
Ketika telah sampai di apertemen mewahnya, Stefan langsung menghubungi Manager HRD Nano-ID.
“David, adakah seorang pria bernama Ryan Vikes melamar di posisi supervisor?”
“Sebentar Pak Stefan.” Cukup lama David mengutak-atik laptopnya. “Hm, ada, Pak Stefan. Ada belasan orang pekerja yang butuh persetujuan dari Bapak. Termasuk orang ini.”
“Baiklah. Pindahkan dia ke posisi OB terlebih dahulu selama satu bulan. Malam minggu nanti sekitar jam delapan, kau hubungi dia dan beri tahu info ini.”
“Siap laksanakan, Tuan CEO!”
Nano-ID akan menjadi satu-satunya perusahaan IT berskala dunia di Indonesia. Akan ada banyak perusahaan dunia yang akan bekerja sama dengan Nano-ID. Belum saja diresmikan, sudah banyak tawaran berdatangan.
Perusahaan apa saja yang terikat dengan hal digitalisasi, seperti contoh berbagai macam start up yang berfokus pada internet dan smartphone, jelas akan menjadikan Nano-ID sebagai rekan bisnis mereka.
Begitu juga dengan soal keamanan siber. Nano-ID lebih luas dan kompleks, tidak hanya mengurusi web dan aplikasi saja, tapi jauh lebih dari itu. Meskipun dalam pengawasan pemerintah, Nano-ID tetap dipegang sepenuhnya oleh AlfaTech.
Namun, hingga saat ini, sebagian orang yang mengenal Nano-ID, tahunya perusahaan yang dikembangkan oleh pemerintah. Padahal kenyataannya tidaklah demikian, bahkan Nano-ID lebih dari lima puluh persen sahamnya dimiliki oleh AlfaTech.
Pasca keberhasilan AlfaStudio, maka dibangunlah Nano-ID atas dasar usulan pemerintah dengan bantuan dana yang cukup besar dari pihak pemerintah. Namun, semua orang tidak tahu bahwa AlfaStudio merupakan software yang dikembangkan oleh Stefan di Alfatech.
Sebab, pada saat project berlangsung, software itu hanya dipakai oleh Tim 18 AlfaTech saja. Setelah berhasil, barulah program itu di-publish. Hanya saja, karena berlisensi dan punya payung hukum, tidak semua orang bisa menggunakannya layaknya software pada umumnya. Jika ada perusahaan yang bisa bekerja sama dengan Nano-ID, maka mereka berkesempatan menggunakan software canggih tersebut.
...
“Kita sudah sampai, Pak,” ucap driver sambil menyelesaikan orderannya.
Stefan turun dari motor dan memberikan uang seratus ribu pada driver. “Ambil saja kembaliannya, Pak.”
__ADS_1
Bapak paruh baya itu kaget. “Banyak sekali ini lebihnya, Pak. Terima kasih sekali."
Lalu, Stefan merapikan kemeja abu-abunya dan merapikan rambutnya. Perlahan dia melangkah dan masuk ke sebuah restoran ternama di Jakarta. Pada saat ini, Stefan agak kikuk karena dia sadar sebentar lagi dia akan dipermalukan oleh Ryan. Atau bisa jadi bukan hanya Ryan.
Parah, Stefan tidak mungkin lupa dengan orang-orang itu. Ferdy si pria kaca mata yang dari dulu hobi sekali pacaran. Lalu Lesty pacarnya Ferdy, wanita judes yang memang hobi mengurusi hidup orang lain baik di dunia nyata maupun dunia maya. Dan satu lagi Marissa, dingin dan tidak jelas.
Ryan buru-buru menggiring Stefan untuk segera duduk, lalu berkata, “Teman-teman kita yang saat ini bekerja dan tinggal di Jakarta hanya ini. Entah mereka ada di Kalimantan, Sulawesi, ada juga yang di luar negeri. Mereka semua sukses.”
Stefan terduduk menghadap empat orang ini. Dia menyalami mereka satu per satu sambil senyum. Dan mereka pun membalasnya dengan senyuman pula.
Ferdy menatap Stefan dan berkata, “Reuni. Dulu kan kau pernah jadi ojol. Sekarang naik ojol.” Ferdy terkikik.
Lesty juga tertawa, “Aku pernah menerima orderan food darimu Stefan. Waktu itu aku sengaja pakai masker. Aku tidak ingin kau malu. Ha-ha.”
Marissa menawarkan sesuatu sembari mendekatkan buku menu pada Stefan. “Syukurlah kau sembuh. Kami tidak menyangka kau bisa melewati masa-masa sulit itu, Stefan.”
Dulu, Marissa merupakan wanita idamannya Stefan. Namun, karena status Stefan yang sebatang kara, Marissa jadi malas ketika didekati oleh Stefan. Apalagi terdengar bahwa Stefan pernah gegar otak dan menjadi benalu di rumah mertua. Jelas dia makin melengos.
Ryan menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya pertanda acara ini akan segera dimulai. “Stefan, silakan kau pesan apa saja. Kali ini semua aku yang akan bayar.”
Marissa terpana. “Secara, Ryan akan menjadi supervisor di Nano-ID, dengan gaji setidaknya lima belas juta satu bulan.”
Ryan membalas, “Marissa, kau jangan hanya menyanjungku. Kau salah satu staf bendahara di Nano-ID. Kau akan pegang duit milyaran nantinya.” Ryan tersenyum penuh kemenangan.
Stefan karena baru sampai di Indonesia dan memang melimpahkan tugas-tugas sementara ini kepada beberapa orang tertentu saja, memang tidak tahu nama-nama orang yang bakal bekerja di Nano-ID. Stefan hanya mengenal direksi dan management.
Saat ini, Ferdy sudah bekerja sebagai staf di salah satu perusahaan swasta dan Lesty pun sama. Tapi, bayaran mereka standar untuk kelas pekerja. Mereka berdua masih masuk kategori middle to low. Belum bisa dianggap kaya.
__ADS_1
Ferdy pun berkata, “Oke. Kita semua pesan Kobe beef 300 gram. Kan tidak pakai nasi nih, jadi kita pesan yang ukuran paling besar."
Semua orang sepakat. Begitu juga Ryan. Dia tidak mungkin menolak pesanan yang diinginkan oleh teman-temannya karena acara kali ini memang atas dasar kemauannya.
Ferdy dan Lesty terpaksa mengendarai sepeda motor selama satu jam perjalanan hanya untuk menuruti ajakan Ryan. Begitu juga Marissa, dia relakan waktunya malam ini untuk hadir di acara reuni kecil-kecilan ini demi Ryan.
Ryan mengangkat bahu dan berkata, “Stefan ini kan memang pintar, tapi itu dulu, sebelum kecelakaan, pas dia masih waras. Aku ingin menawarkan dia pekerjaan di Nano-ID. Sesuai dengan pengalamannya yang sangat minim, dia juga sering disuruh-suruh oleh mertua dan iparnya, jadi bagaimana menurut kalian kalau Stefan jadi OB saja di Nano-ID?”
Ferdy dan Lesty yang sudah menjalin hubungan asmara mesum selama lebih dari sepuluh tahun pun terpingkal-pingkal mendengarnya. Marissa tersenyum sebelah. Senyum dingin yang meremehkan. Dia memang mengakui bahwa Stefan layak diperhitungkan, tapi tidak untuk sekarang.
Ryan melanjutkan, “Nanti mungkin setelah satu minggu bekerja di Nano-ID, barulah aku mengirimkan, eh sebentar. Stefan, bukannya kau tidak bisa melamar pekerjaan karena semua administrasi studimu telah hilang?”
Buru-buru Ferdy menyergah. “Memang OB butuh nilai di ijazah, apalagi nilai dari kampus luar negeri? Bahkan, untuk menjadi seorang OB, Stefan sudah punya pengalaman jadi pembantu di rumah mertuanya. Ha-ha.”
Ryan mengangguk. “Kau benar, Ferdy. Orang ini tidak perlu menyusun CV. Baiklah, posisi supervisor sudah cukup tinggi untuk menjadikanmu seorang OB. Kau tunggulah kabar beberapa hari ke depan, Stefan.”
Marissa memandang Stefan agak remeh, lalu berkata, “Aku juga akan merekomendasikan namamu, Stefan. Staf bendahara lumayan tinggi. Bila perlu aku langsung menemui CEO-nya saja. Aku akan menggodanya supaya kau bisa diterima. Semua demi kau.”
Ryan memotong. “Tidak perlu berlebihan, Marissa. CEO terlalu tinggi untuk orang serendah Stefan. Lebih baik menemui HRD-nya saja.”
Tiba-tiba, ponsel Ryan berdering.
“Oh, ini panggilan dari Pak David. Manager HRD Nano-ID yang telah menginterview-ku waktu itu.”
Lalu, ada suara sambungan dari ujung ponsel milik Ryan. “Halo? Selamat malam, Pak Ryan. Saya ingin bicara sebentar soal pekerjaan Anda di Nano-ID. Silakan suaranya di mode loudspeaker.”
“Baiklah. Sudah. Silakan Pak David apa yang mau dibicarakan?” tanya Ryan lalu meletakkan ponselnya di atas meja. Semua orang mendengarnya.
__ADS_1
“Posisi supervisor akan Anda dapatkan jika mau menjadi petugas OB terlebih dahulu selama satu bulan. Itulah perintah CEO!"
Ryan tercekat dan hampir tidak bisa bernapas. “Hm. Ah. Ap-pa?”