
Di apartemennya, Stefan menghubungi Grace melalui sambungan telepon.
“Ada apa, Tuan CEO?” tanya Grace sigap.
“Grace. Jika di luar kantor, jangan panggil aku seperti itu. Apa kita baru saling mengenal?”
“Baiklah, Stefan. Ada yang bisa aku bantu malam ini?”
“Ada dua hal yang ingin aku bicarakan. Pertama, aku mendengar dari Martin bahwa waktu itu Robert Sanjaya menemuinya dan membahas soal keinginan kerjasama anti-malware antara Sanjaya Techno dan Nano-ID. Hubungi Lionny dan berikan jadwal pertemuan. Program tersebut adalah kerjasama kedua antara kita dan mereka.”
“Baik. Apa yang kedua, Stefan?”
Pembicaraan ini cukup lama. Stefan dan Grace secara bergilir membicarakan sosok Ryan.
“Aku yakin kau bisa melakukannya, Grace.”
“Kenapa baru bilang sekarang kalau dia memang menyebalkan? Aku sudah curiga selama ini. Baiklah, serahkan semuanya padaku.”
\=\=\=>>>∆<<<\=\=\=
Pagi yang cerah bagi sosok Ryan Vikes. Tadi pas di parkiran, dia ketemu Marissa dan bilang padanya bahwa dia sekarang terlalu tinggi dibandingkan staf bendahara. Jika selama ini Marissa merasa bahwa Ryan ada respek, namun tidak bagi Ryan. Semua itu dusta di hari yang cerah.
Ryan juga menyayangkan karena Marissa sudah menolak untuk datang di acaranya semalam, padahal seandainya Marissa mau, mungkin Marissa akan mendapatkan traktiran spesial dan mahal, sebab duit pinjol dengan limit puluhan juta masih ada di kantong.
Baru saja turun dari mobil, Grace dengan wajah cerah dan natural tiba-tiba mendekati Ryan dan berkata ramah, “Selamat pagi, Ryan Vikes. Kau tampak cerah sekali.” Grace mengunggah senyum akrab.
Menyaksikan itu, Ryan terpana. Dia mencoba mengontrol diri agar tetap bisa menguasai diri sendiri. “Cerah karena melihat kedatangan Bu Grace. Selamat pagi. Semoga hari ini makin semangat!”
__ADS_1
Grace menyisir rambutnya ke samping. Ryan terlena tatkala melihat kilauan leher putih bersih itu. Ryan menelan saliva perlahan.
“Ryan Vikes, apa kabar temanmu bernama Stefan? Apa dia sekarang sudah ada perkembangan?”
“Dia tidak akan pernah ada perkembangan, Bu. Saya tahu betul dia orangnya seperti apa.”
“Oh ya? Saya sempat bicara sama Stefan. Dia bicara cukup banyak tentangmu. Sesuai dengan ceritanya, kau memang seperti itu adanya. Baiklah, sepertinya akan ada banyak kejutan.”
Ryan tampak antusias. Wajahnya berbinar seperti kaca mobil. “Kejutan apa, Bu Grace. Sepertinya semalam Anda melewati malam yang panjang karena memikirkan tawaran saya kemarin.”
Grace juga antusias. Dia menjawabnya dengan hangat. “Tentu. Begini, saya justru berpikir terbalik. Saya rasa Stefan akan ada perkembangan yang sangat signifikan.”
Inilah hebatnya Ryan. Dia berani beradu argumen dengan siapapun. Dia menggeleng tak yakin. “Stefan pria menumpang yang menyedihkan, Bu Grace!” suara Ryan sangat menusuk.
Grace tercekat. Apa kuasa Ryan berkata seperti itu? Jika tidak memikirkan Stefan, saat ini Grace ingin memberikan sebuah tamparan keras ke pipi pria sombong ini. Grace menahan sabar.
Mata Ryan bercahaya, seperti koruptor melihat duit. Dia berkata semangat, “Saya rela melakukan apa saja jika bisa berkencan dengan Bu Grace.”
Grace melihat jam di tangannya, lalu berkata, “Jika, kau percaya bahwa temanmu itu nanti akan menjadi CEO di sebuah perusahaan.”
Ryan memijat kepalanya, lalu cengengesan, “Saya baru tahu kalau Bu Grace juga hobi bercanda. Kita sejauh ini makin ada banyak persamaan. Terus terang, saya juga humoris lho, Bu. Nanti pas ada waktu kita berkelakar bareng.”
Grace menatap heran. Dia menyampaikan bahwa tidak ada bercanda kali ini. Masih ada waktu untuk bernegosiasi dengan Ryan. Sesuai dengan arahan Stefan, rencana harus berjalan mulus.
Grace berkata, “Syaratnya sangat simpel. Kau cuma bilang kepada karyawan-karyawan di sini selama satu minggu ke depan bahwa CEO Nano-ID bernama Stefan Raden Kusuma.”
“HA-HA-HA.” Ryan langsung membalik badan dan menghadapkan wajahnya ke tembok. Dia meluapkan kegelian yang membuncah di perutnya. Matanya sampai merah.
__ADS_1
Grace mengoles dagu dan berkata, “Ryan, bisakah kau serius dengan atasanmu sendiri?”
Ryan mengatur napas beberapa detik, setelah tenang, barulah dia menjawab, “Saya tidak bisa membedakan kapan Bu Grace serius dan kapan bercanda. Jujur, bagi saya Bu Grace sedang bercanda. Bagaimana mungkin saya bilang kepada setiap karyawan yang berpapasan dengan saya bahwa nama CEO Nano-ID adalah teman saya yang tidak berguna itu?”
Sebuah riset membuktikan bahwa jika seseorang sedang jatuh cinta, maka dopamine atau hormon kebahagiaannya akan tumpah ruah. Di saat bersamaan, ada bagian otak yang terkait dengan hal kognitif akan terganggu. Demikianlah hal yang terjadi pada Ryan. Sebagian otaknya mulai terganggu.
Keseriusan dan kebercandaan, baginya seperti ambigu. Dia berada dalam kebingungan dan tidak bisa mencerna dengan baik maksud dari perkataan Grace. Padahal, logikanya yang lain sedang menuntut agar menerima tawaran tersebut demi memenuhi hasratnya yang sudah menggebu-gebu.
Grace menatap Ryan dengan pandangan serius, lalu berkata, “Tadi kau bilang, akan melakukan apa saja. Apa syarat itu terlalu berat? Tapi, tidak ada syarat lain selain itu dari. Hanya saja sebagai gantinya, saya akan menjadi teman kencanmu tiap akhir pekan selama satu bulan. Asalkan setelah syarat pertama terpenuhi, syarat kedua juga harus terpenuhi.”
Wajah Ryan berbubah serius. Pelan-pelan akalnya mulai bekerja normal. Dia bertanya, “Apa syarat kedua?”
Grace menjawab sebelum dia segera angkat kaki dari tempat ini. “Jika CEO Nano-ID menyetujuinya!” pungkas Grace.
“Baiklah, setuju!” balas Ryan sangat percaya diri.
Tidak ingin menyia-nyiakan waktu, pagi ini juga dia langsung melaksanakan tugasnya. Dia berdiri di pos penjagaan dengan tegap seperti tentara. Petugas keamanan agak heran melihat tingkah Ryan. Bagi mereka, Ryan makin aneh saja.
“CEO kita bernama Stefan Raden Kusuma!” jerit Ryan pada mereka berdua.
Mereka yang juga tidak tahu tentang CEO tidak mengindahkan omongan Ryan. Mereka teringat track record Ryan yang cukup buruk selama satu bulan waktu itu.
Kemudian, Ryan meneriaki karyawan yang masih berada di atas sepeda motor dan berada di dalam mobilnya. “CEO kita bernama Stefan Raden Kusuma!” Lalu, Ryan tertawa terbahak-bahak begitu terbayang wajah Stefan.
Setelah itu, Ryan pun melangkah dan melewati bagian resepsionis. Dia mengatakan hal yang sama dan berulang ulang. Setiap ada karyawan yang berada di dekatnya, dia pasti akan menyenggol orang tersebut dan mengatakannya.
Marissa yang kebetulan mendengar itu, sontak kaget. “Ryan, apa kau sudah gila? Kau jangan pernah buat ulah lagi!”
__ADS_1
Ryan tersenyum simpul. “Dunia memang lucu! Teman kita akan menjadi bos di sini! Kau harus tahu! CEO kita bernama Stefan Raden Kusuma!”