
“Martin, kunci pintunya!” titah Stefan. Lalu, Stefan beranjak dan langsung mencekik leher Tuan Stone. Saking kuatnya, Tuan Stone sampai berdiri dari duduknya. “Kita bertemu lagi ha?! Kau pikir, aku dan calon istriku bakal lupa dengan dirimu?!” Stefan sangat marah.
Stefan dengan sangat tegas tidak menerima tawaran investasi dari Tuan Stone. Dia juga akan memberi tahu kepada perusahaan-perusahaan di Jakarta dan lainnya untuk tidak menerima tawaran investasi dari Tuan Stone.
Martin sudah siap seandainya Tuan Stone memberikan perlawanan kepada Stefan. Sedikit saja Tuan Stone menyenggol, pecah kepala Tuan Stone, biar otak busuknya keluar.
Stefan memberi kode kepada Lionny agar segera beranjak. Setelah Stefan melepaskan cekikannya, Lionny langsung melepaskan sebuah tamparan keras.
PLAK!
“Sebuah balasan dari Lionny Fransisca Sanjaya!” Lionny menyeringai marah. Meski emosi, tetap cantik.
Terasa pedas di pipi Tuan Stone. Dia mengerang. Lalu ada darah segar mengalir di bibirnya. Saat ini, Tuan Stone sangat tidak berdaya dan menjadi pesakitan.
Jika melawan, sepertinya tidak bisa. Dia tahu Nano-ID, AlfaTech, Sudrajat Corp, dan Keluarga Sanjaya. Sangat mudah menendang Tuan Stone keluar dari Jakarta dan membuat namanya sangat buruk.
Tidak ada yang tahu peristiwa di dalam ruangan kecuali mereka berempat saja. Ada David yang berjaga di dekat pintu, jika ada yang ingin masuk, dia segera mengusirnya. David mendengar sedikit kegaduhan di dalam tapi tidak begitu jelas.
Stefan meninju wajah Tuan Stone. BUG!
“Awh!” Tuan Stone meringis. Pukulan itu membuatnya terpental ke belakang dan berlabuh di badan Martin.
Segera Martin mendorongnya ke depan. “Sana!”
Stefan mencekik leher Tuan Stone kembali. “Kau tahu wanita yang kau tawar kemarin adalah Putri Sanjaya ha?” sentak Stefan dengan sangat tegas. Stefan sangat emosi. “Jawab!”
Tuan Stone menunduk dan menjawab lemah, “Saya baru tahu kalau dia ternyata bagian dari Keluarga Sanjaya yang cukup terkenal.”
BUG!
Mimisan. Darah segar keluar dari kedua lobang hidung Tuan Stone.
__ADS_1
Martin tak menyangka kalau Stefan rupanya sangat garang. Dan Lionny, dia sangat terkesima melihat Stefan begitu sangat tegas membelanya.
Tuan Stone tak berkutik. Niat ingin bersenang-senang dan mendapatkan kontrak, malah mendapat tamparan dan bogem mentah.
Stefan menatapnya dengan sangat tajam. “Pria mesum sepertimu, pantas mendapatkan ganjaran!”
Tuan Stone tak berdaya. Jika biasanya dia tampil jumawa dan arogan, sekarang sudah seperti tebu sehabis digiling. Tidak ada rasa, kering, lesu, pecundang.
“Martin, apa Keluarga Sudrajat mau menerima orang seperti Dave Stone?” tanya Stefan sambil melipat tangan di dada.
Martin sigap. “Tidak akan pernah, Pak Stefan! Saya pastikan semua perusahaan milik Keluarga besar Sudrajat tidak akan menengok Dave Stone walau sekejap mata.”
“Bagus! Bagaimana dengan keluarga calon istrimu, Keluarga Diningrat?”
“Sama, Pak Stefan. Semua bisnis Keluarga Diningrat tidak akan menerima uang dari Dave Stone!”
Stefan ada ide. Agak lama dia diam dan berpikir. Lalu kembali mengalihkan pandangannya ke Tuan Stone. “Kau masih bisa bernapas, Dave Stone! Tapi, seandainya mereka mau, seandainya! Kau jangan senang dulu!”
Lionny kaget. “Stefan, jangan kasihani orang seperti dia!” Mengingat kejinya omongan Tuan Stone kemarin sore, Lionny tidak terima jika Tuan Stone dimaafkan begitu saja. Hukuman saat ini pun belum dirasa cukup.
Harga dirinya sangat jatuh. Selama hidupnya, Lionny selalu dihormati. Baru kali itu ada orang yang menanggap dirinya seorang pelacur dan wanita tidak benar.
Lionny tidak terima dia dilecehkan. Maka dari itu, sebaiknya Tuan Stone diberi pelajaran besar, bila perlu dilaporkan saja ke polisi atas tuduhan pelecehan dan pencemaran nama baik.
Namun, Stefan menyabarkan Lionny. “Tenang, sayang. Dia sangat merasa bersalah. Lihatlah wajahnya. Tidak mengerikan seperti kemarin!” Stefan tersenyum getir.
“Sebaiknya kita laporkan saja ke polisi!”
“Jangan!” Stefan tahu kalau duit orang ini sangat banyak. Salah satu cara untuk membelokkan aturan dan hukum ya dengan duit. Membuat Tuan Stone menjadi seorang pesakitan merupakan sebuah balasan yang cukup setimpal.
Tuan Stone begitu merasa bersalah. Dalam pikirannya, bagaimana bisa orang seperti dirinya bisa begitu tunduk kepada Stefan?
__ADS_1
Hal magis apa yang ada pada Stefan sehingga dia tidak berdaya? Oleh karena itu, rasa kagumnya makin bertambah.
Nama Stefan yang sempat pernah didengarnya, berarti memang benar, bahwa Stefan merupakan bos hebat, disegani, dihormati, dan juga dikagumi.
“Aku salut padamu,” lirih Tuan Stone seraya mengelap darah di bibirnya.
Apa Stefan tidak salah dengar? Barusan orang yang kemarin mengancamnya, kini memberikan sebuah sanjungan? Dunia begitu cepat berbalik.
Stefan tersenyum dan berkata bijak, “Satu pelajaran berharga yang harus selalu kau ingat, Dave Stone. Jangan pernah menilai seseorang dari kaos dan sandal jepit yang dipakai oleh orang lain!” Stefan lalu melihat mata Tuan Stone, ternyata sangat layu. Wajah yang begitu muram.
“Tuan CEO Nano-ID, saya mengakui kehebatanmu. Saya tidak pernah menyangka bahwa Anda sangat berpengaruh. Jika saya tidak memohon, bisa saja perusahaan saya akan bangkrut.” Tuan Stone memelas penuh kasih. Dia sangat rapuh seperti kayu dimakan rayap. Suaranya kecil dan parau. Suara yang keluar hati yang hancur. Pecundang ini mengakui.
Stefan menarik napas dalam-dalam, dan menghembuskannya perlahan. Lalu, dia melihat jam tangannya. “Sebentar lagi mereka akan datang,” ucapnya tidak begitu keras. “Kau, Dave Stone, akan berbisnis dengan mereka. Siapa tahu tawaran gilamu bisa diterima oleh orang yang bisa dikatakan gila seperti mereka.”
‘Siapa? Mereka siapa?’
Martin dan Lionny mengernyitkan kening. Entah apa yang ada di dalam kepala Stefan? Namun, karena tahu riwayat Stefan yang bagus selama tahun-tahun belakang, jelas dua orang terdekat ini percaya dengan semua rencana tersebut.
Rencana Stefan memang sulit ditebak. Idenya brilian dan di luar jangkauan orang pada umumnya. Jika dia sudah memberikan sebuah keputusan, kesuksesan dan kebahagiaan ada di depan mata.
Meski sudah berusaha menerka-nerka, Martin tak terpikir sama sekali. Namun, yang bertebaran di benaknya adalah serahkan semua kepada pemimpin. Prinsip tersebut sudah tertanam semenjak dia masih di AlfaTech.
Stefan menepuk-nepuk pundak Tuan Stone dan berkata tegas, “Sekarang minta maaf! Cepat!” perintahnya seperti jenderal.
Tuan Stone agak membungkuk, lalu berkata, “Tuan Stefan, saya salah, saya khilaf, maafkan saya. Nona Lionny Sanjaya, saya juga salah menilai Anda, maafkan saya.”
“Yang keras! Ketika bicara, ingat kontak mata!” tegas Stefan.
Tuan Stone patuh dan melaksanakannya. “Maafkan saya. Maafkan.”
Beberapa saat kemudian, David membuka pintu dan berkata, “Tuan CEO, semua anggota Keluarga Sanjaya sudah tiba.”
__ADS_1
Stefan duduk kembali. “Akhirnya mereka datang. Suruh mereka masuk.”