan tugasnya, dan bukan semata-mata tugas, kali ini lebih dari itu.


Hingga saat ini parkir eksklusif CEO masih kosong dan tidak ada yang berani parkir di sana. 


Grace keluar dari mobil, lalu Ryan menyambutnya dengan sangat sigap sambil menyodorkan buket bunga berwarna merah yang sangat terang. Bunga itu agak berkilau dihantam sinar matahari.

__ADS_1


Saat ini, Grace pasti kaget. Dia hampir terhenyak saat menerima sodoran bunga seharga ratusan ribu dari seorang Ryan.


Ryan tersenyum akrab dan berkata, “CEO telah memutuskan bahwa saya tidak mendapatkan tambahan masa percobaan. Cukup satu bulan saja. Bu Grace pasti sangat senang mendengarnya. Sebagai permohonan maaf saya, terimalah bunga yang sangat indah dan mewah ini.”


Ada sekitar delapan orang karyawan di parkiran karyawan yang terkaget-kaget melihat kejadian itu. Mereka syok. Apa Ryan sudah stres dan rusak akalnya? Mereka bahkan tidak berani menatap Grace terlalu lama karena takut dan hormat. Mereka segera meninggalkan tempat ini karena tidak ingin nantinya menjadi saksi mata.


Wanita manapun pasti suka hadiah. Namun, momen kali ini sepertinya sangat tidak masuk. Grace sangat tidak bingung sedikit pun. Riwayat buruk Ryan selama beberapa hari belakang tidak mungkin dilupakannya.


“Saya memaafkan kesalahanmu kemarin-kemarin,” ucap Grace masih ramah. “Apa ini hanya sebagai permohonan maaf?” tanyanya menyelidik. Grace membaca mata jahat Ryan. Jika memang bentuk permohonan maaf, kenapa harus bunga?


Ryan menatap Grace lekat nian, lalu berkata, “Jika nanti saya sudah sah menjadi supervisor, barulah saya akan mengutarakan keinginan saya, Bu Grace. Saya masih agak minder ketika masih berada pada masa percobaan seperti ini.”


Grace menyelaraskan antara mata dan omongan Ryan. Dia tahu Ryan ada maksud tertentu. Gerak-gerik Ryan seperti playboy yang ingin beraksi. Meskipun tugasnya cukup berat di pos terdepan, anehnya Ryan selalu tampil cold dan sok keren.


Grace bertanya, “Kenapa harus menunggu sekitar dua minggu lagi? Waktu itu terlalu lama.” Grace memberikan pancingan. Dia tahu bahwa Ryan cukup tampan dan di atas rata-rata di antara semua karyawan. Wajah dan gayanya memang menunjukkan bahwa Ryan bisa dengan gampang nya menciduk hati wanita yang dia taksir.


Namun, peluru yang Ryan tembakkan kali ini sepertinya salah sasaran. Jika idealisme digabungkan dengan sikap ambisius, beginilah akibatnya, logikanya seperti kering dan gersang. Sepertinya Ryan akan jatuh dalam masalah yang lain.


Ryan celingak-celinguk ke sekitaran, lalu berkata lembut, “Jujur, saya kagum dengan kecantikan Bu Grace.” Mata Ryan terhunjam di Marcy di dekatnya. “Bu sekretaris sangat punya pesona. Ya, saya sangat kagum. Kagum sekali.”


“Apa ada kata lain lagi selain kagum?”


“Lebih dari itu, Bu Grace. Tidak hanya kagum, tetapi saya juga cinta sama Bu Grace.”

__ADS_1


__ADS_2