Menantu Benalu Ini Ternyata Hacker Jenius

Menantu Benalu Ini Ternyata Hacker Jenius
87. Dokumen Rahasia


__ADS_3

Stefan mendapat sebuah ancaman serius!


Pagi ini di apartemennya, sebelum berangkat pergi bekerja, dia menerima pesan wa yang mengatakan :


“Nyawamu dalam bahaya, Stefan! Sebaiknya kau berhati-hati!”


Stefan tidak kaget dan tidak pula takut. Stefan tetap tenang. Setelah siap dengan setelan kantoran yang rapi dan sangat berwibawa, Stefan pergi ke kantor naik ojek online seperti biasa. Sekitar sepuluh menit kemudian dia pun sampai.


Baru saja turun dari sepeda motor, Stefan cukup heran dengan keramaian yang ada di halaman kantor. Apa yang sedang terjadi? Kenapa mereka berkerumun?


Stefan melangkah panjang. Karyawan membuka jalan bagi Stefan. Satu per satu dari mereka menyingkir agar Stefan bisa lebih dekat dengan apa yang mereka lihat.


Di salah satu dinding kantor tertulis dengan cat merah darah :


“Nyawamu dalam bahaya, Stefan! Sebaiknya kau berhati-hati!”


Semua karyawan Nano-ID sangat syok! Siapa yang sudah memberikan ancaman tersebut? Meskipun berada dalam ancaman serius, malah dia sendiri yang menenangkan para karyawannya. “Bersihkan cat ini segera! Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Silakan bekerja seperti biasa!” titah Stefan.


Martin yang baru saja tiba pun sangat terkejut begitu mengetahuinya. Martin segera berjalan cepat menyusul bosnya, lalu berkata, “Tuan CEO, apa yang harus kita lakukan?” tanya Martin panik dan ketar-ketir.


“Kau tenang, Martin. Kita harus bicara di ruanganku!” balas Stefan masih kalem.


Di ruang kerjanya, Stefan berkata, “Sebentar lagi kita akan mengadakan rapat pertama tentang project anti-malware.”


Namun, Martin malah menyela, “Maafkan saya Pak Stefan. Bagaimana kalau kita tunda dulu rapat hari ini? Saran saya, sebaiknya kita mencari akar masalah yang terjadi barusan. Firasat saya tidak enak,” keluh Martin was-was.


Stefan awalnya tidak peduli dengan ancaman tersebut, namun setelah Martin berulang kali memberikan masukan agar menunda rapat, akhirnya Stefan memutuskan sebuah langkah. Dia berkata, “Rapat nanti kau yang urus, Martin! Kau harus bisa bekerjasama dengan Grace! Dengarkan juga pendapatnya!”


Martin menatap bingung. “Lalu, bagaimana dengan Pak Stefan?” tanyanya sambil mengernyitkan dahi. Matanya bertanya-tanya.


Stefan menghela napas sebentar sembari menegakkan bahu, lalu menjawab dingin, “Saya ingin mengurusi si pengancam! Jika tidak diurus sekarang, tentu akan mengganggu pekerjaan kantor.”


“Tidak hanya itu, Pak Stefan. Sepertinya orang tersebut mengancam hal pribadi Pak Stefan!”


“Masih belum bisa dipastikan. Motifnya apa hanya ingin menggertakku saja, atau orang itu ingin membuat masalah dengan Nano-ID.” Stefan menyeringai marah.


Tidak lama setelah itu, Grace mendobrak masuk ke ruangan Stefan. Dia berkata sangat panik, “Stefan! Siapa yang sudah memberikan ancaman seperti itu? Ayahku harus bertindak!” Mata Grace nanar.

__ADS_1


Stefan berusaha menenangkan Grace. “Sabar. Ayahmu tidak perlu tahu. Biar persoalan ini saya yang mengurusnya sendiri.”


Lalu, Martin dan Grace segera menyusun acara rapat meskipun dengan masih menyimpan kekhawatiran. Jelas mereka tidak tenang selama bekerja, memikirkan apa yang bakal terjadi pada Stefan.


Di hari pertamanya berkantor, Stefan digegerkan dengan ancaman pembunuhan. Padahal, baru  saja kemarin dia menikmati sebuah perayaan meriah dan menghibur.


Saat ini, Stefan menolak semua uluran bantuan dari anak buahnya satu gedung kantor. “Silakan kalian semua bekerja seperti biasa!” perintahnya. Dia akan bekerja sendiri.


Stefan menutup rapat-rapat pintu ruang kerjanya dan menguncinya. Kemudian dia fokus di depan layar laptopnya. Dia mengaktifkan SigmaX versi paling terbaru, yakni A08.



[10 % ....]


[35 % ....]


[70 % ....]


[100 % ....]


Software rancangan Stefan tersebut dapat memindai perangkat apapun, mendeteksi malware jenis apapun, dan segera membersihkannya. Jika ada yang mencurigakan, sistem akan segera memberi tahu bahwa sedang ada bahaya.


Lebih dari itu, program tersebut sangat canggih. Dengan mudahnya bisa melacak keberadaan hacker yang mengirimkan malware, menyerang, atau melakukan kejahatan apapun terkait siber.


Layar laptop Stefan menampilkan kode-kode aneh yang sulit dimengerti. Dia terus mengutak-atik sampai lebih dari satu jam. Lalu, setelah itu.......


Stefan menggeram dan bergumam, “Sanjaya Group ... Kalian mau bermain-main denganku?”


Ada suara ketukan pintu. Stefan segera menyuruh mereka pergi, tidak peduli mereka siapa. Saat ini, Stefan sedang sangat serius. Jika sudah berada di posisi begini, tidak akan ada yang bisa mengganggunya. Stefan akan bekerja dengan sangat cekatan dan detail.


Stefan bergumam lagi, “Leon ... Manager pengganti Pak Wesley. Hebat juga dia bisa mengirimkan sebuah pesan wa padaku.”


Ha? Stefan memujinya?


Tidak!


Leon tidak setangguh itu!

__ADS_1


Mendapatkan nomor wa seseorang di zaman sekarang dirasa tidak terlalu sulit. Tidak perlu menguasai teknik hacking yang sangat dewa kalau hanya untuk mencari tahu nomor ponsel Stefan.


Dep!


Sebagian layar komputer di dalam gedung kantor mati. Segelintir karyawan panik. Mereka yakin ini terjadi karena ulah hacker. Cukup tiga menit, semua aman. Ya, karyawan Nano-ID terlalu OP untuk dikecengi.


Pak Arya dan Stefan tidak salah dalam memilih karyawan. Mereka dengan cepat kembali memulihkan sistem dan mempertebal penjagaan. Saat ini, sebagian ahli siber pun turut berjaga dari serangan selanjutnya.


“Leon hanya memberikan cuilan kecil. Boleh juga,” gumamnya lagi sambil tersenyum pahit. Sepertinya Leon akan menjadi lawan tanding yang seru tapi tidak berimbang.


Leon masih jauh kualitas ethical hackingnya dari pada Stefan. Saat ini, Stefan dan Nano-ID hanya geli-geli saja mendapat cuilan darinya. Apa Leon tidak paham seperti apa Nano-ID?


Stefan yang akan mengurus Leon sendirian. Bahkan, Stefan tahu bahwa Leon saat ini sedang berada di kediaman Bobby Sanjaya.


Stefan sangat cerdik. Tidak butuh waktu yang lama, dia berhasil memberikan serangan balik kepada Leon. Sampai-sampai apapun yang tersambung dengan internet di kediaman Bobby, seperti tv dan cctv, semua bisa dikuasai oleh Stefan.


Leon terbelalak. Matanya seakan mau keluar dari wajahnya. “Apa yang terjadi?” desisnya. Kondisi rumah Bobby Sanjaya menjadi kacau. Seketika semua orang di rumah tidak bisa menggunakan internet.


Bobby dan Robert sedang berada di kantor. Sedangkan orang yang berada di rumah ada Leon, Luchy, Erick, dan Chyntia. Mereka semua tercengang dengan keanehan di dalam rumah. Jaringan rusak parah.


Serentak mereka menanyakannya kepada Leon.


“Kenapa aku tidak bisa mengakses google?” keluh Luchy.


“Aku barusan sedang menelepon anak buahku di Jakarta, kenapa tiba-tiba sambunganya mati?” Erick terheran-heran.


“Netflix-ku tidak bisa dibuka?!” Chyntia kaget.


Leon terpaku. Bermaksud ingin menyerang Stefan, malah dia dan orang satu rumah kena serangan balik. Leon tidak menyerah. Dengan kemampuannya yang di atas rata-rata, dia berusaha mengembalikan keadaan. 


Di kantor Nano-ID, Stefan tersenyum penuh kemenangan. Dia bisa tahu aktivitas orang-orang di sana. Bahkan, dia pun tahu isi chat satu per satu orang-orang di sana.


Ketika sedang sibuk mencari berbagai macam informasi mengenai Keluarga Sanjaya dan Sanjaya Group, Stefan tersandar di kursinya karena saking terkejut.


Dia menemukan sesuatu.


DOKUMEN RAHASIA.....

__ADS_1


__ADS_2