Menantu Benalu Ini Ternyata Hacker Jenius

Menantu Benalu Ini Ternyata Hacker Jenius
39. Project balas dendam


__ADS_3

Di Indonesia sedang heboh pemberitaan terkait dengan protes dari beberapa menteri yang mengeluhkan bahwa pemerintah mempunyai lebih dari dua puluh ribu aplikasi. Di setiap kementerian dan lembaga mempunyai aplikasi masing-masing serta punya database sendiri-sendiri.


Hal tersebut jelas berimplikasi terjadinya pemborosan anggaran negara. Maka dari itu, kementerian terkait akan melakukan sebuah tindakan dalam upaya penyederhanaan aplikasi dengan cara melakukan integrasi aplikasi antar kementerian dan menjadikannya satu data.


Dengan demikian, diharapkan biaya yang dikeluarkan  pemerintah untuk sektor IT dan digitalisasi bisa berkurang dan lebih efisien. Langkahnya, saat ini pemerintah telah menyiapkan sebuah project besar untuk penyatuan aplikasi atau setidaknya penyempitan ruang supaya tidak terlalu banyak aplikasi yang dioperasikan.


PT Sanjaya Techno menjadi salah satu vendor yang akan bersaing dalam memenangkan project tersebut. Tender akan berlangsung satu minggu lagi, Bobby Sanjaya selaku CEO Sanjaya Group ikut turun tangan agar salah satu perusahaannya bisa memenangkannya.


Bobby Sanjaya menggagahkan diri di ruang rapat. “Pak Anggara selaku direktur utama dan Pak Wesley selaku IT Manager, kalian berdua masih saya pertahankan karena masukan-masukan yang saya terima dari para karyawan. Kalian berdua merupakan pilar perusahaan. Maka dari itu saya masih memberikan kepercayaan kepada kalian berdua.”


“Terima kasih banyak, Tuan Bobby,” ucap Pak Anggara tersenyum bangga. Begitu juga Pak Wesley, juga mengucapkan terima kasih lalu memuji Bobby Sanjaya.


Bobby mengedarkan pandangan. “Ini project besar. Jika berhasil, kita akan mendapatkan pamor di hadapan pemerintah. Kita akan punya kontribusi buat negera ini.”


Meskipun ada sebagian peserta rapat, yang menjabat direktur dan manager, meragukannya. Entah ragu bisa menang tender, entah ragu bisa menjalankan project-nya atau tidak, atau ragu jika bekerja sama dengan pemerintah, secara pemerintah terkenal dengan bermain tangan di bawah meja.


Sebagian peserta rapat sebenarnya pesimis, namun karena Bobby sangat ambisius agar bisa menjalankan project tersebut, maka suka tidak suka semua peserta rapat harus tunduk, terlebih buat Pak Anggara dan Pak Wesley. Jika mereka berhasil, tentu akan mengangkat kembali citra mereka yang sempat agak tercoreng.


Setelah rapat selesai, Pak Wesley selaku ketua tim vendor dari Sanjaya Techno menghampiri Bobby yang baru saja keluar dari ruang rapat.


“Permisi, Tuan, ada yang mau saya sampaikan. Maaf tidak saya bicarakan pada saat rapat berlangsung karena ada beberapa pertimbangan.”


Bobby merapikan jasnya, sembari berjalan. “Silakan, Pak Wesley. Apa yang mau disampaikan?”


Dengan hati yang cemas dan suara yang dipaksa tegas Pak Wesley berucap, “Pihak pemerintah telah memberi tahu bahwa akan ada tiga vendor yang akan bersaing.”


“Oh ya. Saya belum tahu.” Bobby agak terkinjat. “Dari mana dua yang lainnya?”  


Nada bicara Pak Wesley juga buat tegang. “Satu dari Indonesia dan satu dari luar negeri, Tuan. Yang dari Indonesia ada BerkahNet. Nah yang dari luar ....”


Bobby menoleh cepat. Ditusuknya mata Pak Wesley dengan pandangan menohok dari samping. “Siapa mereka, Pak Wesley?” tanyanya penasaran.


“AlfaTech.”


\=\=\=>>>0<<<\=\=\=

__ADS_1


Pak Arya mengundang Stefan ke rumahnya, membahas persoalan yang terkait dengan ikut sertanya AlfaTech menjadi salah satu vendor project yang ditawarkan pemerintah Indonesia. Mereka berdua ngobrol di ruang tamu.


“Ada beberapa hal yang saya keluhkan, Pak Arya. Sebaiknya Bapak berpikir ulang sebelum kita membuat proposal pitching,” ungkap Stefan dengan nada tegas dan ekspresi wajah serius.


“Apa yang kau keluhkan, Stefan?” tanya Pak Arya, lalu menghela napas kasar karena melihat ada keraguan dari orang kepercayaannya tersebut.


Stefan memperbaiki posisi duduknya. “Saya yakin maksud dari Bapak ingin menjalankan project ini karena alasannya adalah mengharumkan nama AlfaTech di sana, terutama di kalangan pemerintahan. Namun, perlu kita ingat, birokrasi pemerintahan kita kadang kurang disiplin. Upaya yang dilakukan oleh vendor lebih sering tidak profitable. Budget yang pemerintah siapkan sungguh besar, tapi hasil yang kita terima tidak sesuai ekspektasi, padahal effort dari vendor sudah maksimal,” paparnya gamblang.


Stefan juga menegaskan bahwa nilai proyek yang dijalankan sudah masuk skala enterprise, namun budget yang diterima vendor masih skala mahasiswa alias kacangan. Tidak ballance antara effort dan profit. Maka dari itu, Stefan bersikap skeptis dan pesimis dalam bekerja sama dengan pihak pemerintah.


Pak Arya mengangguk, tanda sependapat dengan argumen yang dilontarkan oleh Stefan. “Kau benar, Stefan. Realitanya memang seperti itu. Tapi, kita telah diberi kepercayaan oleh pihak pemerintah untuk turut terjun dalam mengatasi masalah yang sedang terjadi. Sungguh Bapak merasa terhormat dan terharu ketika ditelepon oleh salah satu menteri agar bisa ikut andil dalam pengerjaan project.”


Melihat mata Pak Arya yang berkaca-kaca, Stefan jadi tersentuh. Cukup lama Stefan berpikir. Hening beberapa saat.


Pak Arya kembali melanjutkan, “Dua vendor lain ada Sanjaya Techno dan BerkahNet.”


Stefan kaget, matanya menegas, bulu matanya menjulur naik. Tiba-tiba Stefan teringat dengan Bobby Sanjaya. Dan tiba-tiba dia teringat pula dengan dendam yang masih tersimpan. Ini merupakan kesempatan emas untuk membuktikan kepada bekas mertuanya, bahwa dia bukanlah sampah!


Stefan mengangguk semangat. “Baiklah, Pak Arya. Sesuai dengan perintah Bapak, saya bersedia menjadi ketua tim, dan dengan tetap menjadikan Theo dan Stephanie sebagai anggota.”


“Saya akan segera menyusun proposal pitching dengan konsep terbaik. Biar perhatian pemerintah hanya tertuju di AlfaTech!” tukas Stefan dengan semangat berkobar.


\=\=\=>>>0<<<\=\=\=


Dan hari yang ditunggu pun tiba. Siang ini di salah satu kantor pemerintahan di Jakarta.


Stefan melihat Pak Wesley sedang duduk dengan dua anggotanya di lobi. Segera dia menghampiri.


“Selamat siang, Pak. Apa kabar?” sapa Stefan sambil menjulurkan tangan kanannya.


Pak Wesley agak kaget, langsung berdiri lalu bersalaman dengan Stefan. “Selamat siang, Stefan. Baik dan sehat. Kau apa kabar? Alhamdulillah sekarang badanmu agak berisi.”


Stefan senyum. “Baik juga, Pak. Mungkin karena terlalu lama tidak bertemu jadi agak beda lihatnya, Pak.”


Sebentar mereka ngobrol-ngobrol di lobi. Bagaimana pun situasinya, Stefan masih menghormati Pak Wesley dan tetap respect, namun jika masuk dalam persaingan bisnis, terlebih ini menyangkut harga diri, terpaksa dia harus bersaing dengan mantan atasannya tersebut.

__ADS_1


Jam dua siang. Semua pihak yang terkait dalam acara telah berada di sebuah ruangan tertutup, seperti pemerintah sebagai pihak klien atau pembeli, dan tiga vendor atau penyedia jasa. Menteri terkait turut hadir untuk menilai siapa yang layak memegang project besar kali ini.


Beberapa saat seorang pria berbicara di hadapan para peserta guna membuka acara. Selanjutnya seorang PNS dari Kominfo memberikan paparan singkat terkait aturan dan batasan project, beserta estimasi harga yang harus sesuai dengan kualitas.


Kemudian vendor pertama yakni BerkahNet dipersilakan melakukan presentasi selama lima belas sampai tiga puluh menit. Ketua tim berbicara dengan baik sambil memperlihatkan slide.


Selanjutnya Sanjaya Techno yang diwakili oleh Pak Wesley pula melakukan presentasi. Karena sudah sangat berpengalaman, Pak Wesley tidak kesulitan selama memberikan paparan. Tenang, berwibawa, dan elegan.


Penampilan gemilangnya siang hari ini semata-mata ingin memuaskan hati sang pemilik utama perusahaan, yaitu Bobby Sanjaya. Jika tidak berhasil memenangkan tender, Pak Wesley akan mendapat peringatan tegas.


“Selanjutnya, dipersilakan kepada saudara Stefan, mewakili AlfaTech untuk melakukan presentasi,” ujar pembaca acara.


Stefan pun naik di atas panggung sederhana ini, sembari meluaskan pandangannya, dia mengucapkan salam pembuka dan penghormatan kepada audiens, terutama pihak pemerintah.


“Kami telah menyusun konsep sederhana yang bisa diterapkan di aplikasi rancangan AlfaTech. Penjelasan dari dua orang sebelumnya sangat mengagumkan, terlebih dengan konsep yang mereka tawarkan. Kami memberikan apresiasi.”


Stefan menggeser slide demi slide, dan pandangannya lebih banyak mengarah ke depan, ke wajah orang-orang.


“Sektor prioritas lainnya adalah keamanan ketika penerapan digitalisasi di pemerintahan Di mana sekarang pihak pemerintahan sudah jarang membawa dokumen kertas, tapi sebagian besar sudah beralih ke sistem elektronik. Mengacu pada banyak kasus serangan hacker yang diterima di beberapa situs pemerintahan, maka menurut kami cyber-security menjadi sangat penting dalam penerapan digital signature.”


Stefan menjelaskan secara gamblang. Tidak hanya mengatur nada dan tempo ketika bicara, dia juga menggunakan body language agar audiens lebih gampang memahami pemaparannya.


“Oleh karena itu, saya telah meng-upgrade program SigmaX rancangan saya ke 0.7, untuk saya pasang bersamaan dalam aplikasi dalam upaya memprioritaskan cyber-security.”


Pak menteri terpana. SigmaX? Software terkenal anti malware yang pernah mendunia. Sebagian audiens tercengang heran mendengar penjelasan dari Stefan yang begitu mengagumkan.


Kalau biasanya pengumuman pemenang tender ditunda sampai beberapa hari untuk proses penilaian, maka untuk tender kali ini diumumkan hari ini juga. Berdasarkan penilaian proposal dan pemaparan, baik konsep dan harga, pemerintah sudah bisa menentukan siapa yang berhak menjalankan project ini.


>>>∆<<<


__________


Jangan lupa berikan dukungannya cukup dengan like dan jangan lupa komen di bawah supaya author lebih semangat nulis. Terimakasih 🙏.


Apa Stefan akan mampu membuktikan kepada Bobby Sanjaya?

__ADS_1


__ADS_2