
Tuan Stone berpenampilan semarak. Kaos pantai yang melekat di badannya seperti pelangi. Dari kejauhan, dia akan tampak seperti lolipop. Jika diamati dari dekat, mata akan silau dengan emas dan berlian di tubuhnya. Ketika senyum, orang juga akan silau oleh emas di salah satu giginya. Meskipun sudah punya istri tiga, pria paruh baya yang hobi **** itu masih sangat kuat meladeni banyak wanita.
Sudah tiga hari Tuan Stone berada di Jakarta. Lebih dari sepuluh wanita cantik sudah ditidurinya dengan bayaran paling tidak sepuluh juta rupiah. Tuan Stone tidak mau berangkat ke tempat prostitusi harga ratusan ribu rupiah. Bagi Tuan Stone, sama saja seperti memasukkan lidi ke lobang botol aqua.
Entah senjatanya memang laras pendek dan imut, atau mungkin sasaran tembaknya terlalu melar seperti goa. Entahlah, dia saja bingung. Tuan Stone, jika berkunjung ke suatu tempat untuk mengurus bisnis, dia pasti akan mencari asupan bergizi tinggi, ya asupan buat nafsu jahatnya.
Oleh karena itu, Tuan Stone tidak pernah memilih wanita receh meskipun cantik. Ada standar-standar tertentu yang dipasang oleh Tuan Stone. Misal, karyawan kantor berkelas, selebram, ayam kampus paling cihui.
Serunya, Tuan Stone sudah berkali-kali main dengan artis ternama dengan bayaran sangat mahal. Orang kaya memang punya hobi yang unik. Hanya saja hobi seperti Tuan Stone tidak untuk ditiru. Namanya, apa memang sekeras kekuatannya?
Jika Tuan Stone sudah memberikan penawaran, sangat jarang urung terjadi. Parah, Tuan Stone menawar Lionny milyaran hanya untuk satu malam. “Kalian bisa bagi dua!” lolong Tuan Stone, lalu kembali mengisap asap cerutunya.
Mike menaikkan sebelah alisnya dan berkata, “Ada banyak wanita yang kalau sudah bersenang-senang dengan Tuan Stone, pasti ingin mengulang. Mereka merasakan nikmat, dan dapat uang cuma cuma. Kau bisa dapat bagian yang banyak dari uang itu!”
Tawaran yang sungguh keterlaluan. Jadi mereka pikir, Lionny seperti lont3? Astaga! Darah Stefan naik. “Kalian salah orang!”
Tuan Stone menjerit lagi. “Kau germo-nya kan ha? Akan aku siapkan kau kamar hotel bagus di Jakarta untuk menunggu kami bersenang-senang! Akan aku belikan kau minuman apa saja!” Tuan Stone menggagahkan diri di depan Bugatti-nya.
“Kalian!” Stefan marah. Ditepuknya dada Mike. “Aku tidak senang kalian bicara seperti itu! Dia Lionny, calon istriku!” Stefan menggeram. Tangan kanannya sudah siap.
Mike pun menggertakkan jari jemarinya dan siap akan menghadapi Stefan. Tapi di sekitar taman ada beberapa orang, tidak mungkin akan membuat keributan. “Kau bisa dapat banyak secara cuma-cuma.”
Oh tidak, Tuan Stone hanya berpura-pura. Meski dia memang hobi berfoya-foya, tapi dia tidak bodoh. Mana mungkin dia rela keluar uang sampai lebih dari tiga milyar hanya untuk sekali bermalam dengan seorang wanita. Tidak, tidak seperti itu.
__ADS_1
Tuan Stone hanya mempermainkan Stefan. Dia memang naksir dan nafsu sama Lionny, tapi tidak dengan harus menggelontorkan dana begitu banyak. Palingan Tuan Stone berani bayar Lionny lima puluh juta dalam semalam, setara dengan artis dan selegram terkenal yang biasa diajaknya tidur.
Dengan demikian berarti Lionny sudah berada pada standar tinggi Tuan Stone sendiri. Ya, kecantikan dan keanggunan Lionny jelas punya nilai jual tinggi, sampai-sampai Lionny, bagi Tuan Stone, sama seperti artis terkenal.
Tuan Stone memakai kacamata besarnya, lalu berkata keras, “Hei bocah! Aku juga akan kasih kau uang satu juta buat pesan satu orang pelacur untuk menemani malammu!” Tuan Stone mengibar-ngibarkan kaosnya seperti kegerahan.
Stefan emosi. “Kau! Kurang ajar!” Dia ingin beranjak tapi dihalau oleh Mike.
“Mau apa kau ha?” dengus Mike sambil melotot bengis. “Cuma satu malam kok. Jika ditombak semalam penuh, pintu itu tidak akan rusak!”
Stefan meludah. “Cuh!” Sontak Stefan langsung memberikan sebuah pukulan dengan tangan kanannya, namun Mike dengan mudah menggenggam kepalan tangan Stefan.
“Kau mau memukulku?” Mike mencengkeram erat tangan Stefan, lalu memelintirnya.
Lionny histeris dan langsung menarik Stefan agar menjauh dari Mike. “Pergi kalian, atau aku akan teriak supaya kalian digebuki.”
Tuan Stone jelas tidak ingin ada keributan karena Jakarta bukan tempat miliknya. Dia berjalan santai dan mendekat, lalu berkata dingin, “Dari awal anak buahku sudah memberikan penawaran bagus. Kami sudah sopan.”
Mike menyapu telapak tangannya. “Aku tidak ingin berkelahi denganmu. Aku hanya ingin agar bosku bisa bercinta dengan wanita di sampingmu. Setelah itu, kau dan wanitamu, entah dia siapa, akan mendapat bayaran banyak.” Mike terus berusaha meyakinkan agar Stefan mau menerima tawaran.
Tuan Stone menghembuskan asap cerutunya dan berkata, “Jika tidak bersedia satu malam penuh, izinkan aku untuk bercinta dengannya hanya satu jam saja.”
Nafsu Tuan Stone sudah meledak-ledak, padahal baru baru siang tadi dia habis bercinta dengan seorang wanita cafe.
__ADS_1
Tuan Stone menatap dengan birahi yang meletup-letup. Beberapa kali melototi kecantikan Lionny.
Stefan mendengus marah. “Aku tahu kau orang kaya!” Stefan menatap Tuan Stone dengan pandangan berang. Matanya panas. “Hargai calon istriku! Dia bukan pelacur!”
Saat ini, Stefan sangat marah. Sudah ada rencana di kepalanya untuk memukuli wajah Tuan Stone, karena Tuan Stone lah biang keroknya.
Tuan Stone bertepuk tangan berkali-kali sambil ketawa terbahak-bahak. “Calon istri? Ha?” Lalu Tuan Stone melotot. “Jika kau sudah menjadi suami sahnya, aku tetap tidak peduli!”
Asli kacau Tuan Stone. Jika bertemu dalam situasi seperti ini, Tuan Stone tidak gelabakan, sebab duitnya banyak. Jika dilaporkan ke polisi, toh polisi bakal manggut-manggut juga kalau sudah dikasih duit. Tuan Stone aman di mata hukum.
Mike berdeham sangat keras hingga Stefan dan Lionny terkaget. “Baiklah, sekarang kita bicarakan baik-baik lagi. Jangan ada yang ribut dan main tangan ya! Kita diskusikan dengan kepala dingin.” Nada bicara Mike terdengar pelan dan akrab.
Meski berulang kali Stefan menolak, Tuan Stone masih bersikeras ingin mendapatkan tubuh Lionny meski sebentar saja. Apa Tuan Stone punya kelainan ****? Entahlah, jika memang sudah tidak tahan, ya masih banyak wanita lain, dan bentuknya juga sama, seperti itu juga bentuknya. Rasanya juga sama.
Namun, tidak bagi Tuan Dave Stone!
Tidak untuk konglomerat Singapura itu!
Seperti tagline sebuah merek rokok : Pria punya selera.
Selera Tuan Stone sangat tinggi dan berkelas. Dia tahu mana wanita harum dan mana wanita busuk. Hebatnya, dengan melihat bibir sang wanita, Tuan Stone isi di dalamnya. Parah memang si buaya darat mesum itu!
Tuan Stone mencuri pandang ke Lionny. “Ayo kita buat penawaran harga. Kau mau berapa, Cantik? Sebutkan berapa tarifmu dalam satu jam.” Tuan Stone menarik napas seraya menggigit bibirnya.
__ADS_1
Semakin kentara nafsu Tuan Stone.