Menantu Benalu Ini Ternyata Hacker Jenius

Menantu Benalu Ini Ternyata Hacker Jenius
27. Di balik semua ini?


__ADS_3

Dengan berat hati Stefan menyampaikan kepada Pak Wesley bahwa dia tidak bisa membantu masalah yang tengah dihadapi Sanjaya Sawit. Mendengar itu, Pak Wesley sempat kecewa tapi juga tidak bisa memaksakannya. Akhirnya Pak Wesley menyeleksi semua anak buahnya satu per satu.


Setelah mendapat dua orang, yakni bernama Joe dan James, yang menjabat sebagai senior programmer, Pak Wesley pun mulai bekerja. Hari ini sampai beberapa hari ke depan mereka akan mencari tahu akar permasalahannya, lalu mencari keberadaan pelakunya.


Jika kasus tempo hari hanya memberikan ancaman berupa gertakan, sekarang sistem keamanan sudah jebol total. Setelah dicek, data-data berharga perusahaan telah dicuri. Pelaku peretasan juga berhasil memanipulasi database, website, dan media sosial perusahaan.


“Pak, dalam waktu dekat mereka akan membuat pabrik sawit berhenti beroperasi,” ungkap Joe yang tengah sibuk berada di depan layar komputernya.


“Sebelumnya, mereka akan membuat beberapa alat tidak berfungsi dengan normal dengan cara mematikan sebagian aliran listrik,” timpal James yang juga sibuk mengutak-atik keyboard dan mouse.”


Pak Wesley mondar-mandir dan pandangannya mulai belingsatan, sebab baru saja tadi dia mendapat perintah tegas dari Direktur Utama Sanjaya Techno, Pak Anggara Bastian, bahwa segera menangani kasus tersebut. Jika tidak bisa, posisinya bisa terancam.


“Joe, James, coba kalian selidiki orang-orang mantan pekerja Sanjaya Sawit yang masih ada keterkaitan dengan karyawan sekarang. Ada satu atau dua orang karyawan yang sengaja berkhianat memasukkan malware. Jika orang itu ketemu, kita akan mudah menemukan pelakunya.”


\=\=\=>>>0<<<\=\=\=


Sementara itu, Stefan sibuk mengerjakan project aplikasi. Selama bekerja dia tidak begitu tenang sebab berulang kali dia mendengar keluhan dari rekan yang lain bahwa Pak Wesley sedang pusing kepalanya memikirkan bagaimana mengatasi problem serius yang dihadapi Sanjaya Sawit.


Suatu siang di kantin kantor, Stefan menghampiri Pak Wesley, lalu menyampaikan permohonan maafnya karena tidak bisa ikut membantu. Meskipun Stefan ada rasa kasihan terhadap Pak Wesley, tapi sakit di hatinya terhadap mertuanya jauh lebih besar, terlebih larangan dari istrinya pula.


“Sudah dua hari ini masih belum ada perkembangan,” keluh Pak Wesley namun berusaha menegarkan diri.


“Saya ada saran sedikit. Jika nanti pelaku telah ditemukan dan sistem telah aman, sebaiknya Bapak bilang kepada Pak Bobby bahwa sudah semestinya menghormati setiap karyawan. Soalnya, apa yang menimpanya sekrang ini jelas karena perbuatan beliau dulu. Motifnya adalah balas dendam.”


Pak Wesley meneguk air putihnya lagi, lalu menghunjamkan pandangannya ke mata Stefan, pandangan memelas. “Saya mengakui kau lebih paham tentang mertuamu dan suasana di kantor. Saya percaya dengan pendapatmu, Stefan. Baiklah, saya terima.” Pak Wesley lalu memberikan tatap pebuh harap kepada Stefan. “Besok si pelaku akan memanipulasi aliran listrik dan air untuk pabrik. Berarti besok pabrik akan berhenti beroperasi.”


Jika terjadi, Sanjaya Techno selaku perusahaan yang bergelut dalam dunia program dan siber akan terdampak, ya, malu. Bagaimana bisa perusahaan siber yang bertugas memberikan keamanan kepada perusahaan lain tapi nyatanya tidak bisa men-support. Makanya Pak Wesley ketar-ketir selama beberapa hari ini.

__ADS_1


\=\=\=>>>0<<<\=\=\=


“Aaagrrrhhh!!!”


Bobby ngamuk. Disapunya dengan tangan apa saja yang ada di atas meja kerjanya. Semua jatuh berantakan dan tercecer-cecer di lantai. Dilepaskannya sebuah lukisan kuda di dinding lalu dihempas.


Bruk!


Terus diobrak-abriknya apa saja yang terlihat di matanya. Ruang kerjanya hancur luluh lantak seperti kapal pecah. Tangannya berdarah karena berkali-kali meninju kaca jendela. Lalu Bobby Sanjaya terduduk lemas dan tersandar.


Si hacker berhasil memonopoli semua sistem tanpa terkecuali. Dengan begitu mereka dengan mudahnya mengatur apa saja sesuai kehendaknya. Bahkan mereka bisa mematikan lampu di ruang kerja Bobby Sanjaya.


Alasannya adalah segala macam peralatan di kantor dan pabrik sudah menggunakan teknologi berbasis internet, seperti konsep smarthome. Jika ada sebuah alat tersambung dengan jaringan internet, hacker akan mudahnya mengatur semuanya.


Produksi dan distribusi terhenti. Penjualan stop total. Sementara data-data yang diolah setiap hari oleh data engineer tidak keruan lagi.


Seorang staf personalia mendobrak masuk, lalu wanita itu terkinjat melihat Bobby seperti orang stres. “Pak Bobby, maaf sebelumnya. Saya hanya ingin memberi laporan bahwa hari ini ada tiga puluh karyawan kantor dan seratus lima puluh karyawan pabrik yang resign.”


“Alasan karyawan kantor resign karena mereka tidak ingin menjadi korban penyadapan selanjutnya. Kalau karyawan pabrik, mereka tidak ingin mati di sana, karena sepertinya aliran air, listrik, dan bahan bakar sudah tidak berjalan normal seperti biasa. Mereka takut pabrik akan meledak.”


Bobby menutup wajahnya dengan telapak tangannya, lalu bersimpuh di atas meja kerjanya dengan siku lengannya, berusaha menopang tubuhnya yang sangat gontai dan lemah. Badannya bergidik ketika memikirkan perusahaannya akan segera bangkrut.


\=\=\=>>>0<<<\=\=\=


Kakek Sanjaya menelepon anaknya dengan perasaan gusar. Di usianya yang sudah sangat tua, mendengar kabar salah satu perusahaannya akan bangkut, jelas beliau sangat syok. Dikhawatirkan sakit beliau kembali  kambuh.


“Kau tidak becus mengurus perusahaanmu, Bobby!”

__ADS_1


Bukannya mengakui kesalahan, Bobby malah mencari alibi dan kambing hitam sebanyak-banyaknya. “Programmer sebagian sudah aku pecat, Ayah. Mereka tidak becus!” sanggahnya.


“Kau yang tidak bisa memilih karyawan. Ketika ada orang yang pantas, kau malah membuangnya.”


“Aku tidak bersalah, Ayah,” kelit Bobby. “Ini salah orang-orang Sanjaya Techno. Seharusnya mereka bisa membantu. Sebaiknya pecat saja si Wesley. Dia juga tidak becus.”


“Uhhuuuk!” Kakek Sanjaya terbatuk-batuk, sampai keluar darah dari mulutnya. “Dengan terbata-bata dan serak beliau melanjutkan, “Jika Sanjaya Sawit benar-benar bangkrut, kau tidak akan berhak mengurus perusahaan Sanjaya Group yang lain, Bobby! Sekarang, urus sendiri perusahaanmu. Jangan pernah menyalahkan orang lain!”


Klik!


Di rumahnya, Bobby belingsatan ke sana ke mari, bergerak tak tahu arah. Istri dan kedua anaknya bingung melihat tingkahnya. Jika Bobby saja tidak bisa berpikir tenang untuk mengatasi masalah, dengan segenap pengalamannya, apalagi istri dan kedua anaknya.


“Sabar ....” Chyntia berusaha menenangkan suaminya yang ke hulu ke hilir. Mata suaminya nanar seperti orang mencari ujung dunia.


Kasihan, Robert berupaya memberi solusi. Dengan memaksakan diri dia memberi saran, “Ayah, bukankah waktu itu S-stefan pernah menolong perusahaan Ayah? K-kenapa tid ... dak mem ... minta bantuan dia s-saja?”


Mendengar saran tolol dari anaknya, Bobby makin berang, “Apa-apaan kau, Robert?!” sentak Bobby dengan nada tinggi. Bola matanya membulat lebar. Mulutnya menganga. “Tidak usah kau bawa-bawa sampah itu! Apa kau lupa, Nak, bahwa Stefan itu adalah satu-satunya pesaingmu untuk mendapatkan warisan dari kakek? Ingat itu!”


Robert menunduk dan tercenung, lalu beringsut-ingsut meningglakan ruang keluarga dan masuk ke kamarnya. Tidak mau dibentak oleh ayahnya, Luchy perlahan melenggang lalu masuk juga ke kamarnya.


Tersisa cuma Chyntia Dewi. Sama seperti suaminya, dia tidak akan meminta bantuan kepada Menantu Sampah itu. Karena mereka berdua sudah kepalang benci dengan Stefan. Mereka terlanjur murka.


Padahal, jika mereka berdamai dengan Stefan lalu meminta bantuan, tentu Stefan bisa mengatasinya karena Stefan tahu siapa orang kantor yang sudah membantu tugas si hacker. 


Namun, karena ego dan nafsu jahat, mereka selalu merasa tinggi dan terus memandang remeh Stefan, seolah-olah Stefan tidak akan pernah bernilai di mata mereka sampai kapan pun.


Bobby terduduk, sambil memegang kepalanya dia menjerit histeris, “Seharusnya Stefan sudah mati tertabrak! Tapi kenapa dia tidak mati!”

__ADS_1


Chntia menyeringai dan napasnya terdengar kasar, “Kita tidak mungkin lagi bisa merencanakan pembunuhan terhadap Stefan.”


“Aaagggrrhh! Seharusnya dia sudah mati!”


__ADS_2