Menantu Benalu Ini Ternyata Hacker Jenius

Menantu Benalu Ini Ternyata Hacker Jenius
30. Sebuah perpisahan


__ADS_3

Tiga bulan kemudian.


Langit tampak gelap siang hari ini. Awan hitam bergulung-gulung dan menggeremet mengikuti arus angin kencang. Petir menggelegar, kilat menyambar-nyambar. Tak lama kemudian, air tumpah dari langit, deras sekali.


Isak tangis dan derai air mata masih berjatuhan meskipun rombongan telah sampai kembali ke kediaman mendiang Kakek Sanjaya, selepas dari acara pemakaman barusan. Suasana haru segenap keluarga dan karyawan Sanjaya Group masih menyelimuti.


Ratusan bahkan sampai ribuan orang yang terdiri dari tetangga dan karyawan perusahaan silih berganti masuk ke dalam istana milik mendiang Kakek Sanjaya, memberikan ucapan belasungkawa dan nasihat kesabaran kepada pihak keluarga yang ditinggal.


Malam harinya, ketika di dalam sini hanya menyisakan keluarga utama dan sebagian kecil pelayan dan penjaga, Bobby dan istrinya menghampiri Stefan dan Lionny yang tengah berada di dalam kamar, lelah seharian mengurusi jenazah mendiang Kakek Sanjaya dan melayani tamu yang turut berkabung.


“Kami ingin bicara dengan kalian berdua!” ajak Bobby tegas. Meskipun suasana duka, Bobby masih saja tidak mampu mengontrol emosinya, dan tidak bisa menguasai dirinya sendiri.


Stefan dan Lionny pun melenggang meninggalkan kamar, lalu mengiringi langkah Bobby dan istrinya menuju ruang keluarga. Tak ada siapa pun, kecuali mereka berempat. Mereka pun duduk saling berhadap-hadapan.


Bobby menggagahkan diri. Sambil mendongak, beliau bicara lantang, “Stefan, kau tidak bisa menjaga dan merawat Kakek Sanjaya dengan baik.”


Lionny menyela, “Ayah, tidak sep .....”


“Stop, Lionny!” potong ibunya sambil melotot.


Bobby menghunjamkan pandangannya tepat ke manik mata putrinya, lalu menggeleng pelan seolah tak menyangka. “Parahnya, kau sudah termakan oleh hasutan suami sampahmu itu, Lionny. Kau bahkan semakin berani melawan orang tua kandungmu sendiri.”


Lionny terdiam, apalagi Stefan menyuruhnya untuk tidak dulu berbicara. Stefan menyuruhnya untuk tetap tenang dan mendengarkan.


Bobby melanjutkan, lalu pandangannya menohok ke dua pasang mata Stefan. “Kau tidak bisa diandalkan, Stefan! Katanya, kau cucu kesayangan Kakek. Mana? Sekarang Kakek telah tiada. Kau tidak becus mengurus kakekmu!” koarnya.


Stefan mengatur napasnya, lalu membalas, “Boleh aku bicara?”

__ADS_1


“Silakan!”


“Kami berdua menghabiskan cukup banyak waktu untuk merawat Kakek. Hampir setiap saat Lionny selalu berada di samping Kakek, mendampingi dokter dan perawat. Aku, selepas pulang bekerja, selalu mendampingi Kakek.”


“Bohong!” sela Chyntia.


“Ayah dan Ibu tidak pernah berkunjung ke sini selama Kakek sakit, jadi wajar tidak tahu apa-apa,” singgung Stefan memberanikan diri.


“Sombong kau, Stefan!” sanggah Bobby tambah berang. “Oke! Kami akui kalau kau sudah berkorban. Tapi, kami tahu kalau kau ada maksud kan? Kau ingin mendapatkan harta warisan Kakek. Bajing4an kau ini!”


Meski terusan dicecar dengan berbagai tuduhan buruk, Stefan tetap tenang karena dia sama sekali tidak merasa. Dilihatnya mata ayah mertuanya yang melotot jahat, kesan seolah amarahnya harus segera dilampiaskan saat ini.


Chyntia berkoar lagi, “Lionny, kau jangan pernah terpengaruh oleh setiap kata-kata manisnya. Dia hanya ingin mengincar harta warisan. Jika telah dapat, kau nanti bisa ditingalkannya.”


“Tidak mungkin!” tepis Lionny mulai panas. “Tidak mungkin suamiku sejahat itu. Ayah dan Ibu berhentilah memberikan penilaian buruk terhadap suamiku.”


Bobby berdiri, sambil menunjuk-nunjuk Stefan dia mencerca, “Sekarang, kau tidak punya kuasa sedikit pun. Kau tidak bisa berbuat apa-apa tanpa adanya Kakek Sanjaya. Kau menjadi sampah lagi sekarang ha!”


Chyntia murka. “Kau tidak bisa lagi merengek-rengek di hadapan Kakek Sanjaya, menantu sampah!” cebiknya.


Bobby dan istrinya sepakat akan memisahkan hubungan Stefan dan Lionny sekarang juga. Mereka tidak akan menunggu waktu lama untuk mengenyahkan Stefan baik dari rumah mereka maupun rumah Kakek Sanjaya. Mereka sepakat untuk menyuruh Stefan bercerai dari Lionny, lalu segera angkat kaki.


Stefan yang selama ini selalu sabar meladeni sikap buruk mertua dan iparnya, akhirnya sekarang meledak amarahnya. Stefan kembali teringat masa tiga tahun yang begitu menyedihkan baginya, saat di mana dia sedang tidak sehat, kemudian diperlakukan semena-mena.


Dia teringat selama bertahun-tahun dicaci, direndahkan, dihina, dianggap benalu dan sampah. Dia ingat saat di mana ayah mertuanya membakar semua barang-barang dan dokumen penting miliknya, seperti laptop, pakaian, perlengkapan administrasi, dan banyak lagi.


Akhirnya Stefan benar-benar tidak bisa menahan amarah yang menggumpal di dadanya. Stefan bangkit, lalu menarik lengan kemejanya ke siku, satu per satu. Ditatapnya tajam mata ayah mertuanya, kemudian berucap tegas, “Cukup sudah kalian menganggapku seperti tidak ada harga diri! Baiklah, aku akan pergi dari sini!” Seringai kejam tampak menyeramkan di wajah Stefan, tak pernah dia semarah ini.

__ADS_1


Tidak ingin kalah, Bobby memberi serangan balik dengan mendongak sambil melotot. Ditunjuk-tunjuknya Stefan. “Silakan kau pergi dari sini! Inilah yang aku harapkan semenjak lebih dari tiga tahun lalu. Seharusnya kau tidak pernah menjadi menantuku. Bangs4t!” cecarnya berapi-api.


Chyntia tiba-tiba memeluk Lionny yang tengah menangis sesenggukan. Sebelum Stefan mengajaknya pergi, buru-buru Chyntia Dewi mencegat. “Kau tidak akan pernah bahagia selama menjadi istrinya, anakku. Percayalah! Lebih baik kau pulang, Erick sudah menunggu. Tinggalkanlah pria menyedihkan ini!”


Air mata Lionny kian meleleh. Ingin rasanya dia membela Stefan, tapi kedua orang tuanya terus memberikan provokasi agar dia segara berpisah saja. Lionny tak sanggup menerima kenyataan pahit ini. Baru saja dia tinggal pergi kakek yang amat dicintainya, sekarang dia malah dipaksa berpisah dari suami yang juga amat dicintainya.


“Cepat ceraikan istrimu sekarang!” desak Bobby Sanjaya.


Dengusan napas Stefan terdengar kasar. Gerahamnya perlahan gemeletuk, tangannya keringat dingin, masih menahan amarah yang semakin memuncak. Jika tidak ditahan, habis sudah babak belur wajah ayah mertuanya di tangannya sekarang juga, tapi dia masih menggunakan otak kepalanya dengan baik dan tenang.


Cukup lama Stefan diam dan berpikir keras. Dengan menceraikan istrinya dan angkat kaki dari rumah ini, apakah merupakan opsi terbaik? Stefan tidak punya banyak waktu untuk memutuskan. Sementara dia juga tidak bisa memaksakan agar Lionny tetap bersamanya.


Stefan menoleh, lalu diawasinya istrinya yang sedang menangis lemah tersedu-sedu. Istrinya juga tidak bisa berbuat banyak. Akhirnya, Stefan menyerah. Setelah ditinggal Kakek Sanjaya, Stefan harus kehilangan istrinya.


“Baiklah. Lionny, aku ceraikan kau,” ucap Stefan lirih.


Stefan mengangkat wajahnya. Ditatapnya lagi wajah-wajah kedua mertuanya. Tangannya mengepal. Jika dendam ini dibalaskan sekarang dengan menyerang fisik, besok Stefan pasti akan berurusan dengan pihak kepolisian, kemudian hidupnya makin berantakan. Stefan malah tetap tenang, sebab masih ada banyak waktu untuk membalaskan dendam.


Stefan masuk ke kamar tidurnya kembali, lalu mengemasi seluruh barang-barangnya. Malam ini juga dia bukan lagi bagian dari Keluarga Sanjaya dan bukan pula karyawan Sanjaya Group. Sebelum dipecat secara tidak hormat, mending Stefan resign dengan tetap menjaga nama baiknya.


Stefan keluar dari pintu jati setinggi tiga meter berukiran bunga-bunga ini, melangkahkan kakinya di atas marmer putih, melewati pilar-pilar raksasa, lalu menuruni anak-anak tangga. Go-Car yang dipesannya sudah berada di dekat gerbang. Bahkan, dia meninggalkan mobil mewah pemberian Kakek Sanjaya karena tidak ingin dinilai sebagai cucu angkat yang gila harta, padahal jelas barang tersebut merupakan miliknya.


Dua orang penjaga membukakan pagar terali setinggi empat meter. Salah seorang dari mereka menanyakan Stefan mau pergi ke mana.


“Saya permisi, Pak. Tolong dijaga barang-barang peninggalan Kakek.” Stefan melempar senyum, lalu masuk ke dalam mobil


Ceklek!

__ADS_1


Dep!


__ADS_2