
Bobby Sanjaya berusaha menguasai dirinya. Makin lama, sepertinya dunia makin terasa sempit dan hawa semakin panas.
Stefan kembali berbisik, “Apa perlu saya yang mewakili?”
Bobby Sanjaya menggeleng. Setelah membangun ketenangan beberapa detik, barulah Bobby bicara, “Baiklah. Terima kasih atas sambutan dan penghormatan luar biasa dari CEO Nano-ID. Saya sangat bangga bisa hadir di acara ini bahkan menjadi salah satu pembicara.”
Sekarang, Bobby jelas tidak akan bisa melontarkan berbagai macam cacian yang biasa diberikannya seperti waktu itu. Bobby tidak akan bisa melecehkan Stefan di hadapan banyak orang.
Setelah menyusun kalimat di kepalanya, meski hatinya meronta, dipaksakannya mulutnya berbicara. “CEO Nano-ID adalah orang terpilih. Stefan Raden Kusuma merupakan sosok yang dikagumi pernah bekerja di Sanjaya Group meskipun tidak lama. Pada saat bekerja di Sanjaya Techno, Stefan mempunyai peran penting bagi perkembangan perusahaan, dan ketika Stefan pergi, perusahaan merasa kehilangan.”
Semua orang terpana dan bertepuk tangan. Namun, dari mereka yang tahu kisah hidup Stefan seperti apa, Lionny misalnya, jelas perkataan Bobby hanyalah sebuah kebohongan yang keluar dari hatinya.
“Saya sangat senang Sanjaya Group bisa menjalin kerjasama dengan Nano-ID. Sebuah prestasi yang sangat membanggakan. Dan untuk CEO Nano-ID sendiri.....”
Stefan berbisik, “Katakan kalau aku menantu benalu dan menantu sampah!”
Bobby Sanjaya tersentak hebat. Wajahnya ingin jatuh ke lantai.
“Hm, hadirin. Stefan adalah .... meskipun ... sempat ada masalah keluarga ... dia merupakan ... Stefan ... Saya ingin bicara ... hm ....”
Bobby mengerjap-ngerjapkan matanya dan berusaha menenangkan diri.
Mendengar omongan Bobby yang sangat ngaco dan kacau, para hadirin pun kecewa.
“Bicara yang benar dan jujur!” bisik Stefan lagi.
“Hmm....” Bobby tambah terbata-bata. Seperti waktu dulu Stefan terbata-bata kalau bicara. “Kami sangat kagum dengan sosok Nano-ID. Sekian!”
Lalu, di luar perkiraan, Bobby turun dari podium tanpa mengucapkan kalimat apapun. Bobby demam panggung dan dikalahkan rasa takutnya sendiri.
__ADS_1
Bobby melewati ratusan undangan dan melangkah sangat lebar. Bobby sudah tidak hirau dengan bisikan dan riuh rendah suara orang-orang di dalam gedung. Sungguh mengecewakan.
Lionny tertatih-tatih menyusul ayahnya.
Stefan mengambil alih mic, lalu berkata, “Saya adalah bekas menantu Bobby Sanjaya. Dulu, saya pernah diejek dengan sebutan benalu, sampah, sialan dan kata-kata kotor lain!”
Semua orang terperangah. Hah? Apa yang sudah dikatakan oleh Stefan barusan?
Bobby dan Lionny menyetop jalannya. Bobby nyaris seperti orang gila pada hari ini. Sekarang, Bobby merasakan kegilaan yang dulu sering dilimpahkannya kepada Stefan.
Stefan meluaskan pandangan, lalu berkata, “Saya menantu yang disia-siakan karena kekurangan. Apa kalian tahu bahwa dulu saya sering dihina-hinakan olehnya dan keluarganya? Sekarang, kalian semua harus tahu, Bobby Sanjaya begitu keji. Jika Bobby tidak merasa bersalah, tidak mungkin lari dari sini!”
Bobby Sanjaya segera meninggalkan tempat ini karena malu. Sekarang wajahnya lebih busuk dari sampah karena saking malunya.
Stefan belum puas. “Jika kalian semua ingin bisa bekerjasama dengan Nano-ID, segera lupakan semua perusahaan Sanjaya Group! Jangan pernah jadikan Keluarga Sanjaya sebagai rekan bisnis!”
Meskipun Sanjaya Group merupakan perusahaan yang cukup berpengaruh di Indonesia, mereka masih banyak kurangnya, dan jika mendapat tawaran seperti itu, jelas semua orang akan lebih memilih Nano-ID.
“Dulu, saya pernah menyelamatkan Sanjaya Group, dan mendiang Kakek Sanjaya menghargai diriku. Setelah itu, saya pernah menyelamatkan Sanjaya Sawit, tapi Bobby Sanjaya malah mencampakanku, tidak menghargai diriku. Jika sekarang Bobby ingin berlutut minta maaf, dipersilakan untuk segera kembali.”
Martin yang tak jauh dari Stefan lantas mendekat dan membisiki sesuatu. Martin tidak ingin agar bosnya terbawa suasana. Apalagi ada Pak Arya di sana. Akhirnya Stefan mencoba menenangkan diri. Martin benar, saat ini Stefan tidak boleh terbawa emosi.
Stefan tersenyum dan berkata, “Senang bisa menjalin kerjasama dengan Sanjaya Group. Mereka menjadi prioritas. Kami telah menjalin kerjasama yang baru, yakni pembuatan anti-malware untuk mengatasi problem yang sedang hangat diperbincangkan. Tentu banyak perusahaan yang akan cemburu dengan kerjasama kami.”
Para tamu undangan jelas tidak bodoh. Mereka paham apa yang sedang Stefan bicarakan.
Seandainya Bobby ingin membuat perhitungan nantinya, apakah bisa? Dan jika Bobby tetap memaksakan diri, sama saja akan mempersulit bisnisnya semata.
Di saat banyak perusahaan yang sedang gencar mengincar kontrak kerjasama dengan Nano-ID, sangat lucu jika Bobby malah menjauh.
__ADS_1
Kemudian, giliran Pak Arya yang berbicar di podium. “Stefan Raden Kusuma adalah orang terpilih. Pada saat menjadi seorang mahasiswa, beliau sudah menorehkan banyak sekali prestasi. Oleh karena itu, sebelum Stefan lulus, AlfaTech sudah tertarik untuk mempekerjakannya. Hanya saja, waktu itu Stefan terkena musibah yang membuatnya harus melewati masa-masa sulit.”
Pak Arya memberikan pujian yang sangat banyak terhadap Stefan. “Pada saat menjadi karyawan AlfaTech, Stefan pun tidak berhenti berkarya. Jasanya terhadap negeri juga tidak main-main. Wajar jika pihak pemerintah begitu kagum terhadapnya. Jika saat ini masih ada orang yang merendahkannya, orang itu pasti bermasalah! Saya selaku CEO AlfaTech, memberikan beban tugas berat kepada Stefan untuk memimpin Nano-ID. Stefan berada di atas rata-rata. Tidak hanya jenius, tetapi mampu memberikan perubahan!”
Semua orang terkesima!
Dan inilah kemenangan sejati yang telah didapatkan Stefan, sebuah kemenangan yang tidak timbul begitu saja pada Bab 2 dan Bab 3. Namun, kemenangan ini mampu diraih setelah melewati proses yang sangat panjang dan berat.
Sebuah turning point yang begitu mengesankan.
Stefan bukan seorang penerus tunggal yang ditinggalkan harta berlimpah.
Stefan bukan pula seorang pria terpilih yang menemukan sebuah sistem canggih atau pun keajaiban aneh.
Stefan meraih kemenangan sejati setelah melewati masa-masa kelam dan pahit.
Stefan, bukan tipe pria penikmat masa lalu. Jika sebagian orang menilai bahwa dia memberikan bantuan kepada Lionny karena tidak bisa move on, sepertinya asumsi tersebut meleset dari apa yang ada di hatinya.
Stefan memberikan bantuan kepada Lionny hanya untuk membalas jasa selama lebih dari tiga tahun itu. Bagaimanapun, Stefan bukan tipe pria yang gampang melupakan kebaikan orang. Baginya, Lionny seperti peri, yang harus mendapatkan balas budi.
Stefan jelas telah meninggalkan masa lalunya, namun dengan mengingatnya, bukan berarti dia mengarapkan sesuatu yang sudah pergi. Baginya, masa lalu hanya rindu yang menyebalkan.
Sejujurnya, Stefan lagi-lagi ingin membalas budi. Selain itu, dia juga ingin agar dia bisa berbicara dengan Bobby. Entah, hari ini hanya kebetulan, atau memang sudah Stefan prediksi.
Tapi, ketika melihat Bobby Sanjaya barusan, Stefan semakin berdamai dengan masa lalunya. Dan sekarang, Stefan telah membuktikan kepada Bobby bahwa dia merupakan seorang bos kaya dan sukses serta dikagumi.
Ah, apa semua sudah cukup?
Belum!
__ADS_1
Masih akan ada cerita selanjutnya!