Menantu Benalu Ini Ternyata Hacker Jenius

Menantu Benalu Ini Ternyata Hacker Jenius
42. Ulah si ikal


__ADS_3

Hembusan uap dingin AC menusuk-nusuk kulit Stefan. Beberapa kali menggosok-gosokkan telapak tangannya ke sekujur leher dan anggota tubuh yang lain untuk menciptakan kehangatan. Sedari tadi lirikannya tak henti mengawasi Theo yang sibuk bermain game online di smartphone sambil tiduran.


“Jadi ini kerjaanmu kalau di rumah?” tanya Stefan yang masih sibuk berada di dapan pc.


Karena fokus, matanya masih saja melotot tegas di layar pipih yang sedang digenggamnya. Kupingnya menangkap jelas omongan Stefan tapi akalnya sepertinya tak sepenuhnya merespons. Jempolnya sibuk ke sana ke mari menari-nari.


“Theo! Apa yang kau kerjakan kalau di rumah?” Stefan menengok dan mengulangi.


“Yes! Mampuuss!” ledeknya ke layar. Theo bangkit dan duduk. Masih sibuk, sempat menjawab pertanyaan Stefan, “Bro, jangan kira aku orangnya pemalas, hobinya main game doang. Aku tetap belajar dan kadang mengerjakan sebuah project freelance.”


Stefan mengalihkan pandangannya lagi ke layar komputer. “Aku kira program-program di komputermu ini hanya seperti perabot penghias saja.” Stefan terkekeh.


“Bast4rd!” Theo melempar lirikan ke kepala Stefan yang punggungnya tengah tersandar di kursi gaming keren. “Kau ngejek aku, Stefan?” singgungnya.


Stefan tidak kuat menahan tawa. Dan akhirnya tawanya pecah. “Ha-ha-ha. Maaf aku salah menilai kau selama ini, Bro. Siapa pun yang melihatmu tidak akan pernah percaya kalau kau seorang programmer andal. Rambut keriting tidak pernah rapi. Baju sering berantakan. Ngomong juga kadang ngasal.”


Theo mendengus jengkel dan kembali sibuk menggoyang-goyangkan kedua jempolnya yang tidak pegal meskipun sudah lebih dari satu jam bermain. “Apalagi kalau aku kadang pakai kacamata. Asli, orang benar-benar akan meremehkanku.”


Stefan memutar-mutar kursi gaming ini lalu menghadapkannya ke arah Theo. “Padahal aslinya si streamer jago yak. Ha-ha-ha.” Stefan perlahan tapi pasti membongkar siapa Theo sebenarnya. Dia mengoles dagu dan memampang ekspresi seperti terkesima. 


Stefan mengeluarkan nada menyinggung. “Oh, rupanya seorang gamer, yang sebenarnya tidak profesional, tidak pernah tergabung dalam tim e-sport, entah karena tidak jago, atau karena tidak pernah lulus seleksi, tapi anehnya ini orang bisa terkenal di youtube dan media sosial game yang lain. Dan hebatnya dia menyembunyikan identitas aslinya!”


Theo terlonjak dan nyaris jatuh ponselnya di atas kasur. Matanya bentrok dengan mata Stefan. Memindai sekujur wajah Stefan, mendelik penuh curiga, memfokuskan pandangan pada sunggingan tipis di salah satu sudut bibir Stefan. Theo berusaha menerka keadaan.


“Anjir! Kau meng-eksploit secara langsung!” Theo menganga mulutnya. “Licik sekali kau, Stefan. Aku sudah curiga dari tadi kau ngapain saja di komputerku. Menyingkir dari sana! Habis privasiku nanti kau bongkar semua!” cecar Theo agak emosi, tapi karena ekspresinya yang menggemaskan, Stefan malah kembali terkikik.


Senyum riang kian mengembang dan tercetak di kedua pasang bibir Stefan. “Jika aku mau, dari rumah aku bisa tahu rahasiamu, Bro. Aku hanya ingin memastikan bahwa kamera di dalam laci ini dipakai untuk proses streaming.” Stefan mengeluarkan benda tersebut dan memperlihatkannya kepada Theo.

__ADS_1


Theo menghembuskan napas panjang dari mulut. Sebuah ekspresi sesal tak menyangka. “Anjir! Asyik sekali kau mengerjai aku hari ini. Lihatlah besok!” ancam Theo, kedua pangkal alisnya beradu, ada tatapan serius di balik mata cokelat itu.


\=\=\=>>>0<<<\=\=\=


Senin pagi. Cuaca sejuk di musim semi. Gemerisik dedaunan beradu-adu dengan semilir angin yang tenang. Suara klakson kendaraan bertengkar dengan deruman kendaraan yang baru saja tiba di halaman parkir kantor AlfaTech. Stefan mengklakson, Theo menggeber-geber, perseteruan kecil dimulai pagi ini.


Stefan melepaskan lilitan seat belt, lalu keluar dari pintu kanan mobil dengan posisi agak membungkuk. Dep! Tit! Pria berbadan tegap yang mengenakan kemeja abu-abu ini berjalan santai sambil melirik-lirik rekan kerjanya, lebih tepat anak buahnya sendiri.


Dep! Theo membanting pintu mobilnya cukup keras, kemudian melangkah panjang ke arah Stefan. Seolah tak bertemu lama, padahal sabtu dan minggu kemarin Stefan menginap di rumahnya, Theo membuka lebar kedua lengannya dan siap akan memeluk Stefan.


Stefan kaget. “Apa-apaan kau ini ha?” semprotnya sambil merapikan kemejanya. Stefan mengayunkan kepalanya dan mengarahkannya ke pintu masuk, pesan seolah untuk segera ke sana.


“Sudah lama kita tidak berjumpa, Bro!” Theo merangkul leher Stefan cukup erat, lalu berjalan berjejer pinggang.


Parah memang si ikal ini, padahal seharusnya dia hormat sama pemimpinnya, bukan malah sok asik. Tapi Stefan bukan seorang pria yang gila kehormatan yang selalu mengharapkan anggotanya tunduk dan selalu serius. Stefan tetap cair dalam setiap suasana.


Eits! Sebentar, tidak untuk hari ini, karena Theo ingin balas dendam karena telah dikerjai kemarin oleh Stefan.


“Hei, Stefan! Hei, Theo!” sapa seorang karyawan.


“Selamat pagi!” sapa yang lain sambil melempar senyum.


“What’s up!” seru Theo sambil melambai-lambaikan tangan. “Senin semangat!”


Stefan melepaskan lilitan tangan di lehernya, merapikan kera kemejanya. “Berhenti bertingkah seperti anak kecil, Theo. Ini kantor, bukan kamar tidur.”


Theo menghadapkan tubuhnya ke arah Stefan lalu berjalan mundur. “Sebelum kau masuk di sini, aku seperti sampah. Tidak lebih dari sepuluh orang yang aku kenal. Tapi sekarang, pas satu tim denganmu, hampir semua penghuni kantor ini mengenalku dan aku tidak mengenal mereka. Bukan main!” Theo mengepalkan tinjunya kemudian kembali menjajari pundak Stefan.

__ADS_1


Tak lama berselang, Stefan membuka pintu ruangan kerjanya. Begitu berderit, Stefan terkejut karena melihat suasana kantor yang sangat berbeda. Bunga dan balon di mana-mana. Dia meluaskan pandangannya. “Ada acara apa ini?”


Theo meloncat ke tengah-tengah ruangan dan berputar-putar di hadapan lima orang lainnya. “Kenapa kau menanya balik, ketua? Bukankah ini acara kau yang merencanakannya ha?”


Theo pun menarik tangan Stephanie dan memaksanya berdiri di tengah-tengah. “Hari ini Stephanie ulang tahun. Ketua telah menyiapkan kejutan luar biasa buat Stephanie. Sesuai sih, nama mereka mirip, mungkin jodoh.” Theo meraih kue di atas meja dan mendekatkannya ke Stephanie.


Karena tidak tahu apa-apa, Stefan makin terkejut. Dilipatnya tangan di dada dan masih menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya.


Ahmad, Gonzalez, Chris, dan Feliks bertepuk tangan memberikan ucapan selamat kepada Stephanie. Mereka semua memberikan kado.


“Nanti ketua akan membelikan sesuatu yang sangat spesial padamu, Stephanie.” Theo menaik-nurunkan alisnya. Bibirnya termonyong-monyong karena saking asyiknya. “Stephanie, coba tanyakan pada ketua, pasti dia tidak punya kado yang dia bawa, ya karena nanti dia akan memberi sesuatu yang beda dari pada pemberian kami.”


Mendengar itu, Stephanie berdesir jantungnya. Dengan cepat pipinya memerah. Napasnya berhembus tak beraturan. Dia menunduk karena malu. Tidak menyangka kalau Stefan rupanya punya perhatian juga terhadapnya.


Stefan berdecak kesal sembari memberikan lirikan tajam ke manik mata Theo. Dihelanya napas kasar karena jika dia bilang pada Stephanie kalau semua ini bukan dari rencananya, khawatirnya Stephanie malah kecewa.


Memang benar, keadaan bisa mengubah tindakan walaupun kemauan hati berlawanan. Stefan memaksakan diri mengucapkan, “Selamat ulang tahun, Stephanie!”


Theo menempelkan pundaknya ke pundak Stefan. “Kasih tahu dong bocorannya, mau kasih Stephanie kado apa. Iya gak teman-teman?” tanya Theo pada empat orang lainnya.


Mereka semua sepakat seolah sudah dicuci otaknya oleh Theo. “Iya dong kasih tahu!”


Stefan kian tak berkutik.


>>>∆<<<


_______________

__ADS_1


Selama bulan Mei ini setiap harinya akan update dua bab per hari.


Jangan lupa berikan dukungannya!


__ADS_2