Menantu Benalu Ini Ternyata Hacker Jenius

Menantu Benalu Ini Ternyata Hacker Jenius
25. Lebih dihargai


__ADS_3

Stefan melihat tegas tulisan di salah satu sisi gedung lima lantai itu : Sanjaya Techno.


Seorang security baru saja keluar dari pos depan, lalu menyapa, “Selamat pagi, Pak Stefan. Anda sudah ditunggu oleh IT Manager di ruangannya. Mau diantarkan ke ruangannya?”


“Sebenarnya saya masih ingat. Tapi bolehlah diantarkan ke sana.”


“Baik, dengan senang hati Pak Stefan. Masih ingatkah dengan saya?” Security berjalan duluan dan Stefan mengekor.


“Pak Aiman, yang dulu ikut mengantarkan saya ke bandara pada saat ingin berangkat ke Palembang.”


Pak Aiman tersenyum. “Kirain sudah lupa, Pak.” Ketika sudah di lantai empat, Pak Aiman pun menggiring Stefan ke sebuah pintu, lalu bilang, “Silakan, Pak Stefan.”


“Terima kasih, Pak Aiman.”


Stefan merapikan kemeja hitamnya dan merapikan sisiran rambutnya dengan jari-jemari. Setelah mengatur napas sebentar, barulah dia mengetuk pintu. “Assalamu’alaikum, Pak Wesley. Permisi.”


“Silakan masuk.”


Ceklek!


Drrrttt.


Ceklek!


Pak Wesley dengan perawakan seperti guru BP ini berdiri, lalu menjulurkan tangannya ke arah kursi di depannya, kesan menyuruh Stefan segera duduk. “Stefan Raden Kusuma. Silakan duduk. Apa kabarmu?”


Stefan mendaratkan badannya di atas kursi, senyumnya tak lepas-lepas dari tadi, sebagai senyum balasan kepada Pak Wesley yang sedari tadi bahagia sekali menyambut kedatangan dirinya.


“Terima kasih. Alhamdulillah, baik, sehat. Pak Wesley sehat tentunya, badannya tambah gemuk,” kelakar Stefan.


Pak Wesley meloloti dirinya sendiri. “Ah, masa? Perasaan, tidak banyak perubahan sejak kau terakhir ke sini.”

__ADS_1


Kakek Sanjaya sudah memberikan instruksi khusus kepada Pak Wesley agar langsung memberikan Stefan posisi yang cukup tinggi di perusahaan, yakni Senior Programmer.  Meski sangat tinggi karena posisi tersebut biasanya ditempati oleh karyawan yang sudah berpengalaman lebih dari lima tahun, namun Pak Wesley patuh dengan keputusan sang pemilik perusahaan dan sudah tahu seperti apa kemampuan Stefan.


Pak Wesley yang sudah berpengalaman lebih dari sepuluh tahun dalam dunia progamming dan siber dibuat kagum oleh kecerdasan Stefan. Beberapa tahun lalu ketika Sanjaya Group ketar-ketir gara-gara ulah hacker jahat yang berusaha menjatuhkan perusahaan, saat semua programmer menyerah termasuk Pak Wesley sendiri, sosok Stefan datang membantu mengatasi problem yang tengah dihadapi. Oleh karena itu Stefan sangat dikenal baik oleh orang-orang Sanjaya Group, kecuali di Sanjaya Sawit di bawah kepemimpinan Bobby.


“Pak Wesley bercanda, posisi itu tidak pantas untukku,” keluh Stefan seperti terhenyak.


“Seandainya Kakek Sanjaya tidak merekomendasikannya, saya akan tetap menaruh kau sebagai Senior Programmer,” puji Pak Wesley bangga.


“Karena saya baru, lebih baik kalau saya merintis karir dari bawah, Pak. Mulai dari IT support atau programmer kelas pemula. Saya agak keberatan dengan posisi Senior Programmer. Bagaimana tanggapan karyawan lain yang satu pekerjaan dengan saya nantinya? Saya tidak ingin ada kecemburuan di kantor ini.”


Pak Wesley memperbaiki posisi duduknya. Manik matanya tak lepas dari sorotan kepada wajah Stefan. “Dulu kami berharap kau bisa menjadi bagian dari Sanjaya Techno, kalau Kakek Sanjaya saja tidak bisa merayumu, otomatis kami cuma bisa pasrah padahal kami semua berharap kau bisa bekerja bersama kami.”


Mendengar omongan Pak Wesley yang begitu menyentuh, Stefan terharu, matanya berkaca-kaca. Semenjak tragedi kecelakaan waktu itu, baru kali ini dia benar-benar dibangga-banggakan dan diharap-harapkan. Maka dari itu tidak mungkin Stefan akan menolak pemberian yang sangat istimewa ini.


“Terima kasih banyak, Pak Wesley. Saya akan bekerja sebaik mungkin di sini.


\=\=\=>>>0<<<\=\=\=


“Astaga!” Tono si OB gelagapan. “Pak Stefan, cukup, biar aku saja. Tadi aku yang tidak sengaja menumpahkannya, soalnya aku bawa sepuluh cangkir kopi tadi, jatuh satu. Awas Pak, nanti kena beling.” Tono merampas alat pel dari tangan Stefan dan menyuruh Stefan menyingkir dari tangga.


Ketika sedang sibuk berada di depan komputer, yang mana di ruangan ini ada lebih dari sepuluh karyawan, berbeda dengan tempat kerja tempo hari, tiba-tiba ada seseorang mengeluh dengan nada kekesalan, “Astaga WiFi-nya! Lemot atau rusak sih?!” cecar seorang junior programmer.


Stefan beranjak, lalu mencari router-nya dan bermaksud ingin mengecek dan memperbaikinya.


“Tidak usah Pak Stefan! Biar teknisi saja yang bekerja!” seorang programmer lain menarik bahu Stefan, menyuruh agar duduk saja dan melanjutkan pekerjaan.


“Tidak apa-apa biar aku bantu. Lama nanti nunggu dia,” tepis Stefan.


“Kalau kita yang mengerjakan pekerjaan dia, nanti dikhawatirkan dia makan tulang kawan, ujung-ujungnya melunjak dan jadi bos. Jadi biarkanlah, Pak Stefan. Lagi pula pekerjaan kita masih banyak di sini.”


Siang harinya ketika masuk jam istirahat, Stefan dan dua rekannya yang tengah berjalan di koridor, mendengar lengkingan seorang wanita yang menggerutui masalah sepele.

__ADS_1


“Tinta printernya habissss!” rengek wanita itu. Tapi, kalau diperhatikan dengan seksama, suara itu manja dan menggelikan. Apa mungkin dia sedang berkelakar bersama rekan-rekannya?


Stefan menyetop jalannya, lalu masuk ke ruang akuntan. “Mana printer yang tintanya habis? Biar aku saja yang mengisi.” Stefan mengedarkan pandangannya, mengawasi satu per satu wanita di ruangan ini.


Ada lima orang wanita yang berkerumun dan saling berbisik.


“Hah? Itu Stefan cucu kesayangannya Kakek Sanjaya?”


“Berarti kabar itu benar yah.”


“Kirain gosip belaka.”


“Tampan.....”


“Waw!”


Stefan berdeham dua kali. “Mana yang perlu bantuan tadi?”


Salah seorang dari mereka cengengesan. “Tidak jadi Pak Stefan. Biar kami sendiri saja yang mengisinya. He-he.”


Di hari pertama kerjanya setidaknya ada sepuluh kasus serupa dengan tumpahan kopi, WiFi, dan tinta printer. Rupanya Stefan belum bisa melepaskan keterbudakannya selama beberapa waktu belakangan. Stefan masih ingat seperti apa dia menjadi babu baik di rumah maupun di kantor.


Ketika ada sesuatu yang dikira bisa dibantu, Stefan cekatan ingin segera mengulurkan tangannya. Namun, berulang kali pula rekan kerjanya sesama programmer melarang keras agar Stefan tidak mengerjakan sesuatu yang bukan pekerjaannya.


Keesokan harinya Stefan pun dipanggil oleh Pak Wesley dan segera duduk menghadapnya. Rasa kagum, heran, bingung, kasihan, semua bercampur aduk begitu melihat tingkah Stefan di kantor.


“Stefan, kami yakin sekali kau tahu apa saja tugas dari seorang senior programmer. Kami tidak perlu memberikan kuliah dan melakukan training padamu. Hanya saja, banyak laporan dari karyawan kita kalau kau bahkan sampai ingin membantu mengecat tembok.”


“Pada waktu itu memang saya sedang tidak sibuk dan pekerjaan saya sudah selesai, jadi dari pada saya tidak melakukan apa-apa, mending saya membantu rekan yang lain. Tidak ada masalah apa pun dengan saya.”


“Kami sangat menghargai kebaikanmu, Stefan. Sebelum Kakek Sanjaya yang menegur, lebih baik saya selaku manajer duluan yang menegur. Jadi, mulai sekarang lakukanlah pekerjaanmu saja. Jika kau memaksakan diri tetap seperti kemarin, kau akan dipandang remeh oleh orang lain. Padahal ....”

__ADS_1


Pak Wesley menatap mata Stefan cukup tajam. Dengan amat serius dia melanjutkan, “Padahal, kau adalah calon pemimpin di Sanjaya Techno nantinya.”


__ADS_2