
Sambungan telepon terputus.
“Pak David pasti bercanda,” keluh Ryan sambil menggeretakkan gerahamnya. Dia masih menggeleng-geleng tak percaya. Saat ini, wajahnya perlahan memucat.
Ferdy dan Lesty mengalihkan pandangan dari Stefan ke Ryan. Dua orang ini dari tadi menahan tawa. Kalau mereka ingin mengejek Ryan sekarang, rasanya tidak mungkin karena ini acara milik Ryan, bisa-bisa nanti mereka urung ditraktir.
Stefan mengoles dagu lalu berkata, “Sepertinya kita akan menjadi satu tim nanti. Boleh juga itu.”
Marissa memutar malas bola matanya. Dari dulu dia tahu kalau Ryan selalu menang gaya. Jika bahas soal kehidupan, Ryan memang jagonya. Marissa masih menunggu cerita selanjutnya.
Ryan tidak tenang malam ini. Senin nanti dia punya jadwal bertemu dengan CEO Nano-ID. Dia harus mengatakan sesuatu kepada CEO. Mana mungkin dia mau jadi OB selama satu bulan sebelum menempati posisi yang sebenarnya.
Tiga puluh menit berlalu tanpa canda tawa lagi dan santapan mereka pun habis, kemudian seorang waiter restoran pun menghampiri meja mereka.
“Total tagihannya enam belas juta sembilan ratus dua puluh ribu.”
Semua orang terperanjat kaget. Tak terkecuali Ryan.
Dia sontak berdiri dan memaki pelayan. “Kau sudah gila ya?! Kami cuma makan steak orang lima, masa tagihannya sampai semahal itu.” Napas Ryan tersengal-sengal sehabis meluapkan emosinya.
Si pelayan pun langsung membalik badan dan memanggil manager resto. Lalu, sang manager yang berbicara kepada Ryan.
“Harga Kobe beef per porsi tiga juta tiga ratus ribu rupiah. Ditambah kalian juga memesan minuman. Tidak ada yang salah,” jelas manager sambil memperlihatkan lembaran struk kepada Ryan.
__ADS_1
Ryan masih tidak terima. “Biasanya satu porsi steak mahal harganya dua ratus atau tiga ratus ribu. Gila sekali kalau menghabiskan hampir tujuh belas juta untuk makan steak doang?!”
Ferdy dan Lesty mulai tidak nyaman. Jika patungan, berarti mereka per orang harus menggelontorkan dana lebih dari tiga juta. Jelas dua orang ini akan bertindak konyol saja. Uang sebanyak itu bisa untuk makan dua orang selama satu bulan di Jakarta. Mereka berdua membisu.
Marissa tetap tenang. Dia memang punya cukup uang, tapi jika harus patungan, jelas juga dia akan berpikir lagi, tiga juta uang yang banyak bagi mereka pekerja biasa.
Stefan melipat tangan di dada sambil memperhatikan perdebatan itu. Sebuah kejadian yang amat memalukan. Pikir Stefan, apa Ryan tidak tahu tentang Kobe beef khas Jepang? Mengapa Ryan tiba-tiba mengajak makan di tempat mewah seperti ini hanya untuk mempermalukan Stefan? Stefan tak habis pikir.
Ryan berani menatap mata manager resto itu, lalu berkata tegas, “ Aku punya kerabat yang bekerja di restoran hotel ternama di Jakarta. Jika kalian bohong, akan aku laporkan ke polisi?”
Apa Ryan sudah gila? Ingin melaporkan ke polisi, padahal dia hanya pria culun yang hobi flexing padahal bukan orang kaya. Lucu memang hidup di zaman media sosial seperti sekarang. Lantas, apa dia akan menghapus postingan foto Kobe beef barusan karena malu?
Beberapa saat Ryan menjauh dan mendekat ke pintu masuk. Dia bicara dengan kerabatnya melalui sambungan telepon beberapa saat. Setelah itu, wajahnya tambah pucat. Kobe beef memang mahal dan sangat jarang dikonsumsi oleh orang kebanyakan. Ryan masih terlalu cupu untuk tinggal di kota besar seperti Jakarta.
Ryan tidak mungkin punya uang banyak di saat punya banyak tagihan. Di zaman serba paylater dan riba merajalela, sulit punya uang di kantong tujuh belas juta. Kecuali bagi orang kelas atas. Jika mereka sudah bisa beli mobil dan rumah cash, pasti mereka punya uang sebanyak itu di kantong. Sekali tarik pakai debit, kelar urusan.
Setelah itu, perundingan dilanjutkan ke ruang manager. “Rolex ini harganya tiga puluh juta lebih pas saya beli dua tahun lalu. Jadi, restoran perlu balikin uang sekitar tiga belas juta lagi ke saya. Tapi, saya potong, tidak apa-apa jadi sepuluh saja. Saya ikhlas.”
BRAK!
Manager itu menggebrak meja. “Kami butuh uang. Tidak butuh jam ini. Kalau memang laku sekarang, pasti harganya turun jadi tiga puluh persen saja. Apa kau pikir aku tidak tahu soal ini? Jika tidak mampu bayar, jangan sok-sokan makan di restoran mahal.”
Dan pada akhirnya, barang-barang pribadi milik Ryan pun disita, seperti KTP, SIM, ponsel, jam tangan dan kalung. Ryan diberi waktu satu minggu untuk segera melunasi semua tagihan, jika tidak, semua barang itu akan dijual. Diperkirakan uangnya akan cukup untuk membayar tagihan.
__ADS_1
Hah? Semua tagihan belum lunas! Bagaimana bisa disita?
Ketika keluar dari ruangan itu, Ryan tertunduk. Wajahnya pas pergi dan pas pulang sangat beda jauh. Sekarang wajahnya sangat pucat dan tertekuk. Bahkan, dia tidak berpamitan lagi sama teman-temannya karena malu. Dia benar-benar terpukul malam ini.
Stefan berkata pada tiga temannya. “Sepertinya tagihan makan kita sudah dibayar. Kita lupa mengucapkan terima kasih.”
Ferdy dan Lesty buru-buru beranjak. Segera mereka menyusul Ryan di parkiran. Mereka berdua hanya ingin mengucapkan terima kasih dan maaf juga mungkin. Tujuh belas juta itu uang, bukan kertas, sementara perut mereka juga tidak terlalu kenyang makan steak barusan.
Hanya menyisakan Stefan dan Marissa. Saat ini, Stefan baru bisa tertawa lepas. Sangat di luar perkiraan bahwa Ryan harus adu mulut terlebih dahulu lantaran traktiran yang dia rencanakan sendiri.
Stefan meminum lemon tea-nya lalu berkata, “Apa kau tahu sebelumnya dia bekerja di mana?” tanya Stefan dengan wajah yang sangat penasaran.
Marissa menghela napas, lalu menjawab, “Setelah tamat kuliah, dia sempat bekerja di beberapa perusahaan swasta, tapi tidak pernah lama. Dia pilih-pilih perusahaan. Kadang masalah gaji. Kadang masalah kenyamanan. Terakhir, dia freelance selama satu tahun terakhir ini.”
At least, Stefan tahu karakter orang itu tanpa membuka CV kerjanya lagi.
“Kenapa kau belum menikah? Umurmu hampir tiga puluh,” kata Stefan memecah keheningan.
Marissa yang berambut pendek sebatas bahu, sekilas mirip polwan, menyandarkan punggungnya. Wajahnya tiba-tiba murung. Pernikahan memang hal menakutkan bagi seorang wanita cantik dan primadona.
Jika mendapatkan suami receh, jelas dia dan keluarganya akan malu. Tapi, karena terlalu tinggi memasang standar, lelaki jadi tidak percaya diri mendekatinya. Marissa terlalu anggun untuk pria kelas menengah.
Alasan klasik yang akan keluar adalah: “Aku fokus dengan karir. Setelah punya penghasilan dan karir bagus, baru akan memikirkan pernikahan.”
__ADS_1
Stefan menatapnya lurus-lurus dan berkata, “Di saat orang-orang sudah memikirkan popok bayi dan biaya sekolah anak, kita masih chat ingin kencan dengan seseorang. Kita, anehnya selalu merasa dewasa.”