
Stefan menggali banyak informasi terkait Erick. Mengejutkan, Stefan akhirnya tahu bahwa Erick selama ini punya niat buruk. Erick menikahi Lionny karena hanya ingin mendapatkan harta bagian Keluarga Sanjaya.
Namun, nasibnya berakhir tragis. Pihak kepolisian sudah mengamankannya. Saat ini, Erick sedang masuk ke tahan proses investigasi. Dia menjadi tersangka utama dari dalang perencanaan pembunuhan terhadap Stefan.
Begitu juga Leon, calon menantu Bobby tersebut, niatnya pun sama seperti Erick. Stefan membongkar semua kebobrokan mereka satu per satu.
Pada saat Stefan melakukan aksinya, tidak ada yang menyadarinya. Kehancuran Sanjaya Group terjadi karena alasan jelas yang sudah diceritakan, bukan hal di luar itu. Seperti itulah dugaan Bobby Sanjaya.
Sore harinya ditemani Martin, Stefan dengan sangat berani berkunjung ke kediaman Bobby Sanjaya dalam upaya meminta haknya.
Bobby yang nyaris seperti orang gila terkaget menyaksikan kehadiran Stefan di rumahnya. “Dari mana kau tahu alamat rumahku?” tanya Bobby yang baru saja membuka pintu.
Stefan menatap mata Bobby lurus-lurus, lalu menjawab, “Kau adalah orang terkenal. Jadi bagaimana mungkin kami tidak bisa menemukan rumahmu.” Stefan berdiri sangat tegap. Dia bukanlah Stefan yang dulu dikenal oleh Bobby.
Terdengar jerit tangis dari dalam rumah. Chyntia dan Luchy menangis karena tidak sanggup menerima kenyataan pahit. Keluarga besar Sanjaya akan tenggelam. Robert entah ke mana. Dia lepas tangan di saat keluarganya membutuhkan.
Bobby mengatur napasnya, lalu berkata, “Pergi dari sini! Kau bukan siapa-siapa!” Bobby mengusir Stefan. Matanya sangat merah dan wajahnya sangat berantakan. Bobby tidak bisa menyelesaikan masalah yang begitu menumpuk banyak. Rasanya, dia ingin bunuh diri.
Stefan membuka sebuah dokumen dan memperlihatkannya pada Bobby. “Kau licik sekali!” geram Stefan. “Aku harusnya mendapat bagian yang diberikan oleh mendiang Kakek Sanjaya! Kenapa kau menutupi semua ini ha?”
Di saat sedang kacau dan terlunta-lunta, tiba-tiba Stefan datang meminta haknya, terang saja tambah pusing kepala Bobby. “Dokumen itu bohong! Kau pasti mengarangnya!”
“Dokumen ini asli! Jika kau tidak memberikan tuntutanku, kau akan masuk penjara seperti menantumu!” ancam Stefan sangat murka.
Mendengar bentakan itu, Bobby bergidik dan merinding. Keringat dinginnya keluar. Saat ini, Bobby sangat takut. Baru kali ini Bobby melihat Stefan berkata sangat tegas penuh dengan kemarahan.
__ADS_1
Karena bahasan pribadi, Martin agak menjauh dan berdiri di dekat pagar rumah. Dia tidak ingin ikut campur, namun jika terjadi hal yang tidak-tidak, jelas dia tidak akan tinggal diam.
Bobby tertegun di dekat pintu. Wajahnya pucat pasi seperti orang mati. “Jangan laporkan aku ke polisi! Aku tidak bersalah,” katanya dengan nada rendah seperti mengemis.
Stefan menggagahkan diri dan berkata, “Kau dulu sok hebat menghinaku, menertawakanku, dan sampai ingin membunuhku. Kau sangat kejam! Sekarang, kau rasakan sendiri pembalasanku!” cecar Stefan emosi.
Bobby makin bergetar seluruh badannya. Mulut dan lidahnya kelu. “Hm? Am-ampun!” balasnya terbata-bata. Kepala Bobby tertunduk dan pandangannya jatuh menghunjam ke lantai.
Ketika Sanjaya Group di ujung jurang dan Keluarga Sanjaya terlantar, Bobby selaku satu-satunya penerus tunggal tidak bisa berbuat banyak. Bobby mati kutu. Hal yang bisa Bobby lakukan saat ini hanyalah bernapas. Bobby tidak kuasa menahan musibah besar yang menimpanya.
Tidak ada lagi yang bisa diharapkan, jika semua perusahaan Sanjaya Group rubuh, di saat nama Keluarga Sanjaya jatuh, maka siapa yang bisa diandalkan? Semua hancur berantakan. Opsi yang ada di kepala Bobby hanya dua : rumah sakit jiwa atau kuburan!
“Benar apa kata mendiang Kakek Sanjaya, kau tidak bisa diandalkan, Bobby!” umpat Stefan murka. “Kau tidak becus mengurus keluarga dan bisnis besar ini! Kau orang yang payah! Jika saja kau mampu menghilangkan kebencian yang tidak berguna dari hatimu, kau tidak akan sesengsara sekarang!”
Bobby bergeming dan membatu. Wajahnya makin pucat dan masam. Sepertinya dia harusnya sudah mati sekarang. Setidaknya, akalnya yang sudah mati. Bobby sudah masuk ke fase hidup segan mati tak mau!
Bobby tak merespons.
Kondisinya saat ini sangat memprihatinkan. Jika pernah mendengar pemberitaan tentang calon anggota dewan yang stres karena tidak terpilih, kondisi Bobby sepuluh kali lipat lebih parah dari pada itu. Bagaimana tidak, enam perusahaan hampir dipastikan akan hancur.
Sebagian orang yang pernah membuka usaha kecil-kecilan dan rugi jutaan, kadang peningnya minta ampun. Bagaimana dengan enam buah perusahaan yang nilainya sudah mencapai triliunan? Wajar jika orang sebodoh Bobby bisa gila!
“Kau kan yang merencanakan pembunuhan terhadapku waktu aku akan berangkat ke Swiss?! Aku punya bukti! Dan Lionny menjadi saksi omongamu sendiri, Bangsat!” Stefan sangat emosi. Jika membunuh tidak ada hukumnya, sudah mati Bobby di tangannya sekarang juga.
Stefan lantas terbayang dengan masa kelamnya dulu. Tiga tahun yang begitu menyedihkan. Dia tidak bakal lupa dengan semua perlakuan Bobby dan keluarganya. “Woi!” bentak Stefan. “Kau benci sekali sama aku lantaran aku mendapatkan ini kan?!” Stefan menyodorkan dokumen tersebut ke wajah Bobby, lalu menggepuk-gepukkannya berkali-kali.
__ADS_1
PLAK!
PLUK!
Wajah Bobby merah. Anehnya, Bobby makin mengeras seperti batu. Isi di dalam batok kepalanya sudah benar-benar konslet dan kacau. Bobby tidak bisa berpikir layaknya manusia normal. Jiwanya sudah hancur.
“Ngomong! Bisa kau ngomong?!” sentak Stefan menyeringai. “Apa perlu aku yang mengajarkan kau ngomong ha?”
Bobby kian membisu. Mulutnya seperti terkunci pakai rantai kapal. Raut wajahnya sangat memilukan, jika ada yang pernah melihat orang gila kurang makan, kondisi Bobby seratus kali lipat lebih parah dari itu. Sungguh menyedihkan.
Stefan meluapkan semua kekesalan dan amarahnya. “Apa ingatanmu masih bagus? Apa kau lupa bahwa aku hanyalah menantu benalu? Apa kau lupa bahwa aku hanyalah sampah?” cecar Stefan gusar.
Napas Bobby tersengal-sengal. Lalu, Bobby terduduk dan mengapit dengkulnya dengan lengannya. Terbungkuk seperti udang. Wajahnya makin tertunduk.
“Sampah? Kau lah sekarang yang menjadi sampah!” caci Stefan penuh amarah. “Kau adalah sampah yang tidak berguna sekarang! Aku ingin mengambil hak dua puluh persenku. Sesuai dengan yang tertulisi di dokumen bahwa aku berhak untuk memiliki Sanjaya Techno sepenuhnya.”
Bobby mendongak perlahan, lalu berkata seperti berbisik “J-jangan.”
“Apa ha?”
“J-jangan. Sanjaya Techno adalah perusahaan terakhir yang tersisa,” balas Bobby sembari mengatur napas. Matanya masih memejam. Entah karena gila, entah karena rasa takut yang menghantuinya.
Stefan sengaja hanya menyisakan Sanjaya Techno tidak hancur karena perusahaan tersebut adalah miliknya sesuai dengan isi di dokumen tersebut.
“Sanjaya Techno cukup dua puluh persen dari total semua yang dimiliki oleh Kakek Sanjaya ketika Sanjaya Group masih baik dan waras. Sekarang, kau tidak punya hak sama sekali. Kau sendiri yang menandatangai dokumen ini!”
__ADS_1
Bobby merengkuh kakinya sendiri kuat-kuat. Ada erangan halus dan dengusan samar. Bobby ingin menangis tapi tidak sanggup.
Stefan melanjutkan, “Apa kau ingin Sanjaya Group kembali pulih?”