Menantu Benalu Ini Ternyata Hacker Jenius

Menantu Benalu Ini Ternyata Hacker Jenius
24. Liburan


__ADS_3

“Di sini, Mas?” telunjuk driver terlempar ke arah kos-kosan dua tingkat.


“Betul, Mas di sini,” jawab Stefan, setelah membayar ongkosnya, dia pun turun. Istrinya juga ikut turun.


Dep!


Dep!


“Terima kasih, Mas,” tukas Stefan sambil melambaikan tangan.


Stefan dan Lionny melewati pagar kos, sebelum naik tangga, tiba-tiba Kay dan Frans berjalan agak tergesa-gesa sambil berujar, “Stefan, kami berdua ingin meminta bantuan kepadamu. Ada beberapa tugas kuliah yang sulit.”


“Untuk saat ini sepertinya aku tidak bisa membantu kalian berdua. Moho maaf sekali.”


“Kami ingin belajar banyak darimu. Kata Alifha, kau sudah membantu Sanjaya Sawit dalam menemukan pelaku peretasan, kemudian menanamkan sebuah program canggih sehingga perusahaan itu tetap aman,” ungkap Kay.


“Ajari kami berdua,” Frans memelas.


Stefan kembali meyakinkan kepada mereka berdua kalau saat ini dia tidak bisa membantu. “Mungkin lain kali saja. Istriku ingin beristirahat.”


Stefan melenggang lalu menaiki tangga. Dibukanya pintu kosnya. Lalu mempersilakan istrinya masuk.


Lionny masih pucat, tubuhnya keringat dingin, dan napasnya masih satu-satu. Seumur-umur baru tadi dia saling bentak dengan orang tuanya. Ada rasa bersalah darinya karena tidak ingin menjadi anak durhaka, tapi, Lionny bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Lionny tahu kalau suaminya berada pada posisi yang benar.


“Seharusnya aku menerima tawaran kerja dari Kakek dari dulu kemudian tinggal di Surabaya.”


“Tidak peru kau sesali, suamiku. Semua sudah terjadi. Sekarang, kita akan kembali menata rumah tangga kita.” Meskipun lemas, Lionny memaksakan senyum berseri-seri di hadapan suaminya.


“Setelah sampai di Surabaya dan menemui Kakek, kita akan berlibur dulu di sana, terus ke Bandung. Kita belum pernah pergi liburan, Sayang.” Stefan mengelus pipi istrinya yang lembut dan pure.


Lionny hanya meresponsnya dengan anggukan dan senyum mengembang, kemudian digenggamnya erat tangan suaminya, seolah tidak ingin berpisah lagi, seolah tidak ingin terjadi hal yang tidak-tidak lagi.

__ADS_1


Soal dia ingin dinikahkan dengan Erick, tidak ada sedikit pun di hati Lionny untuk menerimanya, sebab semua hanyalah rencana dari kedua orang tuanya semata. Lionny masih setia.


Desau angin menyelusup masuk melalui celah-celah ventilasi, lalu seperti merayu-rayu dan mengusap-ngusap kulit-kulit pria dan wanita yang tengah berpelukan mesra. Cumbuan hangat di tengah temaram malam yang dingin, sungguh indah.


\=\=\=>>>0<<<\=\=\=


Mentari menerkam embun pagi. Semburatnya menyilaukan mata. Meski masuk musim hujan, pagi ini cukup cerah, secerah perasaan Stefan dan Lionny, akhirnya mereka menemukan kebahagiaan yang selama ini dicari.


Pesawat tujuan Surabaya yang mereka tumpangi sudah lepas landas. Beberapa menit kemudian, Stefan melihat ke bawah dari jendela kaca pesawat. Dari kejauhan terlihat satu garis panjang yang membelah kota terbagi menjadi dua, itulah Sungai Musi. Pemandangan yang entah kapan Stefan akan menyaksikannya kembali.


Lionny melirik suami yang berada di sebelah kananya. Kemudian dia melekatkan kepalanya di bahu kiri Stefan. Dirasakannya kenyamanan yang selama ini hilang. Tidak ingin dia berpisah dari Stefan. Digenggamnya tangan suaminya sangat erat, kesan tidak ingin melepasnya lagi.


Setibanya di bandara Surabaya, Stefan dan Lionny sudah dijemput oleh orang suruhan dari Kakek Sanjaya, satu orang sopir dan satunya penjaga. Stefan dan Lionny langsung duduk di kursi bagian tengah mobil. Alphard hitam itu terus melaju di jalanan padat Surabaya.


Mobil tersebut berhenti di sebuah gerbang megah setinggi empat meter, tak lama kemudian dua orang satpam membukakan gerbang. Setelah mengklakson dua kali, mobil pun masuk dan terus melaju cukup jauh, hingga berhenti di halaman parkir luas. Kiri-kananya berjejer mobil-mobil mahal dan bemerek.


Mansion megah berwarna krem milik Kakek Sanjaya sungguh eksotis. Pilar-pilar raksasa tegak berdiri menjadi penghias. Di sekeliling mansion ditanami ratusan sawit dan beberpa jenis pohon lain, serta tanaman-tanaman hias juga begitu indah dan sedap dipandang.


“Sayang, kau pernah terjatuh pas mengejarku. Kau ingat?” tanya Stefan sambil tersenyum geli.


Lionny memutar malas bola matanya sambil menggerenyetkan bibir. “Habisnya, kau jahil melemparkan biji sawit ke kepalaku.”


Stefan terkikik. “Maafkan aku, Sayang. Aku tidak menyangka bisa kena pas di batok kepalamu, padahal aku hanya iseng. Ha-ha.”


Mereka berdua melangkah dengan gembira menuju pintu masuk. Baru menaiki tangga yang berjumlah sepuluh itu, Kakek Sanjaya berjalan cepat sambil membentangkan tangannya ingin memeluk kedua cucunya. Beliau sumringah sekali. Mulutnya sampai terbuka cukup lebar.


“Cucu-cucu kesayanganku.”


“Apa kabar Kakek? Semoga sehat selalu,” tutur Stefan lalu memeluk Kakek Sanjaya.


“Kata Stefan, Kakek batuk-batuk. Apa sudah berobat ke dokter?”

__ADS_1


“Kakek sehat. Tenang, ada satu dokter yang selalu siap siaga di sini. Ayo cepat masuk!”


“Kami bawa pempek kesukaan Kakek lho,” kata Lionny berseri-seri, rambutnya yang panjang beterbangan mengiringi badannya yang sedari tadi berjingkat-jingkat heboh.


\=\=\=>>>0<<<\=\=\=


Stefan meluaskan pandangannya ke bawah, ke arah kebun yang terdapat lebih dari seratus jenis tanaman. Dari balkon lantai tiga bagian belakang mansion ini Stefan dengan leluasa menikmati pemandangan. Terdengar gemercik air mancur dan kicauan burung. Kenikmatan yang tidak mungkin didapatkannya jika terus berada di kediaman mertuanya.


“Kakek sudah menyiapkan banyak fasilitas buat kalian berdua di lantai tiga ini. Semuanya buat kalian berdua. Ada kamar tidur, dapur, ruang santai, tempat olahraga, dan ada juga perpustakaan kecil. Jika dirasa ada yang kurang, silakan kalian bilang pada Kakek. Jangan pernah sungkan-sungkan yah. Semua akan Kakek beri buat kalian berdua.”


“Terima kasih banyak, Kakek. Kapan aku mulai bekerja?”


“Cucuku,” suara Kakek Sanjaya agak parau karena menahan batuk. “Jangan buru-buru langsung ingin masuk bekerja,” sambung beliau agak terbata-bata. “Soal pekerjaan tidak usah kau pikirkan. Semua aman. Kalian butuh liburan. Bukankah kalian belum sempat pergi berlibur untuk bulan madu?”


Stefan menghela napas kasar. “Betul sekali, Kakek. Lagi pula, kami ada rencana ingin berlibur. Ke Bandung atau Bali.”


Kakek Sanjaya menoleh. “Dua-duanya saja. Puas-puaskanlah. Kakek tahu kau perlu cukup uang untuk berlibur. Nanti akan Kakek kasih uang seratus juta. Habiskanlah selama satu minggu. Baru bekerja.”


Stefan memeluk kakeknya dari samping. Disandarkannya kepalanya di bahu kakek, lalu diciumnya juga pipi kakek. Stefan terharu. Dia ingin agar kebahagiaan ini bisa berlangsung lama.


\=\=\=>>>0<<<\=\=\=


Bandung kian sejuk di musim hujan. Setidaknya ada lima objek wisata yang mereka kunjungi selama berada di Bandung. Full tiga hari Stefan dan Lionny menghabiskan waktunya dengan menghibur diri, bercanda, tertawa, berfoto ria.


Tiga hari sisanya mereka berlibur di Bali. Ada tiga pantai yang mereka kunjungi. Di hari terakhir, mereka menginap di sebuah hotel yang tidak jauh dar pantai. View-nya sungguh mempesona.


“Sayang, kau lihat matahari itu mulai tenggelam.”


Lionny memeluk suaminya kian erat. “Indah sekali. Bolehkah kita menambah jatah liburannya sama Kakek?”


 

__ADS_1


__ADS_2