Menantu Benalu Ini Ternyata Hacker Jenius

Menantu Benalu Ini Ternyata Hacker Jenius
101. Tamparan keras


__ADS_3

Kesekian kalinya Bobby Sanjaya berkunjung ke kantor Nano-ID untuk absen harian. Pagi ini Bobby ditemani putra kebanggaannya, Robert!


Stefan akan menjadikan hari ini awal dari sebuah ******* cerita. Dia mengumpulkan orang-orang yang dulu sering meremehkannya.


Stefan menyandarkan punggungnya sambil melipat tangan di dada, lalu berkata dingin, “Cepat suruh istri dan anak wanitamu ke sini sekarang!” titah Stefan pada Bobby.


Bobby tertunduk lunglai dan menjawab, “Mereka agak siang baru bisa ke sini.”


Stefan membentak emosi. “Aku minta sekarang! Cepat hubungi! Apa kau ingin agar aku tidak mengurusi perusahaanmu dan menelantarkannya ha?”


Tangan Bobby gemetar, segera dia mengambil ponsel yang ada di saku celananya dan menghubungi istri dan anaknya. Sekitar lima belas menit kemudian mereka tiba.


Chyntia rela meninggalkan pekerjaan rumah dan Luchy terpaksa telat kuliah karena hanya ingin absen harian di ruang kerja Stefan.


Stefan menatap Robert Sanjaya lurus-lurus, lalu berkata, “Hei kau! Panggilkan sahabatmu Ryan! Dan bilang pada Ryan, sampaikan pada Marissa, buatkan aku kopi hitam sedikit gula! Cepat!” perintah Stefan dengan cara bicara seperti panglima perang.


Sekitar sepuluh menit kemudian, mereka semua sudah berkumpul. Ada enam orang yang dulu paling sering mengejek, menghina, dan menertawai Stefan.


Stefan menyeruput kopinya. Dia memandangi Marissa lalu berkata, “Semakin lama, kau semakin jago bikin kopi. Seharusnya setelah tamat sekolah kau langsung jadi barista saja!”


Marissa tertunduk lemas. Jika dia masuk kantor, selalu buru-buru karena malu. Dia tidak ingin mendengar celaan dari masyarakat Nano-ID dari pagi sampai sore. Setelah membuatkan pesanan karyawan, dia jarang mengantarnya tetapi lebih sering menyuruh rekan sesamanya.


Namun, terkadang jika ada karyawan yang meminta agar dia yang membawakannya, maka dengan berat hati Marissa akan melakukannya. Selama berhari-hari dia makan hati. Parahnya, dia akan melakukan pekerjaannya selama lima tahun ke depan. Sungguh tahun-tahun yang melelahkan.

__ADS_1


Stefan memandangi Ryan dan berkata, “Hei teman lamaku! Kau juga semakin lama semakin ada kemajuan. Apa kau kangen dengan laptop ROG? Harap dimaklumi karena ROG hanya untuk supervisor, bukan petugas kebersihan. Aku yakin kau mampu melewati masa-masa sulit ini.”


Ryan sangat tertunduk. Seumur-umur, baru kali ini dia sangat tertunduk. Pandangannya terhunjam lemas ke lantai dan seperti tidak mampu melihat langit. Jika berpapasan dengan Stefan, dia berpura-pura lupa ingatan.


Dia sudah mengakui semuanya. Bukan ilusi dan bukan pula genjutsu. Ryan sadar bahwa Stefan layak memenangkannya. Kemudian dia belajar bagaimana cara memandang orang lain dengan perspektif yang tepat. At least, dia dipaksa belajar buat mengubah diri.


Stefan memandangi Luchy lalu berkata, “Bagaimana kuliahmu? Belajar yang benar! Jika ada pelajaran agama, hukum, dan adab, kau  harus mengulanginya minimal dua kali! Kau pikir, nama besar keluargamu akan membuatmu lebih dihargai?”


Luchy terpaku tanpa suara. Jika dulu dia sangat berani membentak Stefan, sekarang dia pun tidak berani untuk sekadar melihat mata. Luchy diserang rasa takut yang meledak-ledak.


Kondisi saat ini sungguh memprihatinkan bagi dirinya. Harga dirinya selaku bagian Keluarga Sanjaya harus robek dan hancur. Jika lebih memilih, dia rela wajahnya digesek ke aspal daripada harus meminta maaf kepada Stefan. Tapi, inilah realitanya.


Stefan memandangi Chyntia dan berkata, “Kau adalah orang yang paling kuat berkeinginan agar aku masuk ke rumah sakit jiwa. Kau ibu rumah tangga yang selalu berpikiran negatif. Mendiang Kakek Sanjaya pasti menyesal sudah punya menantu memalukan seperti dirimu!”


Jika ditampar seratus kali bisa menggantikan dari permohonan maaf kepada Stefan meskipun dilakukan setiap hari, dia rela menerimanya apapun konsekuensinya. Wajah yang hancur lebih baik daripada hati yang hancur. Sungguh menyakitkan.


Stefan memandangi Robert dan berkata, “Hei kau, mantan ipar menyedihkan! Aku menarik kembali omonganku. Dulu aku pernah bilang bahwa kau tidak akan pernah bisa bertemu CEO. Sekarang, kau berkali-kali mewujudkan impianmu. Apa kau senang bisa bertemu dengan CEO? Apa yang ingin kau bicarakan? Silakan! Oh, bukankah kau sering diusir dari sini! Sangat menyedihkan!”


Robert kian bergeming dan bergetar seluruh badannya. Tiba-tiba napasnya makin sesak, seakan jantungnya digeprek dan diremas. Jika hukuman buruk ini bisa ditukar dengan menjilati telapak sepatu OB, dia rela melakukannya setiap hari.


Robert termasuk orang yang paling benci terhadap Stefan dalam banyak hal. Jika membunuh tidak dilarang, sudah dari dulu dia ingin membunuh Stefan, karena saking irinya. Namun, realita pahit ini harus ditelannya mentah-mentah.


Stefan mengawasi Bobby Sanjaya dan berkata, “Wahai kau orang tua! Kau adalah penerus gagal! Mendiang Kakek Sanjaya sangat menyesal punya penerus memalukan seperti dirimu! Jika saja kau tidak durhaka sama ayahmu dan menuruti nasehatnya, nasibmu tidak akan pernah sejelek ini!”

__ADS_1


Khusus untuk Bobby, Stefan agak lama memberikan ceramah. “Untung, aku masih punya hati dan rasa kasihan terhadapmu, karena jika tidak, Sanjaya Group benar-benar akan tenggelam.”


Stefan memperbaiki posisi duduknya, lalu melanjutkan, “Sekarang kau rasakan sendiri akibat dari perbuatanmu!” Stefan puas dengan semua yang dia katakan. “Kau sampah, Bobby! Kau adalah pria yang tidak bisa diandalkan!”


Stefan membongkar kebobrokan Erick. “Dia hanya ingin memanfaatkan Lionny. Apa kau tidak sadar dia ingin mengambil bagian dari harta Sanjaya? Kau adalah orang tua yang tidak bisa diandalkan! Kau salah menilai orang!”


Bobby terkaget. Wajahnya makin pucat dan keringat dinginnya keluar bertubi-tubi. Badannya bergidik karena gugup. Wajahnya makin tertunduk lemas dan tidak berani menatap mata Stefan.


Jika hukuman ini bisa diganti dengan berjalan kaki selama sepuluh jam tanpa henti, Bobby rela melakukannya setiap hari. Sakit hati karena malu memang sulit terobati.


Kini, Bobby seperti bisu. Dia bahkan jauh lebih gila daripada orang gila ketika berhadapan dengan Stefan. Dia tidak kuasa jika sudah dimaki-maki. Harga dirinya makin jatuh.


Stefan berdiri. “Jika kau tidak berlaku buruk terhadapku, nasibmu tidak akan hancur seperti sekarang. Bobby, kau telah salah dalam memperlakukan keluarga dan bisnismu. Orang sepertimu sangat tidak pantas untuk dicontoh. Kau adalah gambaran dari sesuatu yang harus dihindari.”


Bobby makin membatu, makin tak berdaya. Masih tidak habis pikir, selama lima tahun dia akan melakukan hal memalukan seperti ini setiap hari kerja. Sungguh menyedihkan.


“Cepat lakukan!” titah Stefan.


Bobby mengangkat wajahnya dan berkata lirih, “Aku salah. Maafkan aku, Stefan.” Bobby keluar dari ruangan.


Dilanjutkan Robert melakukan hal yang sama, kemudian Chyntia dan Luchy. Lalu, mereka satu keluarga pun pergi.


Ryan dan Marissa melongo. Rupanya yang dilakukan satu keluarga tadi setiap harinya jauh lebih memalukan dari apa yang mereka terima saat ini.

__ADS_1


__ADS_2