
Drrtt...
Panggilan masuk dari Grace. Stefan meraih smartphone-nya dan mengusap warna hijau.
“Halo?” Suara Grace bergetar di salah satu lubang speaker. Terdengar merdu walaupun samar.
“Ada apa, Grace?” tanya Stefan. Tangan kanannya masih mengutak-atik mouse. Matanya jelalatan mengawasi empat layar di hadapannya.
Suasana di kamar tidur Stefan temaram. Lampu utama dimatikannya malam ini. Menyisakan lampur led strip warna hijau yang menjalar mengitari ruangannya. Dan beberapa lampu strip berbentuk sebuah logo. Begitu aestetik dan elegan.
“Kau masih sibuk bekerja? Di sana sudah jam dua belas malam kan?”
“Hm. Betul. Masih ada yang ingin aku kerjakan.” Stefan masih fokus mengamati kode-kode bahasa pemrograman di layar. Karena hingga saat ini dia masih belum menemukan cara efektif dalam mengerjakan project.
“Aku hanya ingin menanyakan kabarmu. Sudah lama kita tidak mengobrol. Dengar-dengar kau ada hubungan dekat dengan seorang programmer yang namanya hampir sama denganmu,” lirih Grace lemah.
Stefan tersandar di kursi gaming-nya. Tiba-tiba pikirannya buyar. Huruf dan angka di layar ini jadi seperti tak bermakna dibuatnya. Stefan menghela napas kasar dan mengubah posisi telepon dari kuping kiri ke kuping kanan.
“Bahkan ayahmu pun terkena gosip itu. Tidak benar, Grace, isu itu tidak benar.” Stefan memejamkan matanya.
Agak lama tanpa suara. Sepertinya Grace berusaha mencerna omongan Stefan dan menetralisir hatinya.
“Hm. Syukurlah kalau tidak hubungan spesial dengan wanita itu. Aku selalu mengintaimu, Stefan.”
“Apa-apaan sih, Grace. Aku datang ke sini untuk berkarir dan mendapatkan uang. Bagaimana kabarmu di sana?”
“Kabarku baik. Sekarang aku bekerja di perusahaan migas asing. Bukan sekretaris lagi, tapi cuma staf kantor biasa.”
__ADS_1
“Aku senang mendengarnya. Biar kau ada kegiatan di sana.”
Maksud Grace mengajak bicara Stefan sebenarnya hanya ingin memastikan bahwa Stefan tidak ada hubungan apa-apa dengan Stephanie. Itu saja. Begitu tahu berita sebenarnya, Grace pun tenang.
Obrolan mereka tak lebih dari lima belas menit karena Stefan segera ingin melanjutkan pekerjaannya. Begitu juga dengan Grace, karena di sana sudah jam lima pagi, dia pun segera mandi dan bersiap untuk pergi bekerja.
Stefan kembali menghadap layar komputernya yang tersambung secara simultan. Keadaannya saat ini tidak asing bagi para programmer. Nuansa temaram yang diiringi kerlap-kerlip lampu di keyboard plus suara tik-tak dari ketikannya sungguh khas.
Stefan terus mencari berbagai macam sumber informasi serta menanyakan kepada orang yang lebih berpengalaman, bagaimana caranya menggabungkan seribu aplikasi dalam satu aplikasi saja dengan tidak menimbulkan masalah signifikan.
“Project ini benar-benar gila!” desisnya sambil memindai kode-kode aneh di layar komputer dengan sorot tajam matanya.
\=\=\=>>>0<<<\=\=\=
Pagi ini di ruang kerja Tim 18.
Stephanie berdiri memaku. Di sebelahnya ada Stefan yang tengah duduk menghadap pc.
Belum sempat menyelesaikan pembicaraannya, Stefan buru-buru memotong. “Aku sudah menemukan solusinya, Stephanie. Kau silakan kerjakan apa yang sudah aku perintahkan.”
“Aku punya sebuah tools tambahan buat AlfaStudio. Tools tersebut berguna agar kompleksitas yang rumit tidak akan mengganggu proses operasi.” Sebisa mungkin Stephanie berbicara pelan dan meyakinkan agar Stefan mendengar sarannya.
Stefan mengedikkan bahu. Berdecak. Ck! Stefan sempat berpikir, kira-kira maksud dari Stephanie murni karena profesionalitas, atau ada maksud lain. Agak lama Stefan mencerna maksud tersebut.
Stefan mendenguskan napas kasar, lalu menoleh ke kiri. “Okelah. Aku akan mempelajari tools yang kau sarankan itu terlebih dahulu.”
Stephanie gesit melenggang meninggalkan kawasan kerja Stefan. Setengah meloncat menuju kursi kerjanya. “Akan segera aku kirim,” ucapnya semangat.
__ADS_1
Stefan pun mempelajarinya selama tiga puluh menit. What? Stefan terperanjat kaget. Ide dari Stephanie rupanya lebih cihui dari pada ide yang muncul di kepalanya semalam.
Tebersit sebuah ide cemerlang semalam soal tools yang akan membantu proses perancangan One App. Tapi Stefan ragu karena tidak akan mempercepat proses.
Prediksi Stefan agak meleset. Tools yang disarankan oleh Stephanie rupanya akan mempermudah proses penggabungan dan waktu yang dibutuhkan juga tidak akan berlangsung lama.
Siang harinya, ketika semua orang pada sibuk masing-masing, Stefan menyahuti Stephanie lagi. “Dari mana kau dapat ide ini?” tanya Stefan masih saja terpana tak menyangka. Alisnya tak turun-turun.
Stephanie tersenyum dan menjawab, “Aku mempelajari dari yang sudah-sudah, sebagian kecil saja yang berhasil, namun hasilnya tidak maksimal, dan masih banyak cacat.”
“Hal seperti itu sudah terpikir olehku. Tidak akan sempurna hasilnya. Sementara jika menambahkan tools-mu ini di AlfaStudio, aku sudah mensimulasikan dengan lima ratus aplikasi, hebatnya tidak ada masalah yang timbul.”
“Aku sudah mensimulasikan dengan seribu lima ratus aplikasi, memang agak bermasalah, tapi jika spesifikasi smartphone-nya sangat baik disertai sinyal yang bagus, sepertinya tidak akan bermasalah. Idealnya seribu,” papar Stephanie tanpa ragu.
Berkat bantuan Stephanie, Stefan akhirnya bisa agak tenang sekarang. Selama berhari-hari dia mempelajari banyak hal dari buku dan internet, mencari cara, mencari rumus dan formula, agar AlfaStudio bisa beroperasi dengan maksimal dan menciptakan aplikasi yang bermutu dan sesuai harapan.
Setelah dipastikan aman, semua tim pun bekerja sesuai dengan tugasnya masing-masing. Stefan mampu menciptakan sebuah circle atau lingkup kerja yang hangat karena telah berhasil membangun chemistry network yang kuat antar anggota tim.
“Ehhem!” Theo berdeham, kembali mengunyah-ngunyah permen karetnya. Stephanie yang di sebelahnya cuma bisa menahan senyum.
Betapa tidak, dia berhasil mencuri perhatian Stefan kali ini. Dan tak tanggung-tanggung, solusi yang diberi adalah mengatasi problem yang beberapa hari belakangan ini membuat Stefan susah tidur dibuatnya.
Lagi pula, Stephanie ingin punya kontribusi besar pada tim, dengan artian tidak hanya menerima jobdesk dan SOP lalu bekerja, tapi dia ingin punya andil dan lebih diperhitungkan di sini.
Dan terbukti, sekarang Stefan mengakui bahwa Stephanie punya jasa besar dalam pengerjaan project gila ini. Lantas, apa dengan ini nantinya Stefan akan tersentuh hatinya, lalu menumbuhkan rasa yang sama?
Agaknya, terlalu utopis apa yang diekspektasikan oleh wanita itu.
__ADS_1
Seolah mengerti perasaan wanita, Stefan tidak ingin ada yang terjungkal dalam perasaan yang salah sekarang. Tiba-tiba dia teringat dengan quotes dari Jack Ma tentang makna seorang pemimpin serta perbedaan antara orang pintar dan bijak. Dari meja kerjanya Stefan berbicara lantang dan didengar oleh sebelas orang lainnya.
“Pemimpin bukan berarti lebih pintar dari yang lain. Tugas pemimpin adalah memastikan bahwa semua orang mampu mengeluarkan ide-ide cemerlang. Pemimpin bisa pintar, tapi mesin bisa jauh lebih pintar. Orang pintar menggunakan otak, sementara orang bijak menggunakan hati. Mesin tidak akan bijak karena tidak punya hati. Pelajaran yang bisa diambil adalah jadilah pemimpin bijak yang selalu menggunakan hati dan mau mendengarkan ide dari siapa pun.”