
Malam ini di kediaman Bobby Sanjaya.
Lionny mengaparkan satu berkas dokumen yang sangat diharap-harapkan di atas meja ruang keluarga. Bobby yang tengah duduk gagah pun meraihnya, lalu membacanya dengan sangat detail.
Lebih dari lima menit kemudian ekspresinya berubah. Bobby terpana, “Lionny, apa yang kau lakukan di kantor Nano-ID? Bagaimana bisa kau mendapatkan kontrak kerja sama ini?”
Lionny menghadap ayahnya, lalu berkata semangat, “Jelas aku membawa nama besar Keluarga Sanjaya. Omonganku sama seperti Robert, hanya saja penyampaian dia yang keliru. Cara bicara orang dewasa dan anak kecil jelas berbeda.”
Mendengar itu, Robert menghempaskan ponselnya di sofa, lalu menyergah dengan nada menusuk, “Jangan bilang pada kami kalau kau memakai cara kotor. Secara, asisten CEO adalah seorang pria bujang. Bisa jadi kau mengandalkan kegenitanmu untuk menarik perhatian dia.”
Bukannya menghargai, Robert malah berpikiran buruk terhadap kakaknya sendiri. Robert tidak terima jika Lionny berhasil mendapatkan kontrak kerja sama itu. Baginya, itu sangat mustahil. Oleh karena itu, dia sebisa mungkin mencari alasan untuk melenyapkan kekalahannya.
Robert berkata licik, “Ayah, coba lihat baik-baik! Apa benar dokumen itu berasal dari Nano-ID? Bisa jadi cucu kesayangan kakek kita ini menipu!” Robert memberengut.
Bobby sampai memperhatikan jeli tanda tangan dan cap basah itu. Secara beliau merupakan orang yang sangat berpengalaman, tentu tidak bisa dipermainkan oleh sesuatu yang palsu. Bobby, meskipun kadang bodoh juga, tapi beliau cukup teliti dan tidak ingin dipermainkan oleh siapa pun.
Lionny tersenyum puas. “Aku sudah berhasil. Bisakah orang di sini percaya terhadapku?”
Luchy yang masih ingin menikmati hidup tak banyak tingkah malam ini. Otak remajanya tak mampu memikirkan omongan balasan. Dia malah sibuk memainkan media sosialnya.
Chyntia ada rasa bangga. Dia hanya ingin setiap anaknya mampu membuktikan kepada mereka bahwa penerus Keluarga Sanjaya bisa diandalkan. “Ibu salut padamu. Sekarang, kau merupakan anak yang bisa diandalkan,” ucapnya hampir terharu.
Bobby sanjaya menaruh dokumen itu, lalu berkata, “Lionny tidak bohong. Dokumen itu asli. Baiklah, Ayah akui kalau kau mampu, Lionny. Ayah tidak sia-sia menempatkan kau sebagai sekretaris Sanjaya Techno. Ke depannya, Ayah akan mengandalkan kau dalam membangun kerjasama dengan Nano-ID. Aku yakni Sanjaya Techno akan segera bangkit.”
Wajah Robert makin masam. Dia masih memikirkan, kira-kira apa lagi yang bisa dia katakan untuk memojokkan Lionny. Namun, dia kian bergeming. Jika ayahnya saja sudah mengakui, sepertinya saat ini dia mati kutu. Robert membatu.
Tiba-tiba Bobby bertanya, “Apa kau bertemu dengan mantan suamimu yang payah itu?”
__ADS_1
Vionny menggeleng. “Manager HRD sendiri bilang bahwa tidak ada OB bernama Stefan!”
Bobby langsung melempar pandangannya ke arah Robert. “Kau bohong! Katamu, Stefan jadi OB di sana!”
Robert tidak mungkin diam karena mata dan ingatannya tidak mungkin salah. “Sumpah! Aku lihat sendiri dia bersama temannya di pos penjagaan. Mereka tukang sapu! Jelas itu Stefan!” tepis Robert, nada bicaranya tinggi, seperti pemain yang menolak kartu merah.
Lionny malah tersenyum getir. “Jika aku berbohong, berarti Pak David juga berbohong, dan berarti dokumen ini juga bohong. Bagaimana menurut Ayah?”
Kening Bobby jadi berkerut dibuatnya dan memaksanya berpikir lebih keras. Namun, jika dipikirkan lagi, sepertinya Lionny berada dalam posisi yang benar menurut Bobby.
“Robert, sepertinya yang kau lihat itu bukan Stefan. Lagi pula, jika dia memang benar-benar menjadi petugas kebersihan, bagaimana bisa?” kening Bobby makin mengernyit. Lalu, helaan napas panjang pun keluar dari mulutnya.
Robert kira ini pasti akal-akalan Lionny saja untuk menjatuhkannya di mata satu keluarga. Dia pikir, Lionny masih menyimpan rasa terhadap mantan suami tidak berguna itu. Tentu Lionny akan memberikan pembelaan.
“Apa nama temannya itu Ryan?” tanya Lionny.
“Kata Manager HRD, Ryan merupakan orang yang bermasalah bagi CEO Nano-ID. Dia mendapat hukuman.” Lalu Lionny mengalihkan pandangannya ke arah ayahnya dan berkata, “Ayah, kira-kira, lebih mungkin OB yang berbohong, atau manager HRD?”
Pertanyaan itu makin menenggelamkan Robert dalam lumpur hinaan. Jelas Bobby akan menjawab OB yang akan berbohong, dan jika memang seperti itu, berarti Robert yang bermasalah.
Bobby berkata dingin, “Robert, ini menjadi peringatan pertama bagimu sekalu seorang manager di Sanjaya Group. Ayah harap kau tidak mengulangi kesalahan ini lagi. Sungguh kami kecewa dengan sikap dan kegagalanmu.”
Meski tidak bisa berjumpa dengan Stefan, at least dia mendapatkan kemenangan besar ini.
...
Di lain tempat yang sangat jauh, Stefan yang baru saja kelar mengurus AlfaTech, menghubungi Martin via telepon dan menanyakan perkembangan Nano-ID sejauh ini.
__ADS_1
“Tuan CEO, saya harap segera pulang. Sungguh saya tidak bisa bekerja sendirian. Terlalu banyak.”
Stefan malah tersenyum dan menjawab, “Kau lima tahun lebih di bagian negosiasi. Saya yakin bisa.”
“Saya takut salah dalam mengambil keputusan, Pak Stefan. Bagaimana nanti kalau saya salah langkah?”
“Jangan pernah takut. Jika ragu, cepat kau telepon saya.”
“Ada tiga orang dari pihak pemerintah datang ke kantor dan mereka hanya ingin bicara sama Pak Stefan.”
“Saya tahu apa yang ingin mereka bicarakan. Sudah ada pembicaraan awal lewat HP. Biarlah itu nanti saya yang akan urus.”
“Baik, Pak. Lalu, ada beberapa perusahaan yang track record mereka bermasalah, baik dalam penggunaan anggaran maupun teknis. Mereka sepertinya tidak bisa diajak bekerja sama dengan baik.”
“Berapa banyak? Apa perusahaan Sanjaya Group termasuk di dalamnya?”
“Dua puluh tiga. Ya, Sanjaya Techno. Dalam satu tahun lebih terakhir mereka sering bermasalah dengan pihak klien, makanya mereka selalu kalah dalam tender.”
Stefan cepat merespons. “Pinggirkan dulu minus Sanjaya Techno. Bagaimana dengan wanita bernama Lionny itu? Apa ada kendala dalam berurusan dengannya?”
“Dia tampak menawan dan cekatan. Saya rasa, dia pantas mendapatkan sematan Sanjaya di belakang namanya. Dia akan diterima jika melamar di perusahaan mana pun.”
Saat ini, Stefan cukup terkejut mendengarnya. Dia tahu bahwa mantan istrinya itu orang yang cukup diperhitungkan setelah lulus kuliah, namun Lionny tidak ada bakat kecuali memasak dan mengurus dirinya selama tiga tahun penuh.
Logika Stefan berputar sembilan puluh derajat. Langsung terbayang dalam benaknya sosok wanita yang setia dan perhatian selama bertahun-tahun, menjaganya, merawatnya, dan membelanya. Namun, sekarang dia dipaksa untuk membayangkan seorang Lionny menjadi sekretaris di kantor.
Stefan bertengkar batin sendiri dan mencoba menerima kenyataan membingungkan ini. Lalu, dia perlahan menerimanya. Alasannya, Lionny terlahir dari keluarga pebisnis, jika dia menghabiskan waktunya di dapur seperti ibunya, keluarga itu akan terseok-seok ke depannya nanti apalagi Lionny merupakan anak sulung.
__ADS_1
Sah-sah saja bagi Stefan, Lionny menjadi sekretaris. Itu berarti, Lionny akan sangat butuh dengannya.