Menantu Benalu Ini Ternyata Hacker Jenius

Menantu Benalu Ini Ternyata Hacker Jenius
78. Di sebuah festival


__ADS_3

Marissa agak termakan dengan omongan Ryan. Oleh karena itu, atas usulnya sendiri, akan dilakukan pertemuan antara dia, Ryan, dan Stefan. Kebeteluan sore ini akan ada festival yang terkait dengan IT dan internet. Di sana banyak memamerkan game-game terbaru, antivirus tercanggih, dan banyak lagi.


Stefan sudah hadir duluan sekitar satu jam yang lalu. Saat ini, dia sibuk memperhatikan penjelasan dari seorang ahli IT mengenai sebuah software terbaru. Stefan sangat tertarik dengan bahasan pria itu.


“Kami sebentar lagi akan bekerjasama dengan Nano-ID dalam pembuatan sebuah anti-malware. Jika di antara kalian ada yang khawatir ponsel dan laptop kalian akan terkena malware yang sedang viral saat ini, anti-malware-nya bisa didapatkan dalam waktu satu bulan ini.”


Karena tidak bisa mendengar dengan jelas lantaran pesertanya sangat ramai, Stefan perlahan ingin maju ke depan. Namun, ulah Stefan tersebut sontak memancing keributan.


“Kami ada tiket. Apa kau punya?” sentak seorang wanita. “Kau ingin mengambil posisiku?”


Stefan terhenyak. “Saya juga punya tiket. Silakan.” Stefan mundur lagi.


Wanita itu menyeringai dan meneriaki seorang petugas keamanan. Dia bilang bahwa Stefan tidak punya tiket dan hanya menerobos masuk.


Kepala penjaga keamanan turun tangan. Di tengah situasi yang padat, dia memarahi Stefan, “Pergi dari sini! MicroWhite tidak perlu pengganggu sepertimu!”


MicroWhite? Stefan akan ingat nama itu.


Meski sudah menunjukkan tiket, Stefan tetap diusir paksa. Dia membela diri, “Aku punya tiket. Aku tertarik dengan anti-malware yang kalian bicarakan. Izinkan aku duduk di sana, kerjasama kalian dan Nano-ID akan aman!”


Pembicara itu terdiam. Lantas dia pun menenangkan para peserta seminar kecil ini, kemudian mendekati Stefan dan berkata, “Apa kau orang Nano-ID? Apa kau cuma calon pelanggan kami? Tapi, aku tidak peduli, kau telah mengacaukan acara kami. Penjaga, tolong singkirkan orang ini!”

__ADS_1


Stefan tetap tenang. Dia berkata santai, “MicroWhite bisa saja bekerjasama dengan Nano-ID. Project yang kalian rencanakan sangat menarik dan sesuai dengan kebutuhan. Andai saja kalian menghormati CEO-nya, kalian tentu akan bisa collabs bersama mereka.”


Tidak lama berselang, Ryan dan Marissa tiba di tempat acara. Karena seminar kecil ini tidak jauh dari pintu masuk, Ryan terkaget begitu melihat Stefan sedang adu mulut dengan seorang pria.


Ryan menyingkirkan orang-orang di depannya, lalu berkata, “Maafkan teman aku ini, Pak. Namanya Stefan Raden Kusuma. Apa dia sedang membicarakan hal yang terkait dengan CEO? Jika benar, jangan ditanggapi! Dengarkan saja lalu silakan tertawa!”


Pria itu malah bingung. Ditatapnya Stefan dan Ryan secara berganti. Dia membalik badannya dan segera kembali naik ke podium.


Namun, Stefan menyahutinya, “Apa kau tidak menghargaiku? Padahal aku punya tiket dan ingin mendengarkan karyamu.”


Pria itu memutar kepalanya dan berkata sadis, “Enyahlah! MicroWhite tidak akan berpengaruh jika kehilangan satu orang penggemar sepertimu. Tiket itu bisa dipakai untuk datang ke sepuluh acara selama tiga hari. Mending orang sepertimu pergi saja dari tempat ini. Kau tidak mengerti apa-apa!”


Ryan menarik badan Stefan, lalu berkata, “Kita datang ke sini untuk belajar dan bersenang-senang. Kenapa kau malah bikin ribut, Stefan?”


Ryan menghela napas kasar dan berkomentar, “Bahasan mereka terlalu tinggi, Stefan! Mending kita lihat pameran game-game terbaru saja. Aku pernah dengar kau waktu kuliah pernah bikin game.”


Stefan berjalan santai. “Ya, jika ada kesempatan, aku ingin bikin game lagi.”


“Kau jangan bergurau. Dengan otak pas-pasan seperti sekarang, sangat sulit bagimu, Stefan. Ayo kita ke sana. Marissa sudah menunggu dari tadi.”


Lebih dari lima puluh jenis pameran yang ada di sini. Bagi mereka yang berkecimpung di dunia IT, apapun itu, tempat ini sangat menarik. Begitu juga bagi para gamers, mereka bisa ngobrol dan konsultasi langsung dengan para developer.

__ADS_1


Marissa tengah berada di lapak Nano-ID agak di ujung. Ryan mengajak ke sana tapi Stefan menolak. Lalu, Ryan segera memanggil Marissa ke sini.


Sambil menatap Stefan dengan pandangan sinis, dia berkomentar, “Wahai petugas kebersihan satu hari, rupanya kau kenal ya dengan Bu Grace. Ada lelucon gila kali ini. Ryan diberi tantangan untuk bilang kepada seluruh karyawan Nano-ID bahwa kau adalah CEO di sana. Jika Ryan mampu, dia akan berkencan dengan Bu Grace.”


Stefan tersenyum sangat lebar dan hampir tertawa. “Itu tantangan yang mudah untuk orang seperti Ryan! Aku sangat yakin kalau Ryan akan bisa melewatinya dengan mudah.”


Ryan menerima pujian dari Stefan dengan hati yang lapang. Dia yang rasa malu agak minim tentu akan lebih mudah melewati tantangan tersebut. Impiannya untuk bisa merebut hati Grace hanya dengan sebuah lelucon gila.


Ryan terkikik. “Aku tidak tahu apa hubunganmu dengan Bu Grace. Namun yang pasti, aku tidak peduli. Aku bisa memperkenalkan namamu di hadapan orang kantor. Kau pasti senang, Stefan, bisa terkenal. Lalu, aku bisa berkencan dengan Bu Grace!”


Marissa tersenyum meremehkan. “Stefan, aku yakin Bu Grace bukanlah orang bodoh. Dan tidak ada lagi nama Stefan Raden Kusuma yang pernah menjadi OB selama satu hari di Nano-ID. Jika candaan Bu Grace itu bisa diterima, berarti pernyataannya sangat bertentangan dengan akal pemikiran kami. Bagaimana mungkin kau bisa menjadi CEO?!”


Stefan menanya balik. “Apa kau yakin bahwa Ryan bisa berkencan dengan Bu Grace? Kalau kau yakin, berarti kau harus percaya bahwa aku-lah yang memberikan restu dan izin agar Bu Grace bisa diajak berkencan dengan Ryan.


Obrolan mereka saling adu dengan keriuhan orang-orang di dalam gedung acara. Mereka bertiga harus mengeraskan volume suara biar bisa terdengar.


Stefan melanjutkan, “Tadi katamu, Bu Grace tidak bodoh. Berarti dia tidak mungkin salah omong. Apa dia tidak berpikir tentang tantangan yang diberikannya kepada Ryan?”


Ryan bertelekan pinggang dan berkata yakin, “Bu Grace orangnya juga suka bercanda. Dia hanya ingin menguji keberanian dan rasa percaya diriku. Jika aku sanggup, berarti aku punya jati diri dan dia siap akan menerimaku.”


Marissa mengawasi dua pria di hadapannya, mencebik, lalu mengkiritik, “Ryan, kau bodoh menerima tantangan itu. Bagiku, kau hanya dipermainkan oleh Bu Grace. Bagaimana nanti CEO tidak setuju dengan kencan kalian? Bukankah Bu Grace sudah pasti dekat dengan CEO? Dan kau Stefan, Bu Grace hanya meminjam namamu yang jelek itu. Kau tidak dikenal kecuali mantan pekerja satu hari di Nano-ID. Seandainya Bu Grace meminjam nama seorang manager, bisa saja semua terjadi. Dan untuk orang sepertimu, jelas tidak akan pernah terjadi!”

__ADS_1


Stefan berkata dingin, “Marissa, bagaimana kalau kita bertaruh?”


__ADS_2