
Di kediaman Bobby Sanjaya.
Meskipun bisa saja Lionny tampil jumawa sore hari ini untuk membanggakan prestasinya, dia tetap rendah hati dan tidak menampilkan kesan sombong. Dengan nada penuh kelembutan dia mengatakan:
“Ayah, kita berhasil. Sanjaya Techno bahkan menjadi perusahaan pertama yang bekerjasama dengan Nano-ID. Mulai hari ini kita bisa mempergunakan AlfaStudio.”
Namun, Robert melakukan interupsi licik. Dia menolak kenyataan. Dengan modal jiwa muda yang toxic, dia menyela, “Jangan percaya dia, Ayah! Bagaimana mungkin dia mendapatkan kontrak sementara CEO-nya saja masih belum ada.”
Lionny tersenyum datar, lalu menjawab, “Tidak mungkin aku berbohong. Jika kalian semua tahu, sekretaris Nano-ID adalah Grace Santika, bekas sekretaris Ayah sendiri.”
Bobby tercengang. Kemudian beliau mengecek sendiri semua berkas yang dibawa oleh Lionny. Beberapa menit kemudian, beliau mengatakan, “Lionny tidak mungkin berbohong. Dokumen kedua sama aslinya dengan dokumen pertama waktu itu.”
Robert membatu. Dia hampir kehabisan kata-kata, akan tetapi dia akan terus berusaha untuk memenangkan dirinya. Dia berkata penuh yakin, “Baiklah. Sebagaimana tadi sudah dijelaskan ringkas oleh cucu kesayangan kakek bahwa Sanjaya Techno masih baru mendapatkan satu kerjasama, cuma AlfaStudio. Jadi, aku akan mendapatkan kontrak yang lain.”
Kontrak yang lain? Ada apa dengan Robert? Apakah mungkin dia kerasukan jin penunggu rumah mewah ini? Dia bicara kesetanan seolah pasti akan mendapatkan segalanya. Hanya saja, dia seperti bocah pemimpi yang masih bermain di taman indah bernama utopia. Robert masih terlalu lucu untuk mengurus bisnis besar.
Akhir-akhir ini heboh pemberitaan terkait sms dan chat di ponsel berupa link atau apk tak dikenal. Modus yang dipakai biasanya seolah-olah ada seorang kurir yang akan mengirimkan sebuah paket, atau juga undian berhadiah, dan semacamnya. Jika pengguna meng-klik atau menginstalnya, ponsel tersebut akan terserang malware sehingga pelaku kejahatan akan dengan mudah menguasai dan mengakses apa saja yang ada di dalam ponsel tersebut, termasuk aktivitas keuangan, seperti M-Banking dan dompet digital.
__ADS_1
Robert membusungkan dada, lalu berkata, “Kita akan bekerjasama dengan Nano-ID dalam pembuatan antivirus berupa aplikasi yang bisa diinstal di ponsel dengan sistem android dan ios. Antivirus tersebut khusus untuk mencegah masuknya sms dan chat yang mencurigakan dan bisa merugikan pengguna.”
Bobby agak terkesan dengan ide putranya. Namun, apa Robert akan berhasil melobi orang-orang Nano-ID? Sementara belum lama ini dia diseret keluar oleh penjaga keamanan.
Lionny mengalihkan pandangannya ke arah Robert dan berkata, “Adikku, tidak usah kau repot-repot ke kantor Nano-ID. Jika aku meminta mereka untuk menjalin kerjasama di lain hal, tentu mereka akan menuruti, tapi mereka bilang, untuk di awal harus satu dulu, jika kita baik, besar kemungkinan akan ada banyak kerjasama yang lain.”
Menurut Robert, omongan kakaknya seperti sebuah anggapan kesombongan, seolah-olah menjatuhkan dia ke dasar jurang. Dia kembali berkata, “Mungkin waktu itu staf baru di Nano-ID belum mengenal Keluarga Sanjaya. Pada saat kau ke sana, mereka sudah tahu, jadi mereka sopan terhadapmu. Jika nanti aku ke sana lagi, aku pasti mendapat pelayanan istimewa. Bukankah kita bagian dari Keluarga Sanjaya?”
Lalu, Robert menegakkan bahunya selepas meluapkan emosi barusan. Dia yakin pasti bisa melobi orang Nano-ID. Apa bedanya dia dan Lionny? Jika Lionny bisa, kenapa dia tidak bisa?
Chyntia menengahi, “Robert, kau akan diberi kesempatan, jika gagal kali ini, kau sepertinya tidak akan diandalkan untuk melakukan lobian, terutama kepada Nano-ID. Lagipula, Lionny sudah berhasil mendapatkannya. Dan Ibu sarankan, sebaiknya kau tidak perlu ke sana. Benar kata kakakmu, kau hanya merepotkan dirimu saja.”
Jika berada di situasi seperti sekarang, pasti akan panas. Robert yang diselimuti dendam memang sulit untuk menerima kemenangan kakaknya sendiri, padahal jika dia menerima semuanya, dia juga akan tetap tenang dan kedua orang tuanya tidak menganggapnya buruk.
Malah seandainya dia kembali gagal, dia malah akan kembali menanggung malu. Diseret paksa keluar bagi pria normal merupakan hal memalukan, tapi anehnya Robert tak peduli dengan itu, dia akan mencobanya lagi.
Bisa jadi baginya, datang ke kantor Nano-ID ibarat menggosok voucher undian. Sesimpel itu? Jika benar demikian, berarti jika gagal, tidak akan menanggung malu. Robert salah persepsi. Tindakannya konyol dan malah akan membuat malu. Orang seperti dia lebih baik satu kamar dengan Ryan.
__ADS_1
Lionny berkata dengan lembut, “Aku tidak melarangmu. Silakan. Namun, kami tidak ingin Keluarga Sanjaya malu di sana jika kau gagal lagi. Kau mungkin biasa saja, tapi kami semua yang malu.”
Argumen yang sangat tepat. Seharusnya menjadi trigger bagi Robert untuk segera melepas ambisinya. Jika diteruskan, malah akan merusak reputasi besar Sanjaya Group. Lucu sekali jika nama besar Sanjaya rusak oleh tindakan konyol bocah yang masih magang jadi manager ini.
Tiba-tiba, Luchy meletakkan smartphone mahalnya di atas meja, lalu berkata sinis, “Kau sok bisa, Kak Lionny! Baru sekali mendapatkan prestasi, lantas kau anggap seperti sudah bisa menikahi pangeran Inggris.” Luchy memberikan nada khusus, “Sok ber-pres-ta-si!”
Masih berumur belasan saja tingkahnya sudah seperti ini. Tidak terbayang jika Luchy menjadi wanita dewasa dan bekerja di perusahaan keluarganya. Mending dia seperti ibunya saja, belajar memasak, dan menjaga rumah. Mulut besarnya bahaya jika dibawa ke lingkungan kerja.
Karena sudah ada senjata untuk menepis anggapan buruk dari saudara kandungnya, Lionny tetap santai. Dia duduk dengan tenang sembari meluaskan pandangan kepada empat orang di hadapannya. Tidak sedikit pun dia gentar.
Luchy menyindir sadis, “Jangan terlalu asyik mengurusi pekerjaan. Jangan sok jadi wanita karir! Suamimu urus!”
Dada Lionny sontak panas mendengarnya. Dia diserang dari arah yang tidak disangka. Tapi, dia masih sabar. “Aku peringatkan padamu, Luchy. Jaga bicaramu terhadap siapapun, terutama terhadap orang yang lebih tua darimu. Jika sama kakakmu sendiri kau kurang ajar, bagaimana kau bisa menjaga sikap terhadap orang lain?”
Setidaknya hati Luchy puas kali ini. Dia tidak peduli dengan pencapaian kakaknya. Baginya, biasa saja. Ya, karena dia tidak mengerti bisnis dan uang. Luchy terlalu bocah untuk memahami urusan orang dewasa. Tiada muntahan kata yang keluar dari corongnya kecuali umpatan kebencian.
Gaya kepemimpinan Bobby Sanjaya dalam mengurus rumah tangganya bisa dilihat dari situasi seperti sekarang. Seharusnya Bobby melerai pertikaian mulut anak-anaknya. Namun, Bobby tak peduli. Hal terpenting baginya adalah bisnis besarnya berjalan lancar. Terakhir, Bobby mengeluarkan statement absurd dan mencengangkan.
__ADS_1
“Robert, Ayah akan beri kau kesempatan sekali lagi. Ayah harap kau berhasil kali ini!”