
Robert Sanjaya turun dari mobil seharga dua milyar lebih. Dengan gayanya yang sombong luar biasa, dia berjalan seperti hanya dia sendiri yang bayar pajak pada negara ini. Lalu, dia mendekati Ryan yang masih saja bersih-bersih di halaman kantor.
“Pak Robert Sanjaya, apa kabar?” tanya Ryan tanpa menunduk, meskipun dia sadar bahwa dia dan Robert ibarat kerikil dan zamrud, dia tidak ingin merendahkan dirinya, sifat ini sudah mendarah daging sejak dia masih ingusan.
Bukannya menjawab, Robert malah membuang pandangannya ke arah gedung mewah di depannya. “Ke mana temanmu yang tidak berguna itu? Apa dia sudah dipecat oleh CEO Nano-ID?”
Ryan melempar sapu lidinya ke dinding pos penjagaan, lalu menjawab, “Dia hanya masuk kerja satu hari. Hingga saat ini dia tidak pernah kelihatan batang hidungnya. Aku sangat yakin kalau dia bahkan tidak pantas menjadi OB di perusahaan sebesar Nano-ID.”
Robert tertawa puas, lalu berkata remeh, “Dia tidak akan pernah bisa sukses di mana pun berada. Wajar, tiga tahun lebih dia mendengar kata-kata rendahan seperti sampah, benalu, menyedihkan, tidak berguna, dan umpatan-umpatan lainnya. Jadi wajar otaknya sudah terprogram. Ha-ha.”
Ryan ikut tertawa. “Padahal, aku masih butuh orang yang tidak penting seperti dia itu. Sayang sekali dia sudah dipecat oleh CEO.” Ryan menggeleng kecewa.
Kemudian, Robert tak mengindahkan ocehan si tukang bersih-bersih ini. Dia tidak mengenal siapa itu Ryan. Dia juga benci dengan OB yang terlalu banyak omong, biasanya OB selalu kalem dan rendah diri, tidak arogan seperti barusan. Dunia ini makin lucu.
Martin, David, dan beberapa orang termasuk petugas resepsionis sudah mendapat mandat khusus dari CEO. Jika CEO sudah memberikan keputusan, semua akan patus.
Robert mendekati Chella dan berkata, “Saya ingin bertemu dengan CEO. Hari ini juga saya harus bertemu dengan CEO Nano-ID. Kerja sama dengan Sanjaya Techno harus segera dilaksanakan.”
Chella menggali ingatannya. Beberapa detik dia mendelik wajah pria muda ini, lalu berkata, “Oh, Pak Robert Sanjaya. Maaf, Anda tidak bisa bertemu dengan CEO Nano-ID.”
Robert mengangguk takzim. “Berarti CEO masih sibuk sekarang. Oke, aku ingin bertemu sekretaris, atau bawahannya.”
Meskipun Chella sudah berulang kali memperingatkan bahwa Robert tidak ada tempat di kantor ini, Robert dengan sikap kerasnya masih saja ingin menemui petinggi di sini.
Robert melanjutkan, “Aku ingin bertemu Martin. Dia sepertinya pesuruh utama CEO. Izinkan aku bertemu dengan dia.”
__ADS_1
Lalu Chella mengangkat telepon kantor dan menyambungkannya dengan Martin. Sempat terjadi perdebatan antara Chella dan Martin, lima menit kemudian barulah Robert dipersilakan menemui Martin di ruangannya.
Robert mendobrak masuk. “Pak Martin, sepertinya wawasanmu soal bisnis di Jakarta masih sangat minim. Tidak mungkin kau tidak mengenal diriku. Tidak mungkin kau tidak tahu Keluarga Sanjaya.”
Martin menegapkan dirinya, lalu menjawab, “Saya tahu siapa Anda.” Martin berpikir, ‘Tapi aku jauh lebih menghargai CEO-ku’. Dia melanjutkan, “Silakan antre!”
Robert tersentak kaget. Dia disuruh antre di luar? Siapa yang berani menyuruh seorang Robert Sanjaya antre bersama tiga puluh lebih perwakilan perusahaan di luar tadi. Apa Robert harus duduk bersebelahan dengan mereka lalu menunggu sampai tiga jam lamanya?
“Sepertinya Sanjaya Group tidak bisa dikesampingkan dalam bisnis,” keluh Robert mulai membangkitkan seringai di bibirnya. Sorot matanya mulai menajam. “Aneh sekali jika aku harus antre bersama mereka.”
Martin tak gentar. Tak sedikitpun pundaknya bergeser. Dia menatap Robert lurus-lurus, lalu berkata, “Jika ingin bekerja sama dengan Nano-ID, silakan patuhi mekanisme yang telah dibuat oleh perusahaan.”
Namun, Robert membusungkan dada. “Mereka saja tidak protes. Lagi pula, urusan ini tidak lebih dari tiga puluh menit. Tidak akan menganggu mereka di luar ruangan ini. Mereka juga pasti menghormati Sanjaya Group.”
Martin menguatkan diri, lalu berkata tegas, “Robert Sanjaya dari Sanjaya Group tidak akan bisa menemui CEO di ruangannya walaupun nanti CEO sudah mulai bertugas.”
Robert gusar. “Hebat sekali kau bisa berbicara seperti itu! Kau hanya seorang asisten. Tidak bisa banyak atur di sini.”
“Saya hanya menjalankan tugas dari atasan. Dari pada Robert Sanjaya capek-capek ke sini dan tidak mendapatkan hasil, lebih baik tidak usah datang, karena hanya menghabisan waktu saja. Sekarang, silakan Robert Sanjaya pergi, antrean tidak boleh terhenti. Dan jika memang ingin mengirimkan aplikasi, silakan antre!”
Tidak lama setelah itu, dua orang petugas keamanan pun terpaksa harus menyeret Robert Sanjaya keluar dari ruangan. Sempat Robert meronta karena tidak terima. Tapi, siapapun dia, tetap harus menghormati tuan rumah. Nama besar Keluarga Sanjaya tenggelam oleh kebesara Nano-ID yang dipayungi pihak pemerintah. Robert menyerah.
Kedatangan kali ini tidak menuai hasil juga. Robert terseok-seok setibanya di halaman kantor. Ryan yang tadinya asyik tersandar, sontak berdiri dan mendekatinya lagi.
Ryan berkata heran, “Hebat, cepat sekali kau berurusan dengan Martin. Padahal ada puluhan orang yang antre di dalam sana. Aku sudah mengira kalau Nano-ID sangat menghormati Sanjaya Group.”
__ADS_1
Robert melengos dan melenggang meninggalkan kantor ini. Dia membawa beribu kekecewaan.
....
Setelah tahu kabar dari keluarganya bahwa Stefan bekerja sebagai petugas kebersihan di Nano-ID, Lionny langsung meninggalkan pekerjaannya dan berangkat ke Jakarta.
Sore ini di kediaman Bobby Sanjaya.
Bobby marah kepada Robert. “Mana kontrak kerjanya? Jangan bilang kalau kau gagal!” ketusnya menyeringai.
Robert menunduk lemas, lalu berkata lirih, “CEO-nya belum bekerja. Aku ingin menemuinya secara langsung.”
Kedua pangkal alis Bobby hampir bertaut karena kesal. “Dengar-dengar, kau sampai diusir oleh dua orang security. Memalukan sekali.”
Seharusnya Lionny bisa tertawa lepas menyaksikan tingkah lucu adiknya itu. Tapi kedewasaannya menutupi kekonyolan itu. Berarti, ini adalah kesempatan baginya untuk membuktikan, sepertinya dia sendiri yang harus mengurus kontrak kerja sama itu.
Sebenarnya tujuan Lionny ke Jakarta hanya ingin tahu kabar Stefan. Firasatnya mengatakan bahwa Stefan tidak mungkin jadi seorang petugas kebersihan. Dia tahu bahwa Stefan bukan pria sembarangan. Sangat aneh baginya sekitar setahun lalu memenangkan tender besar, tiba-tiba sekarang sangat jatuh.
Berpikir seperti itu dibutuhkan hati yang bersih dari kebencian. Lagi pula, Lionny masih cerdas untuk menerima informasi bahwa mantan suaminya itu menjadi petugas kebersihan. Dia ingin membuktikan sendiri.
Robert tercengang. “Kau ingin mengurus kontrak kerja kita? Aku saja tidak bisa! Mending kau terbang lagi saja ke Surabaya! Jangan sok bisa!”
Suasana panas. Seluruh mata kali ini tertuju kepada Robert karena saat ini memang seharusnya dia yang dipermalukan. Namun, dia berusasa menyimpan kekalahannya dengan cara menyerang kakaknya.
Bobby tersenyum pahit, “Jangan buat dirimu capek, Lionny! Aku tidak ingin ada dua keturunan Sanjaya yang dipermalukan di sana!”
__ADS_1