Menantu Benalu Ini Ternyata Hacker Jenius

Menantu Benalu Ini Ternyata Hacker Jenius
28. Rencana busuk


__ADS_3

Meskipun Stefan prihatin terhadap Sanjaya Techno terutama Pak Wesley yang terkena implikasi dari peretasan sistem keamanan Sanjaya Sawit, namun Stefan teringat dengan masa lalunya selama tiga tahun mendapat tekanan dari mertua dan iparnya, kemudian dia juga teringat hinaan yang diberikan kepadanya.


Bukankah dulu Stefan pernah bilang, siapa nanti yang akan menjadi sampah? Bukankah dulu pernah tebersit di hatinya bahwa dia ingin membalaskan dendam terhadap keluarga istrinya? Stefan tidak mungkin lupa, justru ingatan itu masih segar di dalam kepalanya. Ya, momen itu tiba dengan sendirinya.


Pak Anggara dan Pak Wesley sudah memberikan peringatan kepada Bobby, bahwa tidak ada usaha lain yang bisa dilakukan. Ketika nama Stefan disebut, Bobby malah mengalihkan pembicaraan, dan tidak akan pernah meminta bantuan dari Stefan.


Sebaliknya, Bobby malah memberikan ancaman. “Anggara, jika perusahaanmu tidak bisa membantu Sanjaya Sawit, kau dan Wesley akan dipecat secara tidak hormat!” gertak Bobby lalu mematikan telepon.


Pak Anggara menghela napas kasar, lalu menghunjamkan pandangannya tepat ke wajah Pak Wesley yang berada di hadapannya, kemudian berkata, “Pak Bobby tidak bisa begitu saja memecat kita. Semua keputusan tetap berada di tangan CEO Sanjaya Group, yakni Kakek Sanjaya.”


Pak Wesley menggeleng tak percaya. “Saya tidak mengerti pola pikir Pak Bobby. Seharusnya Stefan bisa mengatasinya jika beliau mau.”


“Beginilah kalau urusan keluarga dibawa-bawa ke bisnis dan pekerjaan. Kita semua sudah tahu kalau Bobby tidak punya hubungan baik dengan menantunya.”


\=\=\=>>>0<<<\=\=\=


Tekad Stefan sudah bulat untuk tidak akan memberikan bantuan kepada perusahaan yang diurus oleh Bobby, kecuali jika mertuanya itu berlutut di hadapannya, mengakui semua kesalahan, kemudian meminta maaf. Namun, jika tidak, Stefan lebih sudi jika melihat Bobby jatuh terpuruk.


Benar saja. Lebih dari satu minggu kantor dan pabrik PT Sanjaya Sawit tidak lagi beroperasi. Semua karyawannya berhenti dan mengundurkan diri. Sanjaya Sawit tinggal kenangan belaka. Secara resmi PT Sanjaya Sawit dibubarkan.


Kakek Sanjaya ingin berangkat ke Palembang melihat situasi di sana, tapi sepertinya sakit beliau bertambah parah, setiap hari darah keluar dari mulut beliau. Dokter terbaik dari Singapura ditugaskan hanya untuk memberikan pengobatan dan perawatan kepada beliau.


“Lionny, ayamu itu ... sulit bisa berubah,” ungkap Kakek Sanjaya yang sedang terbujur lemah di atas ranjang perawatan. Selang infus menancap di salah satu lengannya. Matanya terpejam dan terus berusaha berbicara meski terbata-bata.

__ADS_1


“Ayah memang terkadang bengis dengan karyawannya,” komentar Lionny pelan.


Stefan mendekatkan kursinya. “Kakek, mertuaku itu sering memecat karyawan secara sepihak dan tidak hormat. Aku tahu pelaku peretasannya. Ada dua orang. Mereka merupakan teman dari pelaku yang pernah tertangkap.”


Bahkan, Kakek Sanjaya pun suak muak dengan tingkah anaknya sendiri. “Stefan, biarkanlah mertuamu berusaha sendiri. Kakek mendapat telepon dari Wesley kalau kau sebenarnya bisa menuntaskan masalah di sana. Baguslah kalau kau menolaknya, cucuku. Biar dia tanggung sendiri akibatnya.”


Nada bicara Kakek Sanjaya saling beradu dengan dengusan napasnya yang kasar. Tampak jelas dada beliau naik turun, entah karena emosi mengghibahi anaknya, atau karena sakit yang dideritanya kian parah. Beliau ada penyakit jantung dan darah tinggi. Jika ada masalah berat menimpa apalagi ada bau-bau amarah, tubuh beliau pasti bereaksi.


“Lihatlah sekarang, dia lebih mengurus perusahaannya, atau mengurusi bapaknya?” singgung Kakek Sanjaya. Bibir beliau bergetar-getar mengiringi napasnya yang tersengal-sengal.


Padahal, Bobby sudah tahu tentang kondisi ayahnya saat ini, namun parahnya beliau malah sibuk mengurusi bisnisnya yang sebenarnya tidak perlu diharapkan lagi, sebab PT Sanjaya Sawit sudah bangkrut total, rubuh tak akan bangkit.


\=\=\=>>>0<<<\=\=\=


“Sepertinya kita harus berangkat ke Surabaya. Kita perlu menjenguk ayahmu yang sedang sakit parah,” ajak Chyntia Dewi.


Bobby menggeleng cepat. “Di sana sudah ada dokter panggilan yang dibayar sangat mahal. Di sana ada Lionny, terus ada menantu sampah itu,” sanggah Bobby Sanjaya ketus.


“Mungkin akan ada sebuah wasiat dari Kakek Sanjaya sebelum beliau meninggal. Kita perlu mendengarkannya, suamiku.”


“Kau menyumpahi ayahku mati ha?” sembur Bobby yang akhir-akhir ini memang tidak bisa mengatur emosinya. Jika ada hal sepele saja padahal tidak menyinggung perasaannya, beliau akan naik darahnya lalu berkoar-koar memuntahkan repetan dari mulutnya.


Chyntia menunduk, lalu menjawab lemah, “Bukan seperti itu, suamiku. Aku khawatir menantu sampah itu akan mempengaruhi Kakek Sanjaya. Ujung-ujungnya dia mengambil jatah warisan yang seharusnya full untuk keluarga kita saja.”

__ADS_1


Bobby mengalihkan pandangannya dari layar tv ke wajah istrinya. Mata mereka bentrok. Dua pasang mata jahat yang saling tikam, saling memberi kesan buruk, mata yang selalu memberi ancaman kepada orang rendah di bawah mereka dan menaruh kecurigaan meski terhadap orang yang baik terhadap mereka.


“Kau benar, istriku! Tapi, ada sebuah rahasia penting dan belum kalian semua ketahui. Hanya aku dan ayahku yang tahu. Jika kalian membenci Stefan lantaran dia tidak jelas asal usul keluarganya, pernah amnesia, dan bikin malu keluarga, hm, masih ada lagi. Nanti, suatu saat kalian akan tahu kenapa aku benci sekali terhadap Stefan.”


Mendengar ucapan suaminya yang amat serius, Chyntia terhenyak dan penasaran. Rahasia penting apa yang telah dirahasiakan oleh suaminya selama lebih dari tiga tahun ini? Kenapa suaminya tidak pernah menceritakannya?


Sambil menombakkan pandangan tajam ke istrinya, Bobby meneruskan, “Sebuah alasan kenapa aku sampai merencanakan pembunuhan terhadap menantu sampah itu. Tapi sayangnya dia tidak mati. Parahnya, orang suruhanku yang menabrak si Stefan malah dipenjara lima tahun. Rencanaku adalah Stefan mati dan anak buahku itu segera melarikan diri. Aku sudah bayar dia lima puluh juta.”


Soal suaminya menyuruh orang untuk menabrak Stefan jelas Chyntia tahu akan hal tersebut, tapi rahasia penting yang menjadi dasar dan alasan utama semua rencana buruk itu, dia belum tahu. Karena penasaran, akhirnya dia pun melemparkan pertanyaan kepada suaminya.


“Apa rahasia itu, Sayang?” Dagu wanita itu mendongak sedikit sambil agak memicingkan matanya sebelah. Sebuah ekspresi yang diselimuti rasa ingin tahu yang kuat.


Namun, Bobby bergeming dan tak mau menjawabnya sekarang. Alasannya adalah mulut wanita seperti angin berhembus, cepat menyelusup, tak terlihat, tapi tiba-tiba satu kampung sudah tahu semua.


Bobby menegakkan bahunya, lalu berdiri. Sambil berkacak pinggang beliau mendamprat, “Br3ngsek betul menantu sampah itu!”


“Apa kita harus merencanakan pembunuhan lagi terhadap Stefan?”


“Tidak perlu. Jika ayahku sudah mati, Stefan gampang sekali aku tendang. Tunggu saja nanti. Akan aku buat dia lebih parah dari tempo lalu.”


“Bagaimana dengan Lionny putri kita?”


“Kita akan buat mereka bercerai, lalu kita nikahkan Lionny dengan Erick. Nanti, ketika aku sudah menjadi CEO Sanjaya Group.”

__ADS_1


__ADS_2