Menantu Benalu Ini Ternyata Hacker Jenius

Menantu Benalu Ini Ternyata Hacker Jenius
117. Melempem


__ADS_3

Dada Tuan Dave Stone tiba-tiba berdebar. “Stefan, apa profesimu?”


Stefan segera beranjak meninggalkan tempat ini. “Sebentar lagi akan malam. Awas, kami mau pulang,” Stefan menatap Tuan Stone cukup lama.


Tatapan itu semakin membuat Tuan Stone bertanya-tanya. “Hm. Aku menarik lagi omonganku barusan, Stefan. Maafkan aku,” tiba-tiba Tuan Stone melempem seperti kerupuk kena air. “Kami tadi hanya bercanda."


Stefan memasukkan dua kartu sakti miliknya ke dalam dompet kembali. “Minta maaflah pada calon istriku!” berang Stefan. Melihat adanya perubahan ekspresi dan sikap dari lawan bicaranya, Stefan bisa menguasai panggung. “Cepat!”


Tuan Stone tidak berani menatap Lionny karena saking kikuk. “M-maafkan aku, Nona Lionny. Tadi aku cuma berpura-pura. Maafkan aku dan anak buahku.”


Lionny menatap heran. Ada apa dengan Tuan Stone? Dia menjawab ragu, “Ya sudah, aku maafkan. Pergilah dari sini!”


Terus Stefan membaca ratu wajah Tuan Stone. Sepertinya ada yang aneh setelah Tuan Stone tahu namanya. Karena penasaran, Stefan agak menjauh dan mengambil ponselnya, lalu menelepon Grace.


“Halo, Grace? Waktu aku berada di Surabaya, apakah ada orang Singapura yang datang ke kantor kita?”


“Ada satu. Namanya Dave Stone.”


Stefan tak berekspresi mendengarnya. “Tujuan berinvestasi?”


“Betul, Stefan. Rencananya mereka akan berinvestasi di Nano-ID dan satu perusahaan milik Sudrajat Corp.”


“Telepon orangnya sekarang dan jadwalkan pertemuan dengan Dave Stone besok di kantor!”


“Baik.” Klik!


Stefan kembali mendekati mereka. Tidak lama berselang, ponsel mahal milik Tuan Stone pun berdering, tentu panggilan dari Grace.


“Halo?” sapa Tuan Stone. Dia mendengarkan beberapa detik. “Hm, bukankah masih menunggu keputusan CEO Nano-ID kapan waktunya.” Dia mendengarkan, lalu mengangguk dan menjawab, “Jadi besok. Oke kalau begitu, Bu Sekretaris. Besok jam sepuluh saya akan ke kantor. Terima kasih.” Klik!

__ADS_1


Tuan Stone memasukkan ponselnya ke tas selempang puluhan juta rupiah miliknya sembari melirik curiga ke arah Stefan. Tuan Stone menyugar rambut ikalnya yang panjang ke belakang, lalu menggeleng heran.


Meski memang terlanjur kaya karena sudah sering berkeliling dunia, Tuan Stone tentu tidak ingin bisnis pertamanya di Indonesia berantakan dan sia-sia. Dia tahu dari sekretaris tempo lalu, bahwa nama CEO Nano-ID adalah Stefan.


Lantas, apakah Stefan yang dimaksud adalah pria di hadapannya sekarang? Jika iya, asli kacau urusannya.


Stefan menyunggingkan senyum tipis dan bertanya santai, “Kenapa kau lihat-lihat, apa ada yang salah dengan sandal jepitku?”


Tuan Stone melirik Stefan dengan memicingkan sebelah matanya. ‘Apa dia CEO-nya? Bukankah Stefan terkenal rendah hati dan dingin?’ Tuan Stone berperang batin dengan dirinya sendiri.


Lantas dia mengalihkan ke Audi di sana itu. Belum ada nomor polisi, berarti benar dua kartu sakti tadi menjadi saksi bisu bahwa Stefan barusan dari Best Auto.


Segala macam dugaan pun menyerang kepala Tuan Stone. Dia mulai panik. Apa yang harus dia lakukan untuk melepaskan rasa khawatir yang menghantuinya?


Tuan Stone membungkukkan badannya sedikit dan berkata lembut, “Apapun yang ada di dalam pikiranmu sekarang Tuan Stefan, tolong maafkan saya dan anak buah saya.” Tuan Stone langsung menyeret tangan Mike dengan cepat dan segera cabut dari taman ini.


Lionny melongo heran. “Stefan, apa yang terjadi pada orang itu?”


***


Pimp!


Bentley yang masih baru dan anyar itu masuk ke halaman parkir khusus CEO.


Ryan melempar sapu lidinya dan meletakkan peluit di mulutnya. Prittt! “Siapa yang berani-beraninya parkir di sana? Apa dia buta?” gumamnya.


“Pak! Bisakah Anda membaca?” sentak Ryan mengernyitkan kening.


Lionny keluar duluan dari mobil, kemudian disusul Stefan.

__ADS_1


“Astaga!” Ryan terperanjat. “Maaf, Tuan CEO.” Ryan terbungkuk dan tertunduk saking takutnya.


Stefan tak sampai hati melihatnya. “Ryan, jangan terlalu berlebihan bersikap terhadapku. Biasa biasa saja. Bagaimanapun, kau adalah teman dan rekan kerjaku.”


Ryan memasang senyum tidak enak. “Mobil baru Anda sangat mewah dan elegan, Tuan CEO, pasti nyaman berada di dalamnya,” puji Ryan.


Melihat sikap Ryan yang sudah di luar kewajaran, asli Stefan jadi tidak tega. Stefan tidak pernah melihat ada karyawan yang sedimikian hormat dan tunduknya terhadap atasan.


Stefan tetap menjadikan Ryan OB terdepan selama lima tahun, jika dalam waktu satu tahun pertama Ryan dinilai baik, dia akan menjadi kepala OB.


Ryan sumringah. “Serius Tuan CEO? Baiklah kalau begitu. Saya pastikan semua lingkungan kerja kantor Nano-ID bersih dan rapi. Serahkan semua pada saya!” Ryan hormat 45.


Menyaksikan Ryan begitu bersemangat, Lionny hanya bisa mengulum senyum. Stefan menepuk-nepuk pundak Ryan dengan penuh keakraban, meski sangat tegas, Stefan tetap punya rasa toleransi terhadap para karyawannya.


Stefan bukan tipe pria dominan dan arogan. Meski ambisius, tapi di setiap proses yang dilaluinya penuh dengan perjuangan dan diawali dengan niat baik. Selebihnya, dia selalu menghormati semua orang, entah apapun posisinya.


Sejauh ini, Stefan merupakan sosok yang begitu dikagumi dan dihormati oleh semua masyarakat kantor, tak terkecuali, jelas semua karena gaya Stefan yang bukan sebatas bos, tapi dia merupakan leader dan teladan.


“Semangat Ryan!” ucap Stefan memberikan motivasi. “Jika ada yang tidak berkenan di hatimu, silakan kau bicarakan empat mata pada saya! Jangan kau keluhkan penderitaanmu dengan cara menjelek-jelekkan diriku!”


Mata Ryan berkaca-kaca. Justru selama ini dia sangat merasa bersalah terhadap Stefan. Jika untuk menghilangkan rasa malu dan bersalahnya dengan cara yang lebih buruk dari sekarang, tentu Ryan akan dengan suka rela melakukannya.


“Tuan CEO, justru saya yang harus meminta maaf beribu-ribu kali pada  Anda. Saya menyesal sudah salah menilai Anda. Saya merasa bersalah karena sudah memperlakukan Anda dengan tidak wajar.”


Stefan memasukkan tangannya ke saku celana dan berkata bijak, “Jadikan pelajaran berharga buat dirimu, Ryan. Saya harap, kau berlaku baik terhadap semua orang. Jangan sekali-kali menilai seseorang berdasarkan masa lalunya yang kelam, atau karena pendidikannya rendah, atau pengalamannya minim, intinya, jangan pernah menilai dengan sebelah mata, karena kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi besok pagi.”


Ryan mengangguk takzim penuh penghayatan. Dia bahkan tidak berani melihat mata Stefan karena saking hormat dan malunya. “Saya akan berubah, Tuan CEO. Anda sangat menginspirasi saya. Saya akan belajar banyak dari kisah, pengalaman, ucapan, dan gaya Anda memimpin.”


Stefan tersenyum hangat. “Bagus, teman lamaku. Teruslah belajar. Perbaiki attitude, itu yang paling utama, jika akhlak baik, kita akan mudah diterima di banyak tempat.”

__ADS_1


Stefan dan Lionny meninggakan Ryan. Sebelum masuk kantor, Stefan berkata pada Ryan, “Nanti akan ada tamu spesial dari Singapura bernama Dave Stone. Dia sudah buat masalah denganku, kau harus menjadi pahlawannya, Ryan!


“Siap, Tuan CEO!”


__ADS_2