
Gosip orang terkenal biasanya cepat menyebar. Seperti itulah apa yang sedang menimpa Stefan saat ini. Meski awalnya cuma bercanda, gosip itu bisa berkembang menjadi cerita menarik bagi sebagian orang.
Alan mengerutkan kening dan berkata tak menyangka di hadapan Stefan, “Kami tahu duda muda di mana pun pasti akan mencari calon istri barunya. Tapi, bagaimana bisa anak baru kemarin sore ini bisa mengambil hati Stephanie?”
Liam berkacak pinggang seperti bebek dan berkata sinis. Wajahnya ke arah Alan, tapi sekelebat lirikannya ke arah Stefan. “Setelah dapat jabatan ketua, dia dapat wanita yang diidam-diamkan banyak pria di kantor ini.”
Alan menggeleng sambil berdecak takjub. “Sudah kita sangka sebelumnya.” Alan berhadapan dengan Liam. “Dia akan dapat segalanya di sini. Kita lihat dalam beberapa tahun ke depan. Apa mungkin targetnya menjadi CEO di AlfaTech?”
Liam tersenyum pahit, lalu menjawab, “Alan, apa kau kenal dengan Grace, anaknya Pak Arya? Bukankah dia ini berhasil memanfaatkan Grace buat dapat posisi di kantor ini?”
Mendengar itu, Stefan yang baru saja tiba di parkiran karyawan, tersentak hebat. Dadanya berdebar-debar. Sontak dia pun mendekat ke dua orang itu. Dia mengawasi mereka berdua satu per satu, lalu berkata tegas. “Berhenti memfitnahku! Jika kalian tidak senang, ayo kita berkelahi!”
Alan dan Liam mundur. Jika mereka berdua meladeninya, mungkin mereka bisa menang, tapi posisi mereka di kantor ini jelas akan terancam. Sejauh ini mereka sedikit tahu siapa Stefan sebenarnya. Jelas tidak bisa diremehkan.
Alan mengajak Liam jalan masuk ke kantor sembari berkata, “Selama beberapa minggu belakangan ini ada tim yang sedang kesulitan menjalani project. Dia terlalu bangga diri seolah bisa menggarap project itu, padahal sekarang si ketua sedang terseok-seok.”
Liam membalik badannya lalu berkata, “Posisi pekerjaan kita berdua saat ini sungguh bagus. Kita bisa tahu progres dari masing-masing tim. Satu tim itu memang sedang terseok-seok. Bahkan, si ketua minta tambahan orang dan biaya buat timnya.”
“Sebuah keputusan yang payah! Bagaimana bisa dia mau mengambil project tersebut, lalu di kemudian hari minta perubahan yang signifikan.”
“Berarti kita telah salah menilai orang selama ini. Dia bukanlah orang yang bisa diandalkan. Rupanya dia orang yang payah, tapi sok jadi pahlawan di sini.”
__ADS_1
Dua orang itu pun berlalu. Stefan melihat mereka menjauh. Dia mengatur napas sesaat, lalu masuk ke dalam kantor. Stefan senang jika mendapat kritik, tapi untuk singgungan dan umpatan seperti barusan, dia tidak bisa menerimanya.
Lagipula, kritik yang dikeluarkan oleh para pembenci hanya akan menyakiti hati, bukan malah memberi solusi. Jika ingin tenang selama bekerja, Stefan harus segera bertindak. Karena bukan tipe orang yang hobi mengadu ke atasan, Stefan harus mengatasi masalah kali ini tetap dengan seorang diri.
Suatu ketika Stefan kembali berbicara enam mata bersama dua orang itu. Stefan ingin agar masalah ini diselesaikan dengan cara penyelesaian seperti laki-laki seharusnya.
“Apa yang kalian inginkan? Posisi?” Stefan menatap tajam. “Aku tidak habis pikir kenapa ada orang seperti kalian berdua di kantor ini.”
Namun, waktu Stefan menyampaikan ketidaksenangannya seperti sebelum-sebelumnya, lucunya Alan selalu mengelak dan tidak mau mengeluarkan unek-unek yang menggumpal di dadanya. Saat ini, Alan kikuk seperti biasanya. Jika Stefan menggertak sedikit saja, dia merasa kalah.
Stefan berpikir, ‘Orang ini seperti banci’. Alasannya adalah bukan hanya respons yang diberikan oleh Alan, tapi gaya berdiri dan bicaranya. Seorang pria umumnya tidak sering membasahi bibirnya dengan juluran lidah. Alan memang berbadan tegap karena sering gym, tapi Stefan tidak melihat kejantanan pada orang ini.
Liam menarik tangan Alan dan berkata, “Kita masih ada pekerjaan penting di kantor. Kita tinggalkan saja anak baru ini.”
Bagi Stefan, jelas berbeda antara sabar dan takut. Dulu, kasus dia selama tinggal di rumah Bobby Sanjaya, Stefan berlaku sabar selama menghadapi perlakuan buruk, itu bukan takut. Begitu juga pas di kantor Sanjaya Sawit. Stefan bukan pecundang.
Dan bagi Stefan, tentu berbeda antara lemah lembut dan banci. Dulu, Stefan tidak ingin main keras karena dia ingin berlemah lembut. Selama masa sulit tersebut, Stefan berusaha tidak ingin ada keributan.
Kasus saat ini, jelas Alan dan Liam merupakan penakut dan banci. Ketika Stefan ingin menguji seberapa besar mental mereka, mereka malah ciut nyalinya. Ditambah, saat ini Stefan dalam posisi yang benar dan ditindas, serta sudah seharusnya bertindak. Sikap sabar dan lemah lembutnya sudah tidak bisa diandalkan jika menghadapi dua orang ini.
Stefan tersenyum pahit dan berkata remeh, “Kalian berdua ini bukan laki-laki. Lucu, menghadapi Theo si cungkring saja kalian berdua main keroyokan.”
__ADS_1
Alan makin bergeming. Perlahan dan sembunyi-sembunyi dia menelan ludah kekalahannya. Di saat seperti ini, matanya nanar seperti orang kebingungan. Kening dan tengkuknya berkeringat dingin. Tangannya bergetar.
Seperti cerita-cerita sebelumnya, Liam pasti membelanya, padahal Alan mantan ketua. “Untuk apa kita mengotori tangan mengurusi orang Asia ini?”
Alan kian kikuk. “Ayo kita ke ruangan.”
Stefan mendengus kesal. Masih dia mengawasi dua orang itu yang terus berjalan. Kecurigaan Stefan makin bertambah hingga saat ini. Ada sebuah anggukan kecil darinya.
Malam hari di rumahnya, Stefan pun stay di depan layar-layar komputernya. Jika tindakan preventif tidak berhasil, Stefan harus bertindak offensive. Dibobolnya semua data rahasia apa saja milik Alan dan Liam, tanpa terkecuali. Bahkan sampai SMS dua tahun lalu yang masih tersimpan di HP pun Stefan tahu.
Seharusnya sabtu malam ini Stefan ingin menghabiskan waktu untuk menonton film hacker terbaru, tapi demi mengurusi dua bocah pelangi itu, Stefan begadang sampai pagi, merelakan hiburan pribadinya. Dan sekarang, semua rahasia pun terbongkar.
Senin pagi. Stefan menghadap Pak Arya setelah apel rutin dilaksanakan. Stefan merupakan orang spesial, jadi Pak Arya cepat mempersilakannya masuk, padahal seharunya Pak Arya memimpin rapat dewan pagi ini.
Stefan menegakkan bahu dan berkata, “Kita selaku umat beragama, tentu akan menegakkan beberapa aturan agama di perusahaan ini. Apa boleh saya bawa narkoba?” tanya Stefan serius.
Jika mendengar omongan Stefan, Pak Arya lebih sering disuruh berpikir saat ini juga, alasannya Stefan sering melontarkan pernyataan dan pertanyaan di luar perkiraan namun jelas ada pengaruh bagi perusahaan.
Pak Arya menatap Stefan, lalu berkata, “Siapapun, termasuk saya sendiri dan kamu, Stefan, bahkan tidak boleh bawa miras, apalagi narkoba. Kenapa kau bertanya seperti itu?”
Pak Arya yang sudah paham Stefan orangnya seperti apa jelas tidak mungkin menerima pertanyaan itu lantas menganggapnya biasa-biasa saja. Pasti ada sesuatu.
__ADS_1
Stefan memperbaiki posisi duduknya dan berkata dingin, “Narkoba, miras, sama seperti LGBT. Semuanya penyakit! Sudah seharusnya penyakit ini harus dihilangkan dari tubuh perusahaan!”