
Siang ini kantor Nano-ID, Jakarta.
“Apa kau tahu seberapa populer Keluarga Sanjaya?” tanya Martin penasaran.
“Dulu saya pernah mendengar nama keluarga itu. Tapi tidak tahu seberapa berpengaruh mereka di Jakarta,” jawab David, lalu dia menyeruput kopinya.
Martin menyandarkan punggungnya di sebuah kursi santai. Saat ini mereka berdua tengah istirahat di sebuah ruangan yang tidak begitu luas di lantai delapan. Dari sini mereka akan menyaksikan pemandangan indah Kota Jakarta. Gedung tinggi dan rumah-rumah mewah begitu jelas tampak.
Tadi David berbicara bersama Chella dan mendapatkan info cukup mengenai Keluarga Sanjaya. Dia berkata, “Sekarang Sanjaya Group masih punya tujuh perusahaan di berbagai sektor. Keluarga Sanjaya termasuk keluarga yang diperhitungkan.”
Martin mengangguk takzim dan menyeruput kopinya juga, lalu menjawab, “Pantas CEO kita begitu menghormati Nona Lionny Fransisca Sanjaya. CEO kita pasti sangat tahu siapa itu Keluarga Sanjaya.”
David tersenyum renyah. “Tuan CEO meneleponku. Beliau bilang, kita harus melayani Nona Sanjaya itu sebaik mungkin. Bahkan, kita melayaninya sebagaimana kita melayani ibu kandung kita sendiri.”
Martin tersentak. Berarti perintah yang diberikan sama. “Nona Sanjaya harus kita dahulukan daripada siapapun.” Lalu, Martin menggeleng. Dia teringat sesuatu. Dia berkata heran. “Tapi, kenapa CEO melarang Robert Sanjaya berkunjung ke kantor kita? Padahal Robert merupakan adik kandung dari Nona Lionny Sanjaya.”
David berpikir keras. Tapi, mereka berdua tidak ambil pusing. Keputusan CEO pasti tepat dan mereka berdua harus patuh. Jika CEO memberikan perintah, mereka berdua tidak bisa menolak bahkan meskipun perintah itu tidak masuk akal sekalipun.
Nama besar Keluarga Sanjaya bisa mereka terima hingga saat ini. Mereka sebaiknya tidak peduli dengan perlakuan mereka terhadap Robert tempo lalu. Jika saja nanti Robert balik lagi, toh mereka bisa bicara atas perintah CEO. Bagi mereka, Nano-ID meskipun termasuk perusahaan baru, tetap punya kuasa atas perusahaan sebesar Sanjaya Group.
Martin dan David sempat kualahan meng-handle semua pekerjaan yang banyak dilimpahkan kepada mereka selama beberapa hari belakangan. Jika dipaksa seperti ini terus, dikhawatirkan perusahaan malah akan kacau.
Martin menghembuskan napas kasar, lalu berkata lemas, “CEO secepatnya harus segera balik ke sini, karena jika tidak, jujur saya tidak bisa selamanya bekerja penuh dengan tekanan seperti ini.”
__ADS_1
“Betul, kita butuh sosok seperti Pak Stefan. Dia sangat diperlukaan di saat seperti ini. Kita belum punya pengalaman dalam diskusi bersama pihak pemerintah.”
“Kita masih terlalu bocah untuk patuh dengan regulasi yang dibuat oleh pemerintah. Apa iman kita kuat jika kita disodorkan uang segepok sebelum project berlangsung?
Akhir-akhir ini banyak pemberitaan soal kasus suap dan korupsi. Menggeluti pekerjaan yang berkaitan erat dengan project, terutama project suruhan pemerintah, rentan sekali terjungkal dalam proses peng-ghaib-an duit. Sudah mafhum bagi siapa saja bahwa dana project sebesar seratus yang disediakan ‘biasanya’ pasti akan pas seratus begitu digunakan--di laporannya.
Martin dan David yang baru saja ingin membangun karir di negeri sendiri harus melewati ujian berat ini. Meskipun duit yang ditawarkan besar, rasa takut mereka jauh lebih besar. Namun, biasanya jika sudah merasakan enak, biasanya akan ketagihan.
Mereka tidak ingin mencicipi uang haram itu di awal. Oleh karena itu, mereka butuh sosok seorang pemimpin jujur dan berani seperti Stefan. Stefan bukanlah pria gagah dan garang. Tapi, Stefan merupakan sosok pria sigma kalem pemberani. Dia seperti Lone Wolf. Sendiri, berani, tak takut mati.
David berkata menyindir, “Kau dengar berita korupsi BTS 4G sebesar 1 triliun rupiah?”
“Kementerian terkait itulah yang akan berurusan dengan kita. Selain itu, lembaga dan institusi yang ada hubungan dengan kementerian itu juga akan bekerja sama dengan Nano-ID. Itu berarti, pintu uang haram akan terbuka bagi kita.”
Obrolan Martin dan David bukanlah omong kosong. Satu triliun bukanlah uang sedikit. BTS 4G diperuntukkan bagi wilayah-wilayah yang sulit mendapatkan koneksi internet. Oknum jahat itu telah melenyapkan sebagian hak dan kesejahteraan masyarakat.
Martin dan David mengenal Stefan selama lebih dari satu tahun terakhir. Stefan sangat mahsyur di AlfaTech. Bagi orang di sana, Stefan hampir sempurna. Siapa yang menganggap Stefan buruk dan tidak berguna, berarti ada masalah dengan otak dan hati orang itu.
Wajah Martin agak meleleh. “Jika CEO sudah bertugas, tidak mungkin berkas-berkas di ruanganku akan menumpuk banyak. CEO bekerja dengan cepat dan teliti.”
David mengangguk. “Kita tahu track record CEO sewaktu di Swiss. Meski tak lebih dari dua tahun, dia punya banyak prestasi yang ditinggalkan. Saya tidak pernah melihat orang seperti CEO kita. Saya yakin pekerjaan di sini akan cepat rampung jika CEO sudah pulang.”
Martin berdiri dan melihat mobil-mobil parkir di halaman sana. Ada delapan mobil terparkir di pinggir jalan yang buat sedikit kemacetan.
__ADS_1
Martin menghela napas, lalu berkata, “Setelah ini, kita harus mengurus mereka lagi. Sebaiknya kita harus ambil langkah agar area parkir dan area tunggu di kantor ini tidak ramai dan menumpuk.”
David menyepakati. “Kasihan mereka yang harus antre untuk bisa mendapatkan kontrak kerja sama dengan kita. Bahkan, ada yang menunggu sampai lima jam.”
Suasana di bawah tak ubahnya seperti segerombolan orang pencari kerja yang mendatangi perusahaan yang sedang membuka lowongan. Sekarang, nama Nano-ID semakin melambung.
Setelah sekitar tiga puluh menit beristirahat, Martin pun masuk ke dalam ruang kerjanya. Baru saja rehat sejenak, sekarang kepalanya rasanya mau pecah saat melihat barang-barang di atas meja kerjanya.
Sorot matanya tak lepas dari dokumen-dokumen kerjasama itu. Sebenarnya tugas Martin hanya membantu tugas utama CEO dan tidak seberat seperti sekarang. Namun, keadaan memaksanya harus menjalaninya.
Sebentar lagi dia akan kembali berhadapan dengan satu per satu perwakilan dari perusahaan. Jika CEO belum balik, berarti dia akan menghabiskan waktunya seperti ini dalam waktu yang cukup lama.
Karena tidak tahan, Martin pun menelepon Stefan.
“Halo Martin? Ada apa?”
“Kapan Tuan CEO akan pulang? Kami sangat butuh bantuan.”
“Saat ini Pak Arya masih sakit. Belum tahu kapan Pak Arya benar-benar pulih dan bisa kembali berkantor.”
Ada ekspresi kekecewaan di wajah Martin. “Jujur saya tidak bisa mengerjakan semua ini sendirian, Pak Stefan. Kami butuh seseorang agar tugas-tugas di sini bisa terbantukan.”
“Baiklah. Akan ada seseorang yang akan membantu tugasmu sementara ini. Sekretaris CEO kemungkinan besok lusa baru bisa bekerja.”
__ADS_1
Kemudian sore harinya setelah dari kantor AlfaTech, Stefan menuju rumah sakit dan menjenguk Pak Arya. Di sana, dia bicara sama Grace.
“Besok lusa kau harus segera bekerja, Grace. Setelah ayahmu pulih dan bisa berkantor, barulah aku pulang ke Jakarta.”