Menantu Benalu Ini Ternyata Hacker Jenius

Menantu Benalu Ini Ternyata Hacker Jenius
121. Membantu Sanjaya Group


__ADS_3

Sanjaya Group saat ini memang sedang sangat terpuruk. Salah satu cara untuk mengembalikan keadaan seperti dahulu meskipun dalam waktu yang tidak sebentar adalah dengan menerima suntikan dana dari investor.


Pasca perseteruan antara Sanjaya Group dan Stefan tempo lalu, jelas berdampak sangat serius bagi perusahaan milik Bobby. Jika Sanjaya Group ingin kembali bangkit, jelas mereka harus segera melakukan sesuatu.


Namun, sejauh tidak ada ada satu pun investor yang datang serta tidak ada juga satu pun bank yang mau meminjamkan uang kepada mereka. Alasannya, karena Sanjaya Group diprediksi sulit akan kembali membaik. Sudah separah itu.


Stefan punya ide. Penawaran gila yang biasanya diberikan oleh Tuan Stone, coba Stefan berikan kepada Bobby, kira-kira, apa reaksi Bobby ketika mendengar tawaran tersebut? 


Jika Tuan Stone memberikan penawaran kepada Luchy atau bahkan Chyntia, demi memperbaiki perusahaan, apakah Bobby merelakannya? Lihat nanti, apa Bobby masih waras?


Bobby, Chyntia, Robert, dan Luchy masuk ke ruang kerja Stefan. Saat melihat ada Lionny di ruang kerja Stefan, mereka berempat sangat terkejut. Namun, karena saking merasa bersalahnya, mereka tak berani angkat bicara.


Malahan, Lionny yang menegur mereka. Lionny memulai dengan senyuman, lalu berkata ramah, “Apa kabar kalian semua?” sapanya dengan wajah ceria. Bagaimanapun pahit dan perih di hatinya, mereka berempat tetap keluarga baginya. “Semoga kabar kalian semua baik.”


Tidak ada respons dari mereka berempat. Bobby yang biasanya sangat bengis dan arogan, kini terpaku membisu. Robert yang biasanya yang paling tidak yakin dengan kakaknya sendiri, kini hanya bisa menunduk malas.


Luchy yang biasanya hobi mencibir dan mengkiritk, kini bergeming tanpa mata mau melihat. Dan ibunya, yang dulu paling banyak atur, terpancang keras seperti patung. Mereka semua ditimpa rasa malu.


Stefan berdiri dan meluaskan pandangannya. “Silakan berdiri yang rapi dan dengarkan saya! Bobby Sanjaya, setelah absen harian, kau dan keluargamu bertiga itu jangan pulang duluan, akan ada hal penting yang harus kita bicarakan terkait dengan Sanjaya Group.”

__ADS_1


Stefan bilang kalau dia masih punya hati terhadap Sanjaya Group. Meski memang ada rasa benci yang kuat terhadap Bobby cs, dia ingin bersikap layaknya pemimpin sebenarnya, tidak egois, pemaaf, pengasih, dan tetap dikagumi.


Dia melanjutkan dengan tegas, “Jika kalian pernah mendengar nama Dave Stone dari Singapura, nanti atas keputusan saya pribadi, Sanjaya Group akan menerima suntikan dana investasi sebensar 35 juta dollar US, pengalihan dari dana yang harusnya diterima oleh Nano-ID dan Su.Co.”


Mendengar keputusan tersebut, Lionny cukup terkejut. Dia pikir, Stefan akan benar-benar menelantarkan keluarganya begitu saja tanpa ada rasa kasihan sama sekali. Namun, Stefan masih punya hati.


Sebab, Stefan sudah membuktikan kepada Bobby dan lainnya bahwa dirinya bukanlah menantu sampah, benalu, sialan, dan orang yang tidak berguna. Sebaliknya, Stefan sudah membuktikan bahwa dirinya merupakan bos sukses, kaya, serta dikagumi. Stefan telah mengubah takdirnya.


Hukuman yang dia berikan kepada Bobby dan lainnya cuma stimulus agar kiranya mereka berempat serius ingin berubah dan memperbaiki diri. Itulah harapan terbaik bagi seorang Stefan, sosok pria sukses dan dikagumi.


Bobby mendongakkan kepala dan berkata lemah, “Serius? Akan ada investor yang akan memberikan dana sebanyak itu pada Sanjaya Group?” Ada rasa tidak percaya pada mata Bobby. Lalu, kedua bola matanya berkaca-kaca, terharu.


Saat mendengar ada tawaran yang menggiurkan, Bobby sangat senang mendengarnya, dan jika diperbolekan memeluk Stefan, tentu Bobby akan melakukannya, tetapi jelas Bobby tahu bahwa hal tersebut sangat tidak etis baginya. Bobby tidak bisa menahan kebahagiaan di wajahnya.


Stefan memandang Tuan Stone dan bertanya, “Bagaimana, Tuan Dave Stone, apakah Anda bersedia memberikan dana kepada Sanjaya Group?”


Tuan Stone yang tengah menunduk, perlahan memutar hitam matanya ke kiri, ke arah Bobby. Dia tahu tentang kondisi Sanjaya Group yang sangat terpuruk dan diprediksi kuat bakal bangkrut.


Dari lubuk hatinya yang paling dalam dan dari akalnya yang masih sehat, tentu dia tidak akan menggelontorkan dana sebanyak 35 juta dollar US untuk perusahaan yang mau rubuh. Tuan Stone jelas paham bagaimana cara mengelola duit dengan baik?

__ADS_1


Sudah banyak perusahaan yang telah diajaknya bekerja sama dalam investasi. Sebelum memberikan penawaran apalagi persetujuan, pastinya Tuan Stone harus memastikan bahwa perusahaan tersebut benar-benar menjanjikan keuntungan.


Dan untuk Sanjaya Group, sejujurnya Tuan Stone sangat ragu. Dia tahu sangat berisiko jika harus tetap memaksakan bekerjasama. 35 juta dollar US sangat banyak. Oleh karena itu, Tuan Stone tidak mau mati konyol.


Stefan bertanya, “Nominal tersebut jelas kurang untuk enam perusahaan Sanjaya Group. Apakah Tuan Stone berniat akan menambah? Bicarakan dahulu sekarang kepada Tuan Bobby.” Lalu, Stefan menyandarkan punggungnya ke kursi dan terus membaca wajah kedua orang tersebut.


Tuan Stone mengernyitkan kening. Dadanya berguncan dan panas. Dia barusan melirik ada sebuah sunggingan halus di bibir Bobby Sanjaya, itu pertanda bahwa Bobby tentu siap bekerjasama. Namun, Tuan Stone berat.


Meski demikian, bagaimana pun juga dia tetap harus tunduk atas perintah Stefan jika ingin aman, apalagi Stefan tadi bilang bahwa SG9 Enterprise tidak akan bisa bekerjasama dengan banyak perusahaan di Jakarta dan lainnya.


Tawaran investasi ke Sanjaya Group seperti dilema bagi Tuan Stone. Dia berkata ragu, “Mungkin Tuan Bobby tahu siapa saya. Sepertinya saya bukanlah rekan bisnis yang baik untuk diajak bekerjasama.”


Raut wajah Bobby langsung perlahan memasam. Bobby ingin bicara sesuatu tapi tidak berani, berharap Stefan akan menyampaikan apa yang ada di dalam pikirannya. Bobby sangat kaku.


Stefan menegakkan bahu dan berkata, “Tuan Stone, Anda jangan melihat keterpurukan yang saat ini melanda Sanjaya Group, ingatlah ketika mendiang Sanjaya Pratama masih hidup, coba Anda riset dan cari tahu informasi lebih banyak lagi. Sanjaya Group pernah masuk lima puluh besar perusahaan tersukses di Indonesia pada masanya.”


Raut wajah Bobby langusung berubah lagi menjadi sumringah. Matanya berbinar seperti air terkena cahaya. Dan apa yang disampaikan oleh Stefan barusan jelas senada dengan apa yang ada di dalam kepalanya.


Tuan Stone mendengus kecewa. Dari gerak-gerik badannya, jelas Tuan Stone tampak resah dan gelisah. Tidak hanya menjadi pesakitan, tapi kali ini dia juga akan menjadi calon pebisnis yang menanggung resiko sangat berat.

__ADS_1


Bagi Tuan Stone, memberikan dana besar kepada Sanjaya Group, sama saja layaknya berharap agar penderita AIDS bisa sembuh total layaknya manusia normal, tak ubahnya seperti membangun sebuah candi raksasa dari awal. Sulit, dan mustahil.


__ADS_2