
Theo emosi. Darahnya naik. “Dua kali kau ngatain aku keturunan Nasi!” Theo mencekik leher Alan.
Alan yang punya lengan berotot tak kesusahan untuk melepaskan cekikan Theo. Lantas dicengkeramnya lengan Theo, lalu dilemparkannya. Didorongnya Theo cukup kuat. Theo terjengkang ke belakang dan terjajar di komputernya. Nyaris rubuh apa yang ada di atas meja kerjanya.
Tidak terima karena terjatuh, Theo bangkit lalu dengan beringas berusaha menggocoh Alan dan menyasar wajahnya, tapi Stefan langsung memeluknya dari belakang. Theo tidak bisa bergerak. Alan justru menonjoknya dengan leluasa.
Theo ngamuk. Dia meronta dan melepaskan pelukan Stefan. Belum sempat memberikan pukulan balasan kepada Alan, Liam buru-buru mendorongnya lagi. Theo yang agak cungkring kembali jatuh berdedam.
Stephanie memekik histeris. “Hentikan!” Mulutnya menganga dan matanya terpejam.
“Kalian main keroyokan!” sembur Theo. Wajahnya memerah.
“Duduk mantaplah kau!” titah Alan.
Tiba-tiba pintu terbanting cukup keras.
“Ada apa ini?” tanya seorang manager terheran-heran karena barus saja mendengar kegaduhan.
“Tanyakan sama ketua tim kami, Pak!” tegas Stefan. Dia ingin melihat seperti apa gaya kepemimpinan Alan.
“Stefan telah merusak komputerku, Pak Manager. Kalau Theo baru saja mencekik leherku. Liam dan Stephanie menjadi saksi,” beber Alan percaya diri.
“Aku menjadi saksi. Benar apa yang dikatakan oleh Alan,” timpal Liam kepada Pak Chris.
Stefan tetap tenang. Jika nanti mereka disidang, barulah dia akan mengatakan yang sejujurnya. Pak Chris tidak ingin langsung bertindak sampai mereka satu ruangan memberikan kesaksian. Setelah mendengarkan satu per satu penjelasan dari mereka, Pak Chris kemudian menghadap Pak Arya guna meminta keputusan.
__ADS_1
Dengan bijak Pak Arya menganggap kejadian barusan hanya kesalahpahaman semata meskipun orang yang bisa disalahkan bisa saja Alan. Stefan saat itu juga langsung memperbaiki komputer Alan yang rusak. Sesuai dengan janjinya, Stefan juga akan memperbagus AlfaProtect.
Bukannya senang karena tugasnya terbantukan, Alan malah nyinyir di hadapan Stefan. “Pak Arya dan Pak Chris sudah baik padamu, Stefan. Untung kau tidak diberi sanksi oleh mereka. Kau juga bisa memperbaiki nama setelah sok bisa memberikan bantuan, padahal usahamu receh dan tidak apa-apanya.” Stefan menatap remeh.
Liam menambah cibiran, “Jangan sok jadi pahlawan di ruangan ini!”
Stephanie mengentak-hentakkan high heels-nya lalu melencit meninggalkan ruangan. “Kapan kalian semua bisa akur?!” repetnya sambil membanting pintu.
Theo merangkul Stefan dan mengajaknya untuk segera pulang. Untuk ke sekian kalinya Stefan mendapat tumpangan dari Theo. Selama dalam perjalanan tak henti lagi Theo mengoceh, “Dia orang Inggris. Aneh orang itu. Apa hubungannya antara Inggris menang di perang dunia 2 dengan kerja tim saat ini?”
Stefan mengoles dagu sembari melihat suasana jalan. “Oh, itu alasannya. Alan merasa lebih baik karena dia orang Inggris dan kau orang Jerman, terus bawa-bawa urusan masa lalu.”
Theo mencengkeram setir seolah mencengkeram leher Alan, kuat. “Kemarin-kemarin sebelum kau masuk. Sering dia memutar video di Youtube tentang kekalahan Jerman di perang dunia satu dan dua. Lalu dia mengejek ‘Jerman Pecundang’. Hampir setiap hari.”
Pernah juga tempo lalu Alan memutar sebuah video yang memberitakan bahwa di Jerman sedang marak dengan dukungan atas bendera pelangi dan kebebasan ****. Alan menyinggung, “Dulu gagah perkasa melawan negara-negara Eropa, sok mau merebut Soviet dan menyerang Inggris. Eh itu dulu. Sekarang orang Jerman banyak jadi banci!”
\=\=\=>>>0<<<\=\=\=
Dan akhirnya project pun selesai. Jelas jika tidak dibantu oleh Stefan, project bisa akan rampung satu bulan lagi. Meski demikian, masih saja Alan tidak berterima kasih kepada Stefan.
Ketika Tim 7 mendapat pujian dari Pak Arya dan pimpinan perusahaan, Alan malah membangga-banggakan dirinya.
“AlfaProtect akan menjadi salah satu pencapaian terbaik tahun ini. Sebuah prestasi yang patut dibanggakan. Kalau bukan karena kerja keras saya, semua tidak akan dengan mudah tercapai,” ungkap Alan dengan sombongnya di hadapan peserta pertemuan.
Pada saat ini juga Pak Arya langsung memberikan project baru buat tim 7, yakni turut membantu salah satu perusahaan game ternama SunToon. Dengan segera Stefan dan Theo melakukan interupsi, serentak keluar dari keanggotaan Tim 7.
__ADS_1
“Stefan, kenapa kau keluar?” tanya Pak Arya terheran-heran.
Stefan pun berdiri, setelah mengedarkan pandangan, kemudian dia memfokuskan pandangannya ke arah Pak Arya sambil berujar, “Alan tidak menyebut nama kami satu per satu, seolah-olah hanya dia yang bekerja sendirian. Bagaimana mungkin kami akan tetap menjadi anggotanya?”
Theo juga berdiri. “Jika Stefan tidak turun tangan, kami berdua yakin project itu belum tentu selesai. Berkat Stefan lah AlfaProtect jauh lebih canggih. Seharusnya ketua tim berterima kasih, tapi nyatanya tidak. Kami berdua akan keluar dari Tim 7.”
Tiba-tiba Stephanie juga mengacung. “Saya juga keluar dan ingin bergabung dengan tim Stefan.”
Solusinya, Pak Arya akhirnya menyetujui permohonan mereka. Stefan, Theo, dan Stephanie akan membentuk tim baru, yaitu Tim 18. Akan ada satu atau dua orang lagi yang masuk pada tim mereka.
Selesai pertemuan dan presentasi, Alan menghampiri Stefan dan mengajaknya bicara empat mata. Mereka agak menjauh dan lebih dekat dengan ujung koridor.
Alan mencebik, “Benar sekali kalau kau ini penjilat. Kau bahkan mencari muka di saat yang pas, di saat pimpinan perusahaan ada di sana, pintar sekali kau rupanya,” ketusnya.
Stefan memasukkan tangannya ke saku celana. Dengan tenang dia pun menjawab, “Penjilat adalah orang yang tidak punya kapasitas, di bawah, lalu berusaha naik ke atas dengan cara menginjak rekan-rekannya dan mengipasi atasan dengan rayuan, itu penjilat.”
Untuk membalas orang sombong adalah dengan cara sombong pula. Stefan terpaksa mencongkakkan diri supaya Alan jera dan sadar. “Jelas aku punya kapasitas. Aku tidak menginjak rekan, justru aku menolong rekan. Aku tidak pernah mengipasi bos, malah sebaliknya, bos sendiri yang meletakkan aku di posisi yang tinggi. Aku senior programmer. Dan aku lebih tinggi dari pada kau!”
Alan terdiam membatu. Biji matanya terpelanting ke arah lain dan tidak berani melihat manik mata Stefan. Tak disangka kalau Stefan berani bicara selantang itu. Sepertinya Alan kehabisan kata-kata dan harus menerima semua pernyataan dari Stefan barusan.
Stefan meneruskan, “Aku memasukkan anti trojan dari SigmaX milikku di AlfaProtect. Aku lembur dua hari dua malam tidak tidur berusaha menyelesaikan project ini. Kau camkan, Alan! Aku bekerja untuk nama perusahaan dan namaku pribadi. Bukan untuk tim yang dipimpin oleh pria sok seperti kau!” tegasnya berapi-api.
Karena tidak kuat, Alan melenggang dan meninggalkan Stefan yang masih saja berdiri terpancang di ujung koridor. Alan melangkah cukup kuat untuk menyeimbangkan tubuhnya yang agak gontai. Napasnya agak kurang beraturan setelah dicecar omongan Stefan yang menusuk-nusuk.
Stefan pun menemui Pak Arya untuk membicarakan soal project selanjutnya. Stefan ditunjuk menjadi ketua Tim 18 untuk mengerjakan project yang sama seperti sebelumnya, yakni program anti malware, namun jauh lebih canggih dan kompleks.
__ADS_1
Stefan bersitatap dengan Pak Arya, lalu berujar, “Saya tidak mau ada rasisme di ruangan saya, Pak.”