Menantu Benalu Ini Ternyata Hacker Jenius

Menantu Benalu Ini Ternyata Hacker Jenius
118. Sangat terkejut


__ADS_3

Nama perusahaan milik Tuan Stone adalah SG9 Enterprise. Setelah dilakukan pendalaman tentang profil SG9 Enterprise beserta Dave Stone sendiri, ternyata bermasalah. Sejumlah perusahaan di dalam negeri sempat membatalkan sejumlah tawaran dari Tuan Stone karena syarat yang dia beri terbilang aneh.


Contoh kasus, Tuan Stone akan memberikan dana investasi apabila wanita yang disukainya, misalkan sekretaris ataupun staf biasa yang menarik perhatiannya, mau diajaknya tidur satu malam. Jika bos perusahaan tersebut bersedia, barulah Tuan Stone akan memberikan suntikan dana investasi. 


Tuan Stone licik. Dia sengaja mencari perusahaan yang baru didirikan atau yang baru saja berkembang, terutama perusahaan  yang memang sedang kekurangan dana, dengan alasan investasi yang dia tawarkan akan lebih cepat diterima. Namun, tidak semua bos perusahaan setuju dengan syarat gila yang ditawarkan oleh Tuan Stone.


Pernah suatu ketika, ada sebuah start up di Thailand yang sedang membutuhkan dana sebanyak 10 juta dollar US, jika tidak terpenuhi dalam waktu satu bulan, start up tersebut akan bangkrut total. Saking butuh duitnya, bos perusahaan merelakan sejumlah karyawannya untuk diseleksi satu per satu oleh Tuan Stone.


Maka di sebuah aula perusahaan, ada lebih dari lima puluh wanita pilihan, disediakan buat Tuan Stone untuk memilihnya sebayak tiga orang, meski wanita tersebut akan tetap dapat bayaran juga dari Tuan Stone. Hal demikian tidak terjadi satu atau dua kali, tetapi berkali-kali.


Sesuai dengan perintah Stefan, sang mantan asisten CEO kembali ke kantor Nano-ID. Di ruangan kerja Stefan, Martin berbicara serius.


“Dave Stone menawarkan dana investasi di Su.Co,” ujar Martin sembari membuka lembaran dokumen.


“Apakah ada selain dari itu?” tanya Stefan seraya menyandarkan punggungnya.


“Sejauh ini, info yang saya dapatkan, hanya satu.”


“Berarti SG9 Enterprise berencana berinvestasi di Nano-ID dan Su.Co.” Tahu dengan track record buruk Tuan Stone dan perusahaannya, Stefan harus memikirkan matang-matang sebelum mau menerima tawaran investasi darinya.


Begitu juga Martin, Su.Co yang baru di-handle-nya ini tentu tidak ingin bermain api. Apakah dia rela nantinya Tuan Stone akan meminta Martin untuk menyiapkan wanita-wanita terbaik kantor untuk diseleksi? Tentu Martin tidak akan relah karyawannya dipermainkan oleh si maniak **** itu!


Stefan memandang Martin lurus-lurus, lalu menceritakan pengalamannya kemarin bertemu dengan sosok Tuan Stone.


Mengetahui akan hal itu, Martin membeliak matanya. “Kalau saja di sana ada saya, sudah saya habisi dua orang itu! Parah sekali mereka memperlakukan Tuan CEO dan Nona Lionny seperti itu. Nanti, akan saya hajar dia!” Martin menggeram kepanasan.

__ADS_1


“Harus kita kasih pelajaran!”


Jam sepuluh kurang. Bugatti putih susu pun masuk. Karena paling beda, Ryan curiga kalau inilah orang yang dimaksud. Ryan pun melompat dari pos penjagaan, lalu berteriak, “Sebentar! Stop!” Ryan berdiri gagah di depan mulut mobil. Tangannya memberikan angka sepuluh.


Mike keluar, kemudian menyuruh Ryan untuk segera menyingkir. “Minggir kau tukang parkir! Bosku mau lewat!”


Ryan membusungkan dada dan bertanya dengan nada keras, “Apa dia bernama Def Stun?!” Matanya menajam dengan sunggingan halus di bibirnya.


PIMP!!! PIMP!!!


Suara klakson membahana. Security terpaksa turun tangan. “Ryan, silakan kau minggir dahulu!” lolong security. Jika Ryan melakukan sesuatu, banyak orang yang ragu. “Biar aku saja yang mengurus. Nanti kau bikin ulah lagi malah.” Security mengerutkan jidat karena saking khawatirnya.


Ryan menggeleng sambil menggerenyotkan bibir. “Tidak! Aku tidak akan bergerak! Biar aku saja! Tadi pagi Tuan CEO telah memberikan padaku tugas penting ini. Dia pasti Def Stun dari Singapura! Biarkan aku menjadi pahlawan hari ini!”


Security menepuk jidat karena saking sebalnya. “Astaga! Kau jangan buat malu lagi, Ryan! Apa kau mau hukumanmu akan ditambah lagi ha?!” cecar security yang makin naik darahnya. “Sudah sana, ambil lah sapu lidimu dan kembali bekerja!”


PIMP!!!


Mike mendorong Ryan. “Kau tukang sapu rupanya! Minggir! Benar dia bosku bernama Dave Stone dari Singapura. Kami menawarkan bisnis besar di perusahaan ini. Pria menyedihkan seperti kau tidak akan bisa memahami betapa banyaknya uang puluhan juta dollar US. Enyahlah!” Mike menyeringai marah. Tangannya siap akan memukul.


Jika tidak ditarik paksa security, asli Ryan bakal kena pukul oleh Mike. Security memeluk dan menyeretnya sampai ke pos. “Diamlah kau di sini!” dengusnya.


Ryan meronta. “Kau tidak tahu apa-apa! Silakan kau tanya dengan Tuan CEO sendiri, siapa orang di dalam mobil itu. Mereka buat masalah dengan Tuan CEO.” Ryan yang ingin benar-benar jadi pahlawan pada hari ini begitu bergairah.


Meskipun mobil tersebut sudah berjalan, masih saja Ryan ingin menghalangi. “Kau parkir paling ujung sana saja, Stun!”

__ADS_1


Ryan tidak tahu dia berurusan dengan siapa. Ah, siapa pun itu, Ryan tidak peduli. Jika Tuan CEO merasa tersakiti, tentu Ryan akan bertindak.


Tuan Stone turun dari mobil, lalu mencangking kerah kemeja Ryan. “Aku ingat nama dan wajahmu. Setelah pertemuan pentingku pada hari ini, kau akan aku kasih pelajaran!” ancam Tuan Stone berang.


Namun, mental Ryan tidak kendur. Dia menggenggam erat tangan kanan Tuan Stone kemudia mendorongnya. Ryan menyapu kemejanya dan merapikannya.


Meski memang dia tampak rendah, apalagi jika disandingkan dengan Tuan Stone, tapi nyali Ryan tidak ciut. Tidak ada rasa takut pada diri Ryan.


Mike maju dan ingin memukul wajah Ryan. Tapi, untungunya security segera memisahkan mereka. “Hentikan! Jangan buat keributan di sini!” jerit security menggagahkan diri.


Ryan berjalan mundur sambil menunjuk-nunjuk Tuan Stone. Dia mencebik gusar, “Aku juga ingat nama dan wajahmu! Aku juga ingat dengan pakaian anehmu itu! Aku pastikan kau keluar dari kantor ini dengan wajah tertekuk di hadapanku!” koar Ryan memancing emosi Tuan Stone.


Astaga! Barusan Ryan begitu berani menggertak Tuan Stone! Mendengar itu, Tuan Stone naik pitam. Tidak ada orang yang berani membentaknya seperti demikian.


Tuan Stone melangkah panjang dan siap akan melemparkan pukulan. “Anjg kau! Kurang ajar sekali kau bicara seperti itu!”


Karena situasi makin panas, terpaksa lebih dari lima karyawan turun tangan untuk menghentikan adu mulut itu. Tuan Stone segera diajak masuk menemui Tuan CEO.


Di pos penjagaan, Ryan masih mengawasi Tuan Stone dari kejauhan. Dia mendengus-dengus marah. “Tidak akan aku biarkan dia pulang dengan wajah yang senang!” gumamnya.


Tuan Stone berjalan gagah memasuki kantor. Matanya jelalatan mengawasi para karyawati. Dia cukup tertarik dengan Chella, si petugas resepsionis. Dan sudah ada lima wajah yang bakal menjadi calon pemuas nafsunya.


Tuan Stone berbisik pada Mike, “Kau harus ingat wajah-wajah mereka!”


Ketika telah sampai di depan ruangan CEO, Tuan Stone dipersilakan masuk.

__ADS_1


Seketika Tuan Stone sangat terkejut. “Ha?”


__ADS_2