
Belum berhenti sampai di sana. Sore harinya, Stefan dipaksa menjadi sopirnya Erick dalam perjalanan menuju kediaman Bobby. Hanya ada mereka berdua di dalam mobil yang telah disiapkan oleh perusahaan. Entah settingan dari Bobby Sanjaya atau memang kebetulan.
“Otakmu rupanya belum sembuh seratus persen, Stefan. Kenapa kau seperti orang bisu? Bagaimana mungkin kau akan menjadi salah satu penerus yang yang bisa diandalkan di Keluarga Sanjaya?”
Sambil menyetir dan mengawasi jalanan di depan sana Stefan menjawab. “Kau benar, Erick, seharusnya aku kabur atau mati saja. Apapun yang aku katakan dan aku lakukan sama sekali tidak berguna.”
“Sekarang otakmu sudah agak berfungsi dengan baik kalau kau sepakat dengan pendapatku. Lantas, apa tindakanmu sekarang?”
Stefan bergeming dan hanya berkutat dengan pikirannya sendiri. Meskipun diam, dia tahu kalau Erick sedang memberikan provokasi.
Erick dengan nada sinis melanjutkan, “Sepulang dari sini aku akan menghubungi Kakek Sanjaya perihal apa saja yang telah aku saksikan. Aku kasihan kalau ada sampah busuk menyedihkan menyempil di Keluarga Sanjaya. Nanti akan aku bilang kepada Kakek bahwa masih ada banyak orang yang layak daripada kau, Stefan!”
Setelah sampai di halaman rumah, Erick disambut dengan istimewa oleh Chyntia, Robert, dan Luchy. Pria itu seperti orang spesial yang sangat ditunggu-tunggu. Erick dirangkul akrab oleh Robert sambil berkelakar ria.
“Kakak diantar manusia karet itu?”
Erick terkikik. “Saat ini dia masih berupa biji sawit.”
Robert ngakak, terus berjejer pinggang dan masuk ke ruang tamu lalu ke ruang keluarga. Luchy girang sekali melihat kedatangan Erick.
Chyntia buru-buru berjalan cukup ngebut mendekati menantu sampah di depan. Jangankan disuruh masuk ke ruang tamu, Chnytia malah membiarkan Stefan duduk di kursi teras, seperti orang lain.
“Tunggulah kau di sini sampai bosmu pulang. Jangan pernah masuk ke dalam rumah!” cecar Chnytia sembari memberikan tatapan tajam setajam pisau.
Tiga puluh menit bercokol, akhirnya mobil yang ditumpangi oleh Bobby pun tiba. Stefan berdiri dan menyambut, tapi Bobby malah melengos dan tidak mempedulikan Stefan.
Nasib Stefan di Keluarga Sanjaya berada di ujung tanduk. Jika ada angin sedikit saja, dia akan terjengkang lalu jatuh ke bawah sampai ke dasarnya. Namun, berat rasanya untuk meninggalkan Lionny.
__ADS_1
Sampai sekarang dengan sejujurnya dia masih sayang sekali sama istrinya. Mengetahui bahwa sekarang ada seorang pria yang sudah dipersiapkan untuk Lionny, hati Stefan makin kalut, pandangannya kian berkabut.
Satu jam tidak ada sahutan apapun dari orang di dalam rumah. Stefan pun memutuskan untuk pulang. Dia menelepon John, minta dijemput lalu diantarkan ke kos. Perlakuan terhadap dirinya sudah sangat keterlaluan. Apa Stefan harus terus-terusan diam?
\=\=\=>>>0<<<\=\=\=
“Apa kau perlu teman ngobrol, Stef? Kalau perlu, aku urungkan lanjut narik, biar aku temani kau ngobrol.”
Sambil memasukkan anak kunci dan memutarnya, Stefan menjawab, “Terima kasih, John. Tidak perlu. Silakan kau lanjut narik. Lagi pula, aku mau langsung istirahat.” Stefan masuk ke kosnya.
“Oke, kalau begitu. Aku pamit.” John pun balik melangkah lalu menuruni anak-anak tangga.
Stefan menutup pintu kosnya, lalu menghempaskan tubuhnya yang sudah gontai ke lantai tak beralas. Dilihatnya sebuah lampu putih lima belas watt. Ditautkannya kedua tangannya, lalu dijadikannya bantal untuk bagian kepala belakanganya. Dipejamkannya matanya, tak ada apapun yang dibayangkan, semua gelap, kosong.
Omongan Erick rupanya bukan tong kosong belaka, sebab esok paginya Stefan mendapat telepon mendadak dari Kakek Sanjaya. Baru selesai mandi dan hendak berpakaian, tiba-tiba ponselnya berdering dan bergetar. Segera Stefan mengusap warna hijau.
Jika hampir semua orang satu kantor, terutama petinggi perusahaan, sudah memberikan cap buruk terhadap Stefan, sangat besar kemungkinan omongan mereka benar, sebab tidak mungkin hampir seratus persen orang bersekutu dalam kesalahan. Begitulah pola pikir Kakek Sanjaya.
“Maafkan kalau aku sudah buat Kakek kecewa dan malu. Apa Kakek menyesal telah menjodohkan aku dengan Lionny?”
“Kau jangan bicara seperti itu, Cucuku. Bagaimanapun aku akan tetap sayang padamu. Erick dan anak buahnya memberikan laporan yang senada dengan laporan Bobby Sanjaya dan karyawan-karyawannya. Kenapa kau mau jadi babu di sana, Stefan? Padahal kau orang kesayangan Kakek.”
Apa saatnya Stefan jujur dan mengatakan semuanya? Kira-kira jika jujur, apa akan langsung menyelesaikan masalah? Jika berkata apa adanya, apa mungkin Kakek Sanjaya akan percaya padanya begitu saja? Bukankah Stefan adalah orang kepercayaan Kakek?
Ah, Stefan pikir, jika dia mengatakan sebenarnya dan Kakek Sanjaya menerima omongannya, pasti Kakek Sanjaya akan membuat perhitungan luar biasa kepada Bobby Sanjaya. Setelah itu, nama besar Keluarga Sanjaya akan jauh lebih malu dari pada ini.
Stefan pikir, masalah akan bertambah kacau dan berlarut-larut. Dengan ketulusan hati dan kesabarannya, dia rela menanggung semua beban meskipun harus dijadikan babu dan dihina oleh banyak orang. Stefan masih sabar.
__ADS_1
Dengan mengambil langkah ini Stefan sedikit pun tidak merasa dirinya sebagai penakut dan pecundang. Tidak sama sekali. Ada kalanya seseorang harus bertahan dari serangan, dan ada kalanya pula seseorang harus bertindak offensive dan all out, nanti.
Tiba-tiba terdengar suara batuk kering dan parau. “Uhhuuk ... uhhuukkk.”
“Kakek kenapa? Kakek?”
“Eh ... uuhhuukk.” Kakek Sanjaya memaksakan bicara dengan terbata-bata. “Stefan, jika kau tidak tahan bekerja di sana, kau dipersilakan untuk bekerja di Surabaya, ajak istrimu.”
Setelah Kakek Sanjaya terbatuk-batuk terus menerus, sambungan teleponnya terputus. Stefan ingin menghubungi kembali tapi tidak nyambung. Kakek Sanjaya mengalami sakit yang cukup parah.
Di usia yang hampir masuk ke angka delapan puluh ini beliau memang sering masuk ke rumah sakit beberapa bulan belakangan ini. Stefan tahu kabar tersebut. Dia ingin menjenguk, tapi tidak ada waktu.
Stefan akan mengatur waktu agar bisa berangkat ke Surabaya dan bertemu dengan Kakek Sanjaya. Satu-satunya orang yang benar-benar menaruh kasih sayang hanyalah Kakek Sanjaya.
\=\=\=>>>0<<<\=\=\=
Erick keluar dari sebuah kamar, ya, bekas kamar tidur Stefan. Jika menginap, dia pasti tidur di sana. Erick sudah rapi dengan setelan kantoran. Parfum yang tadi disemprotkannya di leher sungguh semerbak.
“Lionny, orangtua dan adik-adikmu sangat setuju jika aku menjadi suamimu. Jika aku bilang dengan terus terang kepada Kakek Sanjaya bahwa aku ingin menjadi suamimu karena lebih layak, aku yakin beliau pasti setuju. Bagaimana menurutmu?”
Lionny hanya bisa melirik wajah pria itu tanpa menanggapinya dengan sepatah kata pun. Hingga saat ini Lionny masih seperti perahu kertas di tengah laut yang terus dilamun ombak. Tidak tahu apa yang harus diperbuat.
Sebelum obrolan ini terlalu panjang dan akan ada sentuhan fisik, Lionny segera mencari kesibukan lain dan membiarkan Erick sibuk dengan urusannya. “Ayahku sudah menunggu di depan. Cepatlah kau sarapan.”
Erick meresponsnya dengan senyum sempurna. Matanya berbinar-binar. “Baiklah, calon istriku.”
Kemudian Erick sarapan sebentar, lalu mendekati Bobby yang tengah duduk ngopi di kursi teras.
__ADS_1
“Kau mau langsung pulang, Erick?” tanya Bobby setelah menyeruput kopinya.
Sambil membusungkan dadanya Erick menjawab. “Aku mau mampir sebentar ke kantor. Belum puas aku mempermalukan sampah itu. Ha-ha-ha.”