Menantu Benalu Ini Ternyata Hacker Jenius

Menantu Benalu Ini Ternyata Hacker Jenius
38. Maksud buruk Alan


__ADS_3

Suatu ketika Alan datang menghampiri rombongan Tim 18. Sepertinya ada suatu maksud. Setelah hampir satu bulan, baru kali ini ada perbincangan lagi di antara mereka.


“Ada suatu hal penting yang aku ingin bicarakan padamu,” ungkap Alan dengan memampang wajah cukup serius.


Theo dan Stephanie mulai beranjak walaupun waktu istirahat masih tiga puluh menit lagi. Malas dua orang itu berbicara dengan Alan.


“Kami tunggu di resto seberang kantor kita. Jangan telat, karena ibu kokinya kangen denganmu, Stefan!” olok Theo lalu melencit keluar ruangan, lalu disusul oleh Stephanie yang mengekor di belakangnya sambil kelikikan.


Stefan menyodorkan sebuah kursi buat Alan. “Silakan duduk!” tawarnya. “Ada perlu apa?”


Seolah tidak ada masalah apa pun sebelumnya, blak-blakan dan tanpa rasa malu, Alan minta bantuan kepada Stefan.


“Kau tiga kali bekerja sama dengan perusahaan game. Track record-mu cukup bagus. Timku menemui beberapa kendala. Apa kau bersedia membantu?” rengeknya, tidak memelas, malah tetap meninggikan dirinya.


Stefan kembali melempar pandangannya ke arah layar komputer, kesan seolah ingin berpaling dari obrolan ini. Rupanya ada maksud, pantas saja, pikir Stefan.


“Kami sedang sibuk. Project yang kami kerjakan juga ada sedikit hambatan. Estimasi waktu sudah lima puluh persen terpakai, tapi progres baru tercapai tiga puluh persen. Kami mengalami stuck.”


“Kami malah baru lima belas persen. Dalam waktu enam minggu pengerjaan setidaknya kami sudah melewati tujuh puluh persen.”


Stefan mengucek-ngucek hidungnya yang tidak gatal. “Masih ada enam belas tim lain. Silakan kau cari bantuan dari mereka!” pinta Stefan tegas dan serius.


Bukannya mengiyakan lalu pergi, Alan tidak menyerah, kembali merayu agar Stefan bersedia menolongnya. Karena terus didesak, akhirnya Stefan sempat ingin mengiyakan tapi dia ingin minta saran dulu dari para anggotanya.


“Jika mereka setuju, baru aku bantu.”


\=\=\=>>>0<<<\=\=\=


Saat sedang istirahat dan bersantai di halaman depan kantor, di bawah payung seperti jamur, barulah Stefan menceritakan ulang soal maksud kedatangan Alan tadi.


Theo mengernyit. “Tidak! Kita masih sibuk. Kerjaan kita saja belum kelar. Kau tidak usah membantu dia Stefan!” sergahnya cukup emosi.


Stephanie bibirnya menggerenyot kesal, matanya memicing sebelah. “Aku tidak setuju kalau kau bantu dia, Stefan.” omelnya.


Secara demokrasi, Stefan kalah suara, tapi dua orang tadi belum mendengar sebuah pernyataan yang kalau mereka berdua tahu, maka mereka akan berubah pikiran.

__ADS_1


Stefan mengedikkan bahu, lalu berujar tegas, “Tadi kami tidak hanya bicara soal project, aku juga bilang soal keluhan kalian berdua selama ini.” Stefan menghela napas sebentar, lalu melanjutkan, “Begini, kalau aku berhasil membantunya, dia akan mengakui semua kesalahannya selama ini dan meminta maaf.”


Theo terperanjat, matanya membeliak. Saking terkejutnya, permen karet di mulutnya tertelan tidak sengaja. Glegek! “Ha? Kau bercanda, Stefan?”


Stephanie kaget. “Bagaimana mungkin orang sombong seperti dia mau mengakui kesalahaannya terus minta maaf. Mustahil!” Mulutnya menganga sambil membelokkan hitam matanya ke arah berlawanan.


“Aku tidak percaya dia bersedia, Stefan,” keluh Theo.


Stefan mengawasi dua orang itu berganti. “Problem yang dihadapi mereka memang cukup sulit, tapi karena aku pernah melewatinya, cukup satu hari saja aku bisa menyelesaikannya. Aku tidak keberatan membantu tugasnya, lagi pula Pak Arya juga memberi desakan supaya aku membantunya.”


Theo menceroros, “Pasti dia pakai social engineering buat merayu Pak Arya. Asli itu orang pintar ngomong sekali.”


“Kalian berdua tenang dan tidak usah khawatir. Bukankah kalian senang jika dia merengek dan merendahkan diri di hadapan kalian berdua. Kalian pasti akan puas.”


\=\=\=>>>0<<<\=\=\=


Theo dan Stephanie tahu betul Alan si perfeksionis yang selalu rapi dan wangi itu punya watak buruk. Mereka berdua skeptis kalau Alan bakal menepati janjinya.


Meskipun mereka berdua berulang kali memperingati Stefan, tetap saja Stefan ingin membantu tugas Tim 7 yang sedang terhambat. Maka keesokan harinya Stefan masuk ke ruang kerja Tim 7 lagi.


“Baguslah kau mau datang,” kata Liam hampir tertawa. “Silakan duduk!” Liam menggeret kursi lalu mendekatkannya ke Stefan.


“Lepas dari sini aku ingin bekerja sebagai staf biasa saja,” keluh Alan. “Kenapa perusahaan selalu memberi project yang sulit padaku? Seharusnya estimasi waktu yang diberikan enam bulan untuk pengerjaannya.”


Stefan memajukan kursinya, lalu siap mengutak-atik mouse dan keyboard. “Karena kau andal. Jadi mendapat tugas berat. Tapi kalau kau merasa masih kecil, project-mu akan setara dengan omongan yang keluar dari mulutmu.”


Karena sudah tahu akar masalah dan cara penyelesaiannya, Stefan gesit mengelola kode dan simbol yang terpampang di layar komputernya. Dia perkirakan satu hari selesai. Benar saja, hingga sore baru terpecahkan problemnya.


Stefan berdiri. “Tugasku sudah kelar. Masalahnya sudah teratasi. Kalian harus lebih sering koordinasi dengan programmer SunToon. Mereka akan membantu kalian kalau kalian ngomong. Karena mana mungkin mereka akan diam saja.”


Sebelum melenggang ke luar, Stefan menoleh dan menghunjamkan tatapannya ke arah bola mata Alan, lalu kembali berkata, “Kau punya janji padaku. Masih ada waktu sekitar satu bulan untuk menata omongan dan mempersiapkan semuanya. Semoga berhasil!”


Alan tersenyum getir sembari mengawasi punggung yang segera akan keluar dari ruangannya ini. Setelah Stefan pergi, barulah dia ngoceh di hadapan dua anggotanya.


“Apa kalian berdua dengar tadi dia ngomong apa? Liam, apa kau menyangka kalau aku akan menyalami tangan Stefan, Theo, dan Stephanie lalu meminta maaf kepada mereka?”

__ADS_1


Liam meletakkan kaki kiri di atas paha kanannya sambil mendongak congkak. “Astaga! Aku saja tidak sudi. Bagaimana kau mau melakukannya, Alan?”


Alan berdiri dan berkacak pinggang. “Mana mungkin aku merendahkan diriku sendiri di hadapan orang Asia, Jerman, dan Irlandia itu! Buat malu Raja saja! Buat malu semua pahlawan saja!”


\=\=\=>>>0<<<\=\=\=


Hari pun berganti hari. Minggu pun berganti minggu. Project Tim 7 dan Tim 18 rampung tepat waktu dan tidak molor sehari pun. Stefan merayakan keberhasilan timnya dengan kumpul dan ngopi-ngopi di rumahnya bersama Theo dan Stephanie.


“Tidak sia-sia kita lembur selama satu minggu terakhir ini. Kalian lihatlah, rambutku makin keriting dibuatnya,” kelakar Theo sambil menjambak-jambak rambutnya sendiri.


Stephanie ngakak geli. “Ha-ha-ha. Habis ini kita ke salon buat bonding rambutmu, mau?”


Theo menggeleng keras. “Tapi aku lebih suka keriting dari pada lurus.”


Stefan meletakkan tiga es kopi di atas meja di ruang tamu, lalu melempar tubuhnya di atas sofa. “Semua berkat kerja keras kalian. Terima kasih.”


Stephanie berseri-seri. “Aku tidak sabar menunggu project selanjutnya. Aku yakin kita menjadi tim yang solid untuk ke depannya nanti.”


Mereka bertiga di hari minggu ini asyik bercerita dan bersenda gurau, melepas semua penat dan lelah selama dua bulan penuh menyelesaikan project. Dan ada satu lagi yang paling ditunggu-tunggu oleh Stefan, yakni menagih janjinya Alan.


Di hari senin, pagi-pagi sekali Stefan masuk ke ruang Tim 7, tapi tidak ada Alan di sana. Semua orang di sini dihuni oleh orang-orang baru. Kata mereka, Alan dan Liam sudah pindah tugas menjadi staf kantor.


Stefan pun bergegas mencari-cari keberadaan mereka. Ketika berada di lantai empat, setelah lima belas menit berkeliling, akhirnya ketemu juga. Segera Stefan mendekati Alan yang tengah duduk bersebelahan dengan Liam.


“Kami tunggu di ruang Tim 18 sekarang!” tegas Stefan.


Alan dan Liam malah saling pandang dan menaik-nurunkan alis masing-masing. Tidak mengubris sama sekali omongan Stefan.


“Alan, sekarang!” Stefan mengulangi. “Sudah satu bulan kau tidak menepati janjimu. Sementara projectmu sudah selesai.”


Lantas Alan memutar tubuhnya, lalu mengawasi wajah Stefan lekat-lekat. “Aku sudah lupa apa janjiku. Karena terlalu lama sih,” cebiknya.


“Kau jangan berpura-pura tidak tahu, Alan. Kau ada janji untuk menemui kami, mengakui kesalahanmu, lalu meminta maaf.”


“Apa?” Alan berdiri dan mendekatkan kupingnya ke mulut Stefan. “Aku tidak salah dengar ha?” Matanya nanar seperti orang penasaran.

__ADS_1


Orang kiri-kanan mulai mengalihkan matanya ke arah mereka. Karena tidak ingin ada keributan, Stefan kembali memperingatkan kepada Alan sekali lagi, lalu melenggang keluar dari sini.


Benar apa yang disampaikan oleh Theo dan Stephanie bahwa Alan si belagu tidak akan menepati janjinya.


__ADS_2