Menantu Benalu Ini Ternyata Hacker Jenius

Menantu Benalu Ini Ternyata Hacker Jenius
106. Sentuhan


__ADS_3

Lionny marah, tapi, bukan kepada Stefan, melainkan pada wanita ****** yang pakai handuk itu. “Pakai bajumu sekarang! Jangan pergi dulu dari sini!” Ada seringai kejam di wajahnya. "Hebat sekali kau ha!"


Di dekat pintu kamar hotel, sudah ada Pak Wesley dan dua orang polisi. Stefan pun keluar dari kamar, lalu menjelaskan kronologinya.


Sebenarnya, semalaman Stefan tidak tidur sama sekali sampai pagi. Saat dia berpura-pura tidur, Helena mendekatinya dan seolah-olah melakukan hubungan badan. Ketika itu Helena merekam kejadian tersebut. 


Stefan sengaja dan membiarkannya. Pada saat pagi sekitar jam 4, Helena tertidur, Stefan mengambil ponsel milik Helena dan memeriksa semuanya. Stefan tahu orang yang telah menyuruh Helena melakukan semuanya.


Stefan mengucek matanya dan berkata, “Leon yang menyuruhnya! Helena merupakan wanita yang hobi keluar malam, bisa dikatakan wanita rusak. Leon menjalin hubungan pacaran sama Helena belum genap satu hari.”


Meskipun bukan seorang pelacur, namun karena memang terbiasa dengan **** bebas, tentu Helena mau-mau saja mendapat perintah dari Leon. Sebelum ini, Helena sudah berhubungan dengan Leon pada sore harinya.


Ketika Helena diperkenalkan dengan Stefan oleh Leon, Helena tidak menolak sedikit pun meski tidak dibayar. Helena biasa main dengan om-om dan mendapat bayaran besar. Dia pemain lama. Namun, Stefan tidak sebodoh yang dikira.


“Dia memasukkan sesuatu di kopi saya,” ungkap Stefan. “Agar nafsu saya naik. Untung setelah minum sedikit, saya langsung muntahkan lalu menggosok gigi.”


Salah seorang polisi bertanya, “Jadi Anda sudah tahu motif Helena melakukan semuanya?”


“Perkiraan saya, sesuai dengan data yang saya dapatkan dari ponsel Helena, Leon ingin mempermalukan saya dengan cara seperti ini. Kemudian, nama saya akan rusak dengan tersebarnya fitnah tersebut. Tetapi, biarkan pihak berwenang untuk segera melakukan investigasi.”


Helena tertunduk lesu. Dari tadi dia dimaki-maki oleh Lionny. Jika saja tidak sabaran, ingin sekali Lionny menjambak rambut Helena.


Yang timbul pertanyaan adalah bagaimana bisa Lionny dan lainnya bisa datang ke sini? Sebelumnya, ketika Stefan yakin dengan rencana buruk dari Helena, dia sudah menghubungi Lionny dan mengirimkan alamat hotel beserta nomor kamarnya. Begitulah, Stefan masih waras akal dan hatinya.


Kemudian, Helena segera diamankan di kantor kepolisian setempat. Tidak lama setelah itu, Leon sang dalang dalam rencana ini pun juga berhasil diamankan petugas. Leon dan Helena dianggap bersalah atas tuduhan rencana pencemaran nama baik. Selebihnya, petugas yang akan mengambil tindakan tegas.


Stefan langsung berangkat ke Jakarta ditemani oleh Lionny. Di pesawat, Stefan menceritakan semua kejadiannya kembali. “Nafsu sih, tapi aku tahan,” ucapnya tersenyum geli.


Lionny menyenggol lengan Stefan. “Serius kau tidak ngapa-ngapain sama wanita ****** itu, Stefan? Aku sangat kecewa kalau kau bercumbu dengannya.” Lionny langsung memberengut jengkel. Sudut bibirnya melengkung ke bawah.

__ADS_1


Karena sangat ngantuk, Stefan memejamkan matanya, tapi dari tadi senyum di bibirnya terus dikulum-kulum. “Ada-ada saja, lagi mau istirahat, dapat rejeki nomplok semalam!” serunya bercanda.


Lionny langsung beraksi. Dijawilnya telinga Stefan berkali-kali, lalu dicubitnya pipi Stefan. Menggemaskan. “Aku tidak sudi. Sangat tidak sudi.”


“Kau lihatlah tadi tubuhnya. Seksi begitu. Tidak mungkin aku tidak nafsu.” Stefan tergelak.


Lionny menggeram. “Stefan! Diam!” Dia melipat tangan di dada sambil mendengus malas.


Stefan menghentikan tawanya, lalu bertanya, “Untuk apa aku mengabarimu kalau aku sudah bercumbu dengannya? Bukankah kau akan jadi pengadil pertama kalau aku melakukannya?”


Lionny bergeming dan sibuk dengan pikirannya sendiri. Dia tahu Stefan orangnya seperti apa. Tidak pernah ada riwayat Stefan main wanita, yang ada Stefan punya riwayat banyak main warnet, selebihnya ngopi sama teman-teman dekat.


Setidaknya, dari tingkah Lionny tadi hingga sekarang, Stefan menyadari bahwa Lionny masih ada hati untuknya. “Aku mau tidur, nanti banguni,” ucapnya lemah.


“Jangan terlalu pulas, nanti kau mimpi pula ketemu wanita murahan tadi!” sungut Lionny masih belum turun emosinya.


Saking curiganya, Lionny mendekati Stefan dan terus mengendus-endus, mencari-cari apakah bau wanita itu tertempel di tubuh Stefan. Sampai Lionny benar-benar menempelkan hidungnya di leher Stefan.


Lionny berpura-pura tidak tahu. “Hm, tidak apa. Aku hanya memastikan bahwa bibir wanita itu tidak menempel di tubuhmu, di mana pun.”


Stefan menghembuskan napas panjang. “Demi Tuhan, aku tidak melakukan apa pun. Hampir memang, pada saat dia merekam, posisinya dia ingin memelukku, tapi aku langsung pura-pura bergerak.”


“Oke, aku percaya. Aku harap mantan suamiku tidak pernah berhubungan dengan wanita mana pun.”


Stefan berpura-pura tidur.


Sesampainya di Jakarta, Stefan langsung mengajak Lionny untuk mampir sebentar di apartemennya. Stefan harus mandi terlebih dahulu sebelum sibuk mengurus pekerjaan kantor.


Ketika selesai mandi dan hanya memakai sehelai handuk, Stefan agak buru-buru berpakaian. “Maaf, Nona Sanjaya, bisakah Anda mengunci pintu kamarku.”

__ADS_1


Lionny pun menutup matanya dengan telapak tangan lalu menutup pintunya, tapi ada celah di antara jari-jemarinya sehingga dia melihatnya. “Astaga! Selama di Swiss, ngapain saja kau, Stefan?” sergahnya agak terkejut setelah tahu bahwa banyak perubahan yang ada pada diri tubuh Stefan.


“Kau ngintip?” Stefan melangkah panjang dan segera menutup pintunya.


Lionny mendengus kesal. “Huft! Kita sudah terlalu sering berhubungan. Aku tahu kok rasanya seperti apa.”


Stefan agak membesarkan volume suaranya. “Di Swiss, aku rajin berolahraga. Stefan yang sekarang, bukan Stefan yang dulu. Apa mau coba?” kelakar Stefan.


Lionny pun menjerit manja, “Oh ya? Apa bedanya? Ukuran atau durasi?” cecarnya sangat penasaran.


“Semuanya dong!” Stefan ingin tertawa. “Bintang sepuluh pokoknya!”


Lionny mengulum bibir dan lidahnya sendiri. Tadi, dia memang terpesona begitu melihat Stefan hanya menutupi bagian pusar sampai dengkul saja pakai handuk. Lionny menahan napas.


Stefan setengah berteriak. “Serius tidak mau? Ya sudah, aku mau pakai baju dulu kalau begitu!” Stefan menggeleng sambil terkikik sendiri.


Sepuluh menit setelah itu, Stefan pun keluar dari kamar apartemennya. Parfumnya menyeruak ke sekitaran sehingga Lionny kian terpukau. Dilihatnya Stefan sudah tampak rapi dengan kemeja dan jas.


Dan bagi Lionny, inilah Stefan yang sesungguhnya. “Kau tampan nian!” pujinya.


Stefan menutup pintu kamarnya, lalu berjalan mendekati Lionny. Baru kali ini Stefan agak sedikit sombong, dan sombongnya bukan karena memang sombong, tapi berkelakar ria saja. “Jelas dong! Duda keren?” Stefan menaikkan alisnya sambil memicingkan sebelah matanya.


Melihat wajah Stefan yang sok cold, Lionny membuang pandangannya dan melipat tangan di dada, lalu berkata, “Kenapa sekarang kau jadi alay seperti ini, Stefan?”


Lalu, Stefan memegang pundak Lionny dengan kedua tangannya. Dia menatap Lionny lurus-lurus dengan tatapan yang mengesankan. “Aku masih cinta sama kau, Lionny. Aku ingin kembali menikahimu.”


Stefan mendekatkan bibirnya ke bibir Lionny. Bibir mereka bertubrukan. Lima menit, baru kelar.


\=\=\=>>>∆<<<\=\=\=

__ADS_1


Karena lombanya akan segera berakhir dan dilakukan penilaian, Author ingin para Readers ngasih rate bintang ⭐⭐⭐⭐⭐, agar kiranya novel sederhana ini mendapat penilaian baik dari juri. Terimakasih!


__ADS_2