Menantu Benalu Ini Ternyata Hacker Jenius

Menantu Benalu Ini Ternyata Hacker Jenius
110. Oh Harvey


__ADS_3

Tuan Lee berdecak takjub. “Tuan CEO, anak buah saya sudah mengajukan proposal kerjasama dengan pihak Nano-ID terakait keamanan siber, tapi nomor antrenya terlalu panjang.”


Stefan menyandarkan punggungnya dan meregangkan otot-ototnya, lalu berkata dingin, “Oh ya? Ikuti prosedur yang ada Tuan Lee. Nah, tapi kali ini, karena saya terlanjur berada di Bank Diamond dan memang ada keperluan, kerjasama akan berlangsung hari ini juga.”


Mendengar itu, Tuan Lee sangat bahagia. Kerutan dan flek halus di wajahnya langsung pudar dihantam keceriaannya. Keamanan siber merupakan prioritas bagi perusahaan perbankan. Apalagi perputaran uang di sana ratusan milyar setiap harinya.


“Sebentar lagi akan ada lima orang Nano-ID yang akan datang ke sini. Mereka akan bekerja hari ini. Saya pastikan sistem keamanan di Bank Diamond akan baik,” ujar Stefan lalu mengusap peluh di wajahnya.


Bos utama Bank Diamond ini menjadi kikuk. Bagaimana dia akan membalas jasa Stefan barusan? Stefan telah menyelamatkan dana dua puluh milyar yang hampir jatuh ke tangan perambok siber!


Tuan Lee tersenyum hangat dan berkata sangat ramah, “Bagaimana kalau sore atau malam nanti kita ngobrol-ngobrol panjang sambil minum teh hangat, Tuan CEO?” Tuan Lee berkeinginan memberikan sesuatu, entah uang, entah hadiah, atau apalah untuk membalas jasa Stefan yang terlalu besar.


Stefan mematikan laptopnya, menutupnya, dan meminggirkannya. “Joe, terimakasih laptopnya!”


Joe yang sudah tenang dirinya pun gelagapan mendengar ucapan dari Stefan. “Kami rasa tidak perlu, Tuan CEO. Seharusnya kami yang berterima kasih banyak sekali.”


Tuan Lee langsung menyambung, “Maka dari itu, alangkah baiknya akan ada obrolan lanjutan di antara kita, Tuan CEO.”


Stefan berdiri, memasukkan tangan ke saku celana, lalu berkata, “Tidak perlu repot-repot, Tuan Lee. Lupakan saja yang barusan.”


‘Ha? Lupakan saja? Dua puluh milyar dan menyelamatkan nyawa orang satu gedung? Terus dilupakan?’ Tuan Lee membatin sambil menatap nanar.


Tuan Lee yang telah berumur lebih dari lima puluh makin bingung. Dia mengenal sosok Stefan sebagai bos kaya, sukses, pemimpin sejati, dan dikagumi oleh para karyawannya.


Maka pada hari ini persepsi Tuan Lee terhadap Stefan makin berubah. Ternyata lebih dari itu, Stefan sangat baik hati. Mengesankan, Stefan tidak meminta imbalan apapun setelah ini. Bahkan, kontrak kerjasama yang diharap-harapkan selama ini pun didapat.


“Apa yang bisa saya bantu sekarang?” tanya Tuan Lee masih melongo.


“Sesuai dengan tujuan saya kemari, yakni ingin membuka buku tabungan baru dan mendapat kartu Black Star. Bisa diproses sekarang karena habis ini saya mau ke showroom.”

__ADS_1


Tuan Lee dan Joe membalik badan dan segera turun, lalu memanggil petugas.


“Harvey!” pekik Tuan Lee tak kira-kira. “Cepat kau urus semua keperluan Tuan CEO Nano-ID! Kau nanti sore jangan pulang dulu. Akan ada omongan penting!”


Kuping Harvey bergetar tatkala mendengar omongan Tuan Lee. Dia menunduk patuh tanpa berkata apa-apa. Lidahnya begitu kelu.


Joe meneriaki orang-orang di luar sana. “Semuanya, masuk lagi! Sekarang sudah aman! Silakan bekerja seperti biasa!”


Lalu, satu per satu karyawan pun masuk kembali ke dalam gedung kantor, meski dalam keadaan was-was takut terjadi apa-apa. Beberapa petugas kepolisian masih berjaga.


Di saat bersamaan, kelima orang pelaku telah berhasil diringkus di tempat yang sesuai dengan petunjuk yang diberikan oleh Stefan, lalu mereka semua diamankan di kantor kepolisian untuk masuk ke tahap selanjutnya.


Di salah satu counter CS, Harvey Nugroho melayani dengan gugup. Jika di awal tadi dia tampak seru-seruan, namun kali ini dia seperti pria yang tidak makan dua hari, lemas, lesu, lunglai.


Stefan menatapnya dan berkata, “Silakan kau baca ulang dan detail isi formulir saya. Di sana tertulis jelas saya pemilik saham dan CEO Nano-ID. Berarti saya jelas tidak salah. Silakan kau bekerja!”


Harvey mengangguk dan berusaha menguatkan diri. “Segera saya proses, Tuan CEO!” Harvey mengutak-atik mouse dan keyboard beberapa saat. “Setoran awalnya satu milyar. Cash atau transfer, Tuan CEO?”


Harvey kemudian menyerahkan buku tabungan yang sudah jadi. “Di sana tertera nomor rekening Anda, Tuan. Silakan ditransfer.”


Tring!


Harvey menahan napas dan berusaha menjaga ekspresi wajahnya. Barusan Stefan mentransfer sebesar dua puluh milyar. Harvey perlahan menelan salivanya diam-diam.


Tuan Lee yang sedari tadi berada tak jauh dari sana lantas mendekat, “Oke. Saya langsung proses pembuatan kartu Black Starnya, Tuan CEO!”


Harvey gagu. Seharusnya Harvey cuma butuh akses masuk dari Tuan Lee, baru nanti dia yang tetap bekerja. Namun, kali ini Tuan Lee yang masuk ke server dan bekerja sendiri. Spesial buat Stefan.


“Kartunya sudah jadi, Tuan CEO,” ucap Tuan Lee sambil melempar senyum keakraban.

__ADS_1


Stefan mengambil kartunya dan berkata, “Karyawan Anda bernama Harvey sungguh punya peran pada hari ini. Saya salut dengannya.”


Tuan Lee menahan sabar. Andai saja dia dari tadi berada di kantor, tentu Tuan Lee tidak akan mengecewakan Stefan sedikit pun.


Namun, satu karyawan yang baru pindah bernama Harvey ini sungguh menyebalkan. Di satu sisi, memang karena dia tidak tahu karena termasuk karyawan baru.


Tapi, Harvey juga salah karena kurang teliti dalam bekerja, jika tadi dia bekerja dengan sempurna, ah, seperti apa Stefan, perusahaan bisa rugi dua puluh milyar, bahkan bisa lebih.


Bingung juga, sih Harvey mau dihukum seperti apa. Nanti, setelah ini, biar Tuan Lee sendiri yang memutuskan.


Harvey mengawas bingung. Kenapa bosnya Tuan Lee begitu menghormati Stefan? Jika memang demikian, berarti Harvey mengaku salah.


Tuan Lee tersenyum bangga. “Kami senang punya nasabah seorang bos besar. Asli kami sangat bangga sekali. Ke depannya, kami akan memberikan pelayanan terbaik kepada Tuan CEO. Dan untuk kekacauan pada hari ini, tolong dimaafkan.” Tuan Lee menundukkan kepalanya sedikit.


Melihat itu, Harvey juga ikut menunduk. “Maafkan kami, Tuan CEO.”


Stefan bersikap santai. “Tuan Lee, jangan berlebihan. Anda merupakan pebisnis sukses di negeri ini. Jangan menilai saya terlalu tinggi.” Kemudian, Stefan menatap Harvey dengan pandangan serius, lalu berkata, “Namamu familiar, seperti nama tokoh di sebuah cerita fiksi. Nama yang cukup terkenal. Saya harap, kau akan seberuntung layaknya sang tokoh tersebut.”


Harvey yang tidak suka dengan cerita fiksi, apapun jenisnya, jelas tidak mengerti apa yang diomongi Stefan barusan. Namun, yang ada di dalam kepalanya sekarang adalah sekarang dia berhadapan dengan buka orang sembarangan.


Stefan pun akhirnya permisi karena hari sudah hampir jam dua siang, dia harus segera tiba di salah satu showroom terbaik di Jakarta.


Di ruangan milik Tuan Lee, Harvey kena sidang.


Tuan Lee menyeringai, “Dasar bodoh!” bentaknya.


PLAK!


Harvey mengelus pipi kirinya.

__ADS_1


Tuan Lee menatap bengis. “Cari tahu sendiri barusan tadi siapa! Dia lebih baik daripada seribu orang seperti kau, Harvey! Keluar, bekerjalah kembali!”


__ADS_2