Menantu Benalu Ini Ternyata Hacker Jenius

Menantu Benalu Ini Ternyata Hacker Jenius
34. AlfaProtect


__ADS_3

“Selamat datang di rumahku!” sambut Theo ceria sambil menjulurkan tangan kirinya ke arah mulut pintu.


Stefan hanya bisa tersenyum geli sebab sedari tadi selama perjalanan pulang dengan menumpang di mobilnya Theo, tak henti lagi dia terpingkal-pingkal. Theo masuk, lalu disusul oleh Stefan.


“Stefan, ingatlah, jika kita tidak bisa menembus firewall dan mengambil alih server, kita bisa menggunakan teknik social engireering. Theo mencopot dua sepatunya tanpa melepas ikatan tali, sebuah tingkah lumrah, tapi ganjil. 


Lalu dia meletakkan sepatunya di atas meja di samping pot bunga, kalau ini jelas makin ganjil. Theo buru-buru keluar rumah lagi, lalu membuang permen karetnya yang sudah pucat pasi dengan gerakan seperti Sasuke mengeluarkan jurus Katon, bola api.


Phiew!


“Kau tinggal sendiri?” tanya Stefan celingak-celinguk.


Stefan terpana. Sepertinya Theo sangat terobsesi dengan anonymous sebab tak kurang dari dua puluh foto dan lukisan wajah bertopeng itu menempel di dinding-dinding biru menyalak rumahnya.


“Yoi, Bro! Orang tuaku semuanya di Jerman!” jawab Theo sambil melempar tubuhnya ke atas sofa empuk berwarna jingga, lalu dia menyelonjorkan kakinya dan menyandarkan kepalanya.


Setelah membuka sepatu, Stefan mendaratkan pantatnya di sofa, masih saja dia mengerling ke seisi rumah. “Warna-warnanya semarak sekali, Bro!”


Theo menyipitkan matanya, lalu mencomel, “Mentang-mentang aku dari Jerman dan hobi warna semarak, lantas kau menuduhku manusia homo ya!”


“Ha-ha-ha. Sempat ada kecurigaan seperti itu. Tapi, tidak ada homo yang punya jiwa humor tinggi seperti dirimu, Bro!”


“Oh iya. Tadi kita bahas banyak soal social engineering. Asal pintar ngomong, kita mudah mendapatkan sesuatu.”


Dengan santainya Theo berceloteh tentang pengalaman dia sewaktu menjadi mahasiswa dan pengangguran. Waktu itu dia belum cukup mahir dalam bidang IT. Karena pintar ngomong, dengan mudahnya dia memanfaatkan wanita supaya mulutnya terus mengunyah dan perutnya tidak kriut-kriut.


Theo meneruskan, “Processor wanita, alias otaknya, itu lemah. Jika kita sudah bisa menguasai jaringan inti, yakni hati, kita dengan mudah menguasai wanita. Tidak perlu mengirimkan malware jenis apa pun, dipastikan dia akan tunduk.” Si bujang menutup khotbahnya dengan berdecak-decak.


Padahal, pria yang sedang mendengarkan kisah romansa tersebut merupakan seorang duda yang telah merasakan pahitnya hidup. Analoginya, seperti kucing yang mengajarkan kepada harimau bagaimana cara berburu, atau tak ubahnya seperti kadal mengajarkan buaya berenang.

__ADS_1


Stefan takjub bukan karena isi omongan Theo yang tidak berbobot, tapi cara penyampaiannya yang kocak. Bingung Stefan mencernanya, entah Theo ingin serius atau cuma berkelakar. Karena seru, Stefan menyuruh Theo agar terus berbicara.


Theo bangkit, lalu membentangkan kedua tangannya seperti elang yang hendak terbang, tapi tatapannya tak setajam elang, hanya pandangannya berubah cukup serius. “Tapi, ada orang yang lebih jago social engineering dari pada aku.”


Stefan penasaran. “Siapa orang yang telah menggeser kursi kekuasanmu, Kocak?”


Hitam mata Theo berputar setengah lingkaran dan dia teringat dengan wajah seseorang. “Siapa lagi kalau bukan Alan, ketuamu?!”


“Ketua kau juga itu mah!”


Theo manggut-manggut semacam kerasukan jin disko. “Oke, ketua kita sama-sama. Dia itu pandai bicara dan lihai pula mengambil hati atasan,” gunjing Theo kesal. “Alan tidak punya kapabilitas, integritas, dan jiwa leadership. Dia hanya modal koar-koar. Kalau bukan karena anggota, bisa apa dia ha?!” cecar Theo memandang remeh.


“Kau sudah pernah satu tim dengannya?”


“Ini yang kedua. Makanya aku ingin keluar. Tak tahan aku dengan tingkahnya. Dia tidak bisa mengatur dan memberikan koordinasi yang maksimal terhadap setiap anggota tim. Jika dia tidak becus, wajar dong kalau aku mengeluh.”


Stefan mulai mengerti duduk persoalannya. Selama beberapa hari ini dia terus membaca situasi yang ada di kantor, terlebih di dalam ruang kerjanya bersama tim 7. Bagaimana pun keadaanya Stefan ingin agar project ini selesai. 


Pengerjaan program anti malware yang diberi nama AlfaProtect hanya menyisakan satu pekan lagi. Jika project tidak selesai, setiap orang akan mendapatkan sanksi yang cukup tegas dari perusahaan. Maka dari itu, Stefan sepertinya harus membuang masalah pribadi di antara anggota tim.


Stefan dan lainnya pada sibuk masing-masing di dalam ruang kerja. Bukan sibuk membantu pekerjaan rekannya, Stefan malah merancang sebuah trojan, dalam upaya menguji seberapa kuat AlfaProtect. Stefan mengirimkan sebuah file ke komputer milik Alan.


Selang beberapa menit, sistem di komputer Alan tersebut melemah, lemot, lalu down, hitam layarnya. Alan hampir terlonjak karena saking terkejutnya. Mulutnya menganga tak percaya. Diawasinya komputer anak buahnya pada menyala semua.


“Tidak mungkin bisa seperti ini kecuali hanya dilakukan oleh orang yang berada dalam satu jaringan. AlfaProtect sudah aku pasang dengan rapi. Tidak mungkin komputerku mati jika di antara kalian tidak ada yang berbuat sesuatu.” Alan berdiri lantang mengawasi Liam, Stephanie, Theo, dan Stefan.


Kritis, Liam langsung melempar tuduhan terhadap Stefan. Ditunjuknya Stefan sembari berucap keras, “Kau mengakulah Stefan. Tidak ada dari kami yang mau melakukan kejahatan seperti itu. Berani-beraninya kau berbuat demikian terhadap ketua tim kita.”


Alan menimpali. “Kau benar, Liam. Sepertinya Stefan sengaja melakukannya.” Alan mulai gusar. Kecurigaannya selama ini akhirnya semakin kuat bahwa Stefan hanya seorang penjilat, ujung-ujungnya menggeser posisinya sebagai ketua.

__ADS_1


Stephanie malah menjerit, “Aaagrrh! Bagaimana kalian ini? Kenapa malah ribut sih?”


Theo malah asyik mengunyah permen karet. Jika Alan dan Liam mengeroyoki Stefan, Theo tidak akan tinggal diam. Dia masih santai mengangkat kakinya sambil mendengar percakapan ini.


Alan mengernyit, darahnya mulai mendidih. “Mentang-mentang kau bawaan dari Pak Arya, lantas kau bisa berbuat seenaknya.”


Liam lebih memihak Alan ketimbang Stefan. “Project ini terakhir buatmu, Stefan. Setelah ini, silakan kau cari tim lain.”


Karena sepertinya tidak ada suara yang terdengar, setelah mengatur napas, Stefan baru angkat bicara.  Stefan berdiri dengan tegap, kemudian mengawasi satu per satu wajah-wajah orang di dalam ruangan ini.


“AlfaProtect sudah cukup baik dalam scanning, mendeteksi, membersihkan, dan menjaga. Jenis malware seperti virus, worm, rootkit, ransom, dan spyware, bisa diatasi semuanya. Aku hanya ingin mengetes seberapa kuat AlfaProtect. Lihatlah hasilnya.”


Theo semakin keras mengunyah. Mulutnya bergoyang-goyang. Perlahan ada beberapa kerutan timbul di jidatnya. Masih saja tidak mau bicara karena memang sudah malas bicara dengan Alan.


“Kau benar, Alan, karena masih berada dalam satu jaringan. Trojan tersebut tidak akan bisa beraksi jika aku mengirimnya dari jaringan luar. Konklusi yang bisa ditarik adalah jika AlfaProtect ini dipasang dan berhasil, namun bisa lumpuh juga jika diserang oleh orang dalam,” sambung Stefan gamblang.


AlfaProtect belum secanggih SigmaX rancangan Stefan. Setelah tahu beberapa kelemahan AlfaTech, Stefan memberikan saran kepada Alan bahwa dia akan menambahkan beberapa fitur program guna dipasangkan di AlfaTech.


Meski niat baik Stefan sudah jelas, Alan masih saja memberikan tatapan sinis dan rasa kurang senang terhadap Stefan. Begitu juga dengan Liam. Dia malah tak begitu mengindahkan tindakan dan saran dari Stefan, dan kembali bekerja di depan komputer.


“Bagaimana, Alan? Aku juga menjamin dua hari lagi pekerjaan kita akan rampung.”


Alan melipat tangan di dada. “Apa yang kau inginkan?” tanyanya.


“Tidak ada yang aku inginkan. Aku hanya ingin project ini rampung dan kita tetap bisa bekerja sama dengan baik. Tidak ada rasa curiga dan benci terhadap satu sama lain.”


Theo memutar kursinya dengan malas lalu melanjutkan pekerjaannya. “Stefan, kembali bekerja!” sahutnya menahan tawa.


“Diam kau keturunan Nasi!” bentak Alan.

__ADS_1


Theo memutar kursinya lagi dengan cepat, berdiri, lalu menembak wajah Alan dengan permen karet dari dalam mulutnya.


Phiew!


__ADS_2