Menantu Benalu Ini Ternyata Hacker Jenius

Menantu Benalu Ini Ternyata Hacker Jenius
36. AlfaCleaner


__ADS_3

Banyak yang mengira kalau Stefan dan Stephanie merupakan dua adik kakak, atau masih ada hubungan dekat. Sebaliknya, bahkan mereka berbeda suku dan negara asal tempat tinggal. Stepehanie berasal dari Republik Irlandia dan termasuk orang yang tidak care terhadap Alan.


“Alan sering membangga-banggakan UK dan menganggap remeh negaraku,” beber Stephanie memberengut.


Theo memutar kursinya alon-alon, sambil berkomentar, “Tidak masalah dia berasal dari UK, dari Arab, terserah, asal mulutnya tidak sepedas Capcisum annum Bird’s eye, alias cabe rawit saja. Asal dia tidak congkak.” Alis mata Theo beradu-adu mengiringi ayunan mulutnya yang termonyong-monyong karena sulit ngomong sambil mengunyah permen karet.


“Kenapa kalian diam?”


Stephanie dan Theo langsung ngegas bareng. “Kami selalu kalah kalau adu mulut sama dia.”


Stephanie melanjutkan, “Aku tidak menemukan prestasi membanggakan dari dia yang melebihi dari yang kami punya, kecuali dia selalu membahas sesuatu hal besar di luar pekerjaan.”


Theo mencerocos, “Seperti Inggris pernah menguasai dunia. Jajahannya banyak. Sepak bola paling maju. Mata uang mereka tinggi.”


“Betul itu! Parahnya, dia rasis sekali. Sering mengejek negaraku. Katanya, Irlandia jauh tertinggal di bandingkan Inggris. Seharusnya Irlandia gabung saja sama UK, tapi sok berdiri sendiri. Lucu sekali dia itu. Apa hubungannya antara pekerjaan dan urusan politik?”


“Kalau tidak memikirkan pekerjaan, sudah lama aku berantem sama dia itu,” tukas Theo, lalu kembali memutar kursi dan melanjutkan pekerjaannya.


Dalam waktu dua bulan ke depan, jika belum ada anggota tambahan, mereka bertiga akan mengerjakan program AlfaCleaner. Stefan sudah menjanjikan kepada Pak Arya bahwa program tersebut akan lebih canggih dari SigmaX.0.6 miliknya.


Dulu sewaktu kuliah program SigmaX.0.1 menjuarai beberapa perlombaan. Terbukti, program tersebut dipakai oleh beberapa perusahaan ternama dalam upaya penguatan firewall dan penjagaan sistem. Selain bisa dipakai di pc atau laptop, program tersebut bisa juga dipakai di ponsel dengan sistem andorid dan ios.


Stefan terus meng-upgrade software canggih miliknya tersebut. Jika dirasa ada virus yang berhasil bersarang atau ada mata-mata yang berhasil mengintai, dan Stefan tahu kelemahannya, dia akan segera menambal yang bocor, mengeratkan yang kendur, dan memperbaiki yang rusak.


Sebagai ketua, Stefan membagi tugas masing-masing kedua anggotanya sesuai dengan kemampuan dan kesanggupan. Tentu tugas dan tanggung jawabnya sebagai ketua akan lebih banyak dan besar. Tidak hanya cerdas, Stefan menjaga penampilan dan attitude-nya selama bekerja agar orang lain tidak lagi memandang remeh padanya.


Coding merupakan proses yang cukup melelahkan, tapi karena sudah terbiasa, mereka bertiga enjoi mengerjakannya, apalagi selama bekerja mereka tidak ada tekanan dan beban moral selepas berpisah dari ketua Alan yang hobi sesumbar. Seperti burung yang baru lepas dari kandang, mereka akan bebas terbang, menembus langit yang terang benderang.


\=\=\=>>>0<<<\=\=\=


Karena terus dipaksa dan didesak oleh Grace, akhirnya Stefan merelakan dua hari di akhir pekannya untuk berlibur bersama wanita yang tengah berbinar-binar matanya itu. Raut muka Grace seperti bunga yang baru mengelopak, tersenyum bahagia, bibirnya kian merona-rona.

__ADS_1


Deburan halus Sungai Aare yang disepak-sepak angin melahirkan suara gesekan yang tenang. Pantulan sinar ultraviolet petang ini di Sungai Aare menebarkan jingga yang agak menyilaukan mata, padahal cuaca di musim dingin masih saja menggigit.


Grace menyisir rambutnya ke samping kanan agar lirikan matanya ke arah Stefan yang tengah berdiri terpancang di sampingnya lebih jelas. Jika bisa menoleh dan menatap, kenapa hanya melirik? Karena Grace malu? Ah, mereka sudah cukup lama kenal dan semakin dekat, kenapa harus malu?


“Kau pandai berenang?” tanya Grace memecah keheningan, berusaha memancing Stefan supaya melontarkan lelucon, gombalan, puisi, atau kata-kata romantis. Soalnya sedari tadi Stefan diam dan cuek. Entah kenapa.


“Bisa, tapi tak pandai,” jawab Stefan ringkas dan padat, pandangan matanya masih mengawasi riak air yang bersih, sesekali diawasinya bangunan-bangunan yang menghiasi pinggiran sungai.


“Bisa gaya apa?” Grace melempar pertanyaan lagi. Berharap Stefan menanya balik atau bagaimana supaya obrolan mereka tidak kering.


“Hm. Cukup banyak. Kupu-kupu, gaya katak, gaya bebas, berenang guling,” jawab Stefan datar dan dingin.


Grace kembali menggeser hitam matanya ke kiri. Biasanya pria akan mengeluarkan jokes andalan yang lumrah, yakni tentang berenang gaya batu. Tapi, Stefan tidak ngomong demikian.


“Kalau gaya batu? Pasti bisa ya?” Grace cengengesan berusaha mengeluarkan tawa yang sebenarnya omongannya belum lucu.


Raut wajah Stefan masih datar. Tidak ada ekspresi. “Pernah aku coba. Tapi badanku tiba-tiba naik sendiri ke permukaan tanpa melakukan apa pun.”


“He-he-he.” Grace kelikikan sendiri, berusaha mencarikan suasana. Matanya mengecil imut dan alisnya melengkung cantik. Berusaha mencari perhatian pria tampan yang cold di sebelahnya ini. “Kalau aku tiba-tiba jatuh dan hanyut, apa kau akan menolongku?”


“Berarti kau akan terjun dan menyelamatan aku, Stefan?” Grace melempar pertanyaan dengan dualisme atau lebih jawaban.


“Aku tidak akan diam. Aku akan berteriak minta tolong kepada orang-orang di sekitar sini.”


Rencana Grace berjalan mulus. Maksudnya, apa pun jawaban dari Stefan, akan masuk ke dalam jebakan Batman rancangannya.


“Eh, kau bisa bercanda juga rupanya.”


Masuk!


“Bagaimana kalau aku diam dan kabur, tidak menolongmu sama sekali?” Stefan melipat tangan di dada sambil menaik-nurunkan alisnya.

__ADS_1


Grace meletakkan ujung telunjuknya di kening sambil memampang wajah penuh penasaran. “Hem. Sepertinya kau tidak akan setega itu, Stefan. Duit dua belas juta saja kau peduli padaku, masa’ nyawaku kau tidak peduli?!


Dan akhirnya senyum Stefan pun bangkit. Sebuah senyum bukan karena paksaan, melainkan timbul karena perasaan yang menyembul di dadanya. Ya, mana mungkin dia tega melihat Grace hanyut dan dalam keadaan bahaya.


Mata mereka bertemu.


“Grace, tentu aku akan berlarian, lalu terjun dan berenang sekuat tenaga untuk menyelamatkanmu. Tidak akan membiarkan begitu saja,” 


“Waw! Romantis!” puji Grace riang gembira, matanya kian berbinar-binar.


Padahal, gaya bicara Stefan biasa-biasa saja, tidak menggebu-gebu seolah-olah akan merelakan nyawanya demi Grace. Namun, Grace menanggapinya berbeda, baginya perkataan Stefan seperti sebuah awan yang telah menerbangkannya ke langit tinggi. Utopis sekali.


Matahari kian menukik ke barat. Jingga berpendar-pendar di langit biru, di sela-sela awan-awan yang bergelung-gelung. Sebuah panorama yang menyejukkan mata sebelum temaram malam akan datang menyergap. Mereka berjalan alon menyusuri salah satu sisi pinggiran Sungai Aare, berjejer pinggang, mengawas kiri-kanan menikmati pemandangan.


“Senin aku sudah balik lagi ke Indonesia. Apa kau tidak merindukan aku?” terang Grace blak-blakan.


Stefan memasukkan tangannya di kantong sweater. Udara dan sikapnya sama dinginnya. Polos dia menjawab, “Hati-hati. Kabarin kalau sudah sampai.”


Hening cukup lama.


“Minggu besok kita ke Paris yuk!” ajak Grace semangat. “Kapan lagi kita liburan? Nanti ke depannya kau akan sibuk dengan pekerjaan. Ayolah!”


Stefan menggeleng sambil menghela napas kasar. “Mati aku kalau ketahuan ayahmu. Senin aku ada banyak pekerjaan, Grace. Seharusnya besok aku sudah berada di rumah dan beristirahat. Tapi aku luangkan satu hari besok bersamamu. Asal tetap di Swiss saja liburannya.”


Sekonyong-konyong bibir Grace menggerenyet dan hitam matanya berputar malas, kesan seperti merajuk, padahal sedari tadi dia senang minta ampun bisa jalan-jalan sama Stefan. Dan di hari minggunya mereka berdua berkeliling Bern dari pagi sampai sore, seperti Kota Tua, Museum Einstein, Berner Munster, dan Bundeshaus.


Senin pagi. Stefan dan Pak Aryo sudah tiba di bandara. Setelah mereka berdua melepas seatbelt, lalu turun secara bergantian. Disusul oleh Grace, juga turun dari mobil.


“Jaga ibu dan adikmu di sana, anakku,” pesan Pak Aryo sambil mengecup kening Grace lalu memeluknya cukup erat.


“Baik, Ayah. Jaga kesehatan di sini.” Lalu Grace mengalihakan pandangannya ke arah Stefan dan berkata, “Terima kasih, Stefan. Kerja yang rajin dan kejar cita-citamu.” Grace mengunggah sebuah senyum istimewa hari ini.

__ADS_1


Stefan membalasnya dengan senyum pula kemudian membalas, “Terima kasih juga, Grace. Kapan-kapan suatu saat kita bisa berlibur lagi.” Stefan melambaikan tangannya.


Grace membalik badannya, lalu berjalan sambil menggeret koper ukuran sedang menuju pintu masuk bandara.


__ADS_2