Menantu Benalu Ini Ternyata Hacker Jenius

Menantu Benalu Ini Ternyata Hacker Jenius
97. Rencana yang panjang


__ADS_3

“Grace, kita berhenti di depan sana. Martin menitip sate kambing buat ibumu. Martin tahu bahwa sebagian besar Keluarga Diningrat hobi makan sate kambing,” ucap Stefan sambil melempar telunjuknya ke depan.


Mercy itu pun berhenti. Stefan melepaskan seat bealt yang melilit tubuhnya, membuka pintu mobil, kemudian turun. “Kau tunggulah di sini, Grace,” sambung Stefan lalu menutup pintu mobil.


Stefan mendekat ke penjual sate pinggir jalan tersebut dan memesan dua porsi. Sepuluh menit kemudian, dia pun sudah membawa bungkusan dan kembali masuk ke dalam mobil.


Grace menatap heran dan bertanya dengan datar, “Serius Martin yang nitip?” Grace melajukan mobilnya.


Stefan mengangguk dan menjawab, “Aku tidak mungkin berbohong.”


Sesampainya di rumah Grace, ibunya Grace menyambut dengan senang hati atas kehadiran Stefan. Stefan sudah merancanakan semua dengan penuh perhitungan, karena saat sekarang Pak Arya sudah berada di Swiss, maka dengan begitu dia tidak akan canggung seperti tempo lalu.


Stefan berkata dengan sangat akrab, “Pemberian dari Martin. Pasti Ibu akan senang menerimanya.”


Menerima itu, ibunya Grace tentu senang. “Sampaikan terimakasih berkali-kali lipat kepada Martin. Tahu betul dia apa kesukaan orang di rumah.”


Di ruang tamu, pembicaraan kali ini sepertinya akan lebih intens. Stefan berkata dengan sungguh-sungguh, “Karena Martin adalah bagian dari Keluarga Sudrajat, sudah barang tentu dia tahu kegemaran dari Keluaraga Diningrat.”


Wajah Merlyn berubah serius. “Apakah dia Martin Santoso yang sering diremehkan oleh para kerabatnya?” Ibunya Grace sedikit tercengang. Dulu, dia sempat menaruh rasa rendah kepada keluarga kecil Martin, alasannya karena pengaruh ekonomi.


Jika Martin sukses, berarti dia sendiri sudah berhasil memperbaiki nama baik keluarga kecilnya. Sebuah pencapaian yang tidak pernah terbayangkan oleh siapapun secara bapaknya Martin sangat pemalas dan payah.


Bapaknya Martin hanya mengandalkan sedikit harta warisan untuk bertahan hidup, tidak seperti kerabat yang lain malah sibuk dalam berbisnis maupun membangun karir.

__ADS_1


Grace menatap curiga pada ibunya. “Ibu, nama keluarga ibu sudah membaik di mata Keluarga Sudrajat karena bantuan Stefan.”


Namun, Stefan segera memotong. “Bukan. Kau dan Martin lah yang berperan, aku cuma mendampingi kalian berdua,” elak Stefan sangat serius.


Grace menghela napas lalu berkata heran, “Ibu, ada apa dengan keluarga kecilnya Martin?” tanyanya penasaran.


Merlyn tidak memberikan jawaban jelas kepada putrinya. Cukup lama Merlyn termenung. Namun, ada harap darinya agar Martin bisa membawa perubahan, bahkan tidak hanya bagi keluarga kecilnya, melainkan bagi Keluarga Sudrajat secara umumnya.


Stefan mengedikkan bahu lalu berkata sungguh-sungguh, “Sekarang adalah momen yang pas untuk memperbaiki nama baik. Aku rasa, jika Martin berjodoh dengan Grace tentu akan kembali mempererat hubungan antara Keluarga Diningrat dan Keluarga Sudrajat.”


Stefan juga menyampaikan kepada ibu Grace soal peran serta Grace dalam membantu salah satu start up baru milik Sudrajat Corp. Mengetahui hal tersebut, ibunya Grace berkomentar senang, “Grace, jika kau berhasil, berarti kau telah membuat nama baik keluarga ibu menjadi harum kembali di mata mereka.”


Lalu, Merlyn pun membayangkan bagaimana seandainya putrinya tersebut bersanding dengan salah satu putra dari Keluarga Sudrajat. Sebelum Merlyn terlampau jauh dalam lamunannya, Stefan memecah keheningan itu.


“Martin akan diangkat menjadi CEO di Su.Co. Karena start up baru, aku yakin Martin bisa meng-handle-nya karena dia punya banyak pengalaman baik di AlfaTech maupun di Nano-ID,” ujar Stefan membangga-banggakan Martin di hadapan ibunya Grace.


Grace memperbaiki posisi duduknya karena dihantam ketidaknyamanan, lalu bertanya dengan dingin, “Stefan, apakah Martin tahu akan hal ini?” Wajah Grace dihantui rasa penasaran. Hingga sekarang dia masih heran dengan semua perubahan sikap Stefan.


Stefan memutar kepalanya dan menatap Grace dengan pandangan serius. “Aku menghabiskan dua cangkir kopi bersama Martin. Terlalu banyak hal yang kami bahas. Maka dari itu aku cukup tahu tentang keluarga besar kalian.”


Grace membuang pandangannya. Perlahan kedua sudut bibirnya melengkung ke bawah. Grace bergeming.


Stefan membaca raut muka Grace yang berubah signifikan. Dia tidak ingin ada hati yang terusik. “Grace, ibumu akan sangat senang jika kau dan Martin jauh lebih kompak daripada hanya rekan kerja.” Stefan mengalihkan pandangannya ke Merlyn. “Iya kan, Bu?”

__ADS_1


Meski keluarga kecil Martin sempat jatuh karena ulah bapaknya, Merlyn mengubah sudut pandangnya terhadap mereka, apalagi Martin akan menjadi CEO di salah satu bisnis milik Sudrajat Corp.


Merlyn tentu akan berbesar hati jika putrinya bersanding dengan Martin, putra terbaik yang membawa perubahan besar.


Karena Martin sangat tertutup soal keberadaannya, sampai-sampai Pak Arya saja tidak mengetahuinya padahal Martin hampir sama seperti Stefan bagi Pak Arya, dari segi apapun, seperti kedekatan dan kepercayaan.


Atau bisa jadi memang Pak Arya orangnya tidak terlalu ingin tahu mendalam persoalan keluarga bawahannya, jika memang sebaliknya, seharusnya Stefan tidak masuk hitungan karena status Stefan yang tidak jelas.


Stefan menyambung dengan nada menekan dan yakin, “Pak Arya dan saya bersaksi bahwa Martin adalah pria yang sangat tepat untuk  Grace!”


Tiba-tiba, Grace berdiri. Dia meninggalkan ruang tamu dan masuk ke kamarnya tanpa ada sepatah kata pun yang keluar dari lidahnya.


Untuk mencairkan suasana yang sepertinya sedikit tegang, Stefan berkata dengan canda, “Hm, aku yakin Grace sedang berbunga-bunga hatinya. Bu Merlyn, tentu pas jika mereka berdua menikah.”


Lalu, Stefan merendahkan dirinya agar di mata ibunya Grace, Stefan sangat tidak layak jika masuk ke keluarga ini. “Bu, Martin sangat lebih baik daripada saya dari sisi background keluarga. Aku hanya menang menjabat sebagai CEO di Nano-ID, tetapi tidak ada yang bisa diandalkan pada diriku. Siapapun akan tahu bahwa Martin lebih baik daripada aku.”


Merlyn cukup kaget mendengarnya. Jika Stefan tidak berkata seperti itu, dia pun tahu bahwa Martin berada di atas Stefan apabila dilihat dari sisi latar belakang keluarga karena dia cukup tahu cerita Stefan.


Namun, Merlyn tidak ingin Stefan terlalu jatuh di matanya. Dia menjawab, “Kalian berdua punya kelebihan dan kekurangan masing-masing.”


Stefan mengangguk. “Hanya saja, aku lebih banyak kurangnya, Bu,” ucap Stefan rendah hati. “Jika Ibu tahu, bahkan aku pernah berkali-kali dicampakkan wanita karena statusku.”


Jika Stefan membicarakan ini pada Pak Arya, jelas tanggapannya akan berbeda, lelaki akan lebih berpikir panjang dan jauh, terkadang keputusan akan keluar dalam waktu yang lama.

__ADS_1


Pada saat ibunya Grace, selaku wanita, di mana keputusan bisa terucap saat ini juga, tentu dia tidak akan berpikir lebih panjang dan jauh.


Stefan yakin, jika Pak Arya mendapat masukan dari istrinya, dia akan memberikan keputusan yang selaras dengan keinginan istrinya tersebut.


__ADS_2