
Lionny tersenyum sebelah. Hatinya terombang-ambing dalam waktu yang singkat. Stefan bukanlah pujangga atau pun tipe pria romantis seperti sebagian pria, tapi tipe pria setia seperti dirinya jika mengeluarkan kalimat puitis, tidak pernah bohong.
“Stefan, kalimat itu adalah kalimat yang kau ucapkan sebelum kau akan berangkat ke Swiss. Kalimat itu membuatku susah tidur. Dan aku tidak ingin setelah mendengar kalimat itu kembali, kau akan terkena musibah. Semoga Tuhan selalu menjagamu.”
Stefan menatap mata Lionny dan berkata, “Aku mendapat informasi dari Pak Anggara bahwa ada seorang sekretaris janda. Aku bilang padanya, apa kira-kira dia berkenan jika menjadi istriku.”
“Stefan, berhentilah bercanda!” Lionny melipat tangan di dada.
Stefan tersenyum renyah. “Aku rindu kau, Lionny. Jika ada proposal yang kau ajukan, meski seribu jumlahnya, CEO Nano-ID pasti akan menyetujuinya!” Stefan menaik-turunkan alisnya, berharap Lionny bisa sedikit tersenyum malam hari ini.
Padahal, Lionny ingin jatuh tubuhnya karena saking tak berdaya, menahan rasa, telah berjumpa.
Sebagaimana wanita pada umumnya, lebih memilih diam, lalu menunggu kalimat selanjutnya. Lionny melihat Stefan saat ini, seperti dia melihat Stefan waktu di awal-awal berjumpa.
Dulu, Stefan malu-malu, tapi karena sewaktu awal dewasa memang tidak terlalu hobi bergelut dalam perihal asmara, terkadang Lionny sulit membedakan, Stefan mau menggombal atau apa.
Lelucon Stefan tidak akan membuat tawa terbahak-bahak, tetapi lebih sering menyentuh hati. Pria setia memang punya khas.
“Kau akan tidur di mana?” tanya Lionny mengalihkan isu pembicaraan.
“Aku sudah pesan hotel. Mungkin besok nanti aku bisa tidur di sini lagi.”
Stefan pun akhirnya pamit, sebelum pergi, dia mengingatkan kepada Lionny untuk siap di acara besok. Lionny mengiyakan perkataan Stefan dan akan tidur lebih cepat.
Pagi harinya di kantor Sanjaya Techno.
Stefan berjumpa dengan Leon di salah satu sisi kantor. Dia berkata, “Kau virus di kantor ini.”
__ADS_1
Leon terperangah melihat kehadiran Stefan. Beberapa hari belakagan dia memang dihantui rasa takut berkat info bahwa Nano-ID akan mengakuisisi Sanjaya Techno, dengan kata lain Stefan Raden Kusuma adalah pemilik baru Sanjaya Techno.
Sambil menahan getaran di sekujur tubuhnya, Leon menjawab dengan pelan, “Maafkan saya, Pak Stefan.” Leon sangat tertunduk di hadapan Stefan.
Obrolan mereka berdua diawasi oleh cukup banyak orang-orang kantor. Lionny yang baru tahu kedatangan Stefan lantas segera turun ke bawah.
“Tolong kalian semua dengar!” ucap Stefan dengan suara yang cukup besar. “Leon adalah virus di kantor. Waktu itu dia pernah menyerang Nano-ID tapi gagal.”
Wajah Leon berubah pucat. Semua mata tertuju padanya. Apakah hari ini adalah hari sialnya? Sempat gagal meraih hati Bobby Sanjaya, sekarang sepertinya sebentar lagi nasibnya di Sanjaya Techno akan segera berakhir
Stefan menunjuk-nunjuk Leon. “Saya pastikan, hari ini adalah hari terakhir kau bekerja.”
Berulang kali Leon meminta maaf tetapi Stefan tak menggubrisnya. Leon masuk daftar hitam orang-orang yang harus mendapatkan perlakuan khusus dari Stefan. Dia sangat pantas mendapatkannya.
Stefan mempermalukan Leon di hadapan banyak orang. “Jangan pernah tertipu oleh skill-nya karena skill menipunya jauh lebih lihai.”
“Bereskan semua barang-barangmu! Napasmu tinggal beberapa jam lagi!” seru Stefan lalu meninggalkan Leon yang sedang tertegun.
Selanjutnya segera dilakukan proses penandatanganan penyerahan kepemilikan. Sebelumnya Bobby sudah menandatangi dokumen ini dan sengaja melakukannya lebih dulu karena tidak ingin bertemu dengan Stefan di kantor Sanjaya Techno. Tentu alasannya karena malu.
Dan pada akhirnya, Sanjaya Techno pun resmi menjadi milik Stefan sepenuhnya, terlepas dari pengaruh Sanjaya Group.
Stefan kembali memanggil Pak Wesley dan menempatkannya menjadi manager. Stefan mendekati Leon di meja kerjanya dan berkata, “Ini surat pemberhentian kau. Staf bendahara akan segera mengurus pesangonmu. Pergi kau dari sini!”
Leon tidak berkutik karena asanya sudah lenyap.
Sebagaimana dahulu, Stefan merupakan orang yang dibangga-banggakan di Sanjaya Techno. Kini, kehadirannya membuat warna baru. Jika dulu sebagai karyawan biasa saja dia bisa mengambil hati banyak orang, maka sudah barang tentu, ketika dia menjadi pemilik utama Sanjaya Techno, masyarakat kantor makin membanggakannya.
__ADS_1
Pak Wesley memeluk Stefan erat seraya berkata haru, “Bukankah dulu saya pernah bilang demikian?”
Stefan tidak bakal lupa. Dulu dia diprediksi bakal jadi pemimpin di Sanjaya Techno. Dan prediksi tersebut tidak meleset.
Pak Wesley menatap Stefan lurus-lurus. “Selamat, Stefan! Semoga dengan ini perusahaan akan lebih maju.”
Stefan tersenyum penuh kemenangan. “Saya bisa seperti sekarang karena dulu pernah menjadi anak buah Anda Pak Wesley,” balas Stefan berusaha merendah.
Pak Anggara merangkul Stefan dan berkata, “Pencapaianmu saat ini bukan di luar dugaan, Stefan. Kami dari dulu telah berpikir bahwa karirmu pasti akan bagus. Bahkan, ketika Kakek Sanjaya masih ada, kami yakin kau akan berhasil nantinya.”
Namun, Stefan menepis pujian itu. “Saya tidak akan bisa jadi apa-apa kecuali atas jasa kalian berdua. Saya bangga pernah punya atasan layaknya Pak Anggara dan Pak Wesley, begitu juga yang lainnya.”
Dan pada akhirnya para direksi dan management pun terlepas dari kediktatoran Bobby Sanjaya. Selama ini mereka terus dipaksa dengan berbagai kebijakan yang menyimpang dan sungguh menyulitkan para karyawan.
Sebagaimana watak Bobby, jika tidak senang di hatinya, dengan gampangnya dia memberhentikan para pekerja. Jika terhadap menantunya saja Bobby semena-mena, bagaimana mungkin Bobby akan punya hati terhadap yang lainnya?
Namun, sekarang Bobby tinggal cerita. Di bawah sang pemilik baru, Sanjaya Techno tidak akan merombak struktur organisasi terlalu berlebihan. Dengan kata lain, mereka yang selama ini mendapat tekanan dari Bobby, jelas akan dipertahankan. Kecuali beberapa, seperti Leon misalnya.
Pak Anggara menatap Stefan dan berkata bangga, “AlfaStudio sangat membantu semua tim yang bekerja. Kami harap software tersebut tidak dipergunakan oleh perusahaan lain, Pak Stefan.” Nadan bicaranya terdengar jelas ada kesan sebuah harapan.
Stefan membalasnya dingin dan tanpa ada kesan sombong sedikitpun, padahal andai saja dia mau tampil jumawa, jelas bisa, tetapi Stefan selalu rendah hati. “Untuk sementara ini AlfaStudio hanya bisa dipakai oleh AlfaTech, Nano-ID, dan Sanjaya Techno.”
Pak Wesley menatap kagum dan berkata, “Saya dengar, banyak perusahaan lain yang mengincar software tersebut. Jika demikian keputasanmu, Pak Stefan, kami turut bahagia mendengarnya.”
Jelas, dengan AlfaStudio saja, Sanjaya Techno mencapai tren positif yang begitu mengagumkan. Tidak pernah perusahaan bisa mendapat keuntungan berkali-kali lipat seperti halnya sekarang.
Meskipun ada beberapa perusahaan yang menawarkan kerjasama penggunaan AlfaStudio dengan nilai kontrak besar, Stefan tetap memprioritaskan perusahaan yang telah dipilihnya.
__ADS_1
Jika Stefan sudah membuat sebuah keputusan, tidak ada yang bisa protes, semua berjalan sesuai dengan perintahnya.