Menantu Benalu Ini Ternyata Hacker Jenius

Menantu Benalu Ini Ternyata Hacker Jenius
114. Bertemu Tuan Stone


__ADS_3

Petang ini di salah satu sisi kota Jakarta.


Audi anyar itu baru saja berhenti di halaman parkir. Di kota besar, tidak heran dengan penampakan mobil mewah. Biasa saja. 


Sebelumnya tadi habis apartemen Stefan untuk menaruh Bentley-nya, untuk apa pakai dua mobil?


Stefan turun dari mobil lalu menutup pintunya. “Hari ini aku tidak jadi ke kantor. Lebih baik besok saja,” ucapnya sambil memasukkan tangan di saku celana.


Mereka pun berjalan menikmati indahnya taman kota. Seperti dulu, waktu ketika mereka masih berpacaran.


Lionny tersenyum dan berkata, “Aku harap pria di sampingku jauh lebih romantis dan puitis daripada waktu aku baru mengenalnya.”


Stefan melihat jingga di angkasa. “Aku juga berharap wanita di sampingku jauh lebih humoris dan tidak kaku daripada waktu aku baru mengenalnya.”


Petang yang cerah. Awan-awan putih masih bergelung di langit. Dua sejoli itu tengah membahas masa lalu. Ah, bukankah Stefan bukan tipe pria penikmat masa lalu? Lantas, kenapa dia kembali menikmati masa lalu?


Justru, sekarang Stefan sedang menggandeng masa depan bersama orang yang tepat.


Tidak mudah mempertahankan sebuah hubungan di saat masa-masa yang sangat sulit datang menerpa.


Meski kapal itu sempat goyah dan terbalik selepas dihantam ombak besar, namun kapal itu akan kembali berlayar dan berlabuh ke tujuan yang sama : kebahagiaan.


Stefan mengawasi lautan. “Membahas Jakarta bakal tenggelam sama seriusnya dengan membahas masa depan kita berdua, Lionny.”


Lionny berdeham halus. Dia mencuri-curi pandang dengan lirikannya. “Masa depan kita berdua?” tanyanya balik.


“Dengan siapa lagi? Kau lah satu-satunya.”

__ADS_1


Bagi Lionny, jika dia diberi lima puluh Audi sekalipun, hatinya tak bergetar, namun ketika Stefan bicara demikian, tidak hanya bergetar, tapi hatinya berguncang.


Membangun kembali hubungan yang sempat rapuh merupakan cita-cita besarnya. Tidak ada kebahagiaan hakiki yang selama ini dia dapatkan, kecuali cintanya Stefan.


“Stefan, apa kau ingat dulu aku pernah hampir mati kelelep pas mandi di kolam?”


Stefan menjawab simpel karena dia malas bahas masa lalu. “Iya, lupakanlah. Lebih kita bahas hari esok.” Karena, masa lalu adalah rindu yang menyebalkan. Stefan benci untuk mengenang sesuatu yang pahit, sebab dia tidak ingin wanita di sampingnya ini akan pergi.


Mengherankan, Lionny yang kaku dan tidak cerewet bisa betah dengan pria sedingin Stefan. Apa rahasianya? Timbul pertanyaan, cinta seperti apa yang tumbuh di hati Lionny?


Tidak mudah bagi wanita yang punya latar belakang keluarga terhormat dan terpandang, lantas mau menikah dengan pria tidak jelas asal usulnya dan miskin.


Di situlah poin ketulusannya. Jika tidak memandang apapun yang ada pada diri Stefan, Lionny berusaha melapangkan dadanya, dan siap mencintainya selamanya.


Selain itu, Lionny tidak bodoh. Dia tahu fisik dan otak Stefan seperti apa. Dan jika bisa mengambil jantung hatinya, tentu Lionny akan menemukan kesetiaan di dalamnya.


Stefan tersenyum bangga dan berkata, “Aku sudah membuktikan kepada keluargamu, bahwa aku bukanlah sampah dan benalu. Aku juga sudah membuktikan bahwa aku akan sukses, kaya, dan menjadi bos yang dikagumi.”


Stefan berusaha membesarkan jiwanya. “Aku sudah memaafkan mereka, karena selama lima tahun karena mereka akan meminta maaf kepadaku.”


Lionny belum tahu apa yang terjadi sontak kaget. Stefan pun menceritkannya dengan detail. “Ha?” Lionny terperanjat. “Baguslah, aku malah setuju.”


“Aku ingin beri pelajaran kepada mereka, Lionny. Semoga mereka benar-benar berubah menjadi lebih baik. Bagaimanapun mereka pernah ada kesan baik padaku. Besok pagi di kantor, kau akan lihat sendiri apa yang akan mereka lakukan di ruanganku.”


Ketika baru saja menikmati indahnya pengujung hari, tiba-tiba datang dua pria asing. Mereka berdua baru saja turun dari Bugatti Veron putih susu.


Satu orang pria berbadan tinggi tegap, berambut cepak seperti TNI, berjas hitam, dan memakai kaca mata. 

__ADS_1


Dan satunya lagi berpakaian safari seperti ingin berlibur ke Bali, nah pria ini sedikit lebih tua mungkin usianya sekitar empat puluh, tetapi kalung emas yang melilit leher dan jam tangan milyaran itu membuatnya begitu menarik perhatian.


Semua orang tahu siapa yang menjadi penjaga dan siapa pula bosnya. 


Pria berjas mendekati Stefan dan berkata, “Tadi kami lihat kau turun bersama wanita cantik ini dari Audi di sana itu. Apa kau bekerja menjadi sopir?” Pria berjas tersebut membusungkan dadanya. Meski tinggi badan mereka hampir sama, body pria berjas lebih besar.


Stefan menyuruh Lionny untuk menyingkir sedikit. “Aku bukan sopirnya. Kau siapa?” tanya Stefan dengan tatapan ramah tapi heran. Ada kesan penasaran di mata Stefan. Ada apa gerangan?


“Namaku Mike! Sang bodyguard bosku!” Mike mengalihkan kepalanya ke pria yang tengah bersandar di Bugatti putih susu itu. “Aku tidak peduli kau siapa, tapi yang jelas, bosku sangat tertarik dengan sang wanita.”


Tuan Stone menatap genit dari kejauhan. Sengaja dia memarkirkan Bugatti-nya pas di samping Audi milik Lionny. Jika dibandingkan dengan harga, satu Bugatti milik Tuan Stone setara dengan belasan Audi milik Lionny.


Mike menyoroti Stefan dari ujung kepala sampai ujung kaki. Karena tadi sudah pulang dan berganti pakaian, maka Stefan sekarang hanya memakai kaos biasa ratusan ribu, celana chinos dan sandal jepit. Terkesan seperti ingin beli rokok di warung luar komplek.


Mike memandang remeh dan bertanya dengan nada tegas, “Bung! Jika kau bukan sopirnya, apa kau saudaranya?”


Stefan tetap santai dan membalas dingin, “Aku juga bukan saudaranya.”


Mike menatap tajam. “Aku juga yakin kalau kau bukan kekasihnya..”


Tuan Stone menjerit. “Mike! Kau lihatlah penampilannya yang tampak sederhana! Apa mungkin dia bisa bawa mobil ha?! Jangan berlama-lama kau bicara dengan pria tidak punya gaya itu! Laksanakan!”


Lionny resah. Berulang kali dia mengawasi Mike, lalu mengawasi Tuan Stone. Dia yakin pasti ada yang tidak beres. Lionny pun berlindung di belakang Stefan.


Stefan mengeluarkan tangannya dari saku, lalu menyilangkannya di dada. Dia menatap Mike lurus-lurus dan berkata, “Dari bicara kalian, sepertinya kalian bukan dari sini. Kami tidak punya urusan dengan kalian. Pergilah!”


Mendengar itu, Mike mendongakkan dagunya dan berjalan maju hingga jarak antara dia dan Stefan hanya setengah meter saja. “Bosku Tuan Stone adalah pebisnis besar dari Singapura. Sebelum mengurus bisnis investasinya di Jakarta, dia ingin bersenang-senang dulu.” Lalu Mark memiringkan kepala sedikit dan mengawasi Lionny. “Bosku tergila-gila dengan dia!”

__ADS_1


Lionny makin resah. Dia memeluk Stefan dari belakang. Sedangkan Stefan masih santai dan tidak ada kepanikan sedikit pun di wajahnya, meskipun jika satu lawan satu dengan Mike kemungkinan besar Stefan akan kalah. Namun, mental Stefan masih sehat, pundaknya tidak landai sedikit pun jua.


Tuan Stone menghidupkan cerutunya. Setelah menikmati empat hisapan, barulah dia berkata keras, “Serahkan wanitamu satu malam saja!” Tuan Stone mengalihkan pandangannya ke mobil Lionny. “Akan aku kasih dia Audi A8, yang lebih mahal dari ini!”


__ADS_2