Menantu Benalu Ini Ternyata Hacker Jenius

Menantu Benalu Ini Ternyata Hacker Jenius
104. Wanita asing


__ADS_3

Malam harinya, Stefan beristirahat di salah satu hotel yang cukup ternama di Surabaya. Dia harus tidur cukup karena besok pagi sudah harus berangkat lagi ke Jakarta.


Namun, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kamarnya. Stefan yang hanya pakai celana pendek dan bertelanjang dada pun langsung mengambil kaos oblong dan segera membukakan pintu.


Baru saja pintu terbuka, seorang wanita dengan memakai rok mini dan tampak belahan di dadanya berbicara tergesa-gesa. “Anda Stefan? Tolong saya!” Mata wanita itu nanar dengan wajah kebingungan.


Seketika Stefan agak heran atas kehadiran wanita ini. “Siapa Anda? Saya tidak mengenal Anda?” tanyanya dengan raut muka penasaran.


“Nama saya Helena. Saya butuh pertolongan Anda. Bolehkan saya masuk?” katanya penuh harap.


Stefan pikir, ‘Orang ini seperti ingin pergi ke kleb’. Stefan menjawab, “Sebentar, Anda ke sini dengan siapa? Siapa yang telah menyuruh Anda?” Stefan tidak bakal gegabah dan salah dalam mengambil sikap.


“Sebaiknya saya masuk dulu, Pak Stefan. Soalnya cukup panjang penjelasan dari saya,” kata Helena dengan tatapan terburu-buru.


Stefan menghela napas panjang. “Oke, baiklah.” Stefan memberikan sebuah kursi kepada Helena dan dia duduk di atas kasur. “Ceritakan apa masalahmu.”


Wanita itu mengangkat paha kanannya dan meletakkannya di atas paha kiri. Pada saat dia melakukannya, sempat Stefan jadi salah tingkah.


Helena cantik karena riasan di wajahnya. Parfum vanillanya semerbak luar biasa. Pria mana pun yang melihat keseksiannya, pasti akan naik nafsunya.


Helena manaruh tasnya di atas meja, lalu berkata, “Saya bekerja di sebuah perusahaan swasta. Sekarang saya disuruh oleh bos untuk meminta kepada Pak Stefan langsung, agar sekiranya perusahaan tempat saya bekerja tersebut bisa diterima proposal kerjasamanya.”


Stefan berdiri. “Oke. Besok temui saya langsung di kantor Nano-ID. Sekarang saya mau istirahat.”


Wanita itu menggeleng keras. “Tidak bisa seperti itu, Pak Stefan. Jika malam ini saya gagal, saya bisa dipecat, bahkan lebih parah dari itu. Saya akan diperlakukan tidak pantas oleh bos.”


“Apa nama perusahaan tempat kau bekerja?”

__ADS_1


Helena tidak mau menjawabnya karena baginya rahasia. Dari sini Stefan mulai curiga. Sepertinya ada yang tidak beres dari wanita ini.


Stefan duduk lagi, lalu berkata, “Sekarang saya tidak mau diganggu. Jika ingin bahas soal bisnis, besok bisa langsung ke kantor.”


“Proposal yang kami ajukan begitu lama direspons. Jika malam ini tidak ada hasil yang saya dapatkan, apakah Pak Stefan tega akan menganggur dan bakal lebih parah dari itu?” Helena tertunduk.


Stefan makin heran. “Bagaimana mungkin saya bisa menerimanya, sementara saya saja tidak tahu tempat kau bekerja? Jika butuh uang, akan saya beri sekarang, lalu pulanglah!” Stefan mulai resah.


Helena meringis seperti menahan sesuatu. “Saya punya utang yang banyak sama bos, jika tidak bisa menuruti perintahnya sekarang, saya dan keluarga saya bakal terancam.” Helena mengusap matanya seperti ingin menangis.


Stefan malah terharu. “Saya akan bantu lunasi utangmu.”


“Tapi, malam ini izinkan saya menginap di sini, Pak Stefan. Saya takut pulang.”


Stefan berpikir keras. Apa yang sudah dikatakan Helena barusan? Ah, Stefan tidak mungkin juga menelantarkannya. “Akan saya pesankan satu kamar untukmu.”


Stefan memegang kepalanya sendiri. Ada banyak pertanyaan yang terbersit di kepalanya. Apa Stefan sedang ditipu? Atau Helena hanya suruhan seseorang untuk menjebaknya? Atau mungkin Helena sudah gila?


Stefan dari tadi tidak menatap Helena lurus-lurus, hanya melirik beberapa kali. “Oke. Silakan kau tidur di kasur. Saya akan tidur di bawah saja.”


Helena tersenyum riang. Dia berdiri, lalu histeris dan dengan sengaja memeluk Stefan. Tapi, Stefan langsung menghindar. Ada sentuhan dari Helena mengenai bagian dada Stefan.


Helena tersungkur di atas kasur. Paha putihnya berteberan. Dia sengaja tengkurap agak lama untuk menarik perhatian Stefan.


Akan tetapi, Stefan tidak meresponsnya. “Jangan bertingkah aneh. Silakan tidur dan jangan ganggu saya.”


Helena duduk bersila dengan memampang wajah cemberut. Bibirnya berkedut-kedut manja. Matanya seksi karena bulu matanya yang ditebal-tebalkan. “Terima kasih, Pak Stefan. Jika butuh teman ngopi atau minum yang lain, seperti bir, atau wiski, boleh akan saya temani.”

__ADS_1


Stefan tersentak kaget. Dia mengusap keningnya sendiri. Makin lama, makin tidak beres. Tentu Stefan tidak bodoh. Ah, birahinya sangat naik saat ini, hanya saja logika masih bekerja normal.


Jika Stefan tidak mampu mengontrol dirinya, tentu malam ini akan menjadi malam yang hangat. Namun, Stefan tidak ingin terjebak. Dia masih berpikir, apa modus Helena?


Stefan duduk menghadap tembok. Kedua lengannya bertumpu di atas sebuah meja. Lalu, Stefan menyibukkan diri dengan main HP.


Helena menatap punggung yang teguh itu dan berkata, “Pak Stefan, kenapa Anda masih duda? Padahal Anda merupakan seorang yang kaya raya.”


Tanpa menoleh, Stefan membalas, “Saya nanti akan menikah. Tidurlah, saya mau bekerja malam ini.”


Namun, Stefan pada akhirnya tertidur pukul dua pagi. Justru Helena yang tidak tidur sama sekali. Ketika Helena tahu bahwa Stefan telah pulas, dia pun berdiri dan bermaksud mengecek.


Helena pikir, ‘Stefan sungguh tampan. Wajar Lionny masih tergila-gila.’


Pagi harinya, saat Stefan telah terbangun, dia pun terkejut di atas meja sudah ada kopi dan roti. Dan Stefan sangat terkejut begitu dia mengucek-ngucek matanya dan menoleh ke belakang, dia melihat Helena hanya memakai sehelai handuk putih dengan rambut bergelung dijepit satu.


“Silakan diminum, Pak Stefan,” ucap Helena dengan nada penuh godaan.


Stefan yang masih mengumpulkan nyawanya pun menyeruput kopi tersebut sekali. Tak dinyana, entah pengaruh kopi, atau pengaruh suasana pagi yang masih dingin, atau mungkin pengaruh birahi karena sudah lama menduda, tiba-tiba nafsu Stefan naik.


Rencana Helena berjalan lancar. Tadi pagi-pagi buta, dia mencampurkan sesuatu ke kopi Stefan sehingga ketika Stefan sudah mengkonsumsinya, akan ada sebuah perubahan pada diri Stefan. ‘Rencanaku berhasil’, batin Helena bangga.


Stefan pun masuk ke kamar mandi, mencuci wajahnya, dan menggosok gigi. Bagi siapa saja yang hidup berumah tangga, atau mungkin bagi mereka yang hobi mesum, situasi saat ini tidak mungkin terelakkan. Dari segi apapun, hubungan badan pasti akan terjadi.


Stefan keluar dari kamar mandi dan melihat Helena sudah terlentang lemas. Stefan mengusap bibirnya seraya mengerjap-ngerjap. “Kau seksi sekali,” puji Stefan.


Lalu, Helena pun mengubah posisinya menjadi duduk sehingga ada bagian tubuhnya yang harus terlihat, baik atas maupun bawah. Helena menyandarkan punggungnya, lalu menyingkirkan bantal-bantal.

__ADS_1


Helena mendesah, “Anda tampan dan gagah, Pak Stefan. Sebelum pulang dan mengurus bisnis kerjasama kita, maukah Anda bercinta denganku?” Helena menggigit bibirnya sambil mengedipkan sebelah matanya. Suara dan tatapannya begitu menggoda. “Ayo kita bercinta!”


__ADS_2