
Grace tidak ingin melukai hati pria manapun. Dia menerima pemberian dari Ryan. “Terima kasih atas bunganya. Bunga yang sangat indah. Jika CEO tahu kalau ternyata ada karyawan baik sepertimu, dia akan membuka lowongan kerja lagi dan mencari orang sepertimu. CEO pasti senang mendengar berita ini.” Grace tersenyum ramah, karena jika dia meluapkan kekesalannya dengan memampang wajah merengut, moodnya pagi ini akan ikut rusak.
“Terima kasih kembali, Bu sekretaris. Bunga itu sangat spesial buat orang spesial,” balas Ryan percaya diri. Lalu Ryan berjalan menjajari punggung Grace memasuki kantor. Tingkah aneh Ryan diperhatikan oleh orang-orang kantor yang baru juga tiba. Baik staf biasa sampai ke pejabat tinggi perusahaan, semua tercengang melihat keberanian Ryan.
Agaknya bagi Ryan strata sosial kantor sama saja, karena baginya karyawan ya tetap karyawan, sama rata. Kecuali bos yang punya perusahaan. Ryan salah membangun paradigma berpikir dalam memahami arti kesetaraan. Ryan sejauh ini makin unik.
Marissa yang sedang ngobrol dengan salah satu rekannya sesama staf bendahara pun terperanjat. Dia tahu Ryan memang cukup playboy dulunya. Tapi status anggota organsasi kampus dirinya yang mendekati ketua himpunan tidak bisa serta merta menjadi sebuah persamaan linier dan diterapkan di kantor. Staf yang saat ini menjadi petugas kebersihan lalu mendekati sekretaris kantor sulit bisa diterima dengan akal siapapun.
Terkadang, sulit membedakan antara percaya diri dengan tidak punya malu.......
Grace membiarkan Ryan mengantarnya sampai ke pintu ruangan sekretaris. Hal demikian membuat kepalanya semakin besar. “Saya akan menjaga mobil Bu sekretaris dari pagi sampai sore. Demi Bu Grace, apapun akan saya lakukan,” ucap Ryan dengan cara bicara seperti anak kepada ibunya.
Grace tidak meresponsnya. Dia melirik Martin yang sedang berdiri tegap di koridor sambil mengedipkan sebelah matanya, lalu menggerakkan kepalanya ke arah Ryan. Martin paham. Grace masuk, baru tiga detik pintu tertutup, Martin melangkah panjang ke arah Ryan lalu merangkulnya.
“Ayo ikut aku ke bawah!” dengus Martin.
Sesampainya di lokasi kerja Ryan, Martin pun segera menyuruhnya untuk bekerja tanpa ada gombalan lagi. Martin tegas menyampaikan, “Ingat, kau jangan pernah lagi bikin masalah di kantor!”
Ryan yang kepalang senang hari ini segera melaksanakan tugasnya. Meskipun dia tahu ekspresi keras di wajah Martin yang menggambarkan agar Ryan harus serius, dia seolah tak hirau bahwa Martin ini posisinya sangat tinggi di perusahaan. Martin tangan kanan CEO secara langsung. Dia diberi wewenang untuk memutuskan sesuatu. Namun, Ryan ditipu oleh kesenangan sementara.
Satu manusia yang satu frekuensi dengan Ryan pun tiba. Bedanya adalah kalau Ryan berada di kasta bawah dan nyaris terdegradasi, beda halnya dengan Robert Sanjaya. Mereka karakternya hampir sama, namun yang membedakan hanyalah latar belakang dan nominal duit di kantong. Jelas Robert menang telak.
__ADS_1
Ini adalah kali ketiga dia berkunjung ke kantor Nano-ID. Maksud kedatangannya kali ini adalah untuk meluruskan sesuatu yang keliru tempo lalu. Dia harus sedikit lebih sopan kali ini. Jika waktu itu dia pakai kata ‘Aku’, hari ini harus pakai kata ‘Saya’. Dia akan lebih menekankan nama Sanjaya dalam setiap obrolannya. Robert terlampau semangat.
Terkadang, sulit membedakan antara semangat dan tidak punya malu.......
Ryan menyapa Robert. “Halo, apa kabar Tuan Sanjaya? Semoga harimu menyenangkan!”
Robert membanting pintu mobilnya hingga menimbulkan suara yang cukup memekakkan telinga Ryan. Robert menatapnya tajam dan berkata sadis, “Parah kau ini! Waktu itu kau membohongi aku. Kata kau, Stefan jadi OB di sini! Bangs4t kau!” ketusnya murka.
Mendengar makian itu, Ryan terhenyak, tapi dia menepis, “Dia memang jadi OB selama satu hari. Tidak mungkin aku berbohong.”
“Manager HRD bilang kalau tidak ada staf apalagi OB yang bernama Stefan!” Robert melenggang meninggalkan orang tidak berguna ini. “Jaga mobil mahalku itu! Dasar payah”
Jika seseorang melihat ada sesuatu yang sama darinya pada orang di dekatnya, seperti wajah atau sifat, biasanya akan merasa canggung. Seperti itulah jika dua orang ini berdekatan, karena sama-sama sengak, mereka sulit akur.
Ada suara ketukan pintu.
“Silakan masuk,” ucap Grace.
Robert tersenyum ramah dan menyapa Grace. Belum disuruh duduk, dia duduk duluan. “Senang bertemu denganmu mantan sekretaris ayahku. Kata ayahku, kali ini kamu harus melayaniku dengan baik melebihi pelayanan terhadap kakakku, Lionny.”
Grace meminggirkan laptopnya ke kanan, setelah memperbaikir posisi duduknya, dia berkata, “Sanjaya Techno sudah mendapat jaminan kerjasama. Saat ini ada satu kerjasama yang sedang terjalin. Kenapa Pak Robert ke kantor? Lagipula, jika ada keperluan, seharusnya dijadwalkan terlebih dahulu.”
__ADS_1
Robert menghela napas kasar, lalu menjawab, “Apa memang perlu membuat jadwal pertemuan bagi Sanjaya Group? Bukankah perusahaan kami prioritas?”
“Di sini ada prosedur yang harus dipatuhi. Kakakmu Lionny Sanjaya saja menunggu kabar dari kami dahulu sebelum ke sini. Semua ada jadwalnya.”
Jiwa muda Robert mulai berontak. “Apa perlu ayahku yang datang ke sini?”
Grace menjawabnya santai, “Perlu. Sekarang harus kita buat jadwal pertemuannya.”
Robert gelagapan. Mustahil ayahnya yang ke sini. “Ayahku terlalu tinggi untuk datang ke sini. Cukup saya saja.”
Robert pun menyerahkan proposal yang sudah dipersiapkan. Seperti rencana waktu itu bahwa Sanjaya Techno ingin bekerjsama dengan Nano-ID dalam pembuatan anti-malware sebagai upaya pencegahan masuknya link dan apk mencurigakan.
Grace membaca dokumen tersebut beberapa menit. “Program ini sudah bagus. Tunggu sebentar. Saya ingin bicara terlebih dahulu dengan Pak Martin.”
Di ruangan Martin, Grace menelepon Stefan. “Bagaimana menurutmu, Tuan CEO?” tanya Grace.
Stefan tidak lama berpikir. “Jangan setujui kontrak kerjasama itu. Jangan pernah lagi Robert Sanjaya menemui kalian berdua! Ini yang terakhir kali, jika dia masih datang lagi, langsung usir saja, bila perlu siapkan satu anjing yang hanya untuk mengusir Robert Sanjaya!”
Grace dan Martin terperanjat mendengar perkataan Stefan yang berapi-api. Mereka tidak begitu paham apa masalah pribadi di antara Stefan dan Robert, namun yang pasti mereka harus segera menjalankan tugas ini.
Di ruangan kerja Grace, Martin bicara langsung sama Robert. “Proposal ini ditolak oleh CEO!” ucap Martin tanpa basa basi.
__ADS_1
Robert tersentak kaget. “Bagaimana bisa? CEO menerima proposal Lionny Sanjaya dengan kerjasama yang besar yakni penggunaan AlfaStudio dengan nilai keuntungan kecil bagi Nano-ID. Sementara saya membawa kerjasama yang kecil dengan nilai keuntungan lima puluh persen bagi Nano-ID. CEO kalian pasti keliru!”
Martin menatap tegas dan berkata, “Ayo ikut saya turun dan keluar! Saya masih ada rasa kasihan terhadapmu. Pasti akan sangat malu jika diusir paksa lagi oleh security.”